Obrolan Tentang OCD

Saya yakin sebagian besar orang sudah tahu apa itu OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif. Mungkin ada juga yang pernah melabeli dirinya atau orang lain dengan OCD karena sering cuci tangan, bersih-bersih, atau menyusun barang secara simetris, tapi tahu ga kalau OCD lebih dari itu?

Sesuai dengan namanya, gangguan ini menyebabkan penderita melakukan sesuatu dengan obsesif dan terus menerus (kompulsif). Perilaku dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan kecemasan yang penderita alami. Perilaku mencuci tangan berkali-kali, misalnya, bertujuan untuk menghilangkan pikiran buruk, bahwa tangan penderita menyentuh benda berkuman yang bisa menyebabkannya jatuh sakit. Ketenangan hati ini sayangnya hanya bersifat sementara. Jika nanti penderita menyentuh sesuatu lagi, ia akan kembali mempunyai pikiran-pikiran negatif dan cuci tangan kembali harus dilakukan. Begitu seterusnya, seperti lingkaran setan.

Proses tersebut baru saya mengerti sebulan terakhir ini, sejak saya didiagnosis OCD ringan. Memang selama ini saya sudah berpikiran saya mempunyai gejala OCD karena „hobi“ banget pakai pembersih tangan sejak mulai remaja. Sempat berkurang karena saya tidak mau berakhir menjadi penderita OCD, tapi sejak pandemi malah semakin bertambah. Menganalisis diri sendiri, saya pakai cairan pembersih tangan pada akhirnya bukan karena takut bakteri, tapi karena jijik. Sejak pandemi mata saya terbuka: orang bisa saja pegang hidung atau mulut lalu pegang gagang pintu atau tiang bus. Membayangkannya saja jijik. Bukan hanya soal cuci tangan, bagi saya juga penting kalau tempat tidur dan sofa saya bebas dari pakaian yang dipakai di luar rumah. Sekarang bahkan karpet saya juga sudah termasuk. Jika ada teman datang dan duduk di sofa dan di karpet, saya akan langsung mengganti alas sofa dengan yang bersih agar saya bisa duduk di atasnya dengan baju rumah saya. Jika saya sedang malas menyuci, saya akan menyemprot sofa dan karpet dengan desinfektan.

Selain ritual pasca menerima tamu, saya masih punya banyak contoh tindakan OCD lainnya, seperti ritual pulang ke rumah, ritual toilet, dan ritual pegang hp. Walau begitu, menurut saya tindakan OCD saya tidak seburuk dengan pikiran OCD saya. Oh ya, dalam bahasa Jerman ada dua istilah penting yang berhubungan dengan OCD, yaitu Zwangsgedanken dan Zwangshandlung. Istilah pertama berarti pikiran OC dan yang kedua adalah perilaku/tindakan OC (sengaja saya hilangkan huruf D di akhir singkatan). Menurut saya kedua istilah ini memudahkan sekali untuk mengerti OCD, bahwa OCD bukan hanya soal perilaku tapi juga pikiran.

Menurut saya, perilaku OC saya tidak terlalu parah, walau tentu membuat saya frustrasi dan memakan banyak waktu saya, tapi pikiran OC lebih membuat saya frustrasi. Pikiran-pikiran agresif termasuk ke dalamnya, misalnya bayangan yang terlintas di pikiran saya saat saya sedang menunggu di kereta di stasiun: OCD mendorong orang ke rel kereta. Menurut co-terapis saya, saya harus membuat jarak dengan OCD saya, karena itu saya tidak bilang „saya mendorong orang ke rel kereta api“ tapi OCD saya. OCD saya yang mau mendorong orang ke rel kereta api, saya tidak mau. Sejak itu saya berhenti mengatas namakan saya di semua pikiran agresif yang pernah terlintas di benak saya. Pikiran-pikiran OC juga menggangu kehidupan sehari-hari saya. Kadang saya harus menghindar bertemu teman atau berada di suatu tempat karena saya takut pikiran agresif muncul. Ketakutan terbesar saya tentu saja adalah membuat pikiran agresif itu jadi nyata. Hal ini pernah dibahas di seminar tentang OCD yang saya datangi setiap minggu. Trainer bilang penderita OCD, terutama mereka yang sudah mendapatkan diagnosis dari ahli, tidak akan melakukannya. Mereka justru akan berusaha untuk menghindar. Secara fisik dengan tidak datang ke tempat tersebut atau secara pikiran dengan berusaha menekan pikiran-pikiran tersebut (yang sebenarnya tidak disarankan).

Pikiran-pikiran agresif ini pernah membuat saya sangat-sangat sedih, karena membuat saya merasa menjadi orang jahat, tidak bermoral juga tidak beragama. Saya bukan orang baik karena saya punya berpikiran mencelakakan orang lain dan orang-orang yang saya sayangi. Lucunya, pikiran dan ketakutan menjadi orang jahat ini juga bisa menjadi bagian dari pikiran OC. Sejak rajin ikut terapi, saya semakin bisa memahami, bahwa yang jahat itu OCD bukan saya. Pikiran-pikiran OC bukan kenyataan. Dan yang paling penting: pikiran-pikiran agresif itu bukan bagian dari kepribadian saya.

