We Never Know What The Future Holds

Dua minggu terakhir ini hidup saya berubah. Rencana jangka panjang yang udah saya bikin sampai kira-kira bulan November 2011 dirombak total. Semua gara-gara kabar yang saya terima dari guestfamily saya di Altlandsberg.

Minggu pagi, sekitar pukul 10, kamar saya diketuk. Babeh bilang ada yang perlu dia omongin dengan saya dan bertanya apa saya punya waktu. Perasaan saya ga enak. Setiap orang yang ngomong “ada yang mau dimongin” pasti selalu mempunyai permasalahan serius dan biasanya kabar buruk. Babeh menutup pintu ruang tengah, Emak udah duduk dengan manis di sudut sofa. Saya duduk di depannya.

“Mariska, kami mempunya masalah finansial.” kata Babeh. Dalam pikiran saya, “Ok, apa selama ini gue makan terlalu banyak, terlalu sering mandi, dan terlalu sering bawa mobil sampai si Babeh punya masalah finansial?”. Belum sempat jawaban di benak saya terjawab, Babeh melanjutkan omongannya.

“Anak-anak kami sudah besar. Si Bungsu akan masuk SD Agustus nanti. Bis sekolah datang lebih pagi, si Kakak dan si Adik bisa berdua berangkat dan pulang naik bis. Jadi kami TIDAK butuh Au Pair lagi untuk anter-jemput mereka.”

Saya diam. Si Babeh terus ngomong. Intinya, mereka punya masalah finansial dan anak-anak ga usah diantar-jemput. Lebih inti lagi, saya diberhentikan sebagai Au Pair terhitung sejak 24 Juni 2011.

“Kamu bisa daftar FSJ, Mariska, seperti kamu bilang.” kali ini Emak yang berbicara. “Saya harus daftar 3 bulan sebelumnya, Mak.” mereka diam. Satu-satunya jalan, kata mereka, adalah saya mencari guestfamily baru. Sebelumnya saya butuh waktu 3-4 minggu untuk menemukan guestfamily baru, kali ini dengan waktu yang mepet itu saya harus berhasil. Pikiran saya kosong.

Sahabat-sahabat saya, yang sudah lebih dulu berkecimpung di bidang FSJ, langsung menelepon saya malamnya. Dia menjelaskan cara-cara melamar FSJ, nomer mana saja yang harus ditelepon, pertanyaan-pertanyaan apa saja yang harus saya tanya, dan lainnya. Pacar saya sibuk dari siang mencari tahu tentang FSJ dan FÖJ. Terima kasih untuk kaliaaaann ❤

Untuk yang belum tahu, FSJ singkatan dari Freiwilliges Sozial Jahr atau kerja sosial bagi anak-anak muda di Jerman. Rentang umurnya 18-26 tahun. Pekerjaannya bermacam-macam, teman-teman saya dan saya memilih untuk bekerja membantu orang-orang cacat. Sedangkan FÖJ adalah Freiwilliges Ökologische Jahr, hampir sama dengan FSJ, hanya saja berkaitan dengan alam (ekologi).

Seminggu setelah “pemberhentian” saya, saya berada di Hamburg. Saya akan melakukan hospitality di dua Wohngruppe Leben mit Behinderung Hamburg. Sebelumnya saya sudah pontang panting nelepon beragam nomer yang berkaitan dengan FSJ di Hamburg juga mengirim surat lamaran. Alhamdulillah, saya diterima.

Awalnya saya akan kembali ke Berlin minggu malam setelah hospitality, namun karena banyak yang harus diurus di Hamburg, kepulangan menjadi lima hari kemudian. Di Hamburg saya harus mengurus mulai dari surat kontrak, kosan, rekening bank, asuransi, daftar diri di Bezirksamt (semacam kecamatan), dan sebagainya. Kembali ke Berlin saya masih harus mengurus surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian, surat sehat dari dokter, dan packing barang. Visa saya belum tersentuh karena ternyata saya telat datang.

Lucunya, di Hamburg saya akan satu kosan (lagi) dengan salah satu sahabat saya. Dulu kami satu kosan di Jatinangor, menyenangkan sekali bisa berbagi waktu bersama dia lagi, bisa masak makanan Indonesia lagi 🙂

Singkat cerita lagi, mulai 25 Juni nanti saya bukan lagi Au Pair. Karir Au Pair saya hanya berlaku selama 6 bulan. Dan mulai 1 Juli nanti pekerjaan saya adalah FSJ di Hamburg.

Saya akan kangen sekali dengan anak-anak saya ini, kami sudah sangat dekat. Kemarin mereka masuk ke kamar saya saat saya baru saja bangun tidur, menyenangkan sekali memeluk mereka pagi-pagi lalu main bareng sampai siang. Mereka juga sudah wanti-wanti kado apa yang harus saya kasih ke mereka di ulang tahun mereka tahun depan. Saya juga akan sangat kangen Berlin. Saya lebih suka Berlin dari pada Hamburg. Semua seakan lebih mudah dan lebih tenang di ibukota. Selain itu, tentu saya akan kangen si pacar yang menetap di Berlin. Yaks, mari kita mulai long distance relationship ini, Car! Semangat!

Ssstt.. Uang saya bulan ini abis loh buat ini itu. Sampai harus pinjam ke teman dan pacar, ga indah memang, tapi mau gimana lagi 😦 Selain itu, si sahabat pun sempat marahin saya karena saya selama ini engga nabung untuk keadaan genting seperti ini. Kata dia, saya tidak belajar dari kejadian sebelumnya, dan dia benar. Mulai sekarang saya harus sangat hemat dan harus punya tabungan. *pake ikat kepala*

Benar kata orang, we never know what the future holds. Tidak pernah sekali pun kejadian ini terlintas di benak saya. Rencana awal, bulan Juli liburan ke Polandia dan beberapa negara di Eropa Timur, September kursus B2, November baru mulai FSJ di Hamburg, ternyata Allah berkehendak lain. Saya juga selalu percaya, anything happened for good reasons 🙂

Advertisements

One thought on “We Never Know What The Future Holds

  1. rizky fauzi says:

    Sori ni mau tny,gw rizky.gw minat ikut fsj.tp gw msh tnggal dijakarta dan bhs jrman gw blm bagus.kira2 gw bisa ikut fsj ga?
    Minta infony dong
    Danke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s