Penghuni Kamar Pertama

Seperti janji saya di tulisan sebelumnya, sekarang saya akan bercerita tentang penghuni di rumah/kantor saya. Sekitar dua minggu lalu sebenarnya saya pernah bercerita tentang mereka di akun microblog Twitter saya, namun tidak detail dan kalau tidak salah waktu itu saya baru bercerita sampai ke penghuni di kamar ke lima, jadi masih ada empat penghuni lagi belum saya ceritakan. Mereka orang dengan kebutuhan khusus yang hidup dengan autismus, epilepsi, down syndrom, kepribadian ganda, Obsesive Compulsive Disorder (OCD), gangguan bahasa, gay, dan lainnya yang gue sendiri engga tau istilah tepatnya apa.

Bagi saya kehidupan mereka sangat menarik, saya punya pengalaman baru hidup dengan mereka selama dua bulan terakhir, jadi tau juga bagaimana sebenarnya berinteraksi dengan orang-orang dengan kebutuhan khusus. Selamat membaca tentang kehidupan penghuni di kamar pertama.

Penghuni Kamar Pertama

Laki-laki berusia 36 tahun ini sudah tinggal di rumah ini sejak tahun 1994. Dia penderita gangguan intelektualitas, ngobrol dengannya akan selalu tentang hal yang sama setiap saat. Hidupnya hanya berputar pada makanan, minuman, dan kopi. Setiap hari dia memiliki rutinitas yang sama sejak bangun tidur sampai berangkat tidur. Dia tidak mengenal jenjang waktu hari ini dan besok. Dia salah satu dari dua orang dengan tingkat agresifitas tinggi.

Setiap hari dia harus ditemani satu orang Betreuer dari salah satu pekerja yang punya jadwal kerja di hari itu. Tugas Betreuer adalah menemani dan membantu semua aktifitasnya. Sudah kebayang apa itu Betreuer? Ya, semacam pendamping. Dari fisik, dia sekilas tampak seperti orang normal, kecuali mata kanannya yang tidak lagi berfungsi dan mata kiri yang hanya berfungsi sekitar 40%, karena itu juga dia sehari-hari mengenakan kacamata tebal. Kadang cara jalan dia tidak seperti orang normal, sedikit pincang, namun dia mampu berjalan cukup jauh kok.

Pria dengan tinggi hampir dua meter ini tidak bisa berhenti makan dan minum (terutama kopi), sayangnya dia sangat susah dilarang. Dia akan berlari keluar rumah dan menutup pintu dengan SANGAT kencang kalau permintaannya tidak dituruti, persis seperti anak kecil, ya? Cara terampuh untuk menolak keinginan dia adalah dengan bilang dia akan mendapatkan apa yang dia minta besok. Seperti sudah saya bilang, dia tidak paham perbedaan waktu antara hari ini dan besok (mungkin juga dengan kemarin). Besoknya dia akan lupa tentang apa yang dia minta hari ini, tapi memang setiap hari dia akan meminta hal yang sama kok. Kami juga tidak boleh menjawabnya dengan “tidak” kalau tidak mau membuat dia stres dan agresif. Karena itu, setiap dia tanya (misalkan) apa boleh dia minum kopi, kami hanya akan menjawabnya, “Ya, besok kamu boleh minum kopi. Sekarang ga bisa lagi.” kadang dia akan mengerti dan diam, kadang dia akan kembali agresif dan lari keluar rumah. Besok dia akan kopi lagi, namun bukan menagih janji di hari sebelumnya, memang dia saja yang setiap hari meminta hal yang sama.

Semua kolega saya dan juga saya sudah mengerti dengan benar dengan rutinitas dia setiap hari. Pagi hari kalau dia sudah bangun tidur, pekerja yang kebagian tugas pagi hanya perlu bilang “giliran kamu sebentar lagi, tidur lagi saja, nanti dibangunin.”, lalu cuekin dia, dan membantu penghuni lain untuk siap-siap ke tempat kerja. Kebayangnya gampang ya? Tapi sebenarnya cukup sulit loh. Si penghuni kamar pertama ini tergolong cerewet dan mengesalkan. Walau sudah dilarang, dia akan tetap bersikeras untuk berganti baju, kalau sudah begini, pintu ruangan cuci harus dikunci. Teko di mesin kopi juga harus dihabiskan kalau tidak mau dicuri olehnya sampai habis.