Oh iya, saya juga baru tahu loh kalau perfectionist juga termasuk ke dalam OCD. Saya dulu tidak sadar saya perfectionist, sampai teman-teman saya kasih bukti: datang harus tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih awal; nilai kuliah harus bagus; berkunjung ke rumah orang harus bawa buah tangan; kerjaan harus perfect; dan rumah harus bersih dan wangi kalau ada tamu datang. Saya kira itu semua hal biasa, tapi saat di terapi grup kami disodori contoh-contoh yang ternyata itu SAYA BANGET. Saya juga ga sadar ada yang salah dengan perfectionist, mengapa orang-orang memandang dengan negatif. Maksud saya, bukankah semua yang harus kita lakukan harus benar-benar sempurna hasilnya? Ternyata kekurangan dari perfectionist adalah bisa membuat frustrasi. Untuk datang tepat waktu saya harus benar-benar kalkulasi waktu. Jika saya janjian jam 12 dan waktu tempuh 30 menit, saya akan memberikan waktu tambahan 5-10 menit. Jaga-jaga di jalan ada kejadian tak terduga. Untuk itu saya harus tahu jam berapa bangun tidur dan siap-siap. Tambahan waktu itu juga penting, karena anxiety saya membuat saya harus ke toilet berkali-kali sebelum saya keluar rumah. Teman saya bilang, bagus saya datang cepat jadi engga stres di jalan. Ups, sebenarnya sebaliknya. Saya frustrasi. Kelemahan lainnya, saya memaksakan teman-teman saya untuk tepat waktu seperti saya dan saya akan cemberut jika mereka datang telat, terutama tanpa kabar. Hasilnya: beberapa di antara mereka malas untuk janjian dengan saya lagi.

Jika kalian sadar saya menulis dengan ejaan bahasa Indonesia yang hampir sempurna, itu juga bagian dari perilaku perfectionist saya 😛 Rasanya gatal sekali jika saya salah menulis. Latihan-latihan yang saya lakukan untuk mengurangi ke-perfectionist-an saya adalah datang telat; menulis whatsapp dan email tanpa memperhatikan PUEBI; tidak membereskan apartemen, jika tamu datang; dan tidak membawa buah tangan, kalau bertamu ke teman. Oh, satu lagi kelemahan saya gara-gara si  perfectionist ini: saya malu sekali untuk berbicara bahasa Jerman, padahal saya tinggal di Jerman. Bagi saya lebih baik diam dari pada salah menggunakan tata bahasa ada kata dalam bahasa asing. Kalau saya tidak perfectionist, saya pasti akan lebih berani berbicara menggunakan bahasa asing.

Latihan-latihan yang saya sebut di atas saya lakukan mandiri dan dalam kehidupan sehari-hari, selain itu saya juga melakukan latihan exposure bersama co-terapis saya. Latihan dengan beliau sangat serius dan harus direncanakan. Sebelumnya saya harus membuat hierarki perilaku dan pikiran OC saya dari 10-100%. Perilaku dan pikiran OC di atas 50% akan dilatih bersama. Sebelum, selama, dan sesudah latihan akan ada grafik tentang ketegangan saya. Setelah latihan saya harus memberikan diri sendiri hadiah yang juga harus saya rencanakan sebelumnya. Minggu lalu saya latihan memegang dan mengusap tembok yang punya motif bulatan-bulatan kecil menonjol. Saya tidak boleh menyuci tangan, menggunakan desinfektan, atau menyeka tangan saya ke pakaian selama satu jam. Setelah itu saya pergi beli bubble tea sebagai hadiah untuk diri sendiri.

Sebelum membuat hierarki OCD itu saya diminta untuk mengisi protokol tentang self-observation. Setiap OCD saya muncul saya harus menuliskan detailnya: apa yang saya pikirkan, apa perasaan saya, bagaimana perasaan saya saat OC hilang, seberapa sering itu terjadi, dan kegiatan apa yang bisa saya lakukan jika perilaku dan pikiran OC itu tidak ada. Dari situ saya bisa tahu yang terbanyak adalah mencuci tangan dan kedua terbanyak adalah pikiran agresif. Latihan-latihan ini mungkin akan harus saya lakukan bulan depan, setelah latihan-latihan di level lebih bawah sudah selesai.

Sejak tahu banyak tentang OCD dan mengisi protokol pengamatan mandiri, saya semakin mengenal diri sendiri. Ternyata memang tidak sedikit perilaku saya yang menjadi gelaja-gejala OCD. Selama saya mengetik ini di laptop, saya sadar saya harus punya titik tertentu di mana lengan bawah kiri saya harus diletakan di atas laptop, jika tidak pas, tangan saya akan berkali-kali bergerak menyesuaikan. Sebelumnya saya sadar ini aneh, tapi tidak tahu kalau ini gejala OCD.

