Bab I Pendahuluan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pemakaian bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari terasa lumrah karena merupakan kemampuan yang sudah dimiliki dan dipelajari sejak kecil. Sehingga tidak disadari betapa rumitnya bahasa yang sebenarnya digunakan. Dengan kemampuan bahasa yang dimiliki, seseorang dapat berkomuniksi dengan orang lain. Karena itu, bahasa dikatakan mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi. Dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, maksud komunikator dapat dengan mudah disampaikan kepada komunikan.

Jika bahasa mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi, apakah sebenarnya pengertian bahasa? Menurut Kridalaksana (dalam Chaer, 1994 : 32) “bahasa adalah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri“.

Untuk menambah kekuatan dan keragaman bahasa, sering kali bahasa digunakan dalam percakapan sehari-hari dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Tidak hanya itu, tidak jarang komunikator dan komunikan secara tidak sadar menggunakan majas dalam percakapan. Salah satu majas yang sering digunakan adalah metafora. Kata-kata metafora yang digunakan dalam percakapan sehari-hari tidak mempunyi makna yang sebenarnya, seperti yang diungkapkan Aristoteles dalam Gerhard Kurz (1982) metafora adalah “pengalihan sebuah nama benda”, merujuk pada tempat leksikal yang lain. Penggunaan kata-kata metafora ini digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang mempunyai keterbatasan penggunaan kata, sehingga kata metafora yang digunakan dianggap bisa mewakili keterbatasanan tersebut.

Dalam penggunaanya, metafora bisa menempatkan diri dalam bermacam jenis kata, seperti verba, adjektiva, pronomina, adverbial dan sebagainya. Dengan kata lain, kata yang bersifat metaforis bisa digunakan dalam beragam struktur pembentukan kalimat. Sedangkan untuk memahami makna metafora, orang harus memaknainya dengan menggali dari sisi pemaknaan denotasi, konotasi, dan kolokatif. Metode yang digunakan untuk memahami metafora adalah metode semantik, karena semantik bekerja dengan memaknai suatu kata dan kalimat.

Penggunaan metafora dapat berkaitan dengan beragam bidang, salah satu yang sering digunakan berkaitan dengan hewan dan tumbuhan. Tanpa disadari hampir semua penggunaan metafora berkaitan dengan kedua bidang tersebut. Sebagai contoh, orang acap kali berucap “benalu” pada seseorang yang sering menggantungkan dirinya pada orang lain. Dalam hal ini, istilah “benalu”, yang merupakan salah satu jenis tumbuhan, dianalogikan dengan orang yang memiliki sifat yang hampir sama dengan tumbuhan benalu, yaitu menggantungkan diri pada tumbuhan lain dan merugikan. Sehingga kata “benalu” dapat digunakan juga untuk menyebut seseorang yang sering menggantungkan diri pada orang lain dan bersifat merugikan.

Penggunaan metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan tidak hanya digunakan pada percakapan sehari-hari tetapi juga dalam karya sastra. Salah satunya adalah roman anak-anak. Penggunaan kata yang bersifat metaforis ini dapat membuat sebuah roman anak-anak terasa berbeda, sehingga oleh masyarakat umum, kata-kata sastra dalam roman ini terasa lebih konkret dan hidup. Selain itu, fungsi lain metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan dalam roman anak-anak adalah untuk memperkaya isi dan kosa kata karya sastra tersebut. Sehingga anak-anak yang membacanya tidak bosan karena harus membaca kata-kata yang sama berulang kali. Selain itu, imajinasi mereka bisa lebih tergali karena harus mencari makna dibalik kata metafora tersebut.

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka penulis mengambil bahan penelitian dari roman anak-anak berbahasa Jerman yaitu salah satu karya dari penulis besar Erich Kästner yang berjudul “Das doppelte Lottchen“. Roman anak-anak ini menceritakan pertemuan tidak terduga antar sepasang anak kembar bernama Luise dan Lotte yang sudah terpisah sejak kecil. Sedangkan Erich Kästner merupakan penulis roman anak-anak terkenal di Jerman, sudah banyak menulis roman anak-anak seperti “Als ich kleiner Junge war”, “Der kleine Man”, “Das verhexte Telephone”, “Das doppelte Lottchen”, dan banyak lagi. Roman anak-anak setebal 176 halaman ini akan dianalisis karena kata-kata di dalamnya banyak menggunakan majas metafora. Dari roman yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, selain bahasa Indonesia, juga dapat dilihat bagaimana penggunaan metafora bisa dimaknai bahkan oleh pembaca anak-anak. Melalui buku yang diterbitkan pada tahun 1949 dapat diketahui bahwa sebenarnya penggunaan majas metafora sudah lama digunakan.

