Radar Detection

Setelah minggu lalu seminar dari kantor FSJ selama lima hari, minggu ini saya kebagian seminar dari tempat kerja selama tiga hari. Seminarnya diadain di kantor pusat, jadi kalau ke sana musti naik bis, S-Bahn, lalu U-Bahn selama kira-kira 50 menit. Lebih jauh dari pada ke WG (Wohngruppe) saya, karena kantor pusat terletak di tengah kota Hamburg dan rumah saya (juga WG) terletak di sebelah selatan.

Di tempat seminar saya kenalan dengan banyak teman baru yang kerja di WG lain. Ada yang satu WG dengan tempat sahabat saya kerja (tapi beda rumah), dia berasal dari Korea dan sudah sekitar 20 tahun tinggal di Jerman, jadi jangan tanya deh bahasa Jermannya. Ada juga 2 orang pria berasal dari Rusia, bahasa Jerman dia sudah cas cis cus banget. Saya bertemu juga dengan FSJ dari WG dekat dengan WG saya, bahasa Jerman dia juga lebih bagus dari saya. Jadi intinya, di tempat seminar kemarin bahasa Jerman saya yang paling ancur.. *nangis di pojok kamar*

Umgang mit Aggression und Gewalt

Nah itu tuh judul seminar kali ini. Kira-kira berarti penanganan agresifitas dan kekerasan. Tema ini penting banget deh buat yang kerja di lembaga untuk orang-orang kebutuhan khusus kaya saya, karena banyak di antara Bewohner (penghuni WG) kami yang agresif dan suka menyerang.

Eh, engga percaya? Saya kan salah satu korbannya. Mahahaha. Jadi ceritanya akhir Oktober lalu saya dipukul di kepala, saat mencoba merebut kunci teras yang diambil salah satu bewohner perempuan. Dua hari kemudian ternyata dia masih marah karena kejadian itu, terus saya dipukul dan ditendang (diserang) sama dia karena saya menyuruh dia mencuci sendok kopi yang dia jilat. Serangannya engga sakit kok, cuma waktu itu kejadiannya cepet banget, saya syok, ga bisa ngomong apa-apa, ga tau harus gimana, jadi terus lari ke si bos dan nangis di kantor. Hiks..

Seharusnya pas saya baru mulai kerja langsung ikutan seminar ini, tapi engga dapet tempat melulu (tiap bulan hanya tersedia sekitar 15-20 bangku), atau bentrok sama seminar FSJ. Setelah kejadian itu bener-bener deh dipaksain untuk ikut seminar ini, Alhamdulillah dapet tempat Januari ini 😀

Di semimar ini diajarin bagaimana caranya melepaskan diri kalau tangan, baju, atau rambut kita dicengkram orang. Ada juga teknik melepaskan diri kalau badan kita dipeluk orang dengan kencang, tangan digigit orang, dan sebagainya. Pokoknya di sini diajarkan tindakan apa yang dilakukan jika kita menerima tindakan agresif atau kekerasan dari orang lain.

Tidak hanya itu, diajarkan juga bagiaman prevensinya, agar tidak terjadi tindak kekerasan tersebut. Misalnya kita sedang di dapur dengan orang yang tampaknya sedang agresif, kita harus bisa berjalan menuju arah pintu sambil menenangkan dia, jadi kalau dia sudah menunjukan gelagat mau nyerang, kita bisa lari keluar pintu deh. Atau tindakan apa yang harus dilakukan untuk menenangkan Bewohner yang keliatannya sedang bete, biar tingkat agresifitas dia engga meningkat.

Saat materi pengenalan gejala agresifitas (ada 4 tingkat, dimulai dari tingkat 0 yang berarti tidak agresif sampai tingkat 3 yang berarti sudah melakukan kekerasan fisik), kasus kekerasan yang saya alami dijadikan salah satu contoh. Kelompok kami harus mencari tau gejala-gejala agresifitas apa yang ditunjukkan pelaku sebelum kejadian itu terjadi, kami juga mendiskusikan tindakan pencegahan apa yang harusnya dilakukan agar peristiwa itu engga terjadi.

Tidak hanya tidakan pencegahan dan penangan saat kejadian saja yang didaaptkan dari tiga hari seminar, tapi juga tindakan setelah kejadian berlangsung, misalkan apa perlu kasus tersebut dilaporkan ke polisi, apa korban perlu mengunjungi dokter atau psikolog, perlu izin sakit atau tidak, dan sebagainya. Untuk kasus saya, saya sudah engga boleh berduaan dengan pelaku di dalam satu ruangan, selain itu saya juga tidak bertanggung jawab lagi untuk dia, jadi kalau dapat tugas pagi saya engga perlu bangunin dia tidur dan kasih obat. Saya juga tidak dapat tugas sore (sampai jam 21.30) atau malam (nginep di kantor) lagi, karena itu adalah jam-jam cuma ada satu pekerja di WG. Semua dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan saya.

