Ketika Saatnya Tiba

Aku menutup mata, memperlambat tarikan dan hembusan nafas, lalu perlahan membuka mata. Matahari masih bersinar cukup menyilaukan. Salju masih menutupi dedaunan, ia kuat melawan panasnya sinar matahari yang jatuh tepat di atasnya. Aku merapatkan jaket tebalku ke tubuh yang menggigil. Angin masih bertiup dingin sepanjang musim yang paling aku benci ini. Bertemu dengannya kembali untuk ketiga kalinya menyadarkan aku, sudah dua tahun aku menetap di negara ini.

Aku kali ini sudah cukup letih untuk menutupi diriku sendiri dengan bilang aku baik-baik saja. Aku rapuh, kalau boleh aku jujur. Aku bertanya kepada kalian, adakah di antara kalian yang akan tetap baik-baik saja di saat sebentar lagi harus kehilangan orang yang paling disayangi? Aku tidak. Karena itulah dinginnya udara seperti menusukku lima kali lipat tepat di ulu hati.

Sebenarnya, sudah aku persiapkan saat ini dari setahun lalu. Tolong jangan tertawa dan bertanya, bagaimana aku bisa tahu semua ini. Ini adalah hasil obrolan tanpa kesimpulan di suatu malam yang hampir jatuh. Pelukkan hambar di malam itu masih aku bisa rasakan. Semua seperti baru terjadi kemarin malam. Obrolan malam itu bahkan tajamnya masih terasa sama.

Sejak malam itu aku menghapus sebuah mimpi antara aku dan dia. Mimpi itu aku bangun dengan pondasi terindah yang pernah aku rasakan bersamanya, kebahagiaan. Oh jangan berbicara cinta, karena di tiap tawa pasti terselip segenggam cinta. Sayangnya, sejak malam itu aku berhenti mengerjakan apa yang seharusnya aku bangun, ternyata cinta dan kebahagiaan saja tidak cukup. Semua berhenti hanya dalam sebuah bentuk pondasi dengan corak indah. Dia masih tetap sumber senyuman di bibirku. Begitu pun aku, merupakan sumber tawa di hidupnya.

Sebelum musim semi datang melukiskan warna-warna terindahnya, aku akan terlebih dulu meninggalkan semua mimpiku di sini. Aku akan kembali ke pelukkan hangat ibu pertiwi dan memulai membentuk mimpi-mimpi yang baru. Keberhasilan memang mahal harganya di negeri ini, walau mungkin di negaraku sendiri belum tentu akan lebih murah.

Aku jujur padamu, aku masih sangat berharap kamu tetiba datang dan melemparkan kalimat, “aku ternyata tidak sanggup kehilanganmu.”, lalu memelukku erat. Tapi warna ilusi lebih kuat dibanding kenyataan dan aku tidak pernah memaksa. Mimpiku pun larut.

Bermula di malam itu dan belum berakhir sampai sekarang, kamu masih berpikir dengan lidi yang terpendek, tentang kebahagiaan sebotol bir dari para teman. Karena itu, kamu kehilanganku.

Hamburg, 15 Oktober 2011

“malam ini sungguh dinginnya bahkan tidak akan aku tumpas dengan pemanas ruangan, biar ia merajamku dalam mimpi dan menahanku untuk tidak bertemu denganmu.”

Advertisements

4 thoughts on “Ketika Saatnya Tiba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s