Saya cukupkan dulu cerita tentang OCD di sini, karena teman sekamar saya sudah mau tidur dan saya tidak mau ganggu. Kalau ada yang mau nanya atau berbagi cerita, boleh banget tinggalkan komentar. Lain kali saya juga akan bercerita tentang gangguan kecemasan dan depresi yang menjadi alasan mengapa saya berada di rumah sakit sebulan terakhir ini. 😊

Neraka Kecil yang Ku Rindukan

Dulu sewaktu kami kecil, kami sangat takut kepadamu. Kamu galak dan selalu marah kepada kami tanpa sebab. Aku ingat suatu hari kamu pulang kerja lebih cepat, lalu mencari sebuah buku catatan yang sampai saat ini pun aku tidak tahu bagaimana bentuknya. Kamu membentak semua orang dan menyuruh kami mencarinya. Entah apa isinya, tapi bagimu buku catatan ini sangat penting. Aku ingat waktu itu meringkuk di pojok sofa di depan televisi, saat kamu membuka semua laci dan lemari di rumah.

Lalu kamu berubah, saat kami beranjak dewasa. Hatimu melunak, bahkan saat kami terkadang mengejek mencandai kamu, kamu hanya pergi ke belakang. Aku tahu saat itu kamu berusaha meredakan nafsu amarahmu. Aku sadar, jika saat itu kami meneruskan candaan itu, maka malam itu kita tidak akan tertawa-tawa lagi. Kamu menjadi jauh lebih baik, tapi tentu saja masih ada batas yang tidak bisa kami ubah sebagai anakmu.

Saat kamu menjadi orang yang lebih baik dan sabar kepada anak-anaknya, aku harus meninggalkan rumah karena kuliah di kota lain. Adikku, anak bontot kesayanganmu, lah, yang akhirnya menjadi dekat denganmu. Kalian sering pergi ke mall berdua di akhir pekan. Dede yang waktu itu tidak bisa menyetir, akhirnya seperti mempunyai supir pribadi, karena kamu yang mengantar dan menemaninya ke mana-mana. Kamu kadang bolak-balik ke Bandung juga, menjengukku di kosan bersama Mama dan Dede sekalian jalan-jalan di sana. Tidak sering, tapi cukup. Terutama saat Dede akhirnya juga berkuliah di universitas yang sama denganku. Kita akan ke mall atau sebelum kembali ke rumah mampir dulu ke adikmu yang tinggal di dekat sana.

Semua teman-temanku yang mengenalmu selalu bilang engkau terlihat lebih muda dari umurmu. Mungkin karena kamu sering berolahraga dan menjaga makananmu. Tapi tetap saja kita kecurian. Kamu sakit dan tidak bisa menjadi dirimu sendiri yang sebelumnya melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain, terutama anak-anakmu. Kartu kita terbalik, aku yang baru lulus kuliah menjadi supirmu. Dulu kamu yang mengantarkanku ke tempat ujian SPMB atau undangan nikahan teman di Jakarta dan menungguku di tempat parkir, kali ini aku yang menunggumu di tempat parkir kantormu di Jakarta. Aku melakukannya dengan ikhlas tanpa keluhan. Tahun terbaik bersamamu, sebelum aku pergi melihat sisi lain dunia.

Satu minggu lalu di hari ini, tiba-tiba Dede menemukan secarik surat cinta darimu untuk kami. Surat tersebut seharusnya kami terima 11 tahun lalu saat dia sampai ke rumah. Penyesalan dan permintaan maaf darimu atas kemarahan-kemarahan yang sudah kamu luapkan ke kami dahulu. Kamu bilang kamu kamu berusaha menambah kesabaran, walau terkadang sulit. Kamu pun menitipkan salam dan permintaan maaf untuk kedua kakak kami dan Mama.

Ini semua sulit aku terima. Surat tersebut tersimpan selama sebelas tahun di lemari baju Mama. Kamu tidak pernah tahu, bahwa surat tersebut baru kami baca enam tahun sejak kamu meninggal atau tiga tahun sejak kakak lelaki kami menyusulmu. Aku membayangkan bagaimana kamu melalui hari-harimu setelah mengirimkan surat tersebut. Apakah kamu, sampai kepergianmu, masih mempunyai penyesalan itu dan masih menganggap kami membenci kamu, karena kamu tidak pernah menerima jawaban dari kami? Maaf, kamu mungkin menghabiskan sisa hidupmu dengan penyesalan dan pertanyaan. Semoga kamu sudah meminta maaf secara pribadi ke Aa di tempat kalian berada sekarang, karena dia juga tidak pernah tahu akan surat darimu.

