Penghuni Kamar Keempat

Laki-laki bertubuh kecil ini seumuran dengan penghuni kamar pertama. Hobinya tidur siang kalau siang ga ada janji, baca buku peta Hamburg sore hari sambil nunggu panggilan makan malam atau mandi, dan nonton TV di kamarnya gelap-gelapan setelah makan malam sampai menjelang tidur.

Setiap pagi berangkat kerja pukul 06.30 waktu Finkenwerder bareng penghuni kamar ke-9 dan kembali ke rumah sekitar pukul 13.10. Dua minggu sekali pulang ke rumah ibunya di Harburg, ibunya menjemput dia dari tempat kerja Jumat sore lalu mengantarnya kembali ke WG minggu sore. Ia mempunyai sedikit kesulitan untuk berjalan jauh, karena itu kalau mau ke dokter atau terapi Ergo harus dianterin dan dia akan menggenggam tangan Betreuer dengan erat. *bisa  sampai bikin tangan yang nganterinnya pegel loh, karena dia menggenggamnya kencengeeeeng banget*

Dia jarang banget ngomong, sekalinya ngomong tuh harus yang penting banget seperti: “bodoh!”. Mahahaha. Itu bisanya karena dia disuruh habisin minumannya. Dia jarang banget minum, di kamarnya ada sebotol air mineral ukuran besar yang perlu berminggu-minggu untuk habis. Kalau makan obat juga ga pake air, langsung telan. Ga heran dia sudah beberapa kali sakit gara-gara ini. Kami juga punya dokumen khusus yang tentang sudah berapa banyak minuman dingin dan hangat dia minum tiap harinya, kami harus mengisi dokumen ini tiap hari tapi kenyataannya cuma si bos yang rajin ngisi :p

Yang saya perhatikan, doi tuh bener-bener males ngomong banget. Doyannya cuma bilang “iya” atau “engga”, itu juga dengan muka bingung dan bikin penanya bingung juga. Misalnya nih di jam makan malam doi pengen ambil roti yang jauh darinya, dia cuma ngeliatin rotinya terus ngeliatin orang-orang di sekitarnya. Kadang saya belaga bego aja, “Eh kamu mau apa? Mau keju?” terus dia ngambek deh. Saat saya meleng dikit, dia meletin lidah ke arah saya dengan kesal, kalau saya balik liat ke dia, dia cengengesan lagi. Apa susahnya coba bilang, “roti.” Entar banyak deh yang bantuin ambilin.

Saya menyayangkan banget kemalasan dia ngomong, jadi susah komunikasi dengan dia bahkan untuk bantuin dia. Dia maunya langsung marah-marah dan ngomong “bodoh” kalau kami kebanyakan ngasih dia makan siang atau apa. Padahal kan itu bukan masalah besar juga.

Bulan kedua saya kerja, dia sempat kehilangan kunci kamarnya di tempat kerja. Dia ga bisa masuk kamar selama beberapa jam karena kami juga ternyata ga punya kunci cadangan. Masalah terpecahkan saat ibunya menyarankan kami untuk menelepon kolega kami yang bertugas di bagian kebersihan (Hauswirtschaft) yang ternyata menyimpan kunci cadangan.

Satu atau dua minggu kemudian, di hari senin saat ia balik dari tempat kerja setelah wiken nginep di rumah ortunya, dia kembali ga bisa masuk kamar, karena kunci cadangannya itu sedang dibuat duplikatnya oleh kolega saya. Seharusnya kunci itu selesai hari jumat sebelumnya, tapi entahlah gimana jadi aja belum selesai. Dia kesel banget saat itu, pintu ditendangin sambil teriak-teriak mengumpat. Saya waktu itu sendirian di rumah. kolega yang tugas bareng lagi nemenin penghuni kamar pertama di basement, ga mungkin nelepon dia. Akhirnya saya menelepon kolega lain yang akan datang sore.

Kunci ternyata benar di dia, dia yang dapat tugas penggandaan kunci. Saya jelaskan situasi di rumah dan (sangat) berharap dia cepat datang, tapi apa tanggapan dia? “Saya datang sesuai jadwal, pukul 17, minta dia untuk istirahat di ruang TV saja.” Saya bengong. Orang sini memang kaya gini ya? Gilak, si penghuni kamar ke-4 pasti ga mau nih disuruh istirahat di ruang TV, kasus yang pertama aja dia keukeuh nunggu di depan kamarnya, apalagi sekarang saat dia lagi kesel.

Ga lama kolega yang tadi di basement itu datang dan kayanya sih (saya lupa detailnya) berhasil ngebujuk si penghuni kamar ke-4 untuk istirahat di sofa di koridor, walau tetap ga mau di ruang TV. Sampai sekarang dia ga pernah kehilangan kunci lagi dan kami punya dua kunci cadangan di kantor biar pristiwa itu ga terjadi lagi.

Tahu penyakit Hydrocephalus (Meningitis) ga? Penyakit gangguan aliran dalam otak yang menyebabkan cairan dalam otak bertambah banyak. Biasanya penderita akan memiliki kepala berukuran lebih besar dari ukuran normal akibat kelebihan cairan itu. Nah, dia salah satu penderitanya, namun ukuran kepalanya masih bisa terhitung normal. Hanya saja harus diperhatikan kalau dia mengeluh sakit kepala, kami harus membantu dia membuka semacam pentil di kepalanya untuk mengeluarkan cairan dari kepalanya dengan menggunakan selang kecil. Selama saya kerja belum pernah mendengar keluhan tentang hal ini, jadi belum berpengalaman seperti apa dan bagaimana detailnya.

