Tentang Berpulang

Tanggal 17 Agustus yang lalu saya dapat kabar, teman sekelas waktu di sastra Jerman Unpad meninggal dunia. Beliau sakit. Minggu lalum saya kepikiran dia dan menyapanya lewat WhatsApp. Katanya, badannya sudah mendingan, tetapi jalannya masih goyang-goyang. Lalu, saya memberikan semangat untuknya agar cepat sembuh. Tanpa bertanya sakit apakah yang ia derita. Seharusnya di sana saya bertanya.

Sebagai teman, yang sayangnya tidak dekat, kadang kita merasa enggan untuk bertanya lebih detail apa yang orang lain derita. Kita tidak tau apa yang ia rasa, atau sakit apa yang ia derita. Tiba-tiba saja ia berpulang. “Tiba-tiba” yang sebenarnya tidak tiba-tiba.

Hal ini mengingatkan saya kepada kejadian empat puluh hari yang lalu, saat kakak saya meninggal dunia karena sakit. Saat itu, teman dekat kami yang juga adalah tetangga kami sejak kecil bilang ke saya, “kalau trombositnya meninggi itu sebenarnya yang gawat. Orang sering salah. Bukan membaik”. Lalu dia meneruskan, “begitu kalau orang sakit DBD.”

Saya awam soal dunia medis. Yang saya tahu, kakak saya bukan sakit DBD. Saya tidak tahu mengapa trombositnya turun, tapi hal tersebut “biasa” baginya. Setahun minimal sekali hal itu terjadi padanya sampai dia harus dirawat inap di rumah sakit. Mungkin ini terpengaruh dari sakit jantung dan paru-paru yang dia derita sejak lama.

Tidak banyak tahu kalau kakak saya sakit jantung sejak dia masih muda dulu. Saya sendiri tidak lagi tahu, apakah sejak dia masih sekolah atau di kuliah ketahuannya. Jantungnya lemah. Saya tidak tahu dengan pasti. Yang saya tahu, dokter bahkan memberikan pil biru kepadanya dengan dosis setengah (atau seperempat) sehari, untuk memacu jantungnya lebih kencang. Yang saya tahu, dia gemuk bukan hanya karena banyak makan, tetapi juga cairan di dalam tubuhnya. Karena itu, dia harus minum obat tertentu untuk mengeluarkan air dari badannya lewat air seni. Obat yang dia tidak suka, karena membuat dia harus bolak-balik ke toilet beberapa kali dalam sehari. Iya, dia harus mengkonsumsi obat-obatan tiga kali sehari.

Saat dia meninggal, saya membuka Facebook dia. Banyak ucapan bela sungkawa untuknya. Banyak foto-fotonya. Banyak hal yang membuat saya mengenal kakak saya lebih jauh lagi, dia dicintai oleh banyak orang, justru karena dia ngasalnya minta ampun. Dan tentu saja karena baik hatinya.

Banyak orang yang menyatakan keterkejutannya, “mengapa tiba-tiba?”, “sakita apa?”, “mengapa mendadak?”, karena mereka melihat Aa sehat-sehat saja. Kami sekeluarga tahu sekali bagaimana dia bolak-balik rumah sakit dan tetap terkejut dengan kematiannya. Kami juga berpikiran, “mengapa tiba-tiba?”, karena malam sebelumnya Aa sehat, walau dia memang mengeluh sakit beberapa hari sebelumnya dan trombositnya turun. Tapi, bukankah ajal manusia sudah dituliskan Allah dan semua makhluk hidup akan mati?

Waktu itu saya sedang berada di bandar udara CGK saat Mamah dapat kabar: Aa muntah darah. Karena itu saya masuk ke dalam bandara lebih cepat dari waktu yang saya rencanakan. Saya masih tenang saat itu, karena tahu Aa akan selamat. Insya Allah.

Selama di dalam pesawat, saya berkomunikasi dengan adik saya. Alhamdulillah waktu itu di pesawat ada internet 20 MB. Sangat sedikt memang, apa lagi saat baru setengahnya terpakai, saya tidak sengaja memencet tombol ‘stop’, yang menyebabkan internet habis. Di sana Dedey sudah bilang, kemungkinan Aadit untuk hidup kecil. Kalau pun ada, harus dibantu dengan alat. Obat yang dia perlukan adanya di RS Jantung Harkit dan untuk mendapatkannya harus pindah ke RS sana. Oh. Aneh. Mengapa obat harus dibatasi seperti itu?

Keluarga saya bingung. Kalau Aa pindah ke sana, bagaimana dengan Mamah yang kelak harus menunggunya di RS? Tangerang – Slipi memerlukan waktu lebih banyak dibandingkan dengan dari rumah ke RSUD Tangerang yang bisa dicapai dengan 10 menit naik becak. Apa lagi di RSUDT Mamah sudah kenal banyak orang dan bisa dapat privilage untuk nginap di sana bersama istri Aadit.

Malam itu, Aadit tetapi tidak menginap. Sebelumnya saya membaca di grup keluarga, kami perlu kasur kedua untuk Mamah menginap di sana. Mungkin malam itu kasur tersbeut sudah masuk ke ruangan sana, tetapi tidak lama, karena waktu Indonesia bagian barat dini hari Aadit berpulang.

Waktu itu jam 20 di Hamburg. Saya turun dari pesawat dengna perasaan yang tidak ada lagi, saking tidak menentunya. Di Dubai sana, petugas bandara meminta kartu identitas saya dari Jerman yang ada foto saya. Aneh. Padahal saya sudah memberikan paspor saya dan izin tinggal yang tertera di sana. Setelah saya menyerahkan kartu asuransi, saya dipersilahkan naik pesawat.

Waktu turun dari pesawat, saya langsung mengabari hal itu ke grup keluarga, sekalian bertanya tentang kabar Aa. Tidak ada jawaban. Di Hamburg, saya bisa melalui imigrasi Jerman tanpa ada masalah, malahan disambut dengan senyum manis petugas. Hati saya sedikt tenang. Lebih tenang dan senang saat melihat teman-teman saya sudah berkumpul di depan pintu, saat itu saya sedang menunggu datangnya koper besar. Menunggu menjadi semakin enak, walau saya gelisah sambil melihat-melihat telepon genggam.

Teman-teman saya menguatkan saya. Membantu membawa barang-barang saya. Dan saya, seperti biasa, berusaha untuk tidak membicarakan lebih detail tentang kesedihan saya. Saat kami duduk di S-Bahn, saya membuka Whatsapp. Di grup keluarga besar dari pihak Papah dan Mamah ada masing-masing satu pesan di sana. Pesan-pesan tersebut bukan dari keluarga inti saya, tapi keduanya diawali dengan “Innalillahi wa Innailaihi Rajiun”. Semua yang hidup akan kembali kepada pemiliknya. Saat itu saya tahu, hari itu saya kehilangan satu anggota keluarga lagi.

Waktu itu teman-teman saya sedang tertawa, saya lupa karena apa. Saya yang lebih suka menyimpan semuanