Setelah Setahun – Kangen Rumah

Akhirnya tepat setahun saya merantau jauh dari rumah. Tidak kerasa, berarti udah setahun tidak ketemu keluarga di rumah atau meluk mereka, tapi semua seperti baru terjadi kemarin. Setahun lalu, tepatnya 11 Desember 2010 saya sibuk pamit sana sini, keluarga dari Depok spontan datang setelah sehari sebelumnya saya pamit lewat telepon. Semua senang di hari itu, tapi juga saya tahu pasti sedih. Saya ingat, Mba (kakak ipar), Dedey (adik), Mamah, dan Papah sempat menitikkan air mata sedikit, kedua keponakan yang saat itu baru 3 tahun dan 10 bulan cuma bengong liat kami. Fiuh, kangen sekali dengan kalian..

Selama setahun terakhir saya kehilangan banyak momen penting di keluarga, pada akhirnya saya cuma bisa nangis sendiri di sini saat mendengar kabar Uwa saya meninggal (kalau tidak salah) di bulan Maret. Beliau tinggal di samping rumah dan saya anggap sebagai Ayah sendiri. Sebelum saya berangkat, Beliau ikut sibuk dan memberikan beberapa barang yang bisa saya pakai di sini. Sekitar beberapa minggu kemudian, Uwa saya yang lain (Beliau tinggal di belakang rumah saya) juga meninggal, sama-sama di hari Jumat. InsyaAllah itu hari baik.

Sehari setelah meninggalnya Uwa yang pertama dalah peresmian restoran steak Kakak pertama saya. Restoran yang terletak tidak jauh dari rumahnya pernah sempat masuk koran lokal sekitar 2-3 bulan lalu. Sebenarnya restorannya hasil patungan dengan Oom, tapi sepenuhnya diurus Kakak dan istrinya. Sesaat setelah pembukaan restoran, Kakak harus menetap sementara di India karena urusan kantor. Mba yang mengurus restoran sendirian. Ia yang sebelumnya sudah lama tidak pernah nyetir mobil lagi (bahkan bisa dibilang sudah lupa) akhirnya bisa kembali mengendarai mobil. Bulan lalu Kakak sempat ke Las Vegas selama seminggu, lagi-lagi untuk kerja. Mba sakit, mungkin karena terlalu capai dan banyak yang dipikirkan, Dedey muncul untuk mengurus kedua keponakannya. Dia bercerita tentang mereka di Twitter-nya, bercerita bagaimana orangtua saya dengan mudah membuat jagoan-jagoan kecilnya itu tenang di rumah. Saya iri. Ingin sekali berada di sana.

Kedua keponakan adalah orang yang paling saya rindu, terutama yang besar. Selama tiga tahun, saya yang mengurus dia. Main, mengajarkan lagu berbahasa Jerman “Hänschenklein“, mendongeng sebelum tidur, marahin dia kalau bandel. Akhir November lalu dia berumur 4 tahun, saya kehilangan banyak momen. Kalau saya menelepon ke rumahnya, biasanya dia tidak pernah mau ngobrol dengan saya, tapi saat saya menelepon sehari setelah ulang tahunnya ia mau ngobrol dengan saya. Suaranya beda, dia bercerita beberapa hal, dia sudah besar..

Keponakan kedua saat saya tinggal masih berumur 9 bulan, masih digendong saat ke bandara, bulet gendut pula, tapi foto-foto dia yang saya lihat begitu berbeda. Sudah engga gendut dan dia terlihat lebih tinggi! Dia juga sudah bisa ngomong walau belum lancar, terakhir di telepon dia sempat bilang ke saya (setelah didikte dengan benar oleh Ibunya)), “Hallo Ade, ini Ate”, terbalik 😉

Momen penting lain yang terlewat adalah sumpah dokter Dedey. Akhirnya dia jadi dokter beneran.. Semua hal tentang kami selama kami nge-kos di Jatinangor dan Bandung mendadak terbit. Dia adik saya satu-satunya, dan selama hidupnya saya hanya absen dari hari-harinya 2 tahun ketika saya mulai kuliah di Bandung (tapi itu pun saya rajin pulang), dan sekarang setahun penuh saya engga ketemu dia. Kangeeeennn bikin dia cemberut.

