Pindah

Ya, saya sudah (sangat) lama tidak menulis, bahkan tidak ada postingan di bulan Februari. Bukan malas, namun udara di sini dingin dan saya lebih memilih untuk menyembunyikan tangan di balik selimut. Lalu mengapa bulan sebelumnya saya sempat menulis dan tidak menyumputkan tangan? Karena saya pindah kota. Tepatnya sejak 22 Januari 2011 malam saya sampai di Altlandsberg, sebuah kota yang sangaaaat kecil namun indah di pinggir utara Berlin, ibukota Jerman.

Kehidupan saya di keluarga sebelumnya di Wiesbaden tidak berlangung baik, saya ga betah, mereka ga puas, konflik, pengusiran, dan Alhmadulillah saya berhasil pindah ke keluarga yang benar-benar baik dan sekarang saya benar-benar betah.

Seperti saya bilang sebelumnya, keluarga di Wiesbaden berdarah Arab, namun kali ini keluarga saya berdarah Jerman murni. Di sini saya mengurus dua anak laki-laki yang sangaaat aktif. Setiap hari suka main Lego di dalam rumah, atau trampolin dan bola di taman. Sedikit banyak sekarang saya “olahraga” bersama mereka ๐Ÿ™‚

Kedua orangtua mereka memberi saya banyak waktu luang, sesuatu yang sebelumnya tidak saya dapatkan. Mereka bilang, ini dilakukan karena mereka juga butuh saya. Saling membutuhkan. Saya suka di sini, bahkan berat badan saya naik dua kilogram dalam waktu sebulan saya tinggal di sini. Eh tapi itu bukan berarti saya menggendut, karena lima minggu di keluarga sebelumnya membuat berat badan saya menyusut tujuh kilogram.

Banyak pengalaman baru saya dapatkan di sini, salah satunya tentang menyetir mobil. Di Indonesia saya terbiasa dengan menyetir seenaknya di jalur kiri, di sini semua teratur dan harus menyetir di jalur kanan. Sampai saat ini saya masih kesulitan dengan batas maksimum kecepatan. Minggu pertama saya menyetir di Jerman, saya kena tilang sebesar 15 euro karena kelebihan kecepatan 11 KM/H (yang lalu dapat toleransi 3 KM/H).

Berada di tengah-tengah keluarga berbahasa Jerman ternyata engga mudah, ada saja kesalahpahaman. Guestfather saya pernah nanya, “kita di rumah masih punya roti?”, saya jawab engga, padahal di rumah keabisan roti, karena saya dengarnya, “kita di rumah ga punya roti?”. Hasilnya, malam itu dia dan anak-anak makan roti tadi pagi dan saya mie goreng instan (pembantu kurang ajar *teriak penonton*).

Anak-anak yang saya asuh masih tergolong anak-anak yang baik dan sopan, apalagi kalo dibandingin dengan anak-anak di keluarga sebelumnya. Mereka selalu mengajari kata-kata baru ke saya, bahkan mengajarkan phonetik yang benar. Ditambah kursus bahasa seminggu dua kali, semoga saja setelah 9 bulan di sini bahas Jerman saya jadi jauh lebih baik.

Sekarang ini saya berusaha, berdoa, dan berharap keluarga ini selalu cocok dengan saya dan saya juga ga melakukan kesalahan, jadi saya bisa menetap dengan mereka sampai masa berlaku visa saya habis. Saya sudah sangat cocok dengan mereka, semoga mereka juga. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s