Menemukan surat cinta tersebut seperti bertemu kembali denganmu sejak sekian lama. Seakan-akan kamu datang dan memberikan kabar yang sebelumnya tidak pernah kami dengar. Menghapus kangen tetapi juga menambahkannya. Aku teringat malam itu, ketika kita duduk-duduk di teras belakang rumah. Seingatku aku masih duduk di SMA saat itu, kamu sudah menjadi Papah penyabar yang selalu tersenyum. Kita sudah semakin dekat karena kamu berusaha untuk dekat dengan kami. Saat itu, untuk pertama kalinya aku jujur ke kamu, aku pernah menganggapmu sebagai neraka kecil yang menakutkanku, bahkan saat mendengar suara klakson mobilmu setiap kamu pulang kerja agar kami membukakan pintu pagar. Maafkan aku menyakitimu di malam itu. Maafkan kami tidak pernah menjawab surat terakhir dan mungkin satu-satunya darimu.

Kami menyayangimu juga memaafkanmu, sebelum kamu memintanya. Dan aku merindukan kiamat kecil itu untuk datang lagi dengan mobilnya sepulang kerja.

 

Kenangan enam tahun kepergian Papah tercinta.

12 Oktober 1949 – 20 Juli 2014

 

Wabah Covid-19 di Jerman

Hari ini seharusnya adalah hari yang saya tunggu-tunggu sejak lama, namun karena pandemi virus Corona semua amblas. Keluarga saya seharusnya tiba kemarin siang di Amsterdam dan seharusnya kami hari ini menikmati hari berjalan-jalan di taman bunga Keukenhof di Belanda sana. Akibat virus Corona keluarga kami membatalkan kunjungannya bulan Maret ini. Lebih baik aman di rumah dari pada kena atau menyebarkan virus di perjalanan. Terlebih lagi ibu kami punya riwayat penyakit astma kronis. Pembatalan ini juga diperkuat dengan kenyataan Eropa dalam lockdown. Perbatasan Belanda dan Jerman masih terbuka (Jerman menutup beberapa perbatasannya, setelah negara tetangga menutup perbatasan dengan Jerman), tapi Jerman dan negara-negara Uni Eropa sudah melarang warga dari negara-negara luar masuk. Untuk orang-orang dari negara luar Uni Eropa yang mempunyai izin tinggal/kerja yang lama di sini masih boleh masuk dan menetap. Karena alasan tersebutlah kami memutuskan untuk menunda keberangkatan keluarga saya ke Belanda. Btw, taman bunga Keukenhof juga tutup. Mereka tidak bisa bilang kapan akan buka kembali. Saya juga baca di berita, setiap harinya ada jutaan bunga dihancurkan di Belanda karena tidak ada yang beli.

Masuknya Virus Corona ke Jerman
Di Jerman sendiri sudah lebih dari 50 ribu orang terinfeksi virus baru ini (57.298 orang per 30 Maret 2020, sumber: RKI). Jumlah ini meningkat pada awal Maret karena saat itu liburan sekolah dan banyak orang-orang Jerman berwisata ski ke Tirol (Austria) dan Italia, yang pada saat itu sudah banyak korban virus Corona. Waktu itu ada satu perempuan dari Cina datang untuk memberikan seminar di sebuah perusahaan yang letaknya di dekat Munich. Dia merasa kurang sehat tapi masih bugar. Saat dia kembali ke Cina, dia dites positf terjangkit virus Corona. Tanggal 27 Januari kementerian kesehatan Jerman melaporkan kasus pertama: salah satu karyawan di perusahaan tersebut. Dia adalah pasien pertama dan perempuan dari Cina itu adalah pasiel nol. Sampai sebulan kemudian pemerintah sudah ga sanggup lagi menelusuri orang-orang yang pernah kontak dengan pasien pertama tersebut dan jumlah yang terjangkit menjadi seribu orang.

Daerah yang paling banyak korban berlokasi di wilayah Heinsberg di negara bagian North Rhine-Westphalia (NRW). Akhir bulan Februari ada sepasang suami istri yang terinfeksi dan mereka melaporkan bahwa 10 hari sebelumnya mereka berada di karnaval di Heinsberg. Seharian mereka berpesta dan bertemu banyak orang, yang sudah tidak bisa ditelusuri lagi siapa saja mereka. Di sanalah virus ini menyebar dan membuatnya menjadi zona merah, karena pada tanggal 10 Maret sudah ada 323 orang terinfeksi virus Sars-Cov-2. Sekarang (29/03) menurut Robert Koch Institut (RKI) di negara bagian NRW ada 11.400 kasus dengan korban meninggal 98 orang. Di Hamburg (29/03) ada 1.846 kasus dengan empat korban meninggal. RKI adalah institusi pemerintahan di bawah kementerian kesehatan Jerman. Tugas utamanya adalah meneliti penyakit-penyakit, terutama penyakit infeksi, bagaimana penanggulangannya, tindakan preventif juga memberikan masukan untuk kebijakan-kebijakan politik yang menyangkut dengan kesehatan. Kalau tidak salah, tiga kali dalam seminggu ketua RKI melakukan konferensi pers dan tanya jawab yang juga disiarkan langsung di Youtube.