Saya suka banget seminar ini, karena belajar banyak cara “membela diri” dengan gerakan halus yang gampang dilakukan. Jadi tahu juga bagaimana berinteraksi dengan orang-orang (khususnya mereka yang berkebutuhan khusus) saat mereka sedang agresif, selain untuk kerja pasti juga berguna untuk mengarungi kehidupan yang kerjam di Jakarta kelak. *halah lebay*

Anyway, judul metode yang kami pelajari adalah RADAR. Metode ini dibuat oleh seorang berkebangsaan Belanda di negaranya, dan banyak dipakai di Belanda juga Jerman. Sayangnya kami peserta seminar diminta untuk tidak mengajarkan lagi ke orang lain, selain di tempat seminar, takutnya kami mengajarkannya salah teknik jadi ga bener gitu deh. Mungkin menyangkut tentang hak cipta juga kali ya..

Oh iya, bos saya dan tentor seminar bilang sebaiknya semua pekerja di lembaga kami ikutan seminar ini, sayangnya ternyata salah satu teman saya engga. Kayanya sih karena Bewohner di WG dia kebanyakan orang tua yang gerakannya saja lambat dan cenderung engga agresif, bahkan tiga dari Bewohner-nya harus duduk di kursi roda dan engga bisa ngapai-ngapain. Hmm, sayang ya?

+++

Advertisements

11 thoughts on “Radar Detection

  1. Dian says:

    so gimana caranya? kasih tahu tips and triknya dong, jeng. jadi ingin belajar juga. ich lese immer dein schreiben. sehr interessant und informativ!

    • mariskaajeng says:

      beneran ibu baca tulisan-tulisan aku? aduh jadi seneng.. kompliment buat aku, hihi danke 😉

      triknya susah bu kalau dijelasin di sini, nanti kalo ketemu ya bu aku kasih tau :p

  2. Arman says:

    waduh serem juga ya, agresif banget orang2nya… kudu ati2 berarti emang ya dan berarti emang perlu ikut seminar nya supaya tau trick2nya ya….

  3. Asop says:

    Dahsyaaaat, ini menarik. 😀

    Hmmm, tapi saya masih belom ngeh, apa pekerjaan Mbak Maris…? Maksud saya, posisinya, jabatannya gitu, sebagai apa di WG Hamburg…

    • mariskaajeng says:

      silahkan baca postingan ini yaa.. https://mariskaajeng.wordpress.com/2011/11/08/serba-serbi-fsj/ semoga membantu 🙂

      intinya mah, tugas saya di WG adalah membantu semua kebutuhan penghuni rumah, mulai dari merawat (mandiin, suapin makan, jalan-jalan), pendidikan (ngajarin mereka mandiri dengan menunjukan cara mengolesi mentega ke roti, misalkan), terus bantu urusan rumah tangga juga seperti masak, nyuci baju, dll. semua pekerja di WG saya apa pun posisinya (mau dia bos di WG atau lulusan jurusan pendidikan) harus melakukan hal yang sama.

      saya FSJ, jadi bukan pekerja tetap dan masa kerja saya hanya 12-18 bulan, ga lebih 🙂

      makasih ya udah baca 🙂

    • mariskaajeng says:

      haloo, coba baca tulisan saya sebelumnya di: https://mariskaajeng.wordpress.com/2011/09/02/alasan-saya-berada-di-jerman/ mungkin bisa bantu 🙂

      jadi di Jerman itu banyak sekali rumah yang ditempati khusus untuk orang dengan kebutuhan khusus (cacat fisik dan mental), salah satunya di tempat saya kerja ini dan disebut dengan Wohngruppe (WG). di tiap WG biasanya terdiri dari 8-9 penghuni (bewohner) dan bentuknya benar2 seperti rumah, ada dapur, ruang makan, kantor (buat pekerjanya seperti saya), ruang TV, teras, ruang cuci, 4 kamar mandi, dan 9 kamar tidur untuk penghuninya. kamar mereka juga seperti kamar tidur mereka juga bagus2 kok seperti punya kita, ada TV, radio, atau apa pun yang penghuninya mau.

      hmm mungkin bisa disebut dengan panti cacat, tapi jangan dibayangin kaya di Indonesia yang kondisinya kadang engga banget yaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s