Setelah semua penghuni siap berangkat kerja, giliran si penghuni kamar pertama diurusin. Pertama yang harus dilakukan adalah membantunya mengenakan baju, celana, dan sepatu. Lalu membawanya ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Kalau dia buang air besar, kami harus membantu membersihkannya. Dia memang bukan penghuni yang mandiri. Setelah dari kamar mandi, bawa dia ke dapur, kasih dia roti kismis dan segelas kopi untuk sarapan. Dia akan sarapan dengan kecepatan tinggi di ruang tengah. Setiap dia harus selalu diingatkan untuk makan dan minum dengan pelan.

Biasanya setelah sarapan dia akan minta sarapan lagi, keluarkan jurus andalan: besok lagi roti kismisnya, sekarang udah ga bisa. Jangan lupa sebelumnya sisakan hanya sedikit kopi di teko kopi, biar dia merasa itu kopi terakhir dan dia sudah menghabiskannya. Ya, dia suka sekali menghabiskan makanan dan minuman, bagi dia alle machen ist Geil (menghabiskan semuanya itu keren). Di hari kerja, setelahs arapan dia akan pergi ke tempat kerja dengan diantar bus jemputan. Dia selalu punya tas ransel hitam untuk dibawa ke tempat kerja, engga ada isinya sih, hanya soal kebiasaan saja makanya dia bawa.

Kalau bukan hari kerja, Betreuer  dan dia akan pergi jalan-jalan. Uniknya dia akan meminta pergi ke tempat dia dan si Bertreuer pergi untuk pertama kalinya. Ke saya dia akan selalu menagih kapan kami pergi ke Landungsbrücken lagi dengan menggunakan kapal. Di Landungsbrücken dia sudah tau kami harus ke kafe mana dan makanan serta minuman apa yang akan dia pesan, selalu sama. Dengan kolega saya, dia akan selalu mengajak ke sebuah bar bernama Jack’s, dia juga akan duduk dan memesan makanan yang sama. Kalau sedang malas jalan jauh, biasanya saya hanya bawa dia toko roti di Rewe atau pom bensin lalu makan di bangku yang sama.

Setelah keluar (atau pulang dari tempat kerja) dia akan menagih makan siang. Dia selalu minta makan 2x karena itu kami selalu memberikan dia 2x porsi sedang. Dia akan tetap minta makan seperti itu walaupun tadi di luar sudah makan siang loh 😐 Sama seperti trik teko kopi, di panci makanan juga harus disisakan hanya sedikit masakan jadi bisa bilang semua makanan habis olehnya dan akan ada lagi besok siang.

Setelah makan siang dia akan mengajak ke basement. Kami memiliki sebuah ruangan kecil di basement yang tiap siang dia gunakan untuk relaksasi. Sebelum pergi ke Basement harus disiapkan: yoghurt rasa lemon, sepotong kecil cheese cake dengan krim yang banyak, seteko kopi (yang isinya cuma cukup untuk satu cangkir), cangkir warna kuning, garpu kecil untuk makan kue, sendok kecil dengan ukiran bunga di ujungnya (dia menyebutnya dengan “sendok merah” padahal engga ada warna merah sedikit pun) untuk makan yoghurt, semua harus dia letakan sendiri di keranjang kotak warna merah. Betreuer akan membawa dua buah selimut, warna merah untuk penghuni kamar pertama dan warna biru untuk dirinya sendiri.

