Berlin I’m Leaving

Aku kembali lagi ke sini, ke tepi sungai yang membelah Neukölln, tempat kita duduk 18 bulan lalu. Awal dari semuanya. Kali ini aku seorang diri, tidak seperti biasanya. Kamu sudah begitu sibuk menyelami diri sendiri dalam dekapan pekerjaan dan memutuskan untuk membiarkan diriku duduk sendirian kali ini. Aku menatap aliran sungai yang tak berujung, tanpa sadar setetes air bening jatuh dari tepi mataku. Bukan tentangmu tetes air mata itu, lebih tepatnya, bukan hanya tentangmu. Kamu tahu pasti cerita di balik air mata ini.

Pukul lima sore hari, langit masih terang, matahari baru akan turun dua jam dari sekarang. Kamu juga sebentar lagi akan pulang, namun aku belum ingin beranjak dari sini. Ada yang masih aku selesaikan di sini, aku ingin menemukan sendiri jalan keluar dari liku diriku sebelum akhirnya bertemu denganmu dan menjawab pertanyaanmu dua hari lalu saat aku tiba di Berlin.

Pertanyaanmu itu, aku tahu datang dari dirimu sendiri, seharusnya aku senang dan bisa menjawabnya dengan mudah, namun ternyata bukan itu yang terjadi. Besok sore aku akan meninggalkan kotamu, kota yang menjadi tempat tinggalku saat pertama kali menjejakkan kaki di negaramu. Sudah dua tahun aku tidak pulang ke keluargaku, itu berarti sudah 1,5 tahun kita bersama. Bukan suatu waktu yang sebentar, namun juga bukan suatu waktu yang lama. Setahun terakhir kita tinggal berjauhan, aku pindah bekerja ke kota pelabuhan, Hamburg. Selama itu, kita masih rajin saling berkomunikasi dan saling mengunjungi. Dua hari yang lalu aku datang ke kotamu, di hari itu pula kamu bilang kamu ingin aku menikah denganmu. Kamu ingin aku selalu berada di negaramu agar kita tidak saling berjauhan. Bahkan kamu bilang kamu akan mulai mencicil rumah untuk kita dari tabungan gaji kerjamu.

Seharusnya aku senang mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dengan indah dari mulutmu, tapi sayangnya kamu melontarkannya di saat yang tidak tepat. Kamu memintaku untuk menikah denganmu saat aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk terus hidup di negaramu. Aku hampir kehabisan nafas. Lima bulan lagi pekerjaanku selesai dan sayangnya pekerjaan sosial yang aku jalani ini hanya boleh aku lakukan selama 18 bulan dan aku sudah menjalaninya dengan baik selama satu tahun terakhir.

Pekerjaanku sebelumnya, sebagai Au Pair dari sebuah keluarga Jerman dengan dua anak laki-laki yang manis juga sudah aku jalani dengan baik selama enam bulan. Aku menyelesaikannya lebih cepat dari semestinya karena mereka mempunyai masalah finansial, setidaknya itu yang mereka kataku kepadaku, mereka tidak punya masalah denganku. Sekarang aku kebingungan, tidak tahu bagaimana caranya lagi untuk menyambung nafas di sini.

Melanjutkan kuliah di sini bukannya bukan salah satu pilihan dalam hidupku, tapi tabungan aku sayangnya tidak cukup untuk menjamin diriku sendiri untuk melanjutkan kuliah kembali di sini. Apa lagi bulan lalu aku mendapatkan surat keputusan dari Universitas Hamburg, lamaranku untuk melanjutkan jenjang master ditolak oleh pihak kampus. Mereka bilang aku belum cukup berkualitas untuk kuliah di sana, namun aku berada di posisi 17 dalam urutan tunggu. Itu berarti aku masih punya kesempatan untuk kuliah di sana, tapi entah kesempatan itu besar atau kecil. Aku juga tidak bisa menunggu selama dua bulan tanpa melakukan apa pun.

Sampai akhirnya dua hari lalu kamu menawarkan opsi yang tidak pernah ada di pikiranku, menikah denganmu agar aku bisa mendapatkan izin tinggal lebih lama di negara ini. Bagiku itu adalah sentilan yang membuat tubuhku biru. Aku sangat ingin terus tinggal di sini dan mencoba mendapatkan apa yang menjadi tujuanku datang ke sini, tapi bukan dengan cara menikah denganmu. Itu terlalu mudah bagiku. Aku ingin, kalau aku tinggal di sini berarti karena usahaku sendiri, bukan campur tanganmu.

Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, semua jalan seakan-akan tertutup untukku. Keluarga AuPair ku kemarin sempat bilang aku bisa tinggal bersama mereka, mengambil kursus bahasa Jerman dan mereka akan mensponsoriku untuk tinggal di sini, tapi aku tidak ingin selalu menjadi AuPair dan mengurusi anak-anak. Aku butuh pengalaman lain untuk aku kumpulkan. Di sinilah aku sekarang, bekerja dengan orang-orang kebutuhan khusus agar mereka bisa hidup selayaknya orang normal.

+++

Seharusnya belum habis, tapi saya sudah kehabisan ide.. Ah sayang sekali.

Tulisan ini sebenarnya pesanan seorang sahabat, tapi sampai sekarang belum selesai. Hehe, maaf ya.. *kedipin*

Berlin, 23 Oktober 2011

Advertisements

11 thoughts on “Berlin I’m Leaving

  1. enemysblog says:

    Selain penasaran sama cerita kerjaanmu, aku juga suka baca soal your relationship.
    Suka aja melihat cara Tuhan bekerja mempertemukan 2 orang dengan cara terduga. Dan jalan cerita yang sulit ditebak.

    Doaku sertamu, Jeng.
    Semoga bahagia selalu.

    Btw, ini fiksi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s