Late Weekly Review

Lebih dari seminggu terakhir ini..

Kerjaan

Sejauh ini kerjaan baik-baik saja. Jadwal kerja lagi enak-enaknya, tiap 2-3 hari kerja selalu kena ganjaran 2-3 hari libur. Seimbang banget deh! Tiap kerja hampir selalu saya ngurusin si Penghuni Kamar Pertama, kalau sudah begitu, pulang-pulang tinggal berasa capeknya. Dan yang sungguh aneh lagi juga nyebelin, sudah 3 kali (di minggu berbeda) saya kebagian ngurus doi 2 hari berturut-turut (begitu juga dua hari terakhir ini). Kalau ga kebagian ngurus doi, kerjaan tetep aja banyak. Si bos pernah bilang, sejak FSJ kamu diperpanjang, kamu jadi kerja sama banyaknya dengan karyawan tetap ya? 😐

Penghuni Kamar ke-7 yang minggu lalu anfal tadi sore anfal lagi di dapur. Ada kolega perempuan 50%, jadi dia yang ngurusin. Nah yang jadi pertanyaan, dia kok ga ngerubah posisi berbaringnya si Kamar ke-7 ya? Kolega yang satunya juga sama aja, mereka cuma ngangkat kepala si Kamar ke-7 sambil ngajak ngobrol. Btw, tadi di dapur si Kamar Pertama juga ada, terus dia dengan nyebelinnya ngangkat paksa si Kamar ke-7 buat bangun, saya dan kolega kewalahan ngelarang dia atau melawan tenaganya yang jauh lebih besar dari kami.

Besok (7/3) rencananya kembali ada conference selama 1,5 jam dengan dokter psikiatrik buat ngomongin si Kamar ke-8, saya kayanya ga mau dateng deh.. Ngerti sih doi ngomong apa, tapi kalau pak dokternya ngomong saya jadi ngantuk banget, dia ngomongnya pelan dan lambat banget. Hihihi.

Kamera

Akhirnya kamera saya sembuh! Hihi senangnyaaa.. Jadi bisa foto-foto lagi 🙂 Dia akhirnya dirawat inap selama seminggu di Saturn. Sambil ngejemput, saya juga beli hard case tempat kamera buat doi, biar tombol power yang ada di belakangnya ga kepencet lagi kalau lagi di tas. (Selain di atas, tombol power juga ada di belakang dan gampang banget kepencet, kalau kepencet otomatis lensa akan keluar, jeleknya ya kalau dia ga sengaja kepencet pas lagi di dalem tas, lensanya bisa saja ketekan masuk dan akhirnya rusak, seperti kemarin.)

Saya rencanaya mau jual dia, bukan karena kemarin rusak, tapi karena dia ga bisa bikin foto makro. Sedih deh, karena saya suka banget bikin foto makro. Ada yang mau beli dengan harga 70 euro saja? Kualitas okeh banget deh, saya suka banget dengan dia, kecuali ga bisa makro itu aja..

Musim

Walau pun angin masih aja lumayan kencang, namun bunga-bunga Winterglocke sudah bermekaran, tanda akan segera berakhir masa-masa kedinginan. Mahahaha. Sudah beberapa hari terakhir matahari bersinar, toko es krim atau bubble tea kembali ramai dengan antrian panjang, jaket-jaket tidak lagi tebal dan sepatu boots sejenis UGG udah ga lagi keliatan. Juheeeee, Herzlich wilkommen Frühling! ^^

Essen und Trinken

Sabtu kemarin rencananya mau ke Din Hau, untuk makan sup bihun bebek panggang atau nasi goreng lagi, tapi ternyata tutup. Uh, kesel deh.. Itu rasa bebek panggang udah berasa banget di ujung lidah, terpaksa kandas.

Karena ga tau mau ke mana lagi (resto Cina satunya lagi juga tutup karena renovasi), akhirnya kami pergi ke sebuah foodcourt di Gänsemarkt, bernama Essen und Trinken (secara harfiah diterjemahkan menjadi Makan dan Minum). Denger-denger di sana ada restoran yang menyediakan menu masakan Indonesia. Dari Hauptbahnhof (stasiun pusat) kami naik U1 turun di Jungfernsteig lalu sedikit jalan kaki.

pintu masuk Essen und Trinken

Masuk ke Essen und Trinken mata saya langung tertuju pada semangkok soto di meja pengunjung. Omg! Soto! Kami menuju sebuah stand restoran yang nampaknya sebagai sumber si soto. Sedang asik-asiknya baca menu makanan di atas, tiba-tiba mas-masnya nyapa, “Mau makan apa? Nasi goreng?” pakai bahasa Indonesia. Nyahahah di sana ternyata ada dua orang Indonesia. Satu sebagai kasir berumur 40 tahunan dan satunya lagi seorang bapak berumur sekitar 60 tahunan berpeci hitam yang bertugas sebagai koki.

