Jalan-jalan Akhir Tahun ke Maroko

Seminggu setelah kembali dari Indonesia di awal Desember, saya memesan tiket ke Marrakesh, Maroko. Cukup mendadak, karena sebelumnya tidak terpikir untuk ikut trip ini bareng teman-teman yang sudah merencanakannya sejak bulan November saat saya berada di Indonesia. Saya mengetahui rencana mereka memang sejak beberapa hari sebelumnya, tapi saya ragu ikut karena ada beberapa kewajiban yang saya harus penuhi yang bertepatan dengan waktu trip ini berlangsung. Pada akhirnya saya batalkan semuanya. Sungguh tidak ada profesionalitasnya saya ini.

Atlas Mountain

Pegunungan Atlas, Maroko

Trip kami dimulai dari Berlin. Oleh karena itu, saya naik bus dari hamburg ke Berlin pada hari jumat siang. Sabtu siang kami berangkat ke Marrakesh lewat bandar udara Schönenfeld di Berlin. Penerbangan berlangsung selama empat jam. Rasanya lama sekali, karena selama penerbangan itu saya lapar. Mau beli makanan di pesawat, tapi tidak ada roti yang menggunggah selera saya. Sebagian besar penumpang pesawat itu adalah orang Jerman. Sama seperti kami, mereka juga terlihat sangat bersemangat untuk liburan di negara bermatahari.

Sesampainya di bandara, kami sudah punya jemputan yang kami pesan lewat situs getyourride.com. Tidak jauh berbeda dengan klook.com atau traveloka.com, di situ ini kita juga bisa membuk transportasi privasi atau tourguide di negara yang kita akan kunjungi. Karena kami berempat, akan lebih mudah jika kami menggunakan alat transportasi pribadi, karena itulah kami memesan jemputan bolak balik bandara-hotel. Harganya pun cukup murah, yaitu 22 Euro PP. Karena kami berempat, jadinya masing-masing orang hanya sekitar 5,5 Euro. Taksi bisa juga menjadi pilihan, tapi kami kuatir akan kena tipu harga, seperti yang saya alami di Istanbul tahun lalu.

Pemandangan alam

Pengembala domba

Hotel kami merupakan sebuah apartemen yang disewakan melalui airbnb.com. Di sana tersedia penginapan beragam bentuk dan harga. Maunya sih tinggal di Riad, tapi harganya cukup mahal, karena biasanya riad lebih mewah, dilengkapi kolam (renang) pribadi di tengah taman. Aparteman yang kami tempati juga nyaman. Terdapat sebuah ruang tamu luas, meja makan, dua kamar tidur, sebuah toilet, sebuah kamar mandi/toilet, sebuah dapur dan sebuah balkon mini. Harga per orang untuk tiga malah hanya 46 Euro saja. Tempatnya juga cukup strategis di tengah kota. Dekat mall dan beragam restauran.

Ngomong-ngomong soal restauran. Di sini segala ada. Di malam terakhir kami mencoba sebuah restauran Asia di dekat penginapan. Harga-harga makannya cukup terjangkau walau restauran ini cukup mewah. Di dalam menu ada menu Sato Ayam, yang di bawahnya tertulis noodles, bean sprouts and seafoods. Karena inilah saya mengurungkan niat untuk memesannya. Masih di menu yang sama, ada juga Papes Ikan, yang penjelasannya adalah lychee, mango, caramelized pineapple. Pengunjung bisa memilih antara dengan daging ayam, sapi atau udang. Hey ini bukan soto ayam dan pepes ikan beneran. Mereka menginterpretasikan makanan khas negara atau budaya lain terlalu jauh. Bahkan sup pho bo dari Vietnam lebih mirip mie instan dengan koriander dan daging sapi, karena mereka menggunakan mie keriting, bukan mie kwetiau, seperti lazimnya sup pho.

Tajine Alfasia

Ragam tajine daging sapi di restauran Al-Fasia

Selama di Maroko saya mencoba tiga jenis tajine berbeda. Tajine adalah cara memasak khas Maroko yang menggunakan panci tanah liat khusus yang bentuknya seperti tumpeng. Makanan diletakan di bagian bawah tajine yang kemudian ditutup oleh tutupnya yang berbentuk tumpeng tersebut. Di malam pertama saya mencoba tajine daging kambing yang dimasak dengan caramelized onions and tomatoes. Saya bukan pecinta masakan manis, karena itu makanan ini kurang memuaskan saya. Saya lebih suka makanan teman-teman lain dengan atasan terong. Rasanya lebih gurih. Restauran yang kami kunjungi sedikit mahal, karena itu untuk tajine tersebut kami menghabiskan 150 MAD (15 Euro). Makanan kami datang dengan sepiring besar couscous untuk kami berempat. Saat kami baru duduk, dua mangkok buah zaitun hitam dan hijau juga sepiring roti disajikan untuk kami. Selesai makan dan setelah semua piring dibawa, kami diberi handuk hangat untuk membersihkan tangan. Sebuah baskom berwarna emas diletakan di tengah meja, tempat kami melemparkan handuk bekas kami pakai.

Tempat handuk basah

Tempat handuk basah bekas pakai

Selain tajine daging kambing, saya juga mencoba tajine daging ayam dan udang. Saya suka udang, tapi ternyata untuk menghabiskan sepiring bukan keahlian saya. Apa lagi saya tidak bisa memakannya dengan nasi yang merupakan comfort food saya. Memang ada nasi, tapi itu adalah nasi Arab yang berbeda dengan nasi dari Asia dan menurut saya tidak cocok dengan udang berbumbu yang saya makan.

Favorit saya adalah tajine ayam berbumbu kari kuning yang dilengkapi dengan potongan wortel dan kentang. Nikmat sekali. Lebih nikmat lagi karena pemandangan siang itu adalah pegunungan Atlas. Kami makan siang di sebuah desa yang dikelilingi oleh pegunungan Atlas, yang di musim dingin ini diselimuti salju. Hari kedua di Maroko saya dan teman-teman mengikuti sebuah tur seharian. Oleh pemandu wisata kami, Hasan, kami dibawa ke desanya. Makan siang di tetangganya yang rumahnya juga sebuah guest house. Di sebuah rumah khas Maroko yang tidak punya genteng, jadi kami duduk di luar di teras. Pemandangan sekitar kami adalah desa tersebut dan pegunungan Atlas.

Tajine ayam

Makan siang tajine ayam

Setelah makan siang, kami dibawa oleh Hasan ke rumahnya yang sederhana. Hanya ada dua kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi dan satu ruang tamu yang tidak luas. Kami dipersilahkan olehnya untuk duduk di teras belakang rumahnya yang cukup luas. Dia mengeluarkan beberapa kursi dan sebuah meja panjang dari dalam ruang tamunya. Sambil menunggu teh bikinan ibunya, kami masih menikmati pemadangan pegunungan Atlas dan suara adzan dzuhur dari mesjid yang berjarak hanya 200 meter dari rumahnya. Suara adzan hanya terdengar sayup-sayup, enak sekali dan saya merasa lebih masuk ke dalam hati. Berbeda dengan di Indonesia yang setiap mesjid berlomba-lomba mengencangkan pengeras suaranya, dan terkadang panggilan sholat seperti hanya teriakan saja.

Rumah-rumah di desa di bawah pegunungan Atlas

Setelah minum teh hijau Maroko dan makan kacang walnut, kami melanjutkan perjalanan ke air terjun. Sejujurnya saat itu saya mengira kami akan kembali naik bus lalu diturunkan di dekat air terjut. Ternyata saya salah, yang kami lakukan adalah hiking. Sebenarnya tidak sejauh saat hiking ke kawah Ratu di Bogor, tetapi karena saya ga mudeng kami langsung hiking, saya jadi ga ada persiapan. Saya memang ga cocok banget dah dengan hal spontan.

Air terjunnya engga besar. Dengan hiking yang ga jauh jadinya cocoklah, engga terlalu kecewa. Uniknya di sana ada orang yang jualan jus jeruk, meja dan bangku sudah disiapkan di bawah air terjun. Yang jaga adalah seorang laki-laki muda, dia mencuci jeruk dan peralatan makannya dengan air dari air terjun yang segar. Kami berhenti tidak lama di sana. Setelah semua orang foto-foto, kami melanjutkan perjalanan melewati perkampungan.

Penjual jus jeruk

Penjual jus jeruk di bawah air terjun

Di grup kami ada satu orang tour guide (Hassan) dan seorang supir (Abdul). Selain grup kami yang berisi empat orang, ada lima orang lain, yang terbagi ke dalam tiga grup. Saya merekomendasikan banget tour guide kami ini. Mereka baik dan menjelaskan dengan benar, juga bahasa Inggrisnya bagus. Hasan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dia selalu menanyakan apa kami sepakat denga rute yang dia pilih, bahkan jika kami mau jalan-jalan lebih jauh sedikit, dia menyanggupi. Dalam websit getyourride.com tertulis kami akan tiba kembali di hotel jam 18, kenyataannya jam 19 lebih. Kami tidak masaah dengan itu.

Setelah air terjun kami kembali ke bus lewat jalan berbeda yang tadi kami lalui saat naik ke air terjun. Kami melewati beberapa penjual karpet warna warni yang indah. Sayangnya saya engga ada tempat di ransel untuk bawa karpet itu ke Jerman. Di pasar di Marrakesh tentu banyak dijual juga barang-barang yang kami temukan di toko di desa yang kami lewati, tapi tentunya harganya lebih tinggi dan tidak bisa membantu langsung pengrajinnya. Lain kali saya akan datang lagi ke Maroko dengan koper besar, biar bisa masuk belanjaan-belanjaan. Bus kami terparkir di pasar di pinggir jalan besar. Menyenangkan sekali lewat pasar itu. Dengan udara yang sejuk, rasanya seperti berada di pasar di Bandung. Bedanya dari situ kita bisa lihat pegunungan Atlas yang tertutup salju dan pedagangannya mayoritas lelaki. Typical negara timur tengah, lelaki banyak bertebaran di mana-mana baik sebagai penjual atau pembeli yang duduk-duduk di depan cafe sambil minum kopi.

Warna-warni karpet khas Maroko

Tujuan kami selanjutnya adalah tujuan utama. Belum lengkap rasanya kalau ke Maroko tidak naik onta. Sayangnya kami tinggal di Maroko hanya 3 malam; sehingga tidak cukup untuk ikut tour ke gurun Sahara yang minimal berlangsug selama dua hari satu malam. Kalau kami ikut, kami tidak akan ada waktu untuk menjelajah kota Marrakesh. Oleh karena itulah kami hanya ikut day tri dengan Hassan dan Abdul.

Gurun yang kami tuju adalah gurun kerikil bernama Agafay. Kami tentunya tidak dibawa ke tengah gurun. Kalau kita menyusuri jalan besar di gurun Agafay, di pinggir jalan kita akan menemukan beberapa tempat untuk naik unta. Kami berhenti di salah satunya. Tampak di sana beberapa bus dari travel yang sama. Setelah menunggu 30 menit, tiba giliran kami untuk naik onta. Setiap unta diikat sehingga mereka berjalan berbaris memanjang. Unta paling depan dituntun oleh seorang kakek tua. Saat unta pertama jalan, unta-unta di belakangnya terpaksa juga harus ikut jalan, karena mereka tertarik dengan unta di depannya. Ada tali yang menghubungakn moncong mereka dengan tempat duduk/bantal dari unta di depannya.

Unta di gurun batu Agafay

Awalnya saya sempat takut dengan naik unta. Sewaktu unta beranjak untuk berdiri saya kaget dan sempat teriak. Saya tidak menyangka unta akan berdiri dan ternyata tinggi sekali dan untuk saya yang takut dengan ketinggian ini menegangkan. Selama awal unta tersebut berjalan saya berdoa tidak henti karena takut jatuh, apa lagi beberapa kali terlihat unta yang saya tumpangi itu sudah enggan berjalan. Dia terpaksa berjalan karena moncongnya diikat tali ke unta di depannya. Jadi, jika unta paling depan berjalan, dia akan menarik unta-unta di belakangnya dan seterusnya. Dan hanya unta yang paling depan yang dituntun oleh seorang kakek yang sepertinya pawangnya. Selain dia, ada juga pawang lain yang lebih muda, dia berlari-lari di sekitar kami.

Naik unta di gurun Agavay

Naik unta di gurun Agafay

Selama naik unta, yang membuat saya tenang adalah pikiran tentang hijrah yang dilakukan Rasulullah dan nabi-nabi yang lain. Bagaimana mereka berada di atas unta berhari-hari untuk berpindah tempat untuk menyebarkan agama Islam. Pemandangan di sekitar gurun batu Agafay juga sangat sangat indah. Pegunungan Atlas masih terlihat dan saat itu matahari sudah hampir turun. Masya Allah dari sana bisa terlihat gurun yang gersang, gunung yang hijau dan juga salju di puncak gunung. Bagaimana saya tidak semakin cinta Maroko melihat semua itu? Dan bagaimana saya tidak bersyukur dengan semua yang saya lihat saat itu?