 

Jalan-jalan Akhir Tahun ke Maroko

Seminggu setelah kembali dari Indonesia di awal Desember, saya memesan tiket ke Marrakesh, Maroko. Cukup mendadak, karena sebelumnya tidak terpikir untuk ikut trip ini bareng teman-teman yang sudah merencanakannya sejak bulan November saat saya berada di Indonesia. Saya mengetahui rencana mereka memang sejak beberapa hari sebelumnya, tapi saya ragu ikut karena ada beberapa kewajiban yang saya harus penuhi yang bertepatan dengan waktu trip ini berlangsung. Pada akhirnya saya batalkan semuanya. Sungguh tidak ada profesionalitasnya saya ini.

Atlas Mountain

Pegunungan Atlas, Maroko

Trip kami dimulai dari Berlin. Oleh karena itu, saya naik bus dari hamburg ke Berlin pada hari jumat siang. Sabtu siang kami berangkat ke Marrakesh lewat bandar udara Schönenfeld di Berlin. Penerbangan berlangsung selama empat jam. Rasanya lama sekali, karena selama penerbangan itu saya lapar. Mau beli makanan di pesawat, tapi tidak ada roti yang menggunggah selera saya. Sebagian besar penumpang pesawat itu adalah orang Jerman. Sama seperti kami, mereka juga terlihat sangat bersemangat untuk liburan di negara bermatahari.

Sesampainya di bandara, kami sudah punya jemputan yang kami pesan lewat situs getyourride.com. Tidak jauh berbeda dengan klook.com atau traveloka.com, di situ ini kita juga bisa membuk transportasi privasi atau tourguide di negara yang kita akan kunjungi. Karena kami berempat, akan lebih mudah jika kami menggunakan alat transportasi pribadi, karena itulah kami memesan jemputan bolak balik bandara-hotel. Harganya pun cukup murah, yaitu 22 Euro PP. Karena kami berempat, jadinya masing-masing orang hanya sekitar 5,5 Euro. Taksi bisa juga menjadi pilihan, tapi kami kuatir akan kena tipu harga, seperti yang saya alami di Istanbul tahun lalu.

Pemandangan alam

Pengembala domba

Hotel kami merupakan sebuah apartemen yang disewakan melalui airbnb.com. Di sana tersedia penginapan beragam bentuk dan harga. Maunya sih tinggal di Riad, tapi harganya cukup mahal, karena biasanya riad lebih mewah, dilengkapi kolam (renang) pribadi di tengah taman. Aparteman yang kami tempati juga nyaman. Terdapat sebuah ruang tamu luas, meja makan, dua kamar tidur, sebuah toilet, sebuah kamar mandi/toilet, sebuah dapur dan sebuah balkon mini. Harga per orang untuk tiga malah hanya 46 Euro saja. Tempatnya juga cukup strategis di tengah kota. Dekat mall dan beragam restauran.

Ngomong-ngomong soal restauran. Di sini segala ada. Di malam terakhir kami mencoba sebuah restauran Asia di dekat penginapan. Harga-harga makannya cukup terjangkau walau restauran ini cukup mewah. Di dalam menu ada menu Sato Ayam, yang di bawahnya tertulis noodles, bean sprouts and seafoods. Karena inilah saya mengurungkan niat untuk memesannya. Masih di menu yang sama, ada juga Papes Ikan, yang penjelasannya adalah lychee, mango, caramelized pineapple. Pengunjung bisa memilih antara dengan daging ayam, sapi atau udang. Hey ini bukan soto ayam dan pepes ikan beneran. Mereka menginterpretasikan makanan khas negara atau budaya lain terlalu jauh. Bahkan sup pho bo dari Vietnam lebih mirip mie instan dengan koriander dan daging sapi, karena mereka menggunakan mie keriting, bukan mie kwetiau, seperti lazimnya sup pho.

Tajine Alfasia

Ragam tajine daging sapi di restauran Al-Fasia

Selama di Maroko saya mencoba tiga jenis tajine berbeda. Tajine adalah cara memasak khas Maroko yang menggunakan panci tanah liat khusus yang bentuknya seperti tumpeng. Makanan diletakan di bagian bawah tajine yang kemudian ditutup oleh tutupnya yang berbentuk tumpeng tersebut. Di malam pertama saya mencoba tajine daging kambing yang dimasak dengan caramelized onions and tomatoes. Saya bukan pecinta masakan manis, karena itu makanan ini kurang memuaskan saya. Saya lebih suka makanan teman-teman lain dengan atasan terong. Rasanya lebih gurih. Restauran yang kami kunjungi sedikit mahal, karena itu untuk tajine tersebut kami menghabiskan 150 MAD (15 Euro). Makanan kami datang dengan sepiring besar couscous untuk kami berempat. Saat kami baru duduk, dua mangkok buah zaitun hitam dan hijau juga sepiring roti disajikan untuk kami. Selesai makan dan setelah semua piring dibawa, kami diberi handuk hangat untuk membersihkan tangan. Sebuah baskom berwarna emas diletakan di tengah meja, tempat kami melemparkan handuk bekas kami pakai.