Menu A seharga 4,5o euro saja!

Kami memesan paket Menu A, yaitu nasi goreng dengan bonus soto. Kata si masnya pesennya satu berdua aja, karena porsinya besar. Pas keluar ternyata itu seporsi besar nasi goreng yang dihidangkan di sebuah piring yang ga kalah besar dan semangkok kecil soto (soto bisa juga diganti dengan risoles-risoles kecil). Saya sempat mencibir, ah ini sih saya sendiri juga sanggup. Tapi ternyata salah! Begitu si sahabat berhenti makan karena mengaku kekenyangan, saya juga mendadak kekenyangan. Sampai malam saya ga makan lagi loh.. *usap-usap perut*

Nasi goreng yang kami pesan itu disebut nasi goreng jawa, dikasih saos kacang juga di pinggirnya. Saya sebenarnya ga mau, tapi si sahabat mau jadi saya ngalah. Rasanya lumayan lah, cuma kurang garem doang dikit. Sebelum selesai makan saya sempat minta garam, baru deh kerasa enaknya dan pas banget di lidah. Rasanya sotonya malah yang menurut saya keasinan, tapi enak kok, isinya setengah potong telor ayam, potongan daging ayam, dan lainnya yang biasa ada di soto Madura. Harga makanan di menu A itu murah banget, cuma 4,50 euro! Harga sangat terjangkau dan porsinya pas buat bedua, mahahaha sering-sering ke sana deh eyke! :p

soto ayam

nasi goreng Jawa

Book of This Month

Februari

Setelah Januari kemarin sempat vakum, akhir Februari kemarin saya mulai beli buku lagi. Sebuah roman berjudul Gut Gegen Nordwind karya penulis Jerman, Daniel Glattaur. Beli buku itu karena suka salah satu kutipannya:

Schreiben Sie mir, Emmi.

Schreiben ist wie Küssen, nur ohne Lippen.

Schreiben ist Küssen mit dem Kopf.

“Menulislah untukku, Emmi. Menulis itu seperti berciuman, namun tanpa bibir. Menulis adalah berciuman dengan menggunakan kepala.”

Kutipan tersebut sudah pernah dua kali saya tulis di blog ini, salah satunya di tulisan Menulislah, yang saya bikin karena terispirasi dari sana. Lucunya, saya menemukan buku ini sehari setelah menulis tulisan itu. Oh iya, pertama kali nemu kutipan ini di katalog jadwal teater di tempat guest father saya kerja, kalau ga salah dia juga menulis satu teater pendek dari kutipan itu. Makanya pas nemu buku ini saya senang banget 🙂

Gut gegen Nordwind - Daniel Glattauer

Dalam waktu dua hari saya berhasil menyelesaikan buku berbahasa Jerman ini (bisa lebih cepat sih, tapi kan saya sibuk banget gitu. *digetok ipad*). Biasanya saya ga pernah selesai loh baca roman berbahasa Jerman, selalu tutup buku bahkan sebelum tiba di halaman 15. Saya suka banget buku ini, bikin selalu ingin baca lagi dan lagi. Bahkan saat tiba di halaman terakhir, saya masih pengen membukanya lagi buat tau kelanjutannya.

Bercerita tentang hubungan cinta virtual yang awalnya disebabkan e-mail yang salah kirim, gaya penulisannya unik, walau kedua tokoh utama sudah saling kenal namun masih menggunakan “Anda” dan “Saya” di tiap percakapannya. Untuk yang tertarik, bisa baca versi Indonesia dengan judul “Hembusan Angin Utara”.

Maret

Bulan ini saya beli dua buku sekaligus. Satu buku tentang belajar bahasa Jerman (sebenarnya ditujukan untuk mereka dengan bahasa Ibu bahasa Jerman), yaitu Wie Gut Ist Ihr Deutsch? – Der große Test karya Bastian Sick.

Seberapa bagus bahasa Jerman Anda?

