Matahari Abadi dalam Ingatan

Seseorang yang aku temui di perpustakaan sudah tak mengenaliku lagi, padahal dulu senyumku selalu ada di ingatannya. Bahkan selembar kemeja hitam kusamku selalu ia kenakan dengan bangga sambil menciumi baunya sebelum ia tertidur lelap. Aku melangkah mundur. Mempercepat langkah untuk kembali ke ruang peraduan.

Kakak laki-lakiku memang tak pernah bisa untuk menyimpan pasir dalam genggaman tangannya yang kuat, terbeberlah semuanya. Akan sebuah modernitas nan irasional. Mencabut ingatan bukan hanya ada pada sebuah percakapan centil antar wanita di zaman dahulu yang cintanya terkoyak, namun sebuah keanehan nyata yang membuat orang membawa sekardus barang kenangan pada orang-orang berjas putih.

Ingatan yang ingin menang terus berlarian keluar masuk dunia paralel. Menjaga kecepatan untuk selalu berada di posisi lebih dahulu dibandingkan garis-garis hijau berlatarbelakang hitam. Sebuah apel di depan mata membawaku kepada sebuah percakapan aneh antara gusi, lidah, dan kecutnya jeruk lemon. Tidak ada yang menang karena semua berakhir di tempat sampah berplastik biru dan kertas dapur belepotan air liur.

Hari ini tanpa sengaja aku menjebakmu dalam peta di halaman 81. Ada sebuah kantor pos, namun entah di mana letak stasiun kereta. Jebakan membuat diriku sendiri tersesat, namun aku bisa bertaruh, jika aku berdiri di titik merah depan stasiun pasti aku bisa menemukan sendiri di mana rumah dua lantai di ujung pasar malam tempat dibelinya permen dengan panjang 10 sentimeter.

Lima hari terakhir aku seperti ingin berada di negara baru, mencoba untuk membuang sebantal roti yang hampir hijau di dalam kertas pembungkus. Belanda bukan hanya negara tempat es jeruk gratis yang paman beri alamatnya saat Beliau masih ada, namun juga nama sebaris rambut halus berbaris menengahi indera pendengaran. Aku namun tersesat di buku yang penuh bertuliskan namamu. Apa mungkin kamu memiliki alias dan tidak terdaftar di mana-mana kecuali sebagai penyanyi tenar?

Matahari datang tepat waktu, setelah musim dingin terpleset jatuh. Teringat pada setengah musim semi tahun lalu. Matahari tergelincir sekitar pukul 19, kedua tangan yang baru bergenggaman terlalu sibuk untuk membiarkannya menghilang di balik bayangan air. Sepeda yang kita obrolkan di perbatasan antar benua buyar karena terlalu tinggi. Seandainya pun ia tidak gagal, maka lain lah aku kali ini bercerita.

Demi sebuah kasino di depan rumah sakit, tidakkah pagar bisa kamu buka tanpa pikiran kriminal teman sekamarmu itu datang. Anjing hitam putih bernama merek bir sudah selesai makan di pojok dapur, sekarang ia ikut kita bernafas bubuk bunga dan tertular bersin-bersin. Nafasnya bagiku tetap menjijikkan, sama saja dengan anjing bermata beda warna yang ingin berkenalan denganku dengan mencium ujung jari kelingking.

Bahasamu bukan lagi bahasaku. Kita berada di zona asing tanpa saling mengerti satu kata kecuali uno. Kesempatan gratis untuk belajar tidak ingin digunakan. Tetap menjadi orang asing tentu jauh lebih melegakan, dibandingkan diasingkan di sebuah ruang keselamatan di pinggir laut. Diabaikan.

Tidak pernah terlambat untukmu berusaha menyapu ingatan yang berserakan. Mereka terlalu bersih untuk dikeluarkan. Orang-orang berjas putih tetap memberikan suntikan, membantu membawamu kembali kepada ingatan. Bangunlah segera dari tidur, jika kamu sudah menemukanku di sana.

Hamburg, 23. 03. 2012

Sambil nonton ulang Eternal Sunshine of The Spotless Mind.
Advertisements

3 thoughts on “Matahari Abadi dalam Ingatan

  1. zilko says:

    “Anjing hitam putih bernama merk bir”.

    Hmmm, kira-kira bir apa ya yang namanya cocok dijadikan nama anjing? Hmmmm…. *berpikir* 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s