Orang tua di rumah Alhamdulillah semua sehat, hanya itu yang saya harapkan untuk mereka, selain juga mereka selalu bahagia. Sempat Dedey mengirim foto Papah dan Beliau terlihat sangat kurusan, saya kaget. Tapi Dedey bilang Beliau sehat, tubuh lebih kurus hanya karena efek makan yang lebih terjaga. Terakhir saya di rumah, Beliau hanya mau makan ikan dan sayur, beliau juga tidak makan makanan yang digoreng. Biasanya saya yang masak untuk Beliau kalau saya berada di rumah. Mamah memang menyerahkan ke saya urusan dapur kalau saya di rumah, Beliau mengurusi masalah rumah lainnya, karena saya paling males mengurus masalah baju. Karena itu juga saya sempat mencoba beberapa resep, mulai dari donat kentang sampai mie ayam pernah saya buat di rumah. Kalau Dedey pulang dari Bandung, Mamah selalu meminta saya memasak apa yang dia suka, biasanya cumi atau udang dengan saos tiram atau asam manis.

Kakak saya yang kedua tidak terlalu terdengar kabarnya, kecuali bahwa dia berhenti dari prakteknya sebagai dokter hewan dan mulai jalan-jalan ke beberapa kota di Indonesia. Mamah sepertinya masih pusing dengan kelakukan si Aa yang engga banyak berubah selama setahun terakhir ini. Ohya, dia sempat harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu, orangtua harus menghabiskan uang beberapa puluh juta untuk dia. Sakit dia dibikin sendiri, setiap hari pulang malam atau pagi naik motor, walau dia sendiri tahu tubuhnya kalau digituin terus engga akan kuat. Sekitar dua minggu sebelum saya terbang ke Jerman juga dia sempat dirawat di rumah sakit, karena hal yang sama namun tidak separah sekarang.

Baiklah, setahun sudah berlalu. Saya rinduuuu sekali, ini aja nulisnya sambil rada-rada mau nangis. Rasanya pengen cepat pagi juga, biar bisa nelepon rumah. Pengen ngobrol sama Mba, Dedey, dan Mamah. Saya kangen, pengen cepat pulang dan berkumpul bareng mereka lagi. Namun di sisi lain, saya juga masih mau menetap lama di sini, masih mau meraih yang pernah direncanakan.

Demi semua hal yang Allah ciptakan, aku rindu kalian, Mamah, Papah, Dedey, Mba, Kakak, Aa, dan kedua keponakan tercinta.. Jaga kesehatan ya, InsyaAllah kita bertemu lagi di tahun 2012 😉

 

Hamburg, 15 Desember 2011

*sambil denger Edward Sharpe and The Magnetic Zeros – Home, tambah jleb jleb pengen pulaaaaang :’)

Advertisements

4 thoughts on “Setelah Setahun – Kangen Rumah

  1. bebe says:

    ngerasain bangeeeeeet… udah ga keitung deh berapa kali tiba2 nangis sendirian karena kangen yang di rumah. Cuma sengaja selalu keliatan ceria biar yang jauh ga ikut2 sedih, karena takut malah jadi kepikiran… Sama2 bersabar sampai tahun depan Insya Allah bisa ketemu lagi sama keluarga..

    • mariskaajeng says:

      iya nih, kalo bilang kangen ke orang rumah pasti dijawabnya: “pulang aja, kerja engga usah diperpanjang. sudah, kerja atau nerusin kuliah di sini aja..” duh..
      kapan mau pulang ke Indo lagi, Be?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s