Isinya melulu pertanyaan seputar bahasa Jerman, seperti penulisan yang baik dan benar, kata serapan bahasa Jerman dari bahasa Inggris atau bahasa asing lain, penggunaan artikel (jenis kelamin dalam nomen), dan sebagainya. Di bagian akhir disediakan juga kunci jawaban. Sampai saat ini saya masih ada di bab ke-3, pusing ngisinya. Mesti sambil buka contekan ke om Google kayanya deh..

Selain buku ini Sick juga sudah mengeluarkan buku-buku sejenis, ngomongin segala gramatik bahasa Jerman. Dia juga punya situs pribadi yang menurutnya terdapat pula permainan tentang bahasa Jerman seperti di buku ini. Yakin deh saya, doi lulusan jurusan Germanistik (Linguitsik bahasa Jerman) seperti saya, bedanya bahasa Jerman adalah bahasa ibunya dan dia pinter, sedangkan saya kebalikannya.

Buku kedua yang saya beli bulan ini adalah To Kill A Mockingbird. Sudah pernah dengar atau bahkan sudah pernah baca, kan? Saya suka banget buku ini, dulu sempat baca yang versi Indonesia, dan sekarang beli versi bahasa Inggris. Buku hasil karya penulis Harper Lee ini pernah menang Pulitzer Prize *takjub* dan diterjemahkan ke banyak bahasa.

Bercerita tentang isu rasisme hasil pengamatan Lee semasa kecil di lingkungan tempat ia tinggal. Sewaktu selesai baca saya sempat bengong mikir kembali apa yang sebenarnya saya baca, rumit namun sederhana sekali, setelah itu saya baru mengerti ini ceritanya dan apa maksud judulnya itu.

Sudah baca juga buku ini? Sharing yuk 🙂

(Lagi-lagi) Flohmarkt

Wiken kemarin saya ke tiga Flohmarkt di tempat berbeda, gara-gara si sahabat nyari sepeda. Dia sudah nyari di e-bay, tapi kalau ada flohmarkt juga kenapa harus dilewatin untuk cari langsung, kan? Sepeda ketemu dengan harga 25 euro, yang aneh adalah semua bagian sepeda beda merek. Mungkin rakitan ya.. Setelah saya coba, ga terlalu nyaman, joknya keras dan terlalu pendek. Karena dia butuh cepet, ya dia langsung beli. Gak apa deh ya, ga terlalu mahal kok.

Flohmarkt pertama terletak di seberang stasiun UBahn Feldstrasse. Saya sudah dua kali ke sana, selalu ramai, namun ga terlalu spesial. Terletak di sebuah halaman entah gedung apa, lumayan besar lah. Sepeda banyak di sana namun harganya rata-rata di atas 50 euro.

Flohmarkt Feldstrasse

Tempat ke dua berada di dekat stasiun UBahn Horner Rehnbahnstrasse. Tepatnya terletak di sebuah tempat parkir semi basement, beda dengan yang di Feldstrasse. Sepi banget deh di sini, dan aneh banget liat mobil lalu lalang walau hanya satu atau dua buah. Selain gelap, juga terasa sempit dan pengap. Bikin Flohmarkt di tempat parkir semi basement kaya gini bukan pilihan menarik.

Flohmarkt di parkiran

parkiran di bawah tangga itulah lokasinya

Lokasi Flohmarkt ke tiga di luar kota Hamburg, tepatnya di Norderstedt Mitte (kota kecil sekitar 40 menitan dari kota Hamburg menggunkan U-Bahn). Ada dua orang teman dekat saya tinggal di sana, saya juga wiken kemarin nginep dua malam di salah satunya, jadi ke Flohmarkt yang ketiga ini dekat.

Letaknya di sebuah lapangan parkir sebuah supermarket atau apalah ini, lokasinya terpencil banget di daerah industri, busnya jarang. Di antara ketiga Flohmarkt cuma ini yang memuaskan, selain si sahabar nemu sepeda juga karena gede banget! Berasa lagi di Paun (Pasar Unpad) deh..

Di sini lengkap banget deh, dari kaos kaki, sabun mandi, obeng, Lego, kunci sepeda, tas, baju, sampai tutup kloset juga ada. Harga-harganya miring dan ga semuanya barang bekas. Makanan juga banyak tersedia, mulai dari kebab, permen karamel, wafel, dan jagung rebus gampang ditemukan. Karena lapar kami sempat ngemil di warung tenda yang menyediakan beragam masakan dari ikan. Saya makan sandwich berisi fillet ikan goreng (jangan tanya itu ikan apa, saya lupa liat) dan mayo, sedangkan si sahabat memilih calamari dengan perkedel ikan. Nom nom!

