Penghuni Kamar Kedua

Olrait, berbulan-bulan lalu si saya bilang mau cerita soal penghuni-penghuni kamar di WG saya, selain si penghuni kamar pertama yang pernah saya ceritain. Rasanya kok males ya cerita satu per satu, pengennya cerita breg aja gitu sekaligus, tapi entar pasti ada yang pusing sendiri deh.

Saya coba cerita penghuni kamar kedua deh kali ini, dia favorit saya. Paling seneng  ngajak dia jalan-jalan, karena ga repot. Dia termasuk mandiri, semua bisa sendiri, ga duduk di kursi roda, hanya kalau mandi harus ditemenin biar bersih, selain dia epilepsi (takutnya anfal pas lagi mandi). Orangtuanya berasal dari Yunani, menurut kolega saya, orang-orang Eropa selatan cenderung lebih periang dan banyak omong, dia lah salah satunya.

Perempuan berusia sekitar 40 tahunan ini sayangnya doyan banget jadi drama queen, kalau udah gini saya pusing deh bujuk-bujuk dia, karena diancam pun ga ngaruh. Pernah pagi-pagi dia ga mau bangun tidur buat pergi kerja, terus saya ancam dia ga akan dikasih kopi kalau ga bangun, dan dia dengan enteng bilang “iya gak apa.” Lah jadi si saya yang emosi kalo gini  -___-”

Tapi walau begitu biasanya dia akan nyesel, dan tanpa berhenti akan bilang, “Aku tadi kenapa nolak? Aku mau kok kopi. Aku mau coba sekali lagi, beri aku kesempatan. Aku mau kopi.” terus mood nya anjok deh. Terus merobek baju yang dipake deh di kamarnya. Terus nyesel dan ngelapor ke saya deh. Terus nyokapnya marah deh. Terus bohongin nyokap dengan bilang penghuni lain yang ngerobek. Terus nyokapnya makin marah deh. MAHAHAHA. *ini beneran pernah kejadian*

Kalau dia tipenya semakin dipaksa mengerjakan sesuatu, semakin lah dia mandek dan banyak alesan. Contohnya kalau sore-sore saya kejar-kejar dia buat mandi, dia akan nolak terus menerus, sampai akhirnya saya menyerah dan siap mau pulang, baru doi muncul dan bilang, “Mariska, aku mau mandi sekarang. Aku pengen banget mandi, kamu bantu aku. Beri aku kesempatan sekali lagi.” Tapi biasanya saya bilang, “Telaaat, aku mau pulaaang..” terus ngabur. Bus dari Finkenwerder (tempat saya kerja) ke rumah di Harburg itu adanya tiap 30 menit, bahkan lebih malam lagi bisa tiap 1 jam, selain itu saya engga mau kerja overtime, jadi pulang aja. Menurut saya itu juga salah satu bagian dari pendidikan dia, biar ga gitu terus.

Ih, jadi inget nyokap di rumah yang sering ngejar-ngejar saya buat mandi dulu. Sekarang baru terasa deh susahnya nyokap waktu itu.. *eaaa, kangen rumah..*

Hmm.. Apa lagi ya.. *stuck*

Doi doyan makan, terutama yang manis-manis, karena itu gudang makanan tiap malam harus dikunci, biar dia engga ngambil cokelat atau permen malam-malam. Dapur juga harus dikunci biar dia engga nyuri-nyuri makanan. Sebenarnya bebas sih tiap penghuni mau makan apa saja dan jam berapa saja, tapi dia gula darah dia tinggi dan oleh dokter disarankan untuk diet untuk kesehatan dia juga. Apalagi dia badannya udah menggendut dan ga suka olahraga.

Makanya ya ada saya dan kolega itu ya tujuannya untuk membantu mengawasi dia makan dan minum. Dia ga boleh minum kopi kebanyakan atau akan muntah nanti. Karena gula darahnya itu, dia cuma boleh antara secangkir jus buah atau yoghurt saja per hari, ga boleh makan kue atau apa pun yang manis, ga boleh banyak makan daging atau keju berlemak tinggi, dan sangat disarankan makan salad (untungnya doi doyan banget).