Tempat handuk basah

Tempat handuk basah bekas pakai

Selain tajine daging kambing, saya juga mencoba tajine daging ayam dan udang. Saya suka udang, tapi ternyata untuk menghabiskan sepiring bukan keahlian saya. Apa lagi saya tidak bisa memakannya dengan nasi yang merupakan comfort food saya. Memang ada nasi, tapi itu adalah nasi Arab yang berbeda dengan nasi dari Asia dan menurut saya tidak cocok dengan udang berbumbu yang saya makan.

Favorit saya adalah tajine ayam berbumbu kari kuning yang dilengkapi dengan potongan wortel dan kentang. Nikmat sekali. Lebih nikmat lagi karena pemandangan siang itu adalah pegunungan Atlas. Kami makan siang di sebuah desa yang dikelilingi oleh pegunungan Atlas, yang di musim dingin ini diselimuti salju. Hari kedua di Maroko saya dan teman-teman mengikuti sebuah tur seharian. Oleh pemandu wisata kami, Hasan, kami dibawa ke desanya. Makan siang di tetangganya yang rumahnya juga sebuah guest house. Di sebuah rumah khas Maroko yang tidak punya genteng, jadi kami duduk di luar di teras. Pemandangan sekitar kami adalah desa tersebut dan pegunungan Atlas.

Tajine ayam

Makan siang tajine ayam

Setelah makan siang, kami dibawa oleh Hasan ke rumahnya yang sederhana. Hanya ada dua kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi dan satu ruang tamu yang tidak luas. Kami dipersilahkan olehnya untuk duduk di teras belakang rumahnya yang cukup luas. Dia mengeluarkan beberapa kursi dan sebuah meja panjang dari dalam ruang tamunya. Sambil menunggu teh bikinan ibunya, kami masih menikmati pemadangan pegunungan Atlas dan suara adzan dzuhur dari mesjid yang berjarak hanya 200 meter dari rumahnya. Suara adzan hanya terdengar sayup-sayup, enak sekali dan saya merasa lebih masuk ke dalam hati. Berbeda dengan di Indonesia yang setiap mesjid berlomba-lomba mengencangkan pengeras suaranya, dan terkadang panggilan sholat seperti hanya teriakan saja.

Rumah-rumah di desa di bawah pegunungan Atlas

Setelah minum teh hijau Maroko dan makan kacang walnut, kami melanjutkan perjalanan ke air terjun. Sejujurnya saat itu saya mengira kami akan kembali naik bus lalu diturunkan di dekat air terjut. Ternyata saya salah, yang kami lakukan adalah hiking. Sebenarnya tidak sejauh saat hiking ke kawah Ratu di Bogor, tetapi karena saya ga mudeng kami langsung hiking, saya jadi ga ada persiapan. Saya memang ga cocok banget dah dengan hal spontan.

Air terjunnya engga besar. Dengan hiking yang ga jauh jadinya cocoklah, engga terlalu kecewa. Uniknya di sana ada orang yang jualan jus jeruk, meja dan bangku sudah disiapkan di bawah air terjun. Yang jaga adalah seorang laki-laki muda, dia mencuci jeruk dan peralatan makannya dengan air dari air terjun yang segar. Kami berhenti tidak lama di sana. Setelah semua orang foto-foto, kami melanjutkan perjalanan melewati perkampungan.

Penjual jus jeruk

Penjual jus jeruk di bawah air terjun

Di grup kami ada satu orang tour guide (Hassan) dan seorang supir (Abdul). Selain grup kami yang berisi empat orang, ada lima orang lain, yang terbagi ke dalam tiga grup. Saya merekomendasikan banget tour guide kami ini. Mereka baik dan menjelaskan dengan benar, juga bahasa Inggrisnya bagus. Hasan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dia selalu menanyakan apa kami sepakat denga rute yang dia pilih, bahkan jika kami mau jalan-jalan lebih jauh sedikit, dia menyanggupi. Dalam websit getyourride.com tertulis kami akan tiba kembali di hotel jam 18, kenyataannya jam 19 lebih. Kami tidak masaah dengan itu.

Setelah air terjun kami kembali ke bus lewat jalan berbeda yang tadi kami lalui saat naik ke air terjun. Kami melewati beberapa penjual karpet warna warni yang indah. Sayangnya saya engga ada tempat di ransel untuk bawa karpet itu ke Jerman. Di pasar di Marrakesh tentu banyak dijual juga barang-barang yang kami temukan di toko di desa yang kami lewati, tapi tentunya harganya lebih tinggi dan tidak bisa membantu langsung pengrajinnya. Lain kali saya akan datang lagi ke Maroko dengan koper besar, biar bisa masuk belanjaan-belanjaan. Bus kami terparkir di pasar di pinggir jalan besar. Menyenangkan sekali lewat pasar itu. Dengan udara yang sejuk, rasanya seperti berada di pasar di Bandung. Bedanya dari situ kita bisa lihat pegunungan Atlas yang tertutup salju dan pedagangannya mayoritas lelaki. Typical negara timur tengah, lelaki banyak bertebaran di mana-mana baik sebagai penjual atau pembeli yang duduk-duduk di depan cafe sambil minum kopi.

