Di Antara Bahasa Dunia

Tinggal di luar negeri membuat saya banyak mendengar banyak bahasa asing, selain bahasa Jerman dan Inggris. Saat duduk di kereta, bisa jadi dua orang sebelah saya ngobrol dengan bahasa Turki, Itali, Afrika, Inggris, Cina, Thailand, Spanyol, juga sebagainya. Di tempat kerja saya, terkadang rekan kerja saya ngobrol menggunakan bahasa Yunani dengan penghuni kamar kedua. Rekan kerja lain mengobrol dengan bahasa Filipina dengan temannya lewat telepon.

Saya sendiri juga menggunakan bahasa Indonesia jika mengobrol dengan teman sebangsa. Rasanya menakjubkan sekali mengobrol dan tahu orang lain engga mengerti apa yang kami obrolkan. Rasanya dunia di luar kami kedap bahasa, kata-kata apa pun yang keluar hanya kami yang mengerti. Begitu pun sebaliknya, saya hanya bisa mendengar orang lain berbicara tanpa saya mengerti artinya, sepertinya mereka punya dunia lain yang tidak bisa saya jamah. Menakjubkan!

Dari banyaknya bahasa di muka bumi ini saya cuma bisa empat di antaranya, Indonesia, Inggris, Sunda, dan Jerman. Kalau di tempat umum mendengar bahasa yang tidak dimengerti rasanya seperti mendengar suara tanpa arti, terkadang ada bahasa yang di kuping saya hanya terdengar seperti “cing cang lung sing wong” atau “dung dong tong dung tung”, rasanya kok engga indah dan bikin pusing ya. Ada juga bahasa yang terdengar di kuping enak sekali, padahal pada dasarnya saya yakin tiap bahasa itu indah.

Saat mendengar bahasa-bahasa asing, rasanya di kepala saya berputar banyak pertanyaan: Ini bahasa mana sih? Bentuk katanya bagaimana? Artinya apa ya? Cara ngomongnya gimana tadi? Bagaimana ya awal mula bahasanya? Eh, ini kayanya Portugis deh, apa Spanyol ya? Mirip sama bahasa apa ya dia? Ingin sekali menangkap semua bahasa itu lalu menganalisis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya sendiri.

Dengan banyaknya kemampuan bahasa bisa membuka jalan kita lebih luas untuk melihat dunia. Saya engga yakin kalau engga bisa bahasa Jerman saya bisa nyasar dan menetap di sini. Bahasa juga membuat kita bisa berkomunikasi dengan lebih beragam orang. Saya sendiri berbahasa Jerman masih berantakan, tapi lumayan lah buat berkomunikasi walau kadang ada salah paham. Bahasa Inggris saya jangan ditanya deh, udah ketutup rapat sama si bahasa Jerman. Sekarang kalau disuruh ngomong bahasa Inggris saya harus nyusun dulu mau ngomong apa, dialeknya pun hancur. Satu kata buat ini: MEH.

Anyway mau cerita sedikit tentang pasangan beda negara yang ada di sekitar saya. Saya pernah babysitting di sebuah keluarga campuran Afrika-Jerman. Mereka sempat beberapa tahun bermukim di Etiopia dan sekarang kembali menetap di Jerman. Mereka berdua menggunakan tiga bahasa untuk berkomunikasi, Jerman, Inggris, dan Afrika. Dengan anak-anaknya mereka lebih banyak berbahasa Jerman, lalu Inggris. Saat bertemu mereka, si tengah bertanya, “Kamu bisa bahasa Inggris engga? Bahasa Inggris dari Ayah apa?”, lalu ia mengetes kemapuan kosa kata bahasa Inggris saya. Hihihi.

Teman saya berbahasa Jerman dengan pacarnya. Si pacar tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali dan sekarang sedang belajar agar mereka bisa lebih lancar berkomunikasi. Si teman mengaku bahasa Jerman dia engga terlalu bagus dan sering salah paham ketika mengobrol karena ia tidak mengerti. Kadang juga ia sok mengerti dengan hanya menjawab “iya”. Bahasa Inggris dia engga bisa, si pacar juga engga suka bahasa Inggris dan katanya sih engga bisa juga. Jadi ya bahasa pemersatu mereka adalah bahasa Jerman.

Sahabat saya berbahasa Inggris dengan suaminya, bukan karena dia tidak bisa bahasa Jerman, namun karena suaminya lebih suka mereka berkomunikasi dengan bahasa Internasional itu dibanding Jerman. Si suami sedang dalam proses belajar bahasa Indonesia, dia sudah bisa menghitung bilangan satu sampai sepuluh dan kata yang paling dia bisa adalah “goblok”. Kata itu tapi bukan dia pelajari dari istrinya. Dia punya buku komik Donal Bebek bahasa Indonesia, pernah membacakannya buat sahabat saya namun tidak mengerti artinya. Kata sahabat, “Dia bacanya kaya robot deh, hahaha.” Rencananya, jika suatu saat nanti mereka punya anak, bahasa Inggris akan sangat diminimalisirkan, diganti bahasa Indonesia dan Jerman, biar si kecil bisa dengan lancar berbahasa Ibu dan Ayahnya.