Karena males olahraga dan jalan-jalan, saya pernah ajak dia makan kue dan minum kopi di luar, pulangnya saya bilang mau lewat jalan lain, soalnya bosen lewat jalan itu-itu melulu. Saya ajaklah dia keliling Finkenwerder sampe hampir kehabisan nafas. Di jalan dia berkali-kali bilang, “Aku ga kuat lagi. Aku mau pulang.”, saya nyengir dan dengan santai bilang, “Iya ini kan jalan pulang.” Ga sadar dia kalau disuruh jalan sampai 30 menit 😛

Ohiya lupa, dia bukan penyandang cacat fisik (kecuali epilepsi itu), namun dia penyandang cacat mental dan intelektualitas. Dia ga bisa baca dan tulis, kecuali namanya sendiri. Senang menceritakan atau bertanya hal yang sama, terutama kalau lagi tegang, “Siapa nama supir bus aku? Rolf dan Ralf.” Pertanyaan ini ada kalau ga salah sejak 3 bulan terakhir, sebenarnya nama supir bus dia antara Ralf atau Rolf, tapi dia salah mengerti jadi mengira namanya Rolf dan Ralf. Dan dia menyebar virus nama supir bus itu ke penghuni kamar pertama yang sama-sama diantar jemput oleh supir bus itu. “Penghuni kamar pertama, siapa nama supir bus aku?”. Lalu si penghuni kamar pertama akan jawab, “Rolf dan Ralf”.

Setiap pagi pukul 08.15 dia selalu berangkat ke sanggar seni, bersama 3 penghuni lain. Dua penghuni “kerja” di tempat lain, tapi dia dan satu penghuni lain kerja di sanggar seni yang sama. Sebenarnya ga benar-benar kerja, mereka hanya pergi ke sebuah TagestätteFörderung (TaFö) atau daycare, di sana mereka beraktifitas sampai sekitar jam 15. Walau mereka menghasilkan sesuatu, misalnya si penghuni kamar kedua ini seringnya melukis dan lukisannya terjual, tetap saja mereka ga dapet uang saku tambahan, uang hasil penjualan lukisan tersebut balik lagi untuk menutupi biaya produksi.

Penghuni kamar kedua cukup produktif melukis loh, paling sering melukis anak perempuan. Sanggar lukis tempat dia bekerja bekerja sama dengan lembaga tempat saya kerja, jadi yang beraktifitas di sana sebagian besar orang-orang kebutuhan khusus. Setahun sekali mereka mengadakan pameran lukisan besar-besaran, lukisan dia yang kecil-kecil tapi seabrek itu sering tampil, bahkan November atau Desember lalu sempat masuk koran lokal. Nyokap dia tentu bangga, sampai bikin kliping artikel itu 🙂

Selain melukis di sana juga ada beragam aktifitas lain biar mereka ga bosen, kadang si penghuni kamar kedua ini cerita kalau dia ga melukis melainkan hanya mendengarkan musik dan nari. Saya baru aja nemu link sanggarnya nih, terus bergidik, lukisannya bagus-bagus.. Kolega juga pernah cerita, pernah ada lukisan yang terjual entah berapa ratus euro gitu. Idih, keren. (Achtung! Website cuma berbahasa Jerman, tapi masih bisa dilihat kok lukisan-lukisan mereka di Galerie dan  pelukisnya di Künstler.)

Kalau hari minggu dia doyannya malas-malasan di sofa sambil nonton TV atau benar-benar tidur di sofa. Kadang seharian masih pake baju tidur dan ogah mandi sore. Malah sabtu kemarin si bos manjain dia banget, makan malam, obat, dan susu dibawain ke kamarnya, karena dia seharian tidur di kamar. Dia sih maklum, orang normal saja kalau sudah 5 hari kerja maunya istirahat total dan malas-malasan kan di kamar pas wiken?

Orang tua dan keluarga dia tinggal di Hamburg juga, setiap sore dia rajin melepon mereka. Setiap dua tahun sekali dia ke Yunani di musim panas, bareng orangtuanya. Kalau dia ditinggal, tiap sore pula dia nelepon ke Yunani buat nelepon ortu, musim panas lalu dia dibeliin kartu telepon internasional buat nelepon ke sana. Karena orangtua dan keluarganya dekat, mereka kadang berkunjung ke WG kami buat jenguk. Bisa jadi juga kalau wiken si penghuni kamar kedua dikirim ke gereja pake taksi, buat ibadah bareng mereka.

Karena nyokap dan kakak iparnya kerja di salon (apa punya salon ya?), dia termasuk schick untuk urusan rambut, sehabis mandi juga dia mau rambut pendeknya itu disemprot hair spray macam-macam. Kalau hair spray abis, ribut mau pengen beli yang baru, “Aku masih punya uang kok, ayo ke toko beli hair spray!”. Minggu lalu dia ga mau berhenti mandi, saat saya bantuin, biar dia berhenti saya harus mengancam dia dengan, “Aku buang hair spray kamu kalau kamu ga mau matiin shower sekarang juga. Matiin””.

