Perempuan Bersyal Ungu

Perempuan bersyal ungu sendiri melewatkan waktu duduk di atas kapal, ia tahu ke arah mana kapal laut ini akan berlayar, namun ia belum memutuskan di mana ia akan turun kelak. Mungkin di dermaga yang pernah ia singgahi bersama kekasihnya, atau mungkin di dermaga lain yang bahkan belum pernah ia sendiri sambangi. Ia membiarkan kapal membawa tubuh dan pikirannya pergi. Suara-suara di sekitarnya tak ingin ia hiraukan, bukan hanya karena kalah dengan deru mesin kapal yang mengaung kencang, juga karena ia sedang tidak ingin berkonsentrasi untuk mengerti bahasa daerah yang masih asing di telinganya.

Ia membuka lembaran kertas putih dari buku tulis yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia masih menuliskan bait-bait kalimat kerinduan yang kelak ia akan tiupkan untuk kekasihnya dari atas kapal. Ia memandang lurus ke depan, menatap kekosangan dengan mata penuh arti. Angin kencang yang sedari tadi dengan kasar memainkan rambutnya tidak ia hiraukan.

“Merindukanmu,

nafas bukan hanya susah kaku

langit tidak hanya tuntuh

tapi semua seperti memusuhiku

memintaku berhenti bernafas

namun memacuku untuk terus berlari

bahkan hati yang tercabik tidak kamu izinkan untuk merasa sakit.”

Ia berhenti menulis. Matanya tertuju pada sebuah botol biru kosong di samping buku tulisanya. Sebelumnya botol itu berisi rindu, ia sudah menegaknya habis seminggu lalu. Ia menarik nafas dengan berat setelah beberapa detik terdiam, memutarkan mata melihat ke sekeliling laut, lalu merobek kertas yang baru saja ia penuhi dengan bait kerinduan. Perempuan bersyal ungu mulai menulis dengan tinta hitam di kertas putih selanjutnya.

“Kamu adalah samudra

yang membiarkanku berlayar sendirian di atasnya,

Tersesat tanpa mengerti ilmu perbintangan.

Kekasihku, tak sadarkah kamu betapa kejamnya kamu kepadaku? Memaksaku menegak rindu seminggu lalu, lalu kamu menghilang seperti tenggelam ke dasar samudra. Rindu yang kamu berikan tidak lagi semanis kata-katamu waktu itu, rasanya sudah berubah menjadi kegetiran yang menyakitkan. Kamu meninggalkanku berlayar sendirian, menjauhi dermaga hidupku sendiri menuju entah ke mana. Kamu kejam, Sayang, kepada kekasihmu sendiri.”

Ia meniupkan kata-kata yang baru selesai ia tulis, mereka terbang menuju barat, kota di mana kekasihnya tinggal. Perempuan bersyal ungu memejamkan mata, menghela nafas perlahan, dan lenyap bersama kerinduannya.

Hamburg, 31 Juli 2011

Advertisements

2 thoughts on “Perempuan Bersyal Ungu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s