Keluarga. Bremen. Senang.

Awalnya tanggal 26-27 Desember ini saya mau kabur ke Flensburg, ke tempat teman. Kebetulan kedua hari itu dapat libur dari tempat kerja, setelah sebelumnya kebagian shift malam. Tapi ga jadi ke Flensburg, kereta saya cuma jalan sampaiii.. Bremen!

Mendadak ke Bremen karena diundang a.ka disuruh datang ke rumah ibunya Sputnik (lebih tepatnya di Osterholz-Scharmbeck sih, enam menit dengan kereta dari Bremen Hauptbahnhof). Sebenarnya awalnya malas datang, ngebayangin di sana harus ngomong pake bahasa Inggris karena pacar abangnya juga datang. Dia berasal dari Kolumbia, kirain cuma bisa bahasa Spanyol dan Inggris, eh ternyata bahasa Jerman juga, walau kata si abang masih lebih bagus bahasa Jerman saya *nyengir*, jadi ya tetep kita ngobrol pakai bahasa Jerman.

Tumben banget deh saya ga pusing walau seharian bareng bule ngobrol pake bahasa sini, karena sudah kebiasaan kali ya, atau bisa juga karena suasananya santai banget juga hangat, seperti di rumah sendiri. Banyak ketawa pula. Si ibu cerita, pacar si abang lumayan stres berada di tengah-tengah mereka yang ngomong dengan bahasa Jerman, kebetulan dia belum lama belajar dan hanya belajar dari si abang. Saya nyengir dan bilang “Ich kann richtig vorstellen.” Merasa senasib.

Yang lucu adalah saat kumpul minum kopi dan makan kue sore-sore di rumah, semua anggota keluarga termasuk kedua Oma juga datang. Salah satu Oma bercerita dia dulu harus jalan kaki dari Bremen ke Bremerhaven, sambil bawa daging di punggung. Saat dia cerita, saya engga terlalu memperhatikan, karena saya duduk lumayan jauh dari dia dan dia bercerita dengan suara pelan. Si abang terus nanya ke pacarnya, apa dia mengerti, tentu si pacar jawab engga. Si abang menjelaskan kembali dengan menggunakan bahasa Jerman (btw mereka berkomunikasi dengan bahasa Spanyol biasanya).

Tidak lama kemudian, si ibu nengok ke arah saya, “Mariska, kamu mengerti engga? Sputnik, kamu ceritain lagi ke Mariska.” Saya malah ketawa-tawa, karena melihat diri sendiri dengan Sputnik dan si abang dengan pacarnya. Begini deh ya kalau di dalam keluarga ada  yang punya pacar beda bahasa, hihihi. Untung loh pacar si adik orang Jerman tulen.

Kolega saya pernah bilang, natal baginya tidak terlalu penting, karena dia sendiri engga punya kepercayaan. Dia merayakan natal hanya karena alasan kebudayaan. Berbeda dengan istrinya, natal itu penting karena dia beragama Kristen. Nah, bagi keluarga Sputnik juga natal penting dari segi kultural. Karena itu si abang pulang dari Kolumbia, walau sekalian dia ada kerjaan juga sih di Austria dan Jerman jadi tiket pesawatnya dibayarin kantor, selain juga mau kenalin pacarnya. Jadi memang benar-benar ketemu keluarga.

Karena saya engga merayakan natal dan engga menyangka akan diundang datang, saya engga mempersiapkan kado apa-apa bagi mereka. Saya ke sana hanya bawa sebotol wine dan dua kotak cokelat. Saya bilang itu buat barengan. Kenapa deh natal itu harus di akhir bulan, kan kantong sudah kosong duluan. Selain itu, toko-toko juga tutup saat natal, jadi engga bisa mendadak beli kado. Cokelat dan wine dan saya akhirnya dinikmati bersama saat makan malam (saya engga minum wine kok).

Berada di sana membuat saya merasa seperti berada di keluarga sendiri. Saya baru ketemu ibu dan adiknya satu kali, tapi mereka sudah mempersiapkan kado untuk saya. Begitu juga si abang, pacarnya, dan paman dan sepupu mereka yang kami belum saling kenal, masing-masing punya kado untuk saya (kecuali si Sputnik *pletak!*). Saya merasa disayang dan diterima oleh mereka. Senang :’)

Selama berada di sana saya juga merasa dimanja. Karena tahu saya engga makan babi, mereka khusus membelikan daging domba untuk saya. Dimasak dengan panci terpisah dari sosis babi, karena sebelumnya saya hanya bisa mencomot bebek panggang sedikit dan membagi bagian lain yang tertempel daging babi dengan Sputnik. Daging dombanya juga dimasakin, setelah saya bilang saya mau masak sendiri tapi engga tau gimana caranya masak a.la mereka.

Mereka punya seekor anjing di rumah, sangat dijaga biar si anjing engga dekat-dekat saya yang takut anjing. Setiap dia mendekati saya, si sepupu atau si adik ngejagain biar saya engga didekatin. Di mobil juga saya disuruh duduk di depan, padahal di belakang sempit karena ada dua laki-laki bule duduk mengapit oma, karena si anjing berada di bagasi tapi dengan kepala menjulur ke tempat duduk belakang. Merasa engga enak juga sih, jadi merasa merepotkan.

