Apa kamu sebenarnya pernah nyata bagiku?

Aku dengan sengaja sambil menantang diri sendiri membuka berlembar-lembar tulisan yang pernah aku buat di masa lalu. Semua itu sebenarnya benar adanya, namun entah mengapa seakan menjadi sebuah cerita fiksi begitu aku membacanya kembali malam ini. Apakah semua tokoh di dalam cerita itu nyata? Apakah semua kejadian itu memang benar pernah terjadi dan juga berada di antara ingatan kalian?

Aku ingat dengan sebuah teriakan dari seorang ibu yang meminta anak bungsunya untuk mengabadikan sebuah kebahagiaan yang mungkin masih tersimpan rapat di kotak hitam kesayangannya. Katakan kepadaku, sudahkah potret tersebut diperlihatkan dan apakah masih ada, sudah terhapus, atau mungkin sebuah wajah dengan ajaib mendadak menghilang? Iya benar, wajah tepat di tengah meja makan kayu warna kuning. Tepat di tengah, sumber teriakan ini itu dan segala macam perkenalan di ujung kelelahan akan anak yang teriak meminta ditunjukan beruang kutub.

Kamu tahu, perasaanku seakan menyuruh kaki untuk hengkang dari atas kasur lalu berlari dan berlari sejauh 300 kilometer ke arah barat. Jangan tertawa, mengendarai mobil atau menumpang kereta memang tentu saja akan mengurangi keletihan dan jarak tempuh, tapi bukankan rasanya berbeda? Berlari yang tidak hanya karena ingin menuju sesuatu, namun juga untuk melepaskan sesuatu. Silahkan bertanya kalau tidak mengerti.

Pernah seseorang menawarkan kepadaku kendaraannya untuk bersama pergi ke sebuah negara yang harga barang di sana bahkan lebih mahal dari di tempat aku pernah tinggal. Negara yang bahasanya tidak aku mengerti, namun aku secara tidak langsung punya hubungan dengan seorang perempuan berumur 19 tahun yang tinggal di sana. Aku dengar kamu ke sana di awal tahun berakhirnya semesta, mendadak katanya. Namun keyakinanku bilang, tidak ada hal yang tidak direncanakan, bahkan kelahiran penduduk baru di bumi sudah terencanakan dengan matang bahkan sampai di pertanyaan kapan ia akan kembali ke pembuatnya.

Terkadang aku bermain sendirian di atas sebuah alas ungu dengan sebuah aku yang lain. Ia bertanya apa masa lalu benar ada atau sebenarnya hanya sebuah mimpi yang terlihat seperti nyata. Di atas kulit tidak ada yang berubah. Di sebuah buku tidak ada yang berubah. Di sebuah alat percakapan biru pun sama. Hanya saja di sebuah kotak hitam tua penuh goresan itu berubah, nomor-nomor yang berserakan bisa membuatku mendapatkan serangan jantung ringan.

Sebenarnya yang tidak berubah itu yang sebenarnya berubah, karena itu aku bertanya apa benar semuanya pernah nyata. Semua yang tidak berubah tetap sama, statis. Semua yang berubah itu tetap sama, statis. Gejala fluktuatif diselipi ketidakamanan sempat beberapa ribu kali membuatku bergelinjang. Pertanyaan seorang semi-asing di toko beras tidak lagi membunuh, namun menguras akuarium ikan hiasku.

Boleh aku bertanya, apa kamu sebenarnya pernah nyata bagiku?

Hamburg, 7 Maret 2012

Advertisements

11 thoughts on “Apa kamu sebenarnya pernah nyata bagiku?

  1. hapanipi says:

    wow jengki, kemaren lagi di mesin waktu toh…. nyata atau tidak nyata, tulisan sudah menjadi teks.. aza aza fighcing!! *semangat ala korea*

  2. diwani says:

    mantaapp jeng. suka sekali dengan kalimat ini :
    “Berlari yang tidak hanya karena ingin menuju sesuatu, namun juga untuk melepaskan sesuatu”

    apa artinya itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s