Februari Minggu Ketiga

Kamis (16/2)

Setelah tiga hari kerja saya dapat dua hari libur, oh nikmaaatt banget.. Hari pertama saya habiskan hanya di rumah, sama sekali ga keluar rumah. Enak banget deh males-malesan.. Bangun tidur jam 9an, keluar kamar jam 10 langsung sarapan. Buat makan siang saya bikin Frikadellen dan Kartoffeln Püree. Dari namanya, makanan yang pertama sekilas seperti perkedel, ya?

Iya bener itu adalah perkedel a la Jerman. Kalau di Indonesia perkedel terbuat dari kentang yang dikasih daging cincang, di Jerman terbuat dari daging saja. Sedangkan Kartoffeln Püree adalah kentang rebus yang dihaluskan lalu diberi garam dan susu cair, sudah pernah mencoba?

Frikadellen dan Kartoffeln Püree

Resep perkedel saya dapat dari kolega, dia pernah masak itu di kantor, enaak banget deh.. Bulan lalu saya coba bikin perkedel a la mereka sesuai petunjuk kolega itu, hasilnya lumayan lah.. Hari ini saya coba lagi di rumah. Ada yang mau coba bikin juga? Gampang kok, cuma butuh daging cincang, bawang bombay yang diiris halus, telor, garam, merica, dan sedikit tepung panir. Kalau ga ada tepung panir, bisa pakai roti tawar yang sudah diremas kecil. Semuanya dicampur terus aduk pakai tangan. Goreng deh. Gampang, kan?

Untuk bikin Kartoffeln Püree juga ga kalah mudah, hanya perlu rebus kentang lalu haluskan sambil dimasukan susu cair dan garam. Jumlah volume susu mempengaruhi halus atau kasarnya fisik si kentang. Kartoffeln Püree itu kira-kira  mashed potato lah. Saya tau resep itu dari Guest Family yang di Berlin. Begitu saya kerja di tempat sekarang, baru tau lah saya ternyata ada bubuk kentang khusus untuk bikin Kartoffeln Püree. Kita hanya perlu menjerang air, masukan susu cair begitu mendidih, angkat panci dari kompor, masukan bubuknya lalu aduk. Semua memang instan di sini.

Selesai masak dan makan, saya pergi tidur siang, hoho.. Malamnya selesai makan malam saya males-malesan di ruang TV, sambil nonton film The Ugly Truth (yang diterjemahkan ke bahasa Jerman menjadi die nackte Wahrheit – The naked Truth), ngobrol sama orang rumah, dan belajar bahasa Jerman on-line.

Jarang-jarang loh saya bisa males-malesan seharian di rumah kalau libur.. Rasanya enaaaaaaaaakkkk banget! ^^

Jumat (17/2)

Yaks, setelah kemarin males-malesan di rumah, hari libur ini saya kembali deh sibuk di luar. Biar balance. Awalnya siang cuma mau nganterin masakan kemarin ke si Bumil, eh ternyata si Bumil tergoda untuk bolos. MAHAHAHA. *bertanduk*

Jadilah kami berdua pergi ke kota, muter-muter di Saturn (toko eletronik) dekat Hauptbahnhof, terus makan di restoran Cina dekat situ. Itu loh restoran favorit saya, yang di sana saya selalu mesan sup bihun pakai bebek panggang.

Harga satu porsinya 8,5 Euro atau sekitar 90 ribu rupiah (eh kok mahal sih?! -___-“). Porsi gede banget, biasanya saya ga makan apa-apa lagi sampai besoknya kalau makan siang ini. Tiap mesen ini biasanya saya minta mangkok kecil, biar makannya lebih gampang, juga biar si Bumil bisa ikut cicipin kuahnya. Biasanya kami memang suka tukeran makanan kalau makan bareng, apa lagi kalau ada sahabat kami yang satunya 🙂

Karena saya lupa ambil fotonya sebelum makan, jadi ini saya kasih liat kuahnya di mangkok kecil yang sudah dikasih sambal khas Cina aja ya..

menjelang habis

Setelah makan sampai perut rasanya mau meledak, kami menuju toko Asia beli Indomie. Letaknya ga jauh dari restoran, tepatnya di belakang Saturn (restorannya di samping Saturn). Harga Indomie di sana sama kaya harga di Toko Indonesia, yaitu 35 sen. Di toko Asia lainnya harganya 40 sen, jadi kalau males ke Toko Indonesia, saya lebih milih ke toko Asia ini dibanding ke lainnya.

