Kelinci dengan Telinga Biru Langit

Kelinci dengan Telinga Biru Langit
(Majalah Anak-Anak Bobo Tahun XXXVII Edisi 33 Tanggal 26 November 2009)

 

Dahulu kala, ada seekor kelinci bertelinga biru langit. Kelinci-kelinci lainnya menjulukinya si Telinga Biru. Ia sadar, tidak ada kelinci yang memiliki warna telinga yang sama dengannya. Ia merasa malu. Ia lebih suka berjalan-jalan dan bermain sendirian.

Satu-satunya teman yang ia miliki adalah Bulan di langit. Dia mengeluhkan kesedihannya pada Bulan, walau Bulan tidak pernah menjawab.

“Aku akan menjelajah dunia. Aku akan pergi ke tempat yang tak ada seekor hewan pun mengenalku,” pikir Telinga Biru.

Ia pun pergi dan hanya ditemani Bulan. Namun, di manapun ia datang, ia selalu ditertawakan. Telinganya selalu menarik perhatian. Telinga Biru sangat sedih. Ia merasa telinganya yang membuat ia sial.

Suatu hari, ia menemukan sebuah topi milik pembersih cerobong asap di rumah petani. Telinga Biru lalu menutupi telinganya di bawah topi pembersih cerobong asap itu. Ia lalu belajar untuk memanjat cerobong asap, mengunakan sapu, dan membersihkan tungku pembakaran.

“Sekarang aku juga cocok menjadi petugas pembersih cerobong asap,” umam Telinga Biru gembira.

Suatu hari, topi Telinga Biru tersangkut di cerobong asap. Telinga Birunya langsung terlihat. Pembersih cerobong asap lainnya segera menatap telinga si Telinga Biru. Mereka mulai tertawa dan berkata, “Kamu pasti petugas pembersih palsu!”

Si Telinga Biru malu dan pergi. Hanya bulan yang menemaninya.

Ia lalu menemukan sebuah topi koki di sebuah penginapan. Ia sangat gembira dan menutupi telinganya di bawah topi koki. Ia belajar memasak sayur-mayur dan membakar daging. “Sekarang aku juga cocok menjadi koki,” ujar si kelinci kecil bertelinga biru.

Sayangnya, suatu hari, topi kokinya jatuh ke dalam sup. Para koki lainnya menatap telinganya yang berwarna biru langit. Mereka mulai tertawa dan berkata, “Kamu pasti koki palsu!” Kelinci Kecil malu dan segera pergi lagi. Hanya bulan yang menemaninya.

Tak lama kemudian, Telinga Biru menemukan sebuah topi milik tukang kebun di sebuah gubuk. Lagi-lagi ia memakai topi temuannya untuk menutupi telinganya. Ia juga belajar mencangkul tanah, mananam pohon, dan memetik bunga-bunga. “Sekarang aku juga cocok menjadi tukang kebun!” gumamnya.

Sayangnya, suatu hari angin menerbangkan topi itu. Tukang kebun lainnya melihat telinga biru langitnya. Mereka mulai tertawa dan berkata, “Kamu pasti tukang kebun yang palsu!”

Lagi-lagi kelinci kecil malu dan pergi. Hanya bulan yang menemaninya.

Ia menemukan topi milik badut di suatu tempat sirkus. Ia segera menutupi telinganya di bawah topi badut. Ia belajar untuk tersandung di atas kakinya dan tersenyum menyeringai. “Sekarang aku juga cocok menjadi badut,” ujar kelinci kecil itu.

Sayangnya, suatu hari, seekor monyet mengambil topi badut itu. Badut lainnya menatap telinga biru lanitnya dan tertawa. “Kamu pasti badut palsu!” Kelinci kecil malu dan pergi, hanya bulan yang menemaninya.

Ia lalu menemukan topi milik gelandangan di bawah jembatan. Kembali ia memakai topi temuannya untuk menutupi teliganya. Ia belajar untuk bermalas-malasan, berbaring, dan mengkhayal di bawah bayangan jembatan. “Sekarang aku juga cocok menjadi gelandangan,” pikirnya.

Akan tetapi, suatu hari, arus sungai menghanyutkan topinya. Gelandangan lain menatap telinga biru langitnya dan tertawa. “Kamu pasti gelandnagan palsu!”

Kelinci kecil lelah untuk melarikan diri dan mengenakan banyak topi. Ia duduk sendirian di tengah pinggir kolam di tengah hutan.

Aku bukan penyapu cerobong asap, bukan koki, bukan tukang kebut, bukan badut, dan bukan gelandangan. Lalu apakah aku ini?

Dalam sekejap, Bulan bersinar ke kolam dan membentuk cermin di sana. Di cermin itu kelinci kecil itu menatap bayangan kelinci. Itulah dirinya. Kelinci di cermin itu tampak memiliki telinga biru langit. Semakin lama ia menatapnya di sinar bulan, ia semakin terlihat mirip kelinci kecil. Ia pun mengerti. Tidak beruntung itu bukan berasal dari telinga biru langitnya. Namun karena ia selalu merasa malu akan dirinya sendiri.

Telinga Biru lalu pulang kembali ke rumah. Bulan menemaninya. Di perjalanan ia berpapasan dengan gelandangan, badut, tukang kebun, tukang masak, dan pembersih cerobong asap. Dengan bangga ia menunjukan pada mereka telinga biru langitnya. Anehnya, tak ada yang menertawakannya.

Telinga Biru tetap gembira akan pengalamannya itu. Ia sudah belajar memanjat cerobong asap, menggunakan sapu, membersihkan tungku pembakaran, memasak sayur-mayur, memanggang daging, mencangkul tanah, menanam pohon, memetik bunga, bermain terompet, tersenyum menyeringai, bermalas-malasan, berbaring, dan berkhayal di bawah bayangan jembatan.
(diterjemahkan oleh Mariska Ajeng Harini dari “Der Hase mit den himmelblauen Ohren“)

Advertisements

6 thoughts on “Kelinci dengan Telinga Biru Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s