Cerita di Hari Baru

Hari ini berjalan sedikit tersedat, karena aku banyak mengeluarkan energi di bagian mata. Ah, menyebalkan memang. Karena tidur semalam tak menyenangkan juga diselingi banyak mimpi random, mata akhirnya harus berjuang lebih keras untuk tetap terbuka. Pagi jam 10 bangun dari tidur, sesak nafas. Dada kosong, namun terasa lebih berisi dibanding mendengar kabar dari sahabat Oktober lalu.

Mengambil telepon genggam, mempertimbangkan apa perlu teman yang menghapus seluruh sekitar 420 pesan singkat bernomer tanpa nama itu. Lalu aku memutuskan untuk melakukannya sendiri, menyelami sendiri kenangan 13 bulan yang sebelumnya tersimpan rapih di kotak-kotak teks elektronik. Terkadang berhenti sepersekian detik, membaca kalimat yang menyelip atau membukanya untuk membaca keseluruhan teks.

Dalam waktu beberapa menit aku berhasil merangkum semuanya dan membuatnya hilang secara serentak kurang dari satu menit. Tapi yang di kepala itu tidak bisa dipudarkan dengan cepat, suasana saat pesan-pesan itu masuk pertama kali di telepon genggam kini hinggap seluruhnya di kepala. Baiklah, aku kalah lagi. Kamu menang, wahai kenangan!

Sebelum pergi, aku sudah sangat yakin kemenangan dari 18 jam pertarungan telak berada di pihakku. Aku berjalan dengan ringan keluar rumah, berdiam diri di samping tempat sampah, rupanya ada yang ingin ikut menyampah di pikiran. Terus saja menyampah sampai satu setengah jam kemudian, di stasiun kereta terakhir.

Aku tidak bisa bilang aku menang, walau ayah bilang semua itu normal untuk sebuah hal yang pernah dekat dengan kita. Perasaan hampa juga mengikuti, saat diri dibaringkan di atas sofa cokelat, tempat yang pernah ditiduri dengan muka polos, sebelum secangkir kopi tanpa gula dan susu memaksanya untuk bangun dengan cara menciumnya.

Kursi biru, gerbang stasiun di pinggir kota, kantor polisi, semua seakan menertawakanku. Aku terpojok kalut. Bahkan lari pun tak bisa dilakukan dengan kaki yang bahkan terlalu lemas untuk berbaring di sebuah sofa biru berseprai putih.

Tepat sebuah malam telah berlalu, aku akan menikmati tidur indahku kembali. Tidak kuatir. Semua akan baik-baik saja, walau menurutku cerita botol alkohol telah mengalahkanku. Aku berhenti hari ini. Semoga benar-benar berhenti. Selamat malam.

Alles ist schon vorbei. Nun fange ich schon mein neues Leben an. Ich höre schon auf, würde ich nicht mehr darüber irgendwo reden. Du bleibst immer da als eine Vergangenheit meines Lebens.

Übrigens, die Gefühl ist eigentlich nicht zu stark. Weisst du nicht?

+++

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s