Random dengan Sputnik

Kemarin malam saya menuliskan beberapa percakapan saya dengan Sputnik di Twitter. Karena kami tinggal berjauhan, jadi percakapan random kami ini terjadi secara langsung (melalui telepon atau ketemu langsung) atau pun lewat teks di Skype.

Sputnik berbahasa bahasa Indonesia dengan lancar, walau begitu terkadang dia salah mengerti kalau saya berbicara dengan cepat, ini adalah salah satu dari alasan bagaimana percakapan random kami bisa timbul, selain karena alesan keisengan dia dan kebegoan saya tentunya. Soal salah paham, biasanya juga lebih banyak saya yang blah bloh, karena kemampuan bahasa Jerman saya tidak sebagus kemampuan dia berbahasa Indonesia.

Percakapan ini saya tulis kemarin cuma karena satu alasan, kangen dia (terdengar suara orang bersorak sorai menyorakain saya di sana). Sekarang saya pindahin ke blog demi alasan dokumentasi *halah*. Sputnik sendiri sudah saya ceritain kalau saya memasukkan beberapa percakapan kami di sini, dia sepertinya juga engga tertarik untuk tahu lebih lanjut apa yang saya tulis :-p

Percakapan Satu

Setelah libur summer, si Sputnik kembali kuliah.
Sputnik: Tadi aku sudah ke kampus. Tapi ruang seminar kosong.
Saya: Hah? Kenapa??
Sputnik: Karena ternyata kuliah mulainya minggu depan.
Saya: Eaaa.. -___-”

Percakapan Kedua

Saya: Aku sakit ­čśŽ Besok engga kerja.
Sputnik: Aku juga sakit. Tapi karena mabuk semalam.
Saya: *itu sih salah kamu sendiriiiii* -___-”

Percakapan Ketiga

Saya: Ich bin gleich zuhause.
Sputnik: Witzig. Du bist doch zuhause. Gerade meintest du?
Saya: Jaaaa! Das meinte ich!
Sputnik: -____-”

Kejadian Ketiga

Situasi: Baru konek Skype, mau virtual date.
Saya: Aku engga bisa denger suara kamuuu.. Kenapa lagi sih komputer kamu? *nyerocos ga mau diem* *nyalahin komputer situ*
Sputnik: Iya sebentar ya.. *jawabannya pake teks di Skype* *sibuk ngutak-ngutik komputer*
*setelah tiga menit*
Saya: Eh sayang, aku deh yang salah.. Aku engga sengaja bikin suara kamu di Skype jadi mute. *nyengir malu*
Sputnik: -___-”

Kejadian Keempat

Saya: Aku masih sakit. Besok engga kerja, udah izin kantor. Besok kamu ngapain?
Sputnik: Ke kampus. Terus besok kamu ngapain?
Saya: Mau window shopping sama teman.
Sputnik: Curang. Aku kira kamu sakit, kok jalan-jalan?
Saya: Eh.. Itu kan kalau besok cuacanya panas baru jalan-jalan. *ngeles mendadak*
Sputnik: -___-”

Kejadian Kelima

Sputnik: Kamu jangan makan biskuit ini ya, soalnya ada babinya.
Saya: Ah masa sih? Bukannya itu biskuit jahe ya?
Sputnik: Iya tapi ini ada Speck di dalamnya. *nunjuk empat huruf pertama dari tulisan “Spekulatius” di bungkus biskuit* *nyengir┬ánakal*
Saya: DOH! *ini orang kenapa sih?* *tepok jidat*

Spekulatius adalah biskuit jahe yang ada di waktu dekat-dekat natal. Engga ada babinya kok, dia aja iseng bilang mengandung babi, karena kata bacon dalam bahasa Jerman disebut dengan Speck.

Percakapan Enam

Kejadian pertama lewat teks chatting saat saya masih di Indonesia. Kejadian kedua ngobrol langsung di bis, saat pertemuan pertama di Berlin.

Sputnik: Kamu berapa lama di Jerman?
Saya: Setahun.
Sputnik: Oh tidaak. Kamu akan mengganggu hidupku selama setahun.
Saya: *lebay deh kamuu* *bengong* -___-”

 

Percakapan lain tentu masih banyak, tapi saya sendiri lupa. Nanti kalau ada lagi diceritain deh, tapi janji ya kalian bacanya jangan sambil mual-mual. Du du du.. *siul*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s