Dari sana kami balik lagi ke Saturn untuk nonton film gratis. Di bagian khusus film dan DVD di lantai atas disediakan sebuah bioskop mini yang terbuka untuk umun dan gratis. Waktu kami ke sana tempat duduk hampir penuh dan film yang diputar adalah Johnny English. Lagi-lagi filmnya diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Si Bumil sempat bercanda, “Ini sih bukan Johnny English lagi, tapi jadi Johnny Deutsch!” 😆

Johnny Deutsch

Hari itu saya sampai di rumah sekitar jam 8 malam. Sebelumnya si Bumil sempat beli cincin buat suaminya *tepok tangan*, lalu kami ke toko bahan makanan bio, dan minum bubble tea di Harburg. Ssstt.. Di Jerman minuman bubble tea itu baru nge-trend beberapa bulan terakhir loh, lagi heboh sampai pernah di bahas juga di TV. Ih, kalah dong sama Indo..

Sabtu (18/2)

Wiken ini saya kebagian kerja lagi. Kali ini selain bareng kolega laki-laki si 100%, juga bareng kolega laki-laki si 75%. Minggu lalu si kolega 75% bilang kemungkinan kami akan tamasya kalau hari Sabtu ini cuaca bagus, selain itu si Penghuni kamar pertama lagi pulang ke rumah orangtuanya, jadi tamasya kami lebih tenang tanpa dia 🙂

Setelah si kolega 75% sibuk guglang-gugling mencari tempat yang enak buat makan siang sambil tamasya, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di kapal wisata. Rute kami adalah jalan ke pelabuhan kecil dekat kantor, lalu naik kapal transport menuju Landungsbrücken, dan lanjut naik kapal wisata untuk makan di dalamnya sambil menyusuri Elbe.

Kapal wisata berlayar selama sejam menyusuri pelabuhan di sekitaran Hamburg. Dalamnya bagus deh, mewah kaya restoran. Selama perjalanan juga ada tour guide yang menjelaskan tentang pelabuhan, container, dan kapal pengangkut barang di Hamburg. Untuk naik kapal wisata dikenakan biaya sebesar 17,5 Euro. Ini adalah kali pertamanya saya naik kapal wisata. Ga akan pernah naik kayanya deh saya kalau ga dibayarin kantor kaya sekarang.. :-p

di dalam kapal wisata

Wiken ini selain penghuni kamar pertama, ada dua penghuni lain yang pulang ke rumah ortunya. Selain itu ada salah satu penghuni yang pergi kursus masak, jadi hanya kami berdelapan (termasuk Betreuer) yang pergi.

Masing-masing dari kami harus mendorong satu rolli, pas banget tiga lawan tiga. Saya memilih untuk mendorong si penghuni kamar ketiga. Alasannya? Karena dia pasti ga akan mengeluh kalau saya ga sengaja salah ngedorong, juga dia ga akan ribut ngajak saya ngobrol.

Sebelumnya saya juga pernah ke Landungsbrücken bawa rolli. Ih gila capek banget. Masalahnya adalah selalu ada jembatan menanjak yang menghubungkan daratan dan pelabuhan. Ga cuman itu, buat masuk ke kapalnya juga susah karena penghubungnya itu kan rada-rada tinggi. Saya ga pernah berhasil tanpa bantuan orang-orang. Bayangin aja saya yang badannya kecil ini harus mendorong kursi roda berisi bule ke atas, gimana engga kecapean?

laut tertutup es

Tiba di Landungsbrücken, seharusnya kami hanya tinggal jalan lurus untuk naik kapal wisata. Sayangnya waktu itu lagi ada perbaikan, jadi kami harus naik keluar pelabuhan dulu, muter, lalu turun di pintu yang kami tuju. Ngerjain banget deh itu perbaikan jalan, bikin saya harus ekstra ngedorong-dorong rolli.

