Sebuah Esok untuk Hari yang Baru

Ingat saat aku duduk sendirian di atas kapal yang lalu berlabuh entah di mana? Aku berada di saat itu lagi. Tidak sama persis memang, namun dengan perasaan yang sama. Juga tentang kejadian yang sama. Aku mohon, jangan bosan mendengar ceritaku ini.

Tiga minggu sepertinya sudah berlalu. Aku kira semua berjalan lebih baik, maksudku lebih baik dari saat aku di atas kapal itu, tetapi mendadak semua berubah menjadi sama saat sebuah kota disinggahi lagi. Ketika sebuah kamar tempat dulu sebuah keajaiban terjadi, kembali ditempati tuannya. Aku lalu tersasar. Kompasku rusak.

Orang bilang, telepon sudah sejak lama diciptakan oleh Alexander Grahamm Bell. Kamu ingat nama itu? Nama yang cukup mengecohkan sebagaian besar orang yang berpikir dia adalah pencipta bel bukan telepon, lucu bukan? Dalam kasusku ini, seseorang mungkin lupa bagaimana cara menjawab sebuah panggilan telepon. Atau bisa jadi telepon genggam miliknya sedang berada nyaman di bawah tumpukan baju?

Tadi pagi aku bermimpi, tentang sebuah ledakan sambal botol tepat di mataku, ah padahal kejadian itu benar adanya di pertengahan tahun lalu. Mungkin rasa perih di mataku saat ini seperih waktu itu, walau tidak ada sambal pedas sebagai pemicu. Setelah ledakan dalam mimpi itu aku mendadak terbangun, aku merasakan hatiku kosong sebagian. Bagian itu tepat di tengah. Ingin rasanya aku membelah dadaku sendiri, mengeluarkannya dan mengelusnya, bersabarlah hati yang kosong. Itu benar memang terjadi.

Lalu aku berpikir lagi tentang rencanaku kemarin malam. Melakukan perjalanan bolak balik tanpa menginap. Orang asing yan aku temui malam ini bilang, mungkin kamu harus melakukannya kalau kamu tidak ada pilihan lain. Ada beberapa hal yang tidak bisa dibicarakan dengan menggunakan teknologi yang bibitnya diciptakan Grahamm Bell itu. Ayolah, mungkin perjalanan pulang pergi selama 10 jam tidak akan menyakitkan, walau tentu akan membuatmu kehabisan nafas.

Terkadang kita memang harus melepaskan sebuah titik di dalam hidup. Seberapa tidak pentingnya titik itu, atau sebaliknya, seberapa pentingnya titik itu. Orang asing itu juga bilang, kalau memang penting, mengapa ditunda lagi untuk dibicarakan. Dia juga bilang, banyak orang jahat di luar sana, kamu beruntung saja bertemu dengan aku. Aku tertawa mendengarnya, namun air mataku terjatuh.

Aku memiliki jam yang lebih banyak hari ini, dikhususkan untuk berlayar dengan sebuah kapal kembali kepada ke titik yang dahulu aku takuti. Menutupi cungkilan hati tersebut. Menyembuhkan perih mata itu. Menyeka air yang tidak berhenti turun. Mengistirahatkan tubuh yang selama seminggu ini tidak pernah benar-benar tidur.

Besok mungkin tidak akan berakhir dengan mudah. Sungai panjang itu tidak akan dipenuhi dengan banyak orang di musim dingin ini, tidak sama seperti kita terakhir ke sana, namun kita masih bisa berjalan di tepinya. Berjalan dalam diam dan membiarkan kesepuluh jari kita berdua berbincang dalam kaitan. Bincangkanlah yang hangat dan katakan pada bibir untuk membuat lengkungan ke bawah. Setelah itu, bisakah kamu membiarkan semuanya selesai dengan baik, tanpa membuat yang terbuka semakin melebar?

Maksudku, tidak ada yang bilang semua akan gampang, namun semua harus dilakukan jika memang harus. Bukankah aku sendiri mengaku muak disodori sebotol rindu yang efeknya hanya akan membuatku mendengar tiga nada yang lalu aku hentikan sendiri?

Kali ini bukan dari atas kapal dan tidak ada tinta biru tidak tertulis di sebuah kertas putih, maukah kamu berbincang hangat denganku? Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang hidupmu? Maukah kamu membeli sebuah obeng dan sekrup untuk memperbaikinya?

Aku menawarkan sebuah hal yang lebih jauh dari bulan Januari, bahkan lebih jauh lagi dari bulan Juni. Semoga kamu terlalu kuat untuk menerimanya.

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Esok untuk Hari yang Baru

  1. andhini hastrida says:

    semakin keren jeng tulisan lo ini. dan semakin kerasa “rasa”nya yang khas diri lo. hahaha. begitulah 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s