Dari bahan penelitian tersebut penulis banyak menemukan penggunaan metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan, salah satunya adalah:

Fräulein Ulrike treibt ihre schnatternde Herde vollzählig in den Stall, ach nein, ins Haus.“

“Nona Ulrike menghalau kawanan binatangnya yang berisik di dalam kandang, ah bukan, di dalam rumah.“

Contoh di atas merupakan satu dari sekian banyak metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan yang ditemukan penulis dalam roman anak-anak berbahasa Jerman “Das doppelte Lottchen”. Dalam kalimat tersebut akan diamati penggunaan metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan, dan bagaimana makna yang terkandung di dalamnya baik dari segi makna konotasi, denotasi, dan juga kolokatif.

1.2 Identifikasi Masalah

Sebagai penjabaran perumusan masalah di atas dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah semantik, sehingga inti dari penelitian tentang metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan apa saja yang muncul dalam roman anak-anak “Das doppelte Lottchen” karya Erich Kästner?
  2. Tipe metafora apa saja yang digunakan dalam roman anak-anak “Das doppelte Lottchen” karya Erich Kästner?
  3. Bagaimana memaknai metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan dalam roman anak-anak “Das doppelte Lottchen” karya Erich Kästner?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemaknaan metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan yang terdapat dalam karya sastra anak-anak berbahasa Jerman dengan menggunakan metode penelitian semantik.

Berkaitan dengan maksud tersebut, maka penelitian ini dilakukan guna mencapai tujuan sebagai berikut:

  1. Mengetahui metafora hewan dan tumbuhan apa saja yang digunakan dalam roman anak-anak “Das doppelte Lottchen” karya Erich Kästner
  2. Mengetahui tipe metafora apa saja yang digunakan dalam roman anak-anak “Das doppelte Lottchen” karya Erich Kästner.
  3. Mengkaji makna metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan dalam roman anak-anak “Das doppelte Lottchen” karya Erich Kästner.

1.4 Metode Penelitian

Metode penelitian digunakan untuk membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi penulis dalam penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode analisis semantik yang digunakan untuk memaknai metafora-metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan yang ian ini, terdapat dalam roman anak-anak berbahasa Jerman.

Untuk memperlancar penelitian ini, penulis mengumpulkan teori-teori dan data-data yang ada dan kemudian dilakukan analisis data secara empiris.

Dalam penelitian ini, terlebih dahulu penulis memaparkan teori metafora dari Gerhard Kurz, yang dikutip dari bukunya yang berjudul Metapher, Alligore, Symbol (1982) untuk menentukan dan mendeskripsikan pengertian metafora. Untuk memaknai metafora yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan dalam roman anak-anak digunakan teori semantik. Sedangkan langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Studi Pustaka

Dalam studi pustaka penulis mencari dan membaca sumber-sumber primer dan sekunder, yaitu buku-buku mengenai metafora dan semantik, di berbagai perpustakaan, seperti: Goethe Institut Bandung, perpustakaan Fakultas Sastra, perpustakaan Jurusan Sastra Jerman Universitas Padjadjaran

  1. Pengumpulan Data

Data yang berhasil dikumpulkan terdiri dari:

(1)   Data primer, yaitu roman anak-anak berbahasa Jerman berjudul “Das doppelte Lottchen” karya Erich Kästner yang terdiri dari 12 bab.

(2)   Data sekunder, yaitu informasi tentang teori metafora, semantik, dan teori lain yang mendukung penelitian ini. Data sekunder ini didapat dari buku cetak berbahasa Indonesia dan Jerman.

  1. Penyelesaian data yang telah dikumpulkan dan pengklasifikasian data.
  2. Penganalisisan data, yaitu mendeskripsikan data-data yang ada dalam roman anak-anak tersebut sesuai dengan teori yang sudah ada.
  3. Penyimpulan hasil penelitian sebagai jawaban terhadap masalah yang diteliti.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s