Penghuni Kamar Ke-5

Malam ini saya tidur di tempat kerja karena kebagian tugas jaga malam, selain itu karena besok Penghuni Kamar ke-5 berulangtahun, maka saya akan menceritakan tentang dia. Siap-siap ambil cemilan dulu yuk..

Pria kelahiran tahun 1964 ini bertubuh besar dan sedikit gemuk. Senang menggunakan kemeja, celana jeans, dan suspender. Rambutnya lebat gelap, namun sudah mulai banyak beruban. Kalau ga salah dia memiliki lima saudara laki-laki, sudah tidak memiliki ayah, sedangkan ibunya tinggal di apartemen di atas kami (WG kami berada di sebuah gedung apartemen khusus untuk para manula, kami menempati seluruh lantai bawah dan memiliki taman kecil di belakang).

Dia salah satu yang tidak butuh banyak bantuan di WG, mandi bisa sendiri, makan sendiri, jalan-jalan sekitar WG bisa sendiri kalau mau, dikasih kunci WG juga, soal cuci pakaian biasanya pagi-pagi ibunya datang untuk mengambil pakaian kotornya yang disimpan di ruang cuci, lalu entah berapa hari sekali dia datang lagi membawakan pakaian bersih untuknya.

Walau sudah sangat senior dan berjalan menggunakan rollator, namun ibunya masih segar. Sering banget kuatir dengan anaknya ini. Saat saya akan mengantar Kamar ke-5 ke karnaval, saya sempat menelepon Beliau untuk menayakan apakah Kamar ke-5 sudah pulang atau belum (kadang sepulang kerja ia akan langsung ke apartemen ibunya) dan cerita kami akan pergi ke karnaval. Beliau bilang, “saya akan turun sebentar lagi.” Saya kira Beliau ga ngerti apa ya yang saya katakan, secara bahasa Jerman saya pas-pasan.

Lima menit kemudian Beliau sudah ada di WG kami dan bertanya macam-macam, “Dia akan pergi dengan siapa? Kamu? Tapi kamu akan bersama dia sampai pulang, kan? Dia jangan ditinggalin sendirian. Saya ga mau dia ditinggal sendirian di tempat acara.” Saya bengong sambil menjelaskan saya akan menemani dia sampai kami bertemu dengan supir taksi langganan yang akan membawa dia pulang. Beliau lalu pamit pulang.

Nah engga lama kemudian Beliau datang lagi *menghela nafas*, kali ini Bos yang langsung menghadapi dan menjelaskan apa yang sudah saya jelaskan, lalu Bos bilang Beliau memang kuatir sekali dengan anaknya itu dan baru akan tenang kalau Bos atau kolega 100% yang menjelaskan semuanya.

Kamar ke-5 salah satu yang TIDAK agresif ke orang lain, kalau dia marah dia akan meredamnya dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, menahan biar ga teriak sampai tubuhnya bergetar. Saya ga tau pasti apa dia menggigit telapak tangannya sendiri atau tidak, tapi kayanya engga.

Dia rajin banget kerja, kalau sore suka cerita kalau dia lagi senang dan alasannya adalah karena besok dia kerja. Sebelum natal kemarin dia pengen sekali ke pasar natal di kota jadi meminta kolega 100% untuk menemani, kolega bilang dia engga ada tugas di akhir pekan jadi harus di hari kerja kalau Kamar ke-5 mau. Tau ga Kamar ke-5 jawab apa? “Lebih baik kerja. Aku suka kerja.” LOL! Coba nanya ke saya, mau kerja apa ke pasar natal, pasti saya jawab ke pasar natal. Hihihi.

Sama seperti Kamar ke-4 dia juga kerja di tempat pengepakkan alat higienitas seperti sabun mandi cair, tapi sepertinya beda tempat kerja, karena Kamar ke-5 setiap pagi dijemput pukul 06.15 dan kembali ke rumah pukul 16.00, sedangkan Kamar ke-4 dijemput pukul 06.30 dan pulang sekitar pukul 13.10.

Dia tidak bisa memenej uang, walau setiap hari Senin (seperti juga Penghuni Kamar ke-2) menerima uang saku sebesar €5. Suka sekali ikut acara-acara di luar, seperti karnaval, Summer Fest, Flirt Party, dan sebagainya. Kalau sedang ada di acara-acara seperti itu dia akan sibuk sendiri ke sana ke mari, ikutan permainan (kalau ada), beli ini itu yang penting (terutama kue-kue dan kopi), ikutan nari, ambilin katalog-katalog, dan sebagainya, ga heran kalau dia bisa habis 20 euro di acara begituan.