Setelah perjalanan 30 menit dengan mengendarai unta, kami dipersilahkan masuk kembali ke mobil. Kami akan pulang kembalinke Marrakesh dan Hasan juga Abdul akan mengantarkan kami langsung ke penginapan kami. Di tengah-tengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melihat matahari terbenam. Setelah itu perjalanan diteruskan ke Marakesh sekitar 45 menit. Uniknya jalur yang dipilih Abdul dan Hasan untuk kembali ke Marakesh berbeda dengan jalur berangkat. Kesimpulannya, kalau di perjalanan pergi ada kesempatan foto, langsung lakukan, karena pulangnya ga lewat sana lagi.

Malam itu kami berencana untuk pergi makan makanan Asia, ternyata kami malah singgah di restauran seafood dan fast food yang harganya murah meriah tapi enak. Di sanalah saya mencoba tajine udang. Rasanya enak sekali, lebih enak lagi kalau pakai nasi Asia, yang sayangnya tidak tersedia. Saya suka udang, tapi ternyata tidak bisa makan banyak, jadi malam itu sayangnya saya harus menyisakan udangnya (kebetulan juga sedang tidak bawa tempat makan kosong untuk bungkus makanan.

Tajine udang

Tajine udang

Sampai di sini dulu ya cerita tentang jalan-jalan saya di Maroko. Selanjutnya saya akan cerita lagi tentang hari kedua kami di kota Marakesh, pengalaman pertama bertemu dengan badai pasir dan cerita tentang tersesatnya kami di pasar tradisional Marakesh.

Sampai nanti!

 

Pasar di bawah pegunungan

Pasar di bawah pegunungan Atlas

Sepatu khas Maroko

Sepatu khas Maroko

 

Di tengah kota Marrakesh

Di tengah kota Marrakesh

The Break Up

A: I cooked eggplant last week. I was thinking of you, how tasty your eggplant was. I wanted to make a call to ask, but I didn’t do that.

B: …

A: I put any ingredients, but it was not as tasty as yours..

B: It was only chili, garlic and onion.

A: Oh, only that?

B: Yes. I cooked chicken curry with chickpeas last week with your recipe. It tasted different as your chicken curry. I was tasty, but yours was tastier.

A: Maybe you didn’t cook it as I did.

B: I followed exactly the steps you have showed me. But I put to many tommatoes.. I like your chicken curry better. I also wanted to call you to tell you that, but I didn’t..

A: I will miss your friends, I will miss your niece, your sister, your mom.. you have nice family and friend. I will miss you.

B: I miss you already..

Mereka yang Meninggalkan Kita

Apakah dengan masih bersedih saat mengingat orang yang meninggalkan kita disebut dengan tidak ikhlas?

Apakah ikhlas bisa diukur dengar keringnya air mata dan perasaan bahagia saat mengingat mereka?

Bukankah ikhlas dan sedih adalah dua perasaan berbeda yang tidak saling bertentangan?

Karena perasaan sedih hanya berlawanan arti dengan bahagia, dan ikhlas.. apa lawan kata dari ikhlas? Berat hati?

Bukan karena air mata saya masih mengalir dan hati juga dada saya secara harfiah masih sakit berarti saya masih belum mengikhlaskan kepergian mereka, bisa jadi karenaa sakit ini sudah saya tahan selama lima tahun terakhir. Saya pendam sehingga emotionaler Zusammenbruch sangat jarang terjadi, dan sekalinya terjadi.. saya harus bertemu dengan seorang ahli yang bisa membantu saya meredakannya.

Waktu itu, di dalam ruangan itu, ahli yang membant saya itu menarik sebuah kursi mendekat kepada saya, lalu dia bertanya, “Jika Kakak Anda duduk di sana, apa yang ingin Anda sampaikan kepadanya?”

Tangis saya meledak. Seakan-akan kakak saya terlihat di sana, mengenakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu dan celana jeans panjang serta sepasang sandal. Bukankah begitu ia terlihat sehari-hari?

