Pagar

Aku ingat kalian, kalian dulu sering datang berdua di akhir pekan. Saling berpengangan tangan dengan kencang. Si perempuan selalu tertawa, bahkan saat sedikit saja si laki-laki menggelitik telapak tangannya dengan salah satu jari-jemari yang sedang saling berkaitan itu. Aku tahu, si laki-laki tinggal di salah satu kamar yang aku jaga, tapi aku tidak pernah tahu di lantai berapa atau tepatnya di kamar mana ia tinggal.

Tiga bulan terakhir, aku selalu melihat si laki-laki berjalan sendiri melewatiku. Si perempuan tidak muncul lagi tiap akhir pekan. Terakhir aku melihatnya, dia melewatiku dengan membawa sebuah tas punggung sangat besar yang aku kenali sebagai milik si laki-laki (aku pernah liat si laki-laki membawa tas itu di bulan April, mukanya letih namun senang. Empat hari kemudian si perempuan datang, mereka tampak kaku pada awalnya, namun lalu melewatiku lagi dengan muka malu-malu dan tangan saling berkaitan. Itu pertama kalianya aku melihat mereka bergandengan tangan). Sejak hari di mana si perempuan pergi dengan tas punggung besar itu, si laki-laki terkadang pulang dengan muka letih, kadang setengah mabuk, kadang matanya menerawang, kadang wajah kesepian, dan wajah-wajah lainnya .

Sebentar, aku teringat sesuatu. Pernah si laki-laki melewatiku tengah malam saat aku hampir tertidur dalam tugasku, mukanya memang capai, namun matanya tidak. Dan dari mulutnya terdengar siulan riang! Hei, apa aku terlewat sesuatu? Mengapa ia tampak bahagia? Aku melirik ke sekitar, namun si perempuan tidak tampak. Apa yang terjadikah?

Setelah hampir saja aku melupakan kalian (karena bosan melihat wajah si laki-laki yang begitu-begitu saja, tampak kesepian), akhirnya malam ini kalian berdiri di depanku lagi. Masih dengan jari jemari yang menyatu, senyum simpul di bibir-bibir kalian, namun kali ini dengan tatapan yang sebelumnya belum pernah aku lihat sebelumnya.

“Aku senang kembali ke sini lagi. Kota ini, apartemen ini, dan kamu..” aku mendengar si perempuan berbisik. Tangannya kini melingkar di pinggang si laki-laki, lalu ia menyenderkan kepala di dadanya dengan nyaman. “Aku akan merindukanmu, saat aku harus kembali ke kotaku..” matanya berubah sendu. Si laki-laki membalas pelukkannya dengan erat, lalu mereka melangkah masuk saat angin dingin mulai mengganggu.

Kelak aku akan menjadi saksi saat si laki-laki pulang tanpa disertai si perempuan. Aku juga akan tahu, wajah sepi membosankan yang tiga bulan terakhir ada padanya akan dimulai lagi saat itu.

Hamburg, 27 Juli 2011

Advertisements

3 thoughts on “Pagar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s