Liburan ke Ostsee

Kamis, 12 Mei 2011 saya dan keluarga tamu (guestfamily) berangkat ke Dierhagen Ost. Sebuah kota kecil yang terletak persis di pinggir pantai laut Baltik (Ostsee). Ya, kami akan berlibur di pantai selama tiga hari. Saya sudah siap dengan semua perlengkapan pantai alias sendal dan baju yang tipis biar ga panas, namun mereka bilang saya harus bawa jaket juga sepatu tertutup, karena cuaca di sana masih jelek. Hujan akan turun dan angin besar akan datang.

Untuk ke Dierhagen dengan manggunakan mobil hanya membutuhkan waktu kurang dari 2,5 jam dari Berlin. Orang Berlin bilang, Ostsee adalah kolam renang mereka, karena jarak yang tidak jauh itu. Kami tinggal di sebuah villa (fereien Wohnung). Babeh (guestfather saya) bilang, sudah sekitar 20 tahun dia selalu di rumah itu setiap liburan ke Ostsee. Letaknya sekitar 200 meter dari bibir pantai, sangat dengat sampai bisa mendengar suara deburan ombak dari rumah. Ia juga menunjukan kamar yang dia dan istrinya akan tempatnya. Kamar yang mempunyai jendela sangat lebar dan langsung menghadap ke pantai. Benar-benar kamar yang menyenangkan, bisa tiduran di kasur sambil lihat langit berwarna oranye menor saat matahari tenggelam. Saya (sedikit) iri, karena kamar saya ‘hanya’ memiliki jendela yang menghadap ke samping pantai, jadi kalau mau lihat pantai sambil tiduran di kasur ya tidak bisa.

Kamis sore (pukul 18.30, matahari terbenam pukul 21), babeh dan emak langsung mengajak ke pantai. Mereka menggunakan jaket musim semi lengkap dengan sepatu tertutup dan syal, rapih sekali, seakan-akan tidak akan pergi ke pantai. Di pantai sore itu angin tidak terlalu kencang, saya yang tidak memakai jaket masih bisa bertahan. Kami tidak lama di pantai, karena harus mempersiapkan makan malam. 

Saat makan malam, dari jendela ruang makan yang menghadap pantai, terlihat langit mendung dan ada awan panjang di sepanjang garis batas laut dengan langit (apa sih istilahnya? saya ga ngerti). Besoknya kami baru tahu dari koran setempat, awan itu adalah tornado. Setelah makan malam saya berniat untuk jalan-jalan sebentar, sebelum langit benar-benar malam, belum sempat saya keluar rumah, hujan turun. Baiklah, saya menikmati pantai dari jendela kamar saja.

Selain pantai di dekat villa, kami juga ke Steinstrand atau pantai batu. Memang banyak batu-batu di pinggir pantai itu. Cuaca indah, angin tidak terlalu besar dan matahari bersinar terik. Di pantai itu lebih banyak orang dibanding pantai dekat villa. Keluarga saya sangat tertarik dengan fosil, jadi hal pertama yang mereka lakukan di steinstrand adalah mencari batu fosil di antara batu-batu yang berserakan di sana. Secara tidak sengaja, saya juga menemukan sebuah batu fosil landak laut, menurut website yang kami baca, umurnya sekitar 70 juta tahun. Keluarga saya menemukan batu fosil badan cumi-cumi (yang awalnya saya lihat hanya sebagai batu biasa, baru setelah liat wikipedia saya percaya). 

Jumat sore, matahari turun dengan indahnya. Saya sempat mengabadikan dari jendela kamar babeh, saya ga bisa keluar rumah karena tuntutan pekerjaan (halah). Langit berubah jingga dan awal tidak menghalangi matahari. Sabtu sore, saya keluar rumah saat matahari hampir turun. Dua buah jaket tidak mempan untuk menghalangi angin besar menerpa tubuh saya. Langit tetap indah menggurat keemasan, sayangnya awan sedikit menghalangi proses turunnya matahari. Saya tidak lama di pinggir pantai, karena si angin yang marah-marah itu.

Hari terakhir di Dierhagen kami menyempatkan diri lagi ke Steinstrand, karena si babeh penasaran dengan kesuksesan saya menemukan batu fosil yang umurnya lebih tua 5 juta tahun dari pada fosil cumi-cumi miliknya. Sayangnya cuaca buruk, angin kencang dan gerimis (saat ini lah saya menyesal hanya pakai satu jaket dan sepatu yang tidak tebal), kami juga tidak bisa lama-lama karena harus packing untuk pulang ke Berlin. Babeh tidak menemukan apa yang ia cari.

Musim panas nanti keluarga akan kembali ke sana. Emak bilang, mereka biasanya dua minggu liburan di sana. Kegiatan utama tentu saja berjemur, seperti tujuan utama bule-bule lain ke sana. Dia bilang, “biasanya kami telanjang”. Saya tergelak, sekilas terlihat terbayang bule-bule tanpa pakaian, dan sepertinya tidak indah. Ah, sepertinya kalau mereka mengajak liburan ke Dierhagen lagi dengan kurun waktu lebih dari tiga hari, saya akan menolak. Selain saya malas melihat bule-bule berjemur, akan lebih enak kalau saya liburan sendiri ke kota-kota lain yang belum pernah saya kunjungi di Jerman.

Liburan yang menyenangkan. Sayangnya, selama di pinggir laut satu-satunya makanan berkaitan dengan ikan hanya nugget ikan yang di rumah pun bisa dinikmati. Saya kehilangan sensasi makan ikan dan minum air kelapa di pinggir pantai, seperti yang lumrah dilakukan di Indonesia. Apa perlu saya bikin warung seafood di pinggir Ostsee? :p

Advertisements

3 thoughts on “Liburan ke Ostsee

  1. diwanidiwan says:

    itu foto yang sunset, elu yang motret jeng?
    gilaaaa….. keren!!!!!!

    hmmmm… boleh lah jeng lu buka warung seafood di pinggir Ostsee… karna gak ada yang jual pasti laku…!!!

    cepet ajuin proposal sm babeh lu disono… hehehehe…

    • mariskaajeng says:

      iya gw yang moto, sebenarnya yang sunset itu difoto dari kamar. jadi banyak noise dari jendela kamar.. sunset nya keren diw, Alhamd bisa menikmati juga, hihihi. kamu apa kabaar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s