Saat di meja makan juga saya selalu ditawarin makanan oleh ibunya, “Ini piring timun kasih ke Mariska.”, “Mariska mau tambah kentang? Dagingnya enak?”, “Keju kamu mana? Jangan sampai kebakar.”, “Kamu engga makan lagi karena kenyang atau karena bosen makannya kentang dan keju doang?”, “Kami punya beras kok, kamu masak aja kalau mau makan beras. Si itu juga cuma bisa makan nasi doang.”, dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, hal lain juga, seperti saat saya engga mengerti apa itu Käseglocken, dia memaksa Sputnik untuk google gambarnya saat kami baru saja selesai makan malam. Waktu itu Sputnik seperti biasa lagi malas jadi dia nolak tapi ngomongnya pake bahasa Indonesia ke saya, jadi saya sekalian curhat ke ibunya, “Dia engga mood, nanti aku google sendiri aja. Tapi dia emang ga mood melulu deh orangnya, seperti sekarang ini nih.” Engga lama Sputnik terpaksa bangun dari kursi karena dipaksa ibunya. Mahahaha.

Saat akan pulang, saya juga diantar sampai ke Bremen Hauptbahnhof oleh ibunya, padahal naik kereta dari Osterholz-Scharmbeck saja cuma makan waktu enam menit dan itu jauh lebih singkat dari pada naik mobil (sekitar 25 menit). Itu karena mereka engga mau saya nunggu kereta ke Hamburg kelamaan di Bremen Hbf, jadi bagitu kami tiba di stasiun, saya bisa langsung pulang ke Hamburg.

Sebelum pulang, si abang nyariin saya. “Mariska manaaa??!” Dia ternyata mau bilang kalau dia capek, mau langsung tidur, jadi sekarang aja pamitnya. Dia juga nanya-nanya singkat rencana saya setelah FSJ, dan nanti kita ketemu lagi kalau dia pulang ke Jerman lagi. Si adik juga begitu, jam 6.30 malam dia harus berangkat kerja dan pasti saya sudah di Hamburg saat dia di rumah lagi, jadi kita saling pamit. “Nanti kita ketemu lagi ya kalau kamu ke Bremen lagi.”

Saya senang, semua seperti keluarga. Saya bisa santai ngeledekin si abang yang baru di kesempatan itu kami bertemu. Si ibu juga orangnya santai, dan cuek aja ngeliat saya engga bantu beresin meja makan tapi malah asik baca buku (kebayang engga sih ibu-ibu di Indo kalau liat pacar anaknya kaya gitu?) atau dengan santai minta bantuan saya beresin meja di kesempatan lain. Anak pacarnya si abang apa lagi, ceria banget walau dia hanya bisa bahasa Spanyol dan engga bisa benar-benar komunikasi dengan kami. Dia mau saya duduk sebelah dia saat makan malam. Melihat interaksi si abang dengan si bocah juga bikin saya teringat dengan abang sendiri di rumah..

Rasanya seperti benar-benar sedang kumpul keluarga sendiri di Indonesia, seperti sedang Lebaran namun dengan isi keluarga yang lebih sedikit. Rasanya seperti sedang liburan juga, stres hilang dan bahagia ketawa melulu. Ketagihan deh ketemu kalian lagi, hihihi.

Ich habe mich heimisch gefühlt, vielen Dank für die richtig schöne Zeit bei Euch, liebe Familie.. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Keluarga. Bremen. Senang.

  1. bebe says:

    waaaa… senangnya udah ketemu keluarga pacar… cuit cuit cuit… hehehe…
    tapi kayaknya emang umum ya di Eropa, natal itu sebenernya lebih ke tradisi kumpul keluarga..

    salut euy udah bisa komunikasi lancar pakai bahasa Jerman. Aku masih gagap bahasa nih kalau disuruh ngomong. Jadi seringnya diem, Alhamdulillah mertua orang indo, jadi bisa ngobrol pakai bahasa Indo deh… >__<

    • mariskaajeng says:

      biasanya aku juga diem aja kalo bule2 pada ngomong, mungkin kemarin suasananya enak jadi ngomong melulu. kalo ngomong juga aku masih gagap, sering abis selesai satu kalimat terus bilang “sebentar sebentar” dan benerin kalimatnya, diketawain pasti lah 😉

      semoga kumpul keluarga selanjutnya udah lancar ngomong ya be ^^

  2. a_reader says:

    Mbak Mariska yg baik, aku suka baca blognya… Maaf mbak kalo ini agak lancang, tapi mau mengingatkan aja, bukannya membawakan wine hukumnya sama dengan minum wine ya? Setahu saya ada bbrp hadisnya yang menyebutkan larangan memberikan / membawakan / menyajikan khamr… Semoga Allah menjaga kita semua, amin.

    • mariskaajeng says:

      sejujurnya saya ga tau soal itu. wine tersebut saya dapat sebagai hadiah natal dari bapak kosan, jadi saya hadiahkan kembali untuk orang lain. makasih sudah mengingatkan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s