Hujan Musim Panas dan Tanah Kering

Saat matahari baru saja muncul pukul 3 pagi ini, mata kita masih sibuk menatap film di layar monitor komputermu. Tampaknya lelap masih jauh dari kita pagi ini. Terkadang gelak tawa terdengar dari mulut kita, semoga saja tidak mengganggu teman sebelah kamarmu, kataku. Kamu menyambutnya dengan kepala menggeleng tenang.

“Hey, apa kamu ingat ciuman pertama kita?” tanyamu tiba-tiba.

Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahmu. Film ini jauh lebih menarik dari pada menjawab pertanyaan konyolmu, pikirku diam-diam.

“Di mana?” tanyamu lagi, kali ini sambil menepuk lembut bahuku. Aku terpaksa menoleh, menjawab singkat “di sini”, dan berpaling lagi dari kamu.

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Bagaimana rasanya?” sekarang kamu beranjak dari bangku, berlutut di depanku, menutupi pandanganku dari monitor. Mata birumu menatap mataku lembut. Aku terpaksa mengalah, demi tidak ingin melewatkan matamu itu. Mata yang membuatku jatuh cinta berkali-kali denganmu.

Lima detik kemudian mataku mulai memutar ke arah kanan. Memikirkan jawaban pertanyaanmu. Kamu menunggu sambil menggenggam tanganku. “Rasanya? Hmm.. kamu dulu, deskripsikan ciuman kita saat itu, lalu aku akan menjawab.” aku menantang balik. Sebenarnya, aku hanya perlu waktu untuk mengingat perasaanku saat itu dan menjabarkannya padamu.

“Waktu itu.” jawabmu lambat, lalu jeda. “Rasanya tidak bisa terdeskripsikan. Sensasi bibirmu membuatku selalu ketagihan untuk menciummu lagi. Rasanya seperti ada sesuatu yang manis menempel di bibirku. Sekarang kamu!”

Aku tersenyum. “Ah gombal! Aku kira mau bilang apa, ternyata hanya itu.” jawabku asal, padahal dalam hati aku tersenyum senang. “Ciuman pertama kita.. Rasanya.. Biasa saja!” kamu lalu menghujaniku dengan kelitikan di detik aku selesai berbicara. Aku tertawa keras, aku yakin kali ini temanmu di kamar sebelah akan terbangun dari tidur, lalu mengutuk kita.

“Iya iya aku jawab, sekarang berhentilah.” kataku di antara tawa. Kamu menarik badanmu, kembali pada posisi berlutut di depanku, sambil masih menatap mataku. Aku menarik nafas lambat-lambat, mengatur nafas juga detak jantung. “Ciuman pertama kita, seperti Hujan di musim panas yang mengecup manis Tanah kering. Wangi dan tenang.”

Matamu membulat, seakan tak percaya dengan jawabanku. Bibirmu menyunggingkan sedikit senyuman, namun tetap tertutup.

“Kamu ingat musim panas tahun lalu kamu bilang hujan turun sepanjang hari? Kamu bilang, rasanya enak sekali dan tenang. Wangi tanah juga rumput yang terkena guyuran hujan merasuki hidungmu dan mendesak masuk ke dadamu. Kamu suka perasaan itu. Ciuman pertama kita seperti itu. Seperti Hujan musim panas mengecup manis Tanah kering. Ciuman yang selalu dirindukan Tanah. Ciuman yang selalu membuat Hujan tidak pernah berhenti datang. Ciuman yang menenangkan hati manusia:”

Kamu tersenyum.

Aku tersenyum.

Kita berciuman.

Nanti siang hujan akan turun di awal musim panas tahun ini.

Berlin, 30 Mei 2011

Advertisements

7 thoughts on “Hujan Musim Panas dan Tanah Kering

  1. diwanidiwan says:

    suka sekali dengan kalimat : seperti Hujan di musim panas yang mengecup manis Tanah kering. Wangi dan tenang.”

    tapi kya gmn yah rasanya ciuman yang seperti itu? hahahah……

    tau ko ini fiksi….. heheheh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s