Inget ga cerita saya tentang Penghuni yang dimarahin saat minta tambahan salat nudel di acara karnaval bulan lalu? Ya, itu dia! 😆 dia makan banyak banget. Tiap makan malam di piringnya pasti ada paling tidak lima lembar roti dengan salami di atasnya dan dua gelas teh atau jus, kalau kami bikin salat maka akan ditambah dengan dua mangkok salat. Banyak banget, kan? Makanya ga heran dia sedih banget pas dilarang ga boleh nambah makanan di karnaval 😆

Masih soal makanan, untuk sarapan dia akan makan satu lembar roti dengan salami dan membawa bekal yang sama untuk tempat kerja. Beda dengan Penghuni Kamar ke-4 yang bawa bekal di tempat makan, Kamar ke-5 hanya membungkusnya dengan alumunium foil. Setiap sore dia begitu juga dengan yang lainnya minum kopi (bisa dua gelas kalau lagi banyak sisa) di dapur, kalau kehabisan (dia pulang kerja paling terakhir dan biasanya kopi sudah habis saat dia datang), dia akan membuat susu cokelat sendirian. Kalau makan/ngopi bareng di dapur dirasa sangat ribut olehnya, dia akan menyingkir sendirian di ruang makan atau ruang TV.

Saya tadi bilang kan dia itu mandiri dan ga butuh bantuan apa-apa? Bener-bener ga butuh bantuan doi, kalau saya mau ambilin salat ke mangkok buat dia, dia akan buru-buru ngambil mangkoknya dan bilang. “Bisa sendiri.” lalu sambil sedikit gemetaran ngambil salat sendiri. Untuk teh, roti, dan sebagainya juga begitu. Saat selesai makan dia akan memasukan semua peralatan makan ke mesin pencuci piring (kalau sedang kosong) atau meletakannya di dalam wastafel cuci piring (kalau mesin cuci piring penuh).

Nah yang menarik dan menguntungakan dari dia adalaaaahhh.. Dia hobi banget menyortir sampah! Mahahaha! Di Jerman sampah terbagi ke dalam beberapa golongan: kaya dan miskin eh sampah kertas, bio (sisa makanan, minyak bekas goreng, sayuran, etc), kaca, botol minuman plastik yang bisa didaur ulang, dan lainnya. Di dapur kami terdapat tiga tong sampah besar, warna merah untuk sampah kertas, oranye untuk bio, dan hijau untuk lainnya (gitu deh kira-kira, saya saja ga ngerti pembagian detailnya). Sedangkan sampah kaca di bawah lemari tempatnya dan botol minuman di gudang.

warna-warni bukan karena centil

Dengan rajinnya dia akan membongkar semua tempat sampah di WG (yang berarti juga tempat sampah di tiap kamar mandi dan kantor), memilahnya, lalu membaginya berdasarkan jenis sampah. Cuma dia di WG yang tau masuk kategori manakah popok dan sarung tangan bekas pakai yang banyak banget di tempat sampah kami. Gilanya, dia juga akan mengorek wadah plastik bekas yoghurt sampai bersih, sebelum meletakannya di tempat yang benar. Oh iya, namanya juga WG kami isinya orang-orang cacat fisik dan mental ya, jadi ya sampah-sampah itu jadi satu semua. Untung banget ya kami punya dia, hihihi.

Saking gilanya sama sampah, kalau kami sedang sama-sama duduk di dapur dan saya atau kolega akan membuang sampah (misalnya plastik bekas roti), dia akan mengintai kami dengan tajam dan bilang, “grüne Punkt!” yang artinya sampah itu berkode hijau dan masuk ke tempat sampah yang di tengah (kayanya warna tempat sampahnya oranye deh).

Untuk menyortir dan membuang semuanya sampai beres dia memerlukan waktu minimal 2 jam, kalau sampah sedang banyak banget ya bisa lebih. Sampah-sampah tersebut nantinya akan ia buang ke tempat sampah besar di samping WG kami, sedangkan untuk sampah kertas dia harus berjalan sekitar 250 meter dulu sebelum sampai ke tempat sampah kertas.

Karena makan waktu yang lama itu dan jam kerja kami di WG cuma sampai 21.30, maka dia harus memulainya sesore mungkin, paling lambat setelah makan malam sekitar jam 19.30. Dia suka kesel sendiri kalau kami masih saja suka ngasih sampah ke dia saat dia sudah hampir selesai kerja. Kadang Penghuni Kamar Pertama suka iseng mainain plastik sampah sampai Kamar ke-5 kesal dan ngelapor ke kami di kantor.

Selama dia menyortir sampah di depan pintu ke taman (harus dibuka kalau cuaca sedang bagus, untuk menghindari bau), kami meletakan sampah dapur begitu saja di meja dapur, sebelum selesai dia akan mengontrol setiap jengkal WG memastikan sudah ga ada sampah. Setiap menyortir sampah dia mengenakan sarung tangan dan harus cuci tangan begitu selesai.