Untungnya pas di pelabuhan dekat kantor saat kami pulang, ada laki-laki nyamperin dan berbaik hati membiarkan dirinya mendorong kursi roda yang menjadi jatah saya. Kayanya dia kasian liat saya kewalahan mendorong rolli. Oh iya, kolega-kolega saya juga tiap di tanjakan selalu nengok ke arah saya dan bilang, “Bisa ga, Mariska? Mau dibantu?” dan saya jawab sambil nyengir, “Hihi, iya dong tolong.”

di sekitaran pelabuhan

Yang menarik dari perjalanan kami hari itu adalah laut yang tertutupi es. Seru banget ngeliat kapalnya membelah hamparan es. Sayangnya saya ga sempat ambil foto pas di dalam kapal. Dari dalam kapal wisata juga itu juga bisa dari dekat melihat kapal-kapal besar berisi banyaak sekali container, juga melihat bagaimana  alat besar menaik-turunkan container.

Sebelum pukul 5 sore kami sudah berada kembali di rumah (WG). Lagi kerajinan banget deh saya hari itu, datang ke kantor 30 menit lebih cepat, ga ngambil istirahat, pulang tepat waktu, dan menyuruh kolega 75% untuk pulang cepat. Seharusnya kan saya yang pulang cepat dan bukan dia? *tepok jidat*

Di kantor sebelum pulang saya sebenarnya sudah makan mie instan, eh begitu sampai rumah malah makan lagi. Heboh pula dengan porsis besar. Kayanya karena ga makan siang (di kapal cuma ada sosis daging babi, jadi saya makan kue doang) dan karena kecapean banget. Malam itu saya tidur cepat, ga sempat ngapa-ngapain lagi setelah mandi dan skype dengan teman. Sampai sekarang masih sakit punggung nih berasa.. 😦

Btw, buka link foto panorama Landungsbrücken ini deh. Semakin ke kanan itu menuju arah tempat kerja saya di Finkenwerder. Kalau sudah mentok ke kiri, bangunan di kiri bawah adalah S/U-Bahn Landungsbrücken. Lihat menara tepat di tengah foto (di depan S/U Bahn Landungsbrücken) ga? Di sekitar sana lah pelabuhan Landungsbrücken yang saya maksud.

Minggu (19/2)

Penghuni kamar ke 6 besok ulang tahun, tapi sedikit perayaannya sudah dari hari jumat (kami pergi makan ke restoran Yunani jumat kemarin, saya ga datang karena libur). Hari ini ibu, kakak, keponakan, dan dua sahabatnya datang. Kami ramean makan kue dan minum kopi bareng di rumah, rame deh. Ikutan senang saya.

Si kolega 100% itu saya perhatikan adalah tipe event organizer banget. Kemarin dia menyempatkan diri untuk belanja kebutuhan ultah penghuni kamar ke-6 sesaat sampai di rumah setelah tamasya bareng.

Hari ini doi sibuk masak makan siang buat kami, baru kali ini loh dia masak, biasanya saya yang bikin makan siang. Banyak pula, karena mengira keluarga si penghuni kamar ke-6 akan ikut makan, sayanganya mereka ternyata udah makan siang sebelumnya. Setelah makan siang dia sibuk lagi siapin buat minum kopi dan makan kue buat acara ultah. Saya juga ikutan sibuk ngurusin itu, sambil ngurusin cucian baju juga, walhasil saya lagi-lagi ga sempat ambil jam istirahat. Kami sebenarnya kerja bertiga, namun si kolega 75% harus menjemput penghuni kamar pertama dari rumah ortunya untuk pulang kembali ke WG. Mereka baru datang sesaat setelah acara ultah.

Semakin sore WG kami semakin ramai. Penghuni kamar ke-8 datang bawa makanan dari ortunya. Penghuni kamar ke-2, yang siang tadi dijemput ortunya, pulang diantar lagi oleh ortunya. Penghuni kamar pertama datang bareng si kolega 75%. Dan terakhir penghuni kamar ke-4 juga datang diantar kakak laki-laki dan ibunya. Berasa hari ortu banget deh hari ini. Dari siang ortu-ortu Bewohner silih berdatangan.

Jam 1730 WG kami sudah mulai penuh lagi dan hidup. Beneran hidup, sudah mulai ada keributan-keributan karena penghuni kamar pertama mulai rese matiin lampu ruang makan. Tapi mendingan WG rame deh, dari pada ga ada orang kaya siang hari ini..