Warna-warni karpet khas Maroko

Tujuan kami selanjutnya adalah tujuan utama. Belum lengkap rasanya kalau ke Maroko tidak naik onta. Sayangnya kami tinggal di Maroko hanya 3 malam; sehingga tidak cukup untuk ikut tour ke gurun Sahara yang minimal berlangsug selama dua hari satu malam. Kalau kami ikut, kami tidak akan ada waktu untuk menjelajah kota Marrakesh. Oleh karena itulah kami hanya ikut day tri dengan Hassan dan Abdul.

Gurun yang kami tuju adalah gurun kerikil bernama Agafay. Kami tentunya tidak dibawa ke tengah gurun. Kalau kita menyusuri jalan besar di gurun Agafay, di pinggir jalan kita akan menemukan beberapa tempat untuk naik unta. Kami berhenti di salah satunya. Tampak di sana beberapa bus dari travel yang sama. Setelah menunggu 30 menit, tiba giliran kami untuk naik onta. Setiap unta diikat sehingga mereka berjalan berbaris memanjang. Unta paling depan dituntun oleh seorang kakek tua. Saat unta pertama jalan, unta-unta di belakangnya terpaksa juga harus ikut jalan, karena mereka tertarik dengan unta di depannya. Ada tali yang menghubungakn moncong mereka dengan tempat duduk/bantal dari unta di depannya.

Unta di gurun batu Agafay

Awalnya saya sempat takut dengan naik unta. Sewaktu unta beranjak untuk berdiri saya kaget dan sempat teriak. Saya tidak menyangka unta akan berdiri dan ternyata tinggi sekali dan untuk saya yang takut dengan ketinggian ini menegangkan. Selama awal unta tersebut berjalan saya berdoa tidak henti karena takut jatuh, apa lagi beberapa kali terlihat unta yang saya tumpangi itu sudah enggan berjalan. Dia terpaksa berjalan karena moncongnya diikat tali ke unta di depannya. Jadi, jika unta paling depan berjalan, dia akan menarik unta-unta di belakangnya dan seterusnya. Dan hanya unta yang paling depan yang dituntun oleh seorang kakek yang sepertinya pawangnya. Selain dia, ada juga pawang lain yang lebih muda, dia berlari-lari di sekitar kami.

Naik unta di gurun Agavay

Naik unta di gurun Agafay

Selama naik unta, yang membuat saya tenang adalah pikiran tentang hijrah yang dilakukan Rasulullah dan nabi-nabi yang lain. Bagaimana mereka berada di atas unta berhari-hari untuk berpindah tempat untuk menyebarkan agama Islam. Pemandangan di sekitar gurun batu Agafay juga sangat sangat indah. Pegunungan Atlas masih terlihat dan saat itu matahari sudah hampir turun. Masya Allah dari sana bisa terlihat gurun yang gersang, gunung yang hijau dan juga salju di puncak gunung. Bagaimana saya tidak semakin cinta Maroko melihat semua itu? Dan bagaimana saya tidak bersyukur dengan semua yang saya lihat saat itu?

Setelah perjalanan 30 menit dengan mengendarai unta, kami dipersilahkan masuk kembali ke mobil. Kami akan pulang kembalinke Marrakesh dan Hasan juga Abdul akan mengantarkan kami langsung ke penginapan kami. Di tengah-tengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melihat matahari terbenam. Setelah itu perjalanan diteruskan ke Marakesh sekitar 45 menit. Uniknya jalur yang dipilih Abdul dan Hasan untuk kembali ke Marakesh berbeda dengan jalur berangkat. Kesimpulannya, kalau di perjalanan pergi ada kesempatan foto, langsung lakukan, karena pulangnya ga lewat sana lagi.

Malam itu kami berencana untuk pergi makan makanan Asia, ternyata kami malah singgah di restauran seafood dan fast food yang harganya murah meriah tapi enak. Di sanalah saya mencoba tajine udang. Rasanya enak sekali, lebih enak lagi kalau pakai nasi Asia, yang sayangnya tidak tersedia. Saya suka udang, tapi ternyata tidak bisa makan banyak, jadi malam itu sayangnya saya harus menyisakan udangnya (kebetulan juga sedang tidak bawa tempat makan kosong untuk bungkus makanan.

Tajine udang

Tajine udang

Sampai di sini dulu ya cerita tentang jalan-jalan saya di Maroko. Selanjutnya saya akan cerita lagi tentang hari kedua kami di kota Marakesh, pengalaman pertama bertemu dengan badai pasir dan cerita tentang tersesatnya kami di pasar tradisional Marakesh.

Sampai nanti!

 

Pasar di bawah pegunungan

Pasar di bawah pegunungan Atlas

Sepatu khas Maroko

Sepatu khas Maroko

 

Di tengah kota Marrakesh

Di tengah kota Marrakesh

Mereka yang Meninggalkan Kita

Apakah dengan masih bersedih saat mengingat orang yang meninggalkan kita disebut dengan tidak ikhlas?