Kalau ga salah dia Geistige dan Seele Behinderung. Selain itu dia memiliki dua kepribadian. Terkadang dia lebih suka dipanggil dengan nama perempuan. Saya belum bisa membedakan gestik dia saat menjadi perempuan, pokoknya lebih kemayu dan sinis lah mukanya, tapi biasanya dia akan ngasih tau kok kalau sedang jadi perempuan. Biar saya ga pusing sendiri atau bikin dia bete, saya panggil dia dengan kedua nama itu biasanya. Semua senang deh.

Sebagai penderita epilepsi, dia tidak boleh ditinggal berendam di bathtub sendirian (dia lebih senang berendam dibandingkan mandi pakai shower). Pada prinsipnya dia mandiri dalam segala hal, jadi kami akan membawa buku dan membaca jika kebagian nemenin dia berendam. Setelah itu kami hanya harus memberikan handuk dan menemaninya mencukur kumis di kamar. Ssstt, saya belum pernah nemenin dia cukur kumis, pernah saya suruh saja dia sendiri saja melakukannya di kamarnya.

Kalau pintu kamarnya ditutup, jangan harap dia mau buka pintu dengan bahagia dan mau menerima ajakan apa pun. Pernah kejadian, jam 1630 karena ga tau harus ngapain, saya ketuk pintu kamar dia dan ngajak mandi. Dia bukain pintu dengan sedikit sewot dan menolak mandi. Saya lapor bos, “Doi ga mau mandi bos. Besok aja lah ya..”

“Pintunya ketutup ya?” pertanyaan si bos saya jawab dengan anggukan. Dia lalu menjelaskan soal itu, mendingan jangan ganggu dia kalau pintunya tertutup, ajak mandinya nanti kalau pintu dia kebuka (biasanya jam 5an). Dan bener loh! Saat pintunya kebuka, dia mau disuruh mandi. Ohya, jangan lupa pasang alas karet di dasar bathtub kalau dia berendam, biar ga licin jadi lebih aman.

Eh, tau ga kenapa dia mesti ditungguin kalau mandi? Penderita epilepsi bisa anfal di mana saja, apa lagi saat berada di dalam air, maka dari itu dia harus selalu ditemani saat berendam. Btw setiap kamar mandi dan kamar tidur dipasang alarm yang bila ditekan atau ditarik akan terdengar bunyinya di kantor dan ruang TV.

Apa lagi ya..

Hmm.. Ibunya terlihat sangat sayang banget sama dia. Kalau hari minggu sore nganterin dia pulang ke rumah, si ibu pasti bawain dia beberapa potong roti dan buatin segelas teh hangat untuknya. Dia punya sebuah mug kesayangan bertuliskan Mallorca, si ibu akan mencari-cari mug itu buat bikin teh untuk anak tersayangnya. Saat akan pulang mereka akan berkali-kali ber-kiss bye ria sambil saling bertatapan seperti sepasang kekasih yang harus berpisah sebentar. Ga lebay deh saya.

Tiap sarapan dan makan malam dia senang sekali makan knäcker Brot (roti berbentuk pipih dan garing seperti biskuit). Selalu dua buah knäcker Brot pada setiap waktu makan. Untuk sarapan, salah satunya diolesi margarin lalu diberi selambar keju dan satunya lagi margarin lalu selai cokelat. Untuk makan malam, salah satunya kombinasi margarin keju juga sama, sedangkan lainnya Fleischsalat (salat yang di dalamnya juga berisi daging selain sayur segar dan mayonais). Dia juga membawa bekal ke tempat kerja, satu termos kecil kopi dan sekeping knäcker Brot.

Setiap pulang kerja setelah ganti baju dia akan datang ke dapur untuk minum cappucino bareng penghuni kamar ke-9 yang satu mobil jemputan dengan dia. Kalau pekerjaan mereka sama, maka setiap hari kerja dia akan sibuk untuk ngepak-ngepakin produk higinitas seperti sabun cair mandi.

Dia bisa membaca dan menulis. Setiap seminggu sekali harus ikut terapi Ergo di belakang rumah untuk melatih saraf motorik halus dan kasarnya. Terakhir yang saya tahu bentuk terapinya adalah membuat keranjang dari bambu yang selesai dalam waktu kira-kira enam bulan. Ia rutin mendapat kiriman majalah jadwal televisi (ada ga sih majalah sejenis di Indonesia?) untuk memuaskan hobi nonton TV nya itu. Seminggu sekali dapat libur di hari rabu, sekarang ini di hari libur digunakan untuk mencoba belajar Learn Computer (komputer sederhana yang biasanya digunakan untuk anak-anak) dengan kolega.

Di dalam kamarnya ada sebuah ember plastik ukuran sedang yang berisi penuh air dan dialasi piring plastik, letaknya di atas meja bagian ujung tempat tidurnya. Entah air itu apaan, namun menurutnya penting banget. Setiap pagi ember itu akan berada di kamar mandi karena isinya dibuang oleh Hauswirtschaft kami. Dia akan mengisinya kembali dengan air lalu meletakan di kamar saat pulang kerja, kadang sambil misuh-misuh. Ga ada yang tau arti atau maksud ember air itu apa.

Menurut Hauswirtschaft, penghuni kamar ke-4 ini jorok. Ada yang salah di kamar mandi, berarti itu salah dia. Ga perlu saya cerita detail ya, nanti pada ga bisa tidur karena jijik lagi..

Penghuni kamar ke-4 ini cenderung lebih introvert dibandingkan yang lainnya. Lebih senang istirahat dan berdiam diri di kamar, dari pada ikut kumpul di dapur sambil minum kopi. Okay, sepertinya sudah semua deh diceritakan. Saya kehabisan bahan nih..

Siap-siap untuk cerita selanjutnya tentang penghuni kamar ke-5 ya.. Sampai nanti dan selamat istirahat 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Penghuni Kamar Keempat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s