Di basement dia akan duduk tepat di tengah sofa biru. Pertama yang dia nikmati adalah yoghurt, lalu kue keju, dan terakhir kopi. Dia akan terus menerus bilang “alle machen” selama menghabiskan bekalnya itu. Setelah semua habis, dia akan membersihkan meja, membuka sendal lalu meletakkan di bawah meja, dan berbaring di sofa biru dengan selimut di ujung kakinya. Selama berbaring dia akan selalu ngomong, walau intensitasnya engga sesering kalau dia di atas. Topik yang akan dia omongin tetap sama: “kapan aku boleh ke atas lagi? kapan aku boleh kerja lagi? aku sudah menghabiskan kopi.” dan sebagainya. Selama di basement Betreuer TIDAK boleh berbicara atau bahkan bergerak. Hanya boleh diam. Menemani dia di basement adalah pekerjaan kesukaan saya, karena itu berarti saya bisa tidur sekitar 30 menit sampai dua jam dia jam kerja. I’m paid to take a nap 😛

Jam tidur di basement berakhir kalau dia minta ke atas. Mulai kerja lagi deh.. Pekerjaan pertama adalah menyuruh dia membereskan keranjang makanannya itu. Lalu membantu dia mandi. Sama seperti makan dan minum, dia juga akan meminta keramas dua kali. Setelah mandi saya membantu dia mencukur jenggot dan kumis, memakai krim, deodoran, parfum, dan menganakan pakaian tidur berwarna merah bermotif kotak-kotak. Bingung ya dari tadi kok warna merah melulu? Itu karena dia “suka” warna merah. Saya engga tau pasti juga sih dia benar bisa bedain warna atau engga, tapi dia memang selalu bilang dia mau apa pun yang berwarna merah.

Selesai pakai baju tidur, dia akan minta bantuan untuk bikin salat dan roti untuk makan malamnya sendiri. Keju, daun salat, dan tomat akan dia potong sendiri dan diletakan di mangkok plastik berwarna merah. Dia akan memotongnya dengan pisau berwarna biru. Tiap sore ia makan dua roti yang masing-masing dibagi dua dan diletakan di dua piring berbeda. Piring pertama adalah roti dengan frischkäse di atasnya dan piring lainnya adalah roti dengan fleishsalat di atasnya. Untuk makan malam dia harus menunggu sampai pukul 18. Biasanya dia tidak punya kerjaan dari sampai waktu makan tiba, sedangkan bisa jadi jam 16 semua rutinitas dia sudah beres. Kalau begini, dia akan dengan senang hati bikin semua orang kesal karena tingkahnya yang menyebalkan.

Tips dari kolega, kalau dia sudah memaksa dan mulai menyebalkan, takut-takuti dengan bilang akan menggambar di tangannya dengan pulpen atau langsunglah menangis! Kadang cara tersebut berhasil, dia akan berhenti memaksa dan pergi. Kadang juga tidak. Pernah tangan saya dipegang sangat kuat olehnya sampai merah dan sakit karena dia memaksa saya untuk duduk dan mengobrol dengannya. Akhirnya saya nangis (dicampur beneran karena udah ga tahan lagi), namun tetap saja tuh dia memegang tangan saya dengan kuat dan mengintimidasi saya sampai kolega saya datang dan mencipratkan air ke muka dia. Dengan badan yang tinggi besar itu tentunya saya yang bisa terbilang kecil mungil ini kalah olehnya.

Setelah makan semua makanan yang sudah dia siapkan sebelumnya, dia akan menagih roti toast dengan keju, dilanjutkan dengan teh papermint campur susu sebagai penutupnya. Sebenarnya tidak benar-benar penutupnya sih, karena dia terus akan menagih espresso atau capuccino yang hanya bisa dikasih saat semua orang sudah berangkat tidur, yaitu sekitar pukul 19.30. Biasanya setelah salah satu minuman itu dia tegak (dia akan meminumnya dengan setengah cangkir susu), dia akan menagih sepotong coklat atau makanan manis lainnya. Inilah penutupannya!

Habis makan coklat itu dia akan meminta untuk dibantu sikat gigi, cuci tangan, lalu pergi ke kamarnya. Sebelum naik ke tempat tidur, dia akan menaruh sendalnya di lemari, membereskan mainan yang ada di depan lemari sendalnya, dan meminta dinyanyikan lagu Lalilu. Saya sendiri engga hapal liriknya seperti apa, hanya hapal nadanya saja, jadi saya ngarang aja sendiri liriknya, menyelimutinya lalu kabur ke kantor. Sampai di sinilah hari si kamar pertama. Kalau pun dia belom bisa tidur dan masih duduk di ruang tengah, CUEKIN aja! Kalau dia dicolek, dia akan ngajak ngobrol terus dan ga mau tidur.