Ngomong-ngomong soal bicara seperti robot, Sputnik juga dulu begitu, namun sekarang dialek robotnya sudah hampir hilang (tapi dialek bulenya masih kedengeran). Kalau saya ngomong dengan cepat pun dia sudah bisa mengimbangi. Saya dan dia ngobrol dengan bahasa Jerman dan Indonesia, biar sama-sama belajar. Selain itu, kalau saya ngomong dengan bahasa Inggris biasanya dia akan meledek pengucapan saya yang salah atau grammar yang berantakan, kan jadi males ngomongnya ūüė¶

Kadang saya engga mengerti dengan bahasa Jerman yang dia omongkan dan meminta dia mengulang (bisa sampai tiga kali!). Terkadang dia cape ngulang, lalu berhenti sebentar, menghela nafas dan menjelaskan dengan bahasa Indonesia. Kalau saya lagi mood belajar, saya akan langsung menyuruh dia tetep menggunakan bahasa ibunya. Nah kalau si mood lagi engga ada, saya akan membiarkan diri sendiri ngobrol dengan bahasa apa pun yang keluar dari mulut saya. Jeleknya, mood ngomong Indonesia yang banyak muncul, ih enak buat situ engga buat sini deh. Bahkan sebelumnya kami hanya ngobrol dengan bahasa Indonesia. Karena itu saya sempat dikira tidak bisa berbahasa Jerman oleh seorang ibu yang kebetulan duduk di depan kami saat sedang di kapal, jleb banget deh. Saat di tempat umum dia lebih suka berbahasa Indonesia, alasannya biar orang lain engga mengerti dengan obrolan kami. Punya orang dekat berbahasa yang sama enak juga sih, komunikasi lebih lancar, tapi jadi engga bisa ngobrol rahasia dengan teman-teman saat dia ada di dekat kali :p

Rekan kerja saya yang berbangsa Filipina berbahasa Jerman dengan suaminya. Dia bilang engga perlu si suami belajar bahasa Filipina, biar dia dan teman-temannya bisa tetap ngobrol rahasia walau si suami di dekat mereka. Nah, keuntungan dia dari si suami yang tidak bisa ngomong bahsa dia adalah bahasa Jerman jadi bagus! Dia sempat cerita, kolega kami yang lain pernah bilang bahasa Jerman dia jelek dan tidak dimengerti, tapi si suami menyangkal dan bilang ia mengerti apa yang semua rekan kerja saya bicarakan. Kalau menurut saya ada dua teori yang bisa menjelaskan hal ini. Pertama, si suami sudah terbiasa sejak lama mendengar istrinya berbahasa Jerman, karena itu dia bisa dengan mudah mengerti apa yang dibicarakan. Teori ini saya bikin berdasarkan pengalaman pribadi. Sahabat-sahabat saya kadang engga mengerti bahasa Indonesia yang Sputnik katakan, namun saya sangat mengerti, saya perkirakan karena saya lebih banyak berinteraksi dengan si Sputnik. Kedua, rekan kerja kami jarang berkomunikasi dengan orang asing, namun teori ini langsung dibantah oleh rekan kerja saya, karena rekan kerja kami katanya punya teman orang Filipina juga dan bahasa Jermannya bisa dimengerti. Na ja.

Saya pernah juga berada di dalam posisi tinggal bersama keluarga yang bahasanya tidak saya mengerti. Setahun lalu saya tinggal selama lima minggu bersama keluarga Arab di Wiesbaden. Rasanya aneh dan engga nyaman. Saya selalu merasa mereka sedang membicarakan saya dan saya juga jadi sangat pendiam karena tidak bisa ikutan ngobrol. Sangat merasa terasing. Mereka pernah menyalahkan saya yang selalu absen tiap mereka berada di ruang keluarga, lah mau ngapain saya di sana, nonton TV pun saya cuma bisa bengong engga mengerti. Hanya saat sholat, berdoa, dan mengaji saya menggunakan bahasa Arab, kata yang saya mengerti bisa dihitung dengan jari, selebihnya harus baca terjemahan.¬†Kalau kata Coldplay di lagu Talk,¬†Well I feel like they’re talking in a language I don’t speak. And they’re talking it to me.

Ada yang pernah dengar  Ludwig Wittgenstei? Dia seorang filsuf keturunan Austria dan Inggris. Kalimatnya yang paling terkenal adalah:

“Die Grenzen meiner Sprache sind die Grenzen meiner Welt‚Äú

Kalimat yang indah bukan? Batasan bahasa saya adalah batasan dunia saya. Bener deh, dengan memiliki lebih dari satu bahasa membuat batasan-batasan di dunia menghilang sedikit demi sedikit. Bisa membaca lebih banyak buku atau berita, berkomunikasi dengan lebih banyak orang, bisa jalan-jalan di negara lain tanpa takut ketipu, engga perlu sewa penerjemah, dan sebagainya. Selain itu, bahasa itu indah. Sangat indah sampai membuat saya selalu jatuh cinta. Itu pula yang membuat saya masuk jurusan bahasa saat kuliah dan saya merasa beruntung bisa bahasa lain selain bahasa Ibu.

Belajar bahasa apa ya sekarang.. *wondering*

 

 

di tengah kegelapan musim dingin.
selamat malam, semoga tidur malam ini lebih nyenyak.

 

Advertisements

2 thoughts on “Di Antara Bahasa Dunia

  1. Nina Meidania says:

    So interesting ya belajar bahasa dunia apalagi yang punya aksara khusus kyk bahasa2 di Asia, gw sendiri juga punya minat besar dlm bidang ini sayangnya g ada yang bner2 dikuasai selain bahasa Indonesia, plg banter cuma sdkit2 ngomong sunda ma si Mr. Simple hehehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s