Mengenang Uwa

Di samping rumah saya adalah rumah Uwa. Beliau sebenarnya (mungkin) sama sekali tidak ada hubungan darah dengan saya, namun dengan kerumitan pohon keluarga, keluarga Beliau dan keluarga Papah saya menjadi saudara. Papah saya dan beliau adalah sahabat, sejak mereka kecil. Mungkin sekitar umur 4-5 tahun. Umur mereka terpaut satu tahun, Papah saya lebih tua. Mereka bersahabat sampai detik ini, di umur 61 tahun. Beliau juga seperti Ayah bagi saya.

Tahun lalu saya harus tinggal di rumah sendiri, karena orang tua saya harus ke Surabaya untuk menghadiri wisuda kakak kedua saya, tiap pagi Uwa datang membawa sepiring sarapan buat saya. Kadang untuk makan siang dan malam pun Beliau memasok buat saya. Masakan yang Beliau masak sendiri.

Sebelum saya berangkat ke Jerman, Beliau banyak repot untuk saya. Membekali kompas petunjuk Ka’bah, sabuk warna-warni untuk koper, pisau lipat, sampai alamat restoran Indonesia di Belanda untuk saya kunjungin jika ke Belanda kelak dan kangen Indonesia. Pesan Beliau saat saya pamit cuma satu, “rajin Sholat ya Neng di sana. Ingat Allah.” berkali-kali kalimat itu Beliau katakan, bahkan saat saya sudah berada di mobil menuju bandar udara Soekarno Hatta.

Sekarang, saya hanya bisa mengenang itu semua. Beliau telah berpulang ke Rahmatullah siang ini waktu Indonesia bagian barat. Beliat sakit sesaat kembali dari Umrah. Mungkin kecapaian dan memang punya penyakit bawaan, saya juga tidak tau persis. Saya sempat melihat foto Beliau saat Beliau akan berangkat Umroh, tampak kurus dan tirus. Saya sedih. Kesedihan saya sekarang pun semakin bertumpuk. Sedih karena kehilangan seorang Uwa yang benar-benar ke-ayah-an dan sedih karena saya tidak berada di sana, namun jauh di negara yang dari peta pun terlihat jauh dari Indonesia.

Teman saya bilang, “sekarang lo sholat Dhuha lalu kirim Yassin untuk Beliau, meskipun ga bisa ngelayat, lo bisa anter Beliau dengan doa.” ya, akan saya lakukan sekarang. Pesan terakhir Beliau kepada saya juga semoga bisa saya lakukan tanpa putus, sholat lima waktu. Amin.

Teriring doa kepada Uwa, selamat jalan. Semoga amal ibadah Uwa diterima Allah SWT dan dihapuskan dosanya. Saya yakin, yang terpisah di bumi akan berjumpa kembali kelak, di mana pun dan kapan pun itu. Amin.

Advertisements

One thought on “Mengenang Uwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s