Peminjam Nafas

Selamat malam, seseorang yang pernah aku panggil dengan sebutan khusus.

Dari dalam kelas aku melihat kembali orang-orang asing yang gerakannya dua bulan lalu masih aku hapal. Aku juga ingat bagaimana aku teringat kamu saat aku memperhatikan mereka dulu. Apa kamu bekerja seperti mereka setiap tengah minggu? Menyiapkan piring-piring untuk bergulat dengan air di sebuah kotak hitam besar sampai bersih saat keluar. Namun aku lalu menebak-nebak, tak perlulah kamu berdiri selama lima jam tanpa henti kalau yang kamu kerjakan hanya itu.

Pernah juga sempat bertanya tentang keinginanmu melatih botol-botol agar menghasilkan rasa berbeda, sudah kah engkau lakukan? Tolong jangan katakan kamu, si Pemabuk yang jauh-jauh mengembara ke Selatan, hanya menghabiskan banyak koin emas saja di meja taruhan. Bodoh kamu. Bisanya hanya menikmati indahnya kerajaan Babilonia tanpa tahu bagaimana caranya menjadikan musik sebagai garis-garis kurva warna-warni.

Seseorang bijak yang bijaknya masih sangat hijau menyuruh orang-orang untuk menghentikan pikiran berlari-lari menuju mereka yang tidak mempedulikannya. Iya aku setuju, namun pikiranku itu terbang sendiri, membelah kota-kota nan indah di Romania atau menyusuri jalan tikus Schnoor di Bremen. Tidak ada yang tahu bagaimana isi gantungan kunci yang dua bulan terakhir ini terlantung-lantung. Bisa jadi pun ia membiru kehabisan nafas. Melarikan diri menuju Barat selalu menjadi cara, sambil sekalian sengaja lupa akan percakapan musim panas di kota yang ingin kamu lepaskan sejenak.

Aku memang tenggelam dalam sebuah ruang kedap kenyataan. Semua di dalamnya dengan mudah membuatku tersenyum, karena aku menyuruhnya untuk melakukan ini dan itu. Sangat mudah, walau tidak semudah jika kamu mencoba bermimpi Lucid. Menurut sebagaian orang justru dalam mimpi itu kita akan ditarik ke dalam dunia televisi hitam putih lengkap dengan sumur di tengahnya.

Di meja makan kayu kita duduk bersampingan, tidak terdengar denting sendok mencuil piring, hanya dehem tak henti walau makan sudah terhenti. Kamu tipe pemakan sepi, kecuali matamu yang berlarian ke sana ke mari mengikuti arah nasi-nasi berterbangan. Pernah sekali kamu berteriak, karena biji monte merah loncat ke piringmu. Aku suka, namun tidak banyak. Begitu bisikmu memberi alasan sambil terengah.

Kamu si pengalah yang untuk pertama kalinya tidak ingin mengalah. Mengambil kembali nafas-nafas yang pernah dipinjamkan kepadaku, karena kamu sendiri sudah mulai kehabisan. Tidak percuma kamu datang di waktu sinar kuning berpantulan riuh, terseok karena nafas tinggal berkisar lurus, nafas terakhir yang kamu pinjamkan secara cuma-cuma di stasiun malam lepas senyap telah aku pulangkan.

Terimakasih untuk nafasmu, peminjam nafas.

 

 

Hamburg, 20 Maret 2012

Sebaiknya mandi lalu tidur, pukul 02.00 malam sudah terlalu larut untuk tetap berwarna hitam..
Advertisements

12 thoughts on “Peminjam Nafas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s