Nah itu barusan rutinitas dia tiap hari, hari kerja dan akhir pekan tentu berbeda, tapi engga banyak. Hari senin sampai jumat dia di tempat kerja dari jam 08.15 sampai jam 12.30 baru makan siang, jalan-jalan, dan selanjutnya. Di akhir pekan dia mulai aktifitasnya jam 11 siang saat Betreuer datang. Kalau di luar atau di basement terlalu sebentar, bisa jadi kegiatan jalan-jalan dan relaksasinya diulang sampai dua kali, seperti yang saya alami sebagai anak baru. Tiga kali saya jadi Bertreuer nya, dua kali di antaranya terlalu singkat sampai rekan kerja saya lalu mengambil alih untuk menemani si penghuni pertama ini kembali jalan-jalan dan ke basement. 

Biasanya kegiatan dia berakhir sekitar pukul 20, namun kalau dia lagi engga mood atau mendadak muntah-muntah karena kebanyakan makan, bisa lebih malam lagi pergi tidurnya. “Musuh” abadi dia di rumah adalah penghuni di kamar delapan, seorang wanita berumur 34 tahun yang emosinya sering naik turun dan sering memprovokasi penghuni pertama sampai penghuni pertama kesal. Jangan pernah gabungkan mereka di satu ruangan kalau engga ada Betreuer kalau engga mau denger mereka ga berhenti berantem atau tiba-tiba melihat gelas melayang.

Cuaca di Hamburg sekarang lagi jelek-jeleknya, angin kencang dan hujan hampir tiap hari, tapi dia selalu enggan pake jaket kalau keluar. Awal-awal sih mau ke tempat kerja pake jaket, sekarang udah engga. Kalau petir lagi sambar-menyambar, biasanya dia akan panik dan minta suara petir itu dimatiin. Nah loh, gimana coba? Bingung, kan? Saya juga bingung saat suatu sore dia dengan panik bilang, “Mariska, matiin! Matiin!” lalu dia bilang, “Matiin petirnya.” setelah saya tanya apa yang harus dimatiin. Ketika petir dan geledek hilang, dia giraaang banget, “Mariska, petirnya udah ga ada!”.

Kolega saya cerita, dia berada di dalam tanggung jawab seseorang dari pemerintah, saya lupa namanya. Orangtuanya sudah “menyerahkan” tanggung jawab ke orang tersebut. Tapi jangan salah, hubungan dia dengan orangtuanya masih baik kok. Ulang tahun masih pulang untuk dirayakan di rumah. Orang itu yang akan memutuskan apakah si penghuni kamar pertama ini perlu ke dokter atau engga buat pemeriksaan sekali setahun. Si Penghuni kamar pertama ini akan dibawa ke dokter dan dilakukan pemeriksaan lengkap walau dia engga mau. Lalu, bagaimana kalau dia berontak? Terpaksa dia diikat dengan baju khusus biar dia engga bisa kabur atau menolak diperiksa. Saya lupa dia sampai harus disuntik bius atau tidak biar tenang. Akibatnya dia jadi semacam trauma pada rumah sakit dan dokter. Memang terbayang kejam sih ya, tapi biar bagaimana pun dia memang harus periksa kesehatan rutin setahun sekali, mulai dari mulut dan seluruh badan.

Saya kehabisan cerita, sepertinya semua tentang penghuni pertama sudah saya ceritakan. Kalau pun ada yang kurang, nanti akan saya tambahkan lagi di sini. Selanjutnya saya akan bercerita tetang perempuan penghuni kamar kedua. Dia keturunan Yunani dan bisa sedikit bahasa Yunani. Sama seperti penghuni pertama, dia mengalami gangguan intelektualitas. Sampai jumpa di episode selanjutnya. Enjoy! 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Penghuni Kamar Pertama

  1. Ria Angelina says:

    wow
    hi dek jujur aku salut dengan kamu bukan sebuah pekerjaan yang mudah namun sangat manusiawi yg ngak mungkin bahkan jarang di indonesia.
    jujur aku iri menjadi kamu.
    good job ladies.

    ( gara gara ngak bisa tidur jd baca blog kamu )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s