Saya kangen dia. Frasa yang tidak pernah saya katakan kepadanya dan tidak juga kepada siapa pun di antara anggota kelurga saya, tetapi kali itu saya menguatkan lidah saya yang kelu untuk mengatakannya. Saya merindukan sosok kakak saya, yang selalu tertawa hampir di segala suasana. Yang selalu mencibir lalu tersenyum, jika orang lain balik mencibirnya. Yang kerjaannya ngambek ke orangtua kami.

Bukankah jika seseorang pulang ia ingin sekali melihat seluruh anggota keluarganya di dalam rumah dan bersama-sama melakukan hal menyenangkan? Lalu mengapa hal itu tidak bisa saya dapatkan dua bulan lalu saat saya pulang ke rumah? Kakak dan ayah saya tidak ada.

Saya tidak mengunjungi rumah baru mereka saat itu dan saya tidak pernah ingin untuk pergi ke sana, karena saya tidak ingin hanya melihat dua gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama mereka. Tidak. Hal tersebut terlalu sederhana untuk dilihat dan tidak pernah merepresentasikan mereka. Tidak pernah ada dalam benak saya, mereka bermukim di sana. Juga tidak ingin saya mempunyai sebuah bayangan baru tentang itu: tentang mereka berada di dalamnya, atau tentang mereka yang tidak bisa lagi tersenyum dan membuka matanya. Mungkin saya tidak ingin bayangan-bayangan itu menggantikan kenangan-kenangan selama 32 tahun yang saya miliki tentang mereka.

Pertanyaan mengapa saya tidak pernah berada di dekat mereka saat malaikat pencabut nyawa menjemput mereka, juga mungkin terjawab dengan jawaban itu. Jawaban yang dilontarkan oleh perempuan asing yang duduk di depan saya untuk membantu melewati ini. Ini bukan hanya soal bagaimana saya akan mengalami meltdown jika saya berada di sana, namun juga bagaimana kenangan-kenangan semasa hidup akan tumpang tindih dengan bayangan mereka di dalam kain kafan.

Perempuan itu menarik sebuah bangku lain dan meletakannya di depan saya. Di ujung lain meja kecil yang memisahkan kami. “Jika ayah Anda duduk di sini, apa yang mungkin ayah Anda katakan kepada Anda?”

Saya yakin Beliau akan meminta saya untuk tidak menangis dan menjadi kuat, dan mengingatkan saya untuk menjadi pemberani. Saya selalu ingat bagaimana Beliau mengatakan, “Teteh pasti bisa! Teteh pasti bisa!” lewat telepon saat saya sedang berada di Foyer AAI. Saya menceritakannya, saya masih kesulitan dan masih malu untuk berbicara di depan publik setiap saat sedang berada di kelas. Untuk mengutarakan opini dan pikiran saya tentang tema yang sedang dibicarakan di kelas. Waktu itu saya jawab, “Iya nanti akan aku coba”, dan sampai saat ini tidak saya lakukan. Maafkan aku, Pah. Aku janji aku akan melakukannya. Demi Papah dan demi janjiku pada Papah yang belum sempat saya penuhi selama Papah masih ada.

Untuk yang tercinta yang masih berada di dalam hati.

Hamburg, 27 Mei 2019

Aadit dan Papah, kemarin Mamah ulang tahun. Tidak ada pesta dan perayaan, tetapi alhamdulillah adik-adik Papah berkumpul di rumah untuk berbuka puasa bersama. Aku rasa, tidak ada satu orang pun yang tahu, 66 tahun lalu Mamah dilahirkan di tanggal tersebut. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah dan ditempat di tempat yang terbaik oleh Allah dan semoga Mamah selalu sehat dan selalu dilindungi Allah. Salam rindu.

Bandar Udara

Tangerang, 8 Juni 2018

Hari selasa lalu, saat masih berada di pesawat, saya melihat kota kelahiran saya. Rasa bahagia menyelimuti. Setelah hampir setahun, akhirnya saya kembali lagi. Pulang. Dari atas sana juga saya melihat sebuah pemakaman umum yang letaknya bisa dibilang di depan bagian belakang bandara kota kelahiran saya. Pemakaman umum ini baru sekitar 15-20 tahun belakangan ini terletak di sana. Sebelumnya ia berukuran lebih kecil dan terletak tidak jauh dari tempat barunya. Tidak hanya lebih besar, di tempat barunya ini kuburan-kuburan lebih tertata rapih. Bagian sebelah kanan untuk penganut Kristen dan sebelah kiri untuk muslim. Di tengahnya adalah jalan kecil yang tidak boleh dimasuki mobil, tetapi dipenuhi oleh jejeran pedagang makanan dan minuman.