Flohmarkt di Fegro

Pencarian kami akan sepeda berakhir di sini, kami pulang dengan gembira dan.. kecapean. Hahaha. Ohiya, saya sempet mau beli otoped, tapi ga jadi karena harga ga sesuai yang saya mau. Kebetulan ga perlu-pelu banget, jadi pengennya 15 euro saja gitu, hihihi.

Di sana kami juga mendengar seorang Jerman ngomong, “Iya ya, menjual barang hasil curian.” Sempet kepikiran juga sih kalau sepeda yang si sahabat beli itu mungkin saja hasil curian.. Tapi entah lah. Kebanyakan penjual di sana orang asing loh.

***

Fiuh.. Selesai juga pe-er saya. Hutang banget nih seminggu ga nge-blog. Jangankan itu, komen di blog sendiri atau blogwalking juga belum sempat lagi, semoga besok-besok ga cape duluan buat ngelakuin itu 🙂

Sudah jam 02.30 nih, tidur dulu yaa.. Selamat malam yang telat dan pagi yang kepagian dari Hamburg 🙂

***

I don’t always fall in love but when I do, he’s a lucky bastard. 

Advertisements

20 thoughts on “Late Weekly Review

  1. Arman says:

    wah enak amat kerja 2-3 hari dapet libur 2-3 hari juga? 😀

    iya itu nasgor nya kalo di foto keliatannya gak banyak ya. tapi ternyata kenyang juga ya dimakan berdua? hehehe.

  2. Mayya says:

    Aku juga beberapa bulan yg lalu selesai baca To Kill a Mockingbird yang versi Indonesia, krn penasaran tiap di toko buku, pasti ada.

    Banyak Flohmarkt ya disana jeng! Senangnya bisa beli yang murah meriah ^^

  3. zilko says:

    Iya tuh, penampakan nasi gorengnya kayaknya gak banyak, tapi bisa bikin kenyang juga ya? Hmmmmm… . Dan memang murah banget tuh 4.5 euro. Buat sendiri juga masih oke deh, wkakakaka 😆

    Itu sandwich isi filet ikan dan mayonya kayaknya enak ya, nyahahaha 😆 *padahal sepertinya sih kurang sehat ya, haha 😛 *. Tapi aku entah kenapa kurang tertarik kalau isinya ikan gitu, kalau ayam atau daging gitu mungkin malah lebih tertarik deh, hmm

    • mariskaajeng says:

      kalau aku sih kalau makan sendiri berarti seharian ga makan lagi, hihi. eh 4,5 euro itu masih pake soto mangkok kecil itu loh, murah banget kaaannn 🙂

      ahaha faktor kesehatan emang selalu dilupakan ya, yang penting lidah :p isi ayam atau daging sih biasa Ko, coba deh, enak enaakk 🙂

      • Asop says:

        Mbak Mar, kalo lomo, kira2 harga di jerman sana ama di indonesia sini mahalan di mana?
        Kalo kira2 saya nitip beliin di sana, ongkos kirimnya mahal gak sih? Bakalan rugi ya saya (gedean ongkos kirim ketimbang harga lomo)? 😦

      • mariskaajeng says:

        harga lomo di Indo berapaan ya? di sini fish eye sekitar 69an euro. bisa jadi lebih mahal setelah euro-nya dikonversi ke rupiah. temen pernah loh dulu nemu fish eye di ebay cuma 1-2 euroan *iri*

        ongkir ke Indo saya ga tau deh, kalau ga salah sih kirim barang ke luar negeri di bawah 2kg kena 12 euro..

        btw panggil Ajeng aja, biar lebih akrab *halah* 😆

      • Asop says:

        Kebetulan, saya naksirnya Fisheye2. 😀

        Dulu saya pernah lihat di Jakarta, harga Fisheye2 1 juta pas. Itu 69 euro + 12 euro kalo jadi rupiah berapa ya? …… mahal juga ya… 😆 😆

        Aih, saya gak enak kalo cuma manggil “Ajeng” aja… 😳

      • mariskaajeng says:

        barusan liat di online shop nya, kalo fisheye2 harganya 79 euro. anggap aja 1 euro itu 12 ribu rupiah ya, jadi berapa tuh sama ongkirnya? lebih dari 1 juta deh tuh sepertinya.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s