Tadi saya pulang kerja 50 menit lebih cepat loh. Saya sudah bilang kan ga ada bus dari Finkenwerder ke Harburg kalau hari minggu? Bus ke Neuwiedenthal juga datangnya sejam sekali di menit ke-11, jadi terpaksa deh saya pulang kecepetan banget. Dari pada mesti nunggu lama lagi atau ke Altona dulu deh..

Besok saya kerja lagi, dari jam 9 pagi sampai jam 19.45. Rencananya besok nemenin Bewohner ke acara Fasching di Harburg dari sore sampai malam. Selesai acara saya bisa langsung pulang ke rumah dan mereka saya kirim pulang naik taxi. Pfiuh, bagus deh.. mending begitu dari pada saya bolak balik.

+++

Tidur dulu ya.. Selamat malam dari Hamburg. Mimpi indah 🙂

+++

footnote:
Fasching: karnaval
S-Bahn: Schnell Bahn (kereta cepat)
U-Bahn: Subway
Kartoffeln: kentang
Püree: bubur/halus
Rolli (Rohlstuhl): kursi roda

Advertisements

15 thoughts on “Februari Minggu Ketiga

  1. zilko says:

    Indomie disana kok cuma 35 sen sih? Di Belanda 39 sen nih, huahaha 😆 *eh, tapi kalau belinya di orientalmarkt yang di Den Haag kalau beli 5 gratis 1 sih, jadi hitungannya didiskon 17% dong ya, haha 😆 *.

    Untuk makan di luar harga 8,5 euro ya masih oke lah; apalagi dengan porsi Jerman, wkwkwkw 😆

    • mariskaajeng says:

      Delft sama Den Haag deket ga sih? buta peta Belanda nih.. niat banget ya kalo mau didiskon mesti ke luar kota dulu.. hihi 🙂 btw katanya kan harga-harga di Belanda lebih mahal dibanding di Jerman, makanya harga Indomie nya beda 4 sen. hihihi 😀

      iyaaa kalo abis makan itu kenyangnya bisa seharian saking gedenya porsi bule :))

  2. Mayya says:

    Sibuk ya Jeng?
    Wah, kayaknya aku sering deh bikin Frikadellen itu, hahaha…bedanya ditambahn pala dan jahe sedikit. Emang enak banget yak! *slurp

    Jadi kebayang dorong rolli…ajengnya kecil, yg didorong gede T_T

    Eh, indomienya rasa apa yg biasanya dibeli? Dulu ada yg pernah cerita klo indomie di luar gak seenak indomie di indo, bener gak tuh?

    • mariskaajeng says:

      wah tambahin pala sama jahe ya mba? mau coba ah nanti, pasti lebih berasa bumbunya ^^

      biasanya beli Indomie beragam rasa, di sini ada rasa chicken tikka, ada juga ga sih di Indo? menurut aku sih rasanya sama aja, bedanya di sini ga bisa pesen indomie telor kornet di warung pinggir jalan.. *eh ngeces deh*

  3. en-emy says:

    ahhhhhhh ini dia yg gw tunggu2 :p
    ga mau komen apa2.
    i just love to read your story, especially about your workie. (ini nape tiba2 ogut sok2an ngemeng enggris yak? buahahaha)
    seru dan extraordinary.
    once again, keep writing!
    and thanx for sharing.

  4. bebe says:

    Ajeeeeng, kenapa semua film di Jerman harus di dubbing sih? waktu ke sana pusing banget nonton Friends dub ke bhs Jerman..

    Kapalnya lucu yaaa… lumayan juga 17€ / orang dan ga bisa makan pula.. >_< baguslah dibayarin kantor yaaah… hihihihi..

    • mariskaajeng says:

      emang di Swedia ga diterjemahin ya film-filmnya? kayanya saking cintanya deh mereka sama bahasanya, sampe semuanya diterjemahin. kerajinan bener -_-

      dalam kapalnya keren, berasa lagi di kapal Titanic deh.. *halah*

  5. EVI Travel says:

    Mbak Mariska,
    Aku pernah ke Jerman thn 2007 dan sering ke resto China deket stasiun itu. Aku pasti pesan bebek panggang dg nasi, enak bgt cuma 5,5 euro dah kenyang. Murah krn resto China kecil di mall harga yg sama cuma dpt mee goreng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s