Tidak lama kami pun mendarat. Pesawat berjalan di daratan menuju tempat parkirnya, melewati jembatan yang di bawahnya terletak jalanan yang dilalui mobil-mobil yang sedang menuju terminal-terminal atau gedung lain di sekitar bandara. Saya sangat mengenal jembatan itu, karena dari bawah sana, dari dalam mobil yang dikendarai Papah setiap kami ke bandara, saya selalu mendongak ke atas. Ke atas jembatan. Melihat pesawat yang sedang menyeberang di atasnya. Kali ini posisi berubah, aku berada di dalam pesawat itu. Aku melihat ke bawah jembatan itu, ada mobil yang berlalu lalang. Mungkin supir atau penumpangnya juga mendongak dan melihat mesin besar yang sedang menyeberang.

Saya tidak bisa memalingkan pandangan saya dari pemandangan luar pesawat. Air mata mulai merembes menuruni kedua mata saya, seperti yang sudah-sudah. Walau setahun atau pun bahkan empat tahun telah berlalu, rasa sesak di dada itu tetap sama. Air mata ini juga masih sama hangatnya seperti saat dia meleleh empat tahun lalu, juga saat saya mendarat di bandara yang sama. Semua terasa sama.

Saya merasakan pundak saya naik turun tidak beraturan, walau ia udah coba saya kontrol dengan sekuat tenaga. Tangis yang saya tahan itu tetap saja terdengar oleh kedua perempuan lain yang duduk di jejeran saya. Mereka lah yang menemani perjalanan saya kali ini. Suatu kebetulan, bahwa kami sama-sama duduk di jejeran yang sama dan memiliki asal dan tujuan negara yang sama. Televisi yang mati di hadapan saya bahkan tidak saya hiraukan, karena berbincang dengan mereka menyenangkan dan tidur saya selama perjalanan pun lelap.

Salah satu dari mereka menyentuh lembut pundak saya. Mengelusnya dan membisiki saya untuk tetap kuat dan sabar, walau dia juga tidak tahu penyebab air mata yang mengalir ini.

Pesawat ini masih berjalan perlahan mencari tempat parkir yang sudah ditentukan oleh bandar udara. Masih melewati gedung-gedung kontrol lapangan udara. Rumah-rumah mungil dan kumuh di belakang bandara sudah tidak terlihat, apa lagi kali berair warna cokelat yang mengalir ke sungai Cisadane. Tahukah kamu, di ujung lain kali tersebut ada sebuah kampung dari sanalah Papah saya berasal dan menghabiskan waktu dua tahun masa kecilnya sebelum pindah ke rumah yang kami tempati sampai saat ini. Kami. Sekarang. Maksud saya, sekarang ini tanpa dia dan anak keduanya.

Setelah yakin saya sudah menghapus air mata dari pipi dan tidak ada lagi yang merembes keluar dari kedua mata yang sudah memerah ini, saya memalingkan muka ke hadapan penumpang yang menemani selama perjalanan 10 jam dari Istanbul ke Jakarta. “Tadi kita terbang melewati pemakaman, letaknya tepat di depan bandara ini. Di sanalah tempat bersemayam Papah saya sejak empat tahun lalu. Aa saya juga. Dia meninggal setahun yang lalu, dan saya belum pernah ke sana.”

Saat itu saya memutuskan untuk membiarkan air mata kembali merembes untuk menghilangkan sesak di dada. Semoga Mamah tidak melihat bekas air mata ini saat kami bertemu di terminal kedatangan.

Hamburg, 14 Januari 2019

Tidak Ada Apa-apa

Apa ada orang lain yang mengejekmu hari ini? Yang membuatmu kesal?

Iya.

Siapa? Ada apa? Kamu mau cerita padaku?

Tidak.

Ayolah. Berceritalah.

Tidak. Tidak ada apa-apa.

Jangan begitu, ceritalah. Kita ini teman.

Tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa terjadi. Aku berharap ada sesuatu terjadi, tapi ternyata tidak ada yang terjadi.

Hamburg, 22 November 2017 – when the connection is disrupted and you are too afraid to say something.