Bab IV Simpulan

BAB IV
SIMPULAN

Skripsi berjudul “Pemaknaan Metafora yang Berkaitan dengan Hewan dan Tumbuhan pada Roman Anak “Das doppelte Lottchen” Karya Erich Kästner” ini mempunyai basis penelitian linguistik terhadap metafora-metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan pada sebuah korpus berupa roman anak “Das doppelte Lottchen”. Metode kajian analisis yang digunakan adalah metode penelitian linguistik dengan tataran semantik, yaitu ilmu linguistik yang mengkaji makna dari sebuah ungkapan bahasa. Tema skripsi ini adalah metafora yang dapat berbentuk sebuah kata maupun kalimat dan di dalamnya terdapat sebuah ide yang tidak dapat secara gamblang dimaknai.

Untuk memaknai metafora maka harus dilakukan penganalisisan makna melalui tiga jenis makna, yaitu pemaknaan denotasi, pemaknaan konotasi, dan pemaknaan kolokatif. Hal ini terjadi karena metafora mengandung makna yang tidak dapat dijabarkan begitu saja, metafora merupakan cara penggambaran sebuah kenyataan dengan menggunakan sebuah objek yang menjadi pembanding kenyataan tersebut.

Makna utama dalam sebuah kata atau kalimat metafora dapat dianalisis menggunakan pemaknaan denotasi, makna tersebut merupakan makna sebenarnya, sehingga untuk mengetahuinya dapat dilakukan melalui kamus lengkap, yang dalam analisis data-data penulis menggunakan Langenscheidts Groβwörterbuch Deutsch als Fremdsprache / LDGF (1997) yaitu kamus satu bahasa yang berisi penjelasan secara deskriptif dari sebuah kata bahasa Jerman. Hasil analisis menjabarkan bahwa dari makna denotasi yang ditangkap dalam sebuah kata metafora diketahui makna tersebut tidak akan tepat sasaran jika digunakan secara gamblang dalam memaknai metafora, karena terjadi ketidaksesuaian makna dengan konteks cerita. Untuk itu, diperlukan analisis makna konotasi dan kolokatif untuk menemukan makna yang tepat untuk analogi yang dipakai.

Pemaknaan yang digunakan dalam menganalisis makna metafora adalah pemaknaan konotasi. Dalam pemaknaan ini, makna denotasi dari metafora digunakan sebagai pembanding untuk memaknai dengan konotasi, karena sering kali makna konotasi sebuah kata metafora mempunyai ciri yang sama dengan makna denotasi yang dimilikinya. Selain itu, makna konotasi juga dimungkinkan untuk diketahui melalui sebuah kamus lengkap. Dalam analisis yang telah penulis lakukan pada bab sebelumnya, kamus LGDF (1997) digunakan untuk menganalisis pemaknaan konotasi suatu metafora. Hal ini dilakukan karena ada beberapa kata yang mempunyai makna konotasi yang sudah disepakati oleh masyarakat dan digunakan sehari-hari, sehingga makna tersebut dicantumkan pada kamus satu bahasa yang dengan jelas mendeskripsikan makna dari sebuah kata, dalam hal ini yang digunakan adalah kamus LGDF (1997).

Setelah dilakukan analisis makna melalui pemaknaan konotasi, metafora juga perlu dimaknai melalui elemen-elemen kontekstual dari faktor luar dan dalam teks cerita, misalkan dalam roman anak “Das doppelte Lottchen” harus dilihat waktu, lokasi, jalan cerita, ilustrasi pendukung dalam roman, dan yang sama penting untuk dilihat adalah faktor budaya yang melatarbelakangi tempat terjadinya cerita, dalam roman ini adalah kebudayaan Jerman. Cara menganalisisnya adalah dengan menggunakan pemaknaan kolokatif, sehingga makna metafora akan tepat sasaran, karena selain dimaknai dengan mengetahui makna sekundernya, juga memiliki kesesuaian dengan konteks di dalam dan di luar metafora tersebut.

Setelah penulis menganalisis korpus “Das doppelte Lottchen” maka penulis sampai pada beberapa kesimpulan, yaitu:

1.         Sebanyak 29 data metafora yang berhubungan dengan hewan dan tumbuhan ditemukan pada korpus. Metafora yang berhubungan dengan hewan lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan metafora yang berhubungan dengan tumbuhan. Terdapat 23 data metafora yang berhubungan dengan hewan dan enam data metafora yang berhubungan dengan tumbuhan.