Tadi saya udah bilang ya kalau dia drama queen abis, semuanya akan jadi lebay deh kalau sama dia. Pernah supir busnya bilang ke saya kalau dia habis muntah di tempat kerja, makanya pulangnya telat. Dia juga cerita ke kami soal itu, tapi seakan-akan itu sebuah petualangan. Lebay abis deh. Mukanya sedih banget pas cerita, tapi pas dibilang itu berarti dia kebanyakan minum kopi dan ga akan dikasih kopi lagi, dia malah marah, ngambek, dan ga berhenti protes mengapa dia ga boleh minum kopi lagi. Bingung ‘kan?

Ah, satu terakhir deh.. Dia punya sebuah buku harian yang dia rajin isi. Tentu bukan dia yang nulis ya, tapi kami para Betreuer yang menuliskan apa yang dia katakan. Biasanya sih ceritanya berkisar tentang dia hari ini abis dari mana, sama siapa, dan ngapain. “Aku hari ini ke Altona sama Mariska, makan kue dan minum kopi. Lain kali akan ke sini lagi dengan Mariska, kalau aku ga nakal.” itu kalau saya yang nulis. Hihihi. Tiap jalan-jalan, dia pasti akan selalu bertanya, “Kapan kita ke sini lagi dan melakukan hal menyenangkan lagi?”.

Kalau kalian pertama kali bertemu dengannya, jangan heran mendengar dia dengan terbuka menceritakan apa pun termasuk apa yang seharusnya ga diceritain. Pasti kalian juga suka deh sama dia kalau sudah kenal, seperti saya yang suka dia juga dan sedih kalau dia nyuekin saya (nyuekin tapi caper gitu deh). Saya juga yakin dia menjadi salah satu bewohner favorit kami. Kalau kerja wiken lagi, mau main ah sama dia ke Altona. Kalau dia bandel dan main drama lagi, saya kirim pulang aja naik taksi. Hehehe.

Sudah ya cerita tentang dia, sudah ga tau lagi harus cerita apa lagi, saking banyaknya. Selain itu daku harus tidur nih.. Besok hari keenam kerja, lusa baru libur dan sekarang saya sepertinya sudah mau tewas. Hiks.

Lain kali saya akan cerita penghuni kamar keempat, seorang pria berkepribadian ganda. Penghuni kamar ketiga sengaja saya lewat, karena ga banyak yang harus diceritain, namun saya akan tetap cerita kok.

Btw, sekarang saya melihat mereka engga seperti melihat orang-orang dengan kebutuhan khusus, biasa aja gitu. Dan terkadang sedih kalau ingat bagaimana orang-orang berkebutuhan khusus di Indonesia diperlakukan, berbeda banget dengan di sini. Seandainya kita lebih mengerti, mereka pasti bisa hidup dengan lebih layak..

Saya pamit, selamat malam dari Hamburg.. 🙂

Advertisements

10 thoughts on “Penghuni Kamar Kedua

  1. en-emy says:

    selamat tengah malam di Hamburg (pagi di Jakarta).

    ini dia yang ditunggu2….
    menarik banget!
    kenapa saya pengin tahu kelanjutannya? seperti kata kamu, di sini mana ada lembaga yang mengelola orang berkebutuhan khusus seperti tempat kerjamu.

    jangan males2 nulis tentang meraka yaaa Mariska.
    ya, kalau kamu lagi males nulis di blog, seenggaknya oret2an di kertas atau rekam cerita kamu.
    bagus2 bisa dijadiin buku.
    bukan buat keren2an, tapi untuk bagi pengalaman sama yang lain (seperti saya misalnya).

    thank youuu sudah berbagi. semangat yaaaa!

    • en-emy says:

      oiya, saya juga udah liat website galerinya… untung browser ada fasilitas web translatornya. jadi bisa liat-liat halaman lain di website itu. hehehe.

      once again, nice sharing Mariska 🙂

    • mariskaajeng says:

      selain ga ada lembaga yang mengurusi, di Indo juga masih salah kaprah dengan menyebut mereka sebagai penderita cacat jiwa. padahal kan beda.. 😥

      menulis akan tetap berlanjut, seperti saya bilang, untuk dokumentasi diri sendiri. jangan jauh-jauh bikin buku dulu ah, sukur-sukur muncul di media massa aja dulu, hihihi 🙂

      makasih ya udah baca dan kasih semangat 🙂

  2. aldriana amir says:

    hai mariska, kamu jauh sekali tinggalnya hehe…
    baca ceritamu ini sptnya seru deh kehidupan si penghuni kamar kedua ituh 😀
    emang ya, rata2 seniman tuh pada males mandi hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s