Apakah ikhlas bisa diukur dengar keringnya air mata dan perasaan bahagia saat mengingat mereka?

Bukankah ikhlas dan sedih adalah dua perasaan berbeda yang tidak saling bertentangan?

Karena perasaan sedih hanya berlawanan arti dengan bahagia, dan ikhlas.. apa lawan kata dari ikhlas? Berat hati?

Bukan karena air mata saya masih mengalir dan hati juga dada saya secara harfiah masih sakit berarti saya masih belum mengikhlaskan kepergian mereka, bisa jadi karena sakit ini sudah saya tahan selama lima tahun terakhir. Saya pendam sehingga emotionaler Zusammenbruch sangat jarang terjadi, dan sekalinya terjadi.. saya harus bertemu dengan seorang ahli yang bisa membantu saya meredakannya.

Waktu itu, di dalam ruangan itu, ahli yang membantu saya itu menarik sebuah kursi mendekat kepada saya, lalu dia bertanya, “Jika Kakak Anda duduk di sana, apa yang ingin Anda sampaikan kepadanya?”

Tangis saya meledak. Seakan-akan kakak saya terlihat di sana, mengenakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu dan celana jeans panjang serta sepasang sandal. Bukankah begitu ia terlihat sehari-hari?

Saya kangen dia. Frasa yang tidak pernah saya katakan kepadanya dan tidak juga kepada siapa pun di antara anggota kelurga saya, tetapi kali itu saya menguatkan lidah saya yang kelu untuk mengatakannya. Saya merindukan sosok kakak saya, yang selalu tertawa hampir di segala suasana. Yang selalu mencibir lalu tersenyum, jika orang lain balik mencibirnya. Yang kerjaannya ngambek ke orangtua kami.

Bukankah jika seseorang pulang ia ingin sekali melihat seluruh anggota keluarganya di dalam rumah dan bersama-sama melakukan hal menyenangkan? Lalu mengapa hal itu tidak bisa saya dapatkan dua bulan lalu saat saya pulang ke rumah? Kakak dan ayah saya tidak ada.

Saya tidak mengunjungi rumah baru mereka saat itu dan saya tidak pernah ingin untuk pergi ke sana, karena saya tidak ingin hanya melihat dua gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama mereka. Tidak. Hal tersebut terlalu sederhana sekaligus terlalu rumit untuk dilihat dan tidak pernah merepresentasikan mereka. Tidak pernah ada dalam benak saya, mereka bermukim di sana. Juga tidak ingin saya mempunyai sebuah bayangan baru tentang itu: tentang mereka berada di dalamnya, atau tentang mereka yang tidak bisa lagi tersenyum dan membuka matanya. Mungkin saya tidak ingin bayangan-bayangan itu menggantikan kenangan-kenangan selama 32 tahun yang saya miliki tentang mereka.

Pertanyaan mengapa saya tidak pernah berada di dekat mereka saat malaikat pencabut nyawa menjemput mereka, juga mungkin terjawab dengan jawaban itu. Jawaban yang dilontarkan oleh perempuan asing yang duduk di depan saya untuk membantu melewati ini. Ini bukan hanya soal bagaimana saya akan mengalami meltdown jika saya berada di sana, namun juga bagaimana kenangan-kenangan semasa hidup akan tumpang tindih dengan bayangan mereka di dalam kain kafan.

Perempuan itu menarik sebuah bangku lain dan meletakannya di depan saya. Di ujung lain meja kecil yang memisahkan kami. “Jika ayah Anda duduk di sini, apa yang mungkin ayah Anda katakan kepada Anda?”

Saya yakin Beliau akan meminta saya untuk tidak menangis dan menjadi kuat, dan mengingatkan saya untuk menjadi pemberani. Saya selalu ingat bagaimana Beliau mengatakan, “Teteh pasti bisa! Teteh pasti bisa!” lewat telepon saat saya sedang berada di Foyer AAI. Saya menceritakannya, saya masih kesulitan dan masih malu untuk berbicara di depan publik setiap saat sedang berada di kelas. Untuk mengutarakan opini dan pikiran saya tentang tema yang sedang dibicarakan di kelas. Waktu itu saya jawab, “Iya nanti akan aku coba”, dan sampai saat ini tidak saya lakukan. Maafkan aku, Pah. Aku janji aku akan melakukannya. Demi Papah dan demi janjiku pada Papah yang belum sempat saya penuhi selama Papah masih ada.

Untuk yang tercinta yang masih berada di dalam hati.

Hamburg, 27 Mei 2019

Aadit dan Papah, kemarin Mamah ulang tahun. Tidak ada pesta dan perayaan, tetapi alhamdulillah adik-adik Papah berkumpul di rumah untuk berbuka puasa bersama. Aku rasa, tidak ada satu orang pun yang tahu, 66 tahun lalu Mamah dilahirkan di tanggal tersebut. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah dan ditempat di tempat yang terbaik oleh Allah dan semoga Mamah selalu sehat dan selalu dilindungi Allah. Salam rindu.