Metafora-metafora yang berhubungan dengan hewan dalam korpus merupakan sebuah kemiripan bentuk struktur dari hewan, seperti hewan yang digembalakan (sapi, biri-biri, ayam, dan kuda), hewan buas yang mengaum (singa dan harimau), hewan mengerat, mamalia (kelinci, anjing, dan kucing), serangga (kupu-kupu), dan unggas (burung dan ayam). Untuk metafora yang disamakan cirinya dengan tumbuhan, tidak ada jenis tumbuhan khusus yang digunakan sebagai bentuk dari analoginya, hanya bagian dari tumbuhan seperti akar dan batang pohon.

  1. Tipe-tipe metafora yang terdapat di korpus adalah metafora atributif, metafora komposisi, metafora genitif, metafora konvensional, metafora leksikal, dan metafora kreatif. Tipe metafora dibutuhkan untuk mengetahui asal pembentukan metaforanya. Masing-masing dari tipe metafora tersebut mempunyai ciri-ciri yang berbeda, misalkan metafora leksikal yaitu makna metafora yang sudah terdapat di kamus, sedangkan metafora genitif berarti kata yang mengandung metafora berada di dalam ranah kasus genitif.

Pada korpus, tipe metafora yang paling banyak ditemukan pada metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan adalah tipe metafora komposisi, yaitu kata metafora yang merupakan sebuah komposita atau kata yang terdiri dari dua kata atau lebih. Tipe metafora komposisi dapat terdiri dari beragam gabungan jenis kata, seperti nomina dengan nomina, nomina dengan verba, nomina dengan adverbial, verba dengan nomina, dan sebagainya, namun dalam korpus ini tipe metafora komposisi paling banyak merupakan gabungan dari jenis kata nomina dengan nomina, seperti Osternhase ‘kelinci Paskah’.

Penggunaan tipe metafora komposisi sebagai tipe metafora yang paling banyak dipakai karena pembentukannya lebih mudah dengan menyandingkan dua buah kata dan imajinasi dari makna konotaisnya lebih dapat digali, sehingga memiliki makna metafora yang lebih mengena dan sesuai dengan penggunaanya pada sebuah kalimat atau sesuai konteks.

Tipe metafora terbanyak kedua pada “Das doppelte Lottchen” adalah tipe metafora kreatif yang berarti metafora tersebut sebelumnya belum pernah digunakan, sehingga kata metafora itu merupakan hasil proses kreatif dari penulis sebagai pengguna pertama. Sebagai penulis roman anak, tentu saja Erich Kästner memerlukan banyak kata untuk menggambarkan suatu cerita pada anak-anak, ini dimaksudkan agar anak-anak sebagai pembaca tidak bosan dengan penggunaan kata yang sama. Tidak hanya itu, dengan banyaknya kata yang digunakan, dapat menambah pembendaharaan kata bagi anak dan imajinasi mereka juga dapat lebih berkembang. Oleh karena itu, sebuah roman anak dapat membantu anak belajar menalarkan sebuah cerita, menambah kosa kata, dan mempertajam imajinasinya melalui kata-kata metafora yan dihadirkan oleh penulis cerita.

3.         Makna metafora yang berhubungan dengan hewan di dalam data yang diambil dari korpus mempunyai makna yang sangat beragam, seperti kein Aas yang bermakna metafora ‘tidak seorang pun’, berbeda dengan makna denotasinya yang adalah ‘bangkai binatang’; kata bezähmen bermakna konotasi ‘tidak dapat dikendalikan’, sedangkan makna denotasinya adalah ‘liar’. Dan yang berhubungan dengan tumbuhan adalah kata Purzelbäume bermakna metafora ‘jatuh berguling-guling’, sedangkan makna denotasinya adalah ‘jatuh pohon’; dan lainnya. Makna metafora berbeda sekali dengan makna denotasi, sehingga tidak bisa dilihat dari katanya saja namun harus dilihat dari kamus satu bahasa yang menjabarkan makna sampingnya. Makna metafora yang didapatkan dari data dimaknai dengan menggunakan tiga jenis makna yang sebelumnya sudah dijelaskan.

Dengan demikian, metafora menarik karena terjadi hilangnya makna sebenarnya, sehingga harus dicari makna metaforisnya untuk mengungkapkan makna yang dibawa oleh metafora. Penggunaan metafora ini ditujukan untuk membuat anak-anak, sebagai pembaca Das doppelte Lottchen, lebih mudah mengerti karena hewan dan tumbuhan dekat dengan dunia anak-anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s