Cerita Kerja: Fasching

Ceritanya hari Senin (20/2) kemarin saya nemenin dua orang penghuni rumah ke Fasching Party atau karnaval di Harburg. Kami ke sana naik bus umum, menunggu lima menit di dekat WG lalu perjalanan berlangsung selama kurang lebih 40 menit. Rumah saya di Harburg, jadi saya hapal betu rute bus 146 ini.

Sampai di tempat acara, sepi, ga terlalu banyak yang datang. Penghuni kamar ke-5 langsung melantai di ruang “dugem” yang berisik musik. Penghuni kamar ke-9 anteng sama saya di ruang makan sambil minum kopi. Karena saya bosen, saya ajaklah dia melantai juga di sana.

Penghuni kamar ke-9 memakai rolli loh, jadi saya harus sok-sokan joget bareng dia. Saya puter-puterin kursi rodanya, goyang-goyangin ke kanan kiri, atau maju mundur. Dia sih lempeng aja mukanya, emang begitu. Penghuni kamar ke-5 juga sebenarnya cuma goyang-goyangin badan ke kanan kiri, tapi cukuplah dari pada ga ngapa-ngapain.

Acara sore itu ditujukan untuk orang-orang kebutuhan khusus, mereka bekerja sama dengan lembaga kantor saya juga dan lembaga lain. Seminggu 4-5 kali mereka membuat acara rutin, misalnya tiap hari minggu jam 10 sarapan bareng atau hari senin sore kursus masak di sana. Acara Fasching ini tapi acara irregular, cuma karena bertepatan dengan Rosenmontag aja diadakannya.

Sore hari penyelenggara menyediakan makan malam untuk kami, jangan ngarepin soto ayam! Namanya makan malam di sini ya cuma salat nudel, roti, sosis, dan potongan sayur segar seperti paprika dan timun. Saya cuma makan salat nudel, karena cuma itu yang bisa saya makan. Penghuni kamar ke-5 makannya banyak banget, setelah habis satu porsi salat nudel dan sosis, dia masih minta salat nudel lagi ke ibu yang ngurusin makanan. Dia minta lebih pula, “viel?” Si ibu itu sewot, “yang lain juga mau, kamu cukup!”

Mendengar jawaban itu, dia langsung buru-buru mundur balik ke tempat duduknya. Saya dari tadi memperhatikannya dari belakang, yakin kalau dia ga apa-apa. Sampai saat saya nyamperin dia dan nanya, “kamu gak apa-apa?”. Dia nengok ke arah saya, mukanya sediiiiiihhh banget.. “Dia marah. Dia marah.” katanya sambil nunjuk ibu itu.

Saya sebenarnya mau ketawa liatnya. Penghuni kamar ke-5 adalah seorang pria berumur sekitar akhir 40 tahun, rambutnya hampir sebagian sudah putih, badanya lumayan besar walau ga tinggi banget, dan selalu memakai kemeja rapih. Nah bayangin kalian melihat bapak-bapak dengan ciri-ciri begitu mau nangis cuma karena ga dikasih makanan. Geli sendiri, kan? 😆

Karena kasian juga, jadi saya bujuk dia pakai makanan lain. “Eh ini ada roti isi loh, mau cobain? Ambil deh dua, boleh kok. Roti tawar mau? Engga? Timun yang itu boleh diabisin deh kalo gitu. Timun dan paprika ini juga boleh, diambilin dulu ya garpunya..”

Lumayan tuh dia keliatan rada seneng setelah disodorin makanan. Tapi dia tetep nunjuk-nunjuk si ibu itu sambil nanya namanya siapa. Saya sempat menghampiri si ibu itu, dia menjelaskan soal salat nudel yang saya sendiri sudah mengerti maksudnya. Saya balik lagi ke penghuni kamar ke-5, kasih tau nama si ibu, kasih banyak makanan, baru deh dia bisa tenang. “Ibu jahat. Ibu jahat,” berkali-kali dia ngomong gitu ke saya sebelum saya balik ke bangku saya.

Jam 18.30 tamu-tamu lain sudah mulai pulang, jam 19 kurang sudah mulai ga ada tamu kecuali kami bertiga. Penghuni kamar ke-5 mecahin balon-balon udara yang ada di ruangan dugem. Penyelenggara acara bilang ke saya, dia boleh mecahin semua balon, termasuk di ruang makan.

Setelah semuanya pecah, saya suruh dia ke ruang makan. Ada si ibu yang tadi itu di sana, dia sempat protes lagi begitu si penghuni kamar ke-5 mecahin balon. “Hei! Di sana kalau mau mecahin” dia menunjuk ke ruangan sebelah. Saya jelaskan kalau sudah ada izin untuk Bewohner sayauntuk mecahin balon, baru deh dia mengizinkan. Gimana reaksi penghuni kamar ke-5? Keliatan jiper. Mahaha. Namun begitu si ibu itu menginzinkan, dia berubah jadi senang dan bilang, “Ibu, baik. Baik.” Hahahaha!

Taksi yang kami pesan datang pukul 19.30, rasanya bosen banget nunggu taksi datang saat tamu-tamu lain sudah pulang dan sudah ga mood buat melantai bareng penghuni kamar ke-9.

Sesuai rencana, mereka berdua saya kirim pulang dengan taksi langganan yang sudah dipesan sejak pagi, agar saya bisa langsung pulang. Supir taksinya sudah lama kenal dan menjadi langganan kami, makanya aman banget buat Bewohner untuk pulang dengan dia. Dari tempat acara ke rumah saya cuma satu halte naik bis atau S-Bahn, karena itu lebih baik pesan taksi langganan, biar saya ga perlu bolak balik Harburg – Finkenwerder – Harburg.

Semoga malam itu menjadi salah satu malam yang menyenangkan bagi mereka 🙂

+++

Btw ga ada foto, karena kamera saya sejak senin sore rusak 😦 sekarang lagi di-service di Saturn. Sedih deh..

+++

Footnote:
Viel – banyak
Rosenmontag – mirip dengan karnaval Mardi Gras. baca penjelasan dari Wikipedia di sini
salat nudel – salad yang terdiri dari pasta, beberapa jenis sayur, dan mayonais
Advertisements

9 thoughts on “Cerita Kerja: Fasching

  1. zilko says:

    “viel” itu maksudnya “banyak” kah? (bhs Belandanya sih “veel”). Kasian juga ya mau nambah gak boleh gitu, hahaha 😆 Itu ibu-ibunya seharusnya tahu dong ya kalau pengunjungnya kan bewohner gitu jadi harusnya sikapnya bisa lebih lunak dikit lah, haha 😛 Atau memang gitu ya? Jadi bewohner-nya belajar disiplin dikit gitu? Hmmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s