German Sign Language

Setelah sebelumnya saya cerita dengan tema stress dan relaksasi hasil dari seminar FSJ di sini, sekarang saya mau cerita tema lain yang juga dibahas di minggu seminar saya kali ini. Kemarin kami mendapat materi yang menarik, yaitu Deutsche Gebärdensprache (DGS) atau diterjemahkan dengan bahasa isyarat Jerman (kok seperti aneh didengar ya?) alias German Sign Language.

Tahu engga sih, bahasa isyarat di tiap negara berbeda-beda loh. Memang sih engga semua negara punya bahasa isyarat sendiri, namun jika mereka punya biasanya berbeda dengan bahasa isyarat di negara lain. Kalau kata wikipedia, bahasa Indonesia menggunakan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang disadur dari American Sign Language (ASL).

Bahasa isyarat internasional kalau engga salah sih ada, tapi engga dipakai sehari-hari, dan biasanya digunakan hanya jika sedang ada konferensi internasional atau sejenisnya. Jangankan tiap negara, dialek di Jerman saja bahkan ada perbedaan. Ada beberapa kata yang berbeda saat diterjemahkan ke dalam DGS.

Kemarin kami juga sempat belajar mengeja nama sendiri pakai DGS. Pemateri yang terdiri dari dua orang perempuan yang pernah kuliah jurusan Sondernpädagogik memberikan secarik kertas abjad jari, lalu kami diminta menerjemahkannya dengan DGS. Ada yang mau coba engga? Gampang kok 🙂

DGS Fingeralphabet

Setelah berhasil mengeja nama sendiri, kami lalu main The Silent Post. Semacam permainan pesan berantai yang biasanya dimainin sama 5-6 orang dalam satu kelompok. Bedanya adalah pesan yang dikirim kali ini hanya satu kata namun dalam bahasa isyarat. Seruuu dan kelompok saya menang! Mahahaha.

Kemarin bisa dibilang bikin stress juga, karena banyak banget bentuk-bentuk kata DGS yang kami pelajari, nama-nama hari, bulan, warna, angka, kata kerja, dsb. Rasanya semua numpuk di kepala, penat banget, sampai tiap beres satu sesi pengennya istirahat pendek.

Selain belajar huruf dan kata, kami juga diajarkan cara membangun kalimat. Ternyata gramatik yang digunakan secara normal saat menulis dan berbicara engga diterapkan di DGS. Pada bahasa isyarat gramatik menjadi lebih sederhana, bahkan bisa saja ada kata yang hilang.

Besok aku beli TV di kota

Contohnya nih, ich wohne in Hamburg (saya tinggal di Hamburg) akan diterjemahkan ke dalam DGS menjadi ich Hamburg wohnen. Kalimat tanya Wie heisst du? (siapa namamu?) diterjemahkan menjadi du Name was? (kamu nama apa?). Karena gestik dan mimik mempunyai peranan penting dalam bahasa isyarat, jadi saat bertanya juga mimik juga harus bisa menggambarkan rasa penasaran kita.

Dulu pas masih kuliah saya dan teman juga sempat membahas bahasa isyarat di mata kuliah psikologi linguistik, waktu itu untuk bahan presentasi kami berusaha mencari videonya di youtube eh malah ketemu video menarik ini.

Sangat menarik karena ternyata bahasa isyarat tidak hanya dibutuhkan untuk orang-orang istimewa dengan keterbatasan mendengar dan berbicara, namun juga bisa sebagai bentuk komunikasi antara ibu dan anaknya yang masih balita. Jadi engga perlu marah-marah kalau engga mengerti bahasa anak yang belum lancar berbicara. Selain itu, bahasa isyarat pada bayi ini juga merangsang dia untuk cepat belajar berbicara, loh! Yang perlu diingat, kita harus ingat betul tiap bentuk bahasa isyarat yang diajarkan ke anak, jangan sampe malah bingung sendiri. Hihihi.

Kemarin pemateri bercerita, tahun lalu dia nonton Harry Potter yang juga diterjemahkan ke DGS di Köln. Si penerjemah berdiri di samping layar dan menerjemahkan dialog-dialognya sampai film berakhir. Tentu ada jeda beberapa detik dari dialog untuk menerjemahkannya, mirip seperti dulu kita nonton Dunia Dalam Berita di TVRI kira-kira.

Pertunjukan puisi bisu alias menggunakan bahasa isyarat juga sering ada kok. Bahkan di Amerika ada sebuah band rap yang menggunakan bahasa isyarat di lagu-lagunya. Saat jeda kemarin kami sempat menyaksikan dua video klipnya, namun saya hanya ingat salah satu videonya saja dan dengan senang hati saya share di sini. Ikut nyayi yaaa! 😉

 

Bagi saya bahasa adalah hal menarik, dan saya pengen banget kelak bisa berkecimpung dalam dunia bahasa untuk orang-orang dengan kebutuhan khusus, jadi materi DGS ini menarik bagi saya. Makin bulat tekad buat lanjutin kuliah ke arah situ. Semoga ya semogaa.. 🙂

Advertisements

9 thoughts on “German Sign Language

  1. Arman says:

    baru tau kalo ada negar2 yang punya bahasa isyarat sendiri2. jadi kalo ke negara lain bisa gak ngerti ya, sama kayak kita kalo ngomong bahasa beda2 jadi gak ngerti ya. hahaha.

  2. ~Amela~ says:

    eh.. ternyata beda2 ya tiap negara.. baru ngeh (entah kenapa hari ini kalau komen mesti senada sama ko arman)
    kirain bahasa isyarat itu berlaku internasional gitu deh..

    • mariskaajeng says:

      halo, salam kenal jugaa.. aku udah sempat berkunjung ke blog mba mayya, tapi belum ninggalin jejak :p

      dankee ya, semoga semoga berhasil menembus perkuliahan di sini 🙂

  3. Rifa galindra says:

    baru baca ini artikel, izin share ke temen-temen volunteer… jangan kan bahasa tiap negara, tiap daerah aja beda-beda… conth yg sederhana solo sukoharjo aja yg bertetangga bisa beda isyaratnya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s