Saat mengantar dia ke karnaval itu juga saya baru tau dia akan memungut sampah yang dia temui di jalan untuk lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat. Okay deh situ okeh banget, tapi ya kotor juga kali.. -____-” Dan karena gilanya dengan sampah itulah ia dapat miniatur tong sampah sebagai hadiah Adventskalender natal kemarin. Dia seneng loh! 😆

Satu-satunya kamar Penghuni yang ga pernah saya masukin itu kamar dia. Setiap meninggalkan kamar, dia akan memastikan dulu sebelumnya untuk menguncinya rapat. Ga ada satu orang pun yang boleh masuk kamar dia (bahkan ngintip aja ga boleh), kecuali ibunya dan kolega kebersihan, atau keadaan gawat misalnya dia anfal atau apa (tapi dia bukan penderita epilepsi kok).

Menurut cerita kolega 100%, di kamarnya ada banyak sekali mainan dan barang-barang yang masih terbungkus rapi di kardusnya (doi cuma hobi belinya doang, tapi ga hobi maininnya), dan ternyata benar! Suatu hari saya pernah mengintip kamarnya saat kolega kebersihan sedang membersihkannya dan Kamar ke-5 sedang kerja, kolega saya itu langsung bilang, “Wah kalau dia tau kamu liat-liat kamarnya, bisa kena marah loh saya, hahaha.”

Setiap selesai menyortir sampah dia akan membuatkan susu cokelat untuk dirinya sendiri lalu istirahat di ruang TV sampai ketiduran dan dengkurannya terdengar ke mana-mana, kalau saya kebetulan dapat tugas jaga malam seperti sekarang, saya harus membangunkannya dulu sebelum mengunci pintu ruang TV. Setiap malam juga dia rajin mengecek apa setiap jendela dan pintu sudah benar terkunci rapat sebelum pergi tidur. Kadang abis itu mandi kadang engga, kalau ada tumpukkan handuk di depan atau dalam ruang cuci berarti dia mandi.

Dia kayanya cuma keterbelakangan mental doang deh, bisa nulis namanya sendiri tapi ga tau ya sebenarnya bisa baca tulis atau engga. Pernah sih dia datang ke saya bawa shampo khusus pria dan minta dibacain itu apa, entah untuk memastikan itu shampo khusus pria atau memang ga bisa baca.

Walau senang banget kerja, tapi dia juga ga sebel kalau akhir pekan datang. Hari Jumat sore sambil nyengir dia akan bilang, “Aku senang. Besok akhir pekan.” Dia akan tidur sampai siang kalau libur.

Ah ya, saat berbicara ia tidak bisa dengan menggunakan kalimat penuh dengan gramatikal yang baik. Selalu singkat: “Ich fleißig” (seharusnya “Ich bin fleißig“), “Ich oben” (seharusnya “Ich gehe nach oben.“), “Ich ___ (nama dia). Du?” (seharusnya “Ich bin ___. Du?”).

Sekarang sudah jam 22.24, barusan saya nyuruh dia tidur (jam kerja saya cuma sampai pukul 21.30) karena dia masih istirahat di ruang TV abis sortir sampah, tapi doi ga mau dong.. “Nein. Nein.” walau saya sudah bilang saya mau tidur. Nanti saya balik lagi aja deh buat ngunci pintu.

Btw, saya kerja di sini sejak awal Juli tahun lalu, tapi di perjalanan ke karnaval bulan kemarin dia nanya lagi siapa nama saya. *eaaa* Di bulan-bulan awal saya kerja sih dia masih juga nanya siapa nama saya, menurut Bos itu wajar karena banyak dan seringnya kolega kerja yang ganti-ganti di sini.

Sepertinya sudah semua deh saya ceritakan tentang dia. *mikir* Saya juga mau siap-siap tidur nih, besok jam 07.30 saya harus sudah bangun untuk nyiapin sarapan untuk para penghuni.

Untuk Penghuni Kamar ke-5, Herzlichen Glückwunsch zum Geburtstag! 🙂

***

Cerita Terkait:

Penghuni Kamar Pertama

Penghuni Kamar Kedua

Penghuni Kamar Ketiga

Penghuni Kamar Keempat

Cerita Kerja: Fasching

Advertisements

8 thoughts on “Penghuni Kamar Ke-5

  1. Mayya says:

    Yang satu ini ggod-behaviour banget ya ajeng! Pantesan demen bawa dia jalan kemana-mana ^^
    Gak kebayang kalo doi liburan ke Indo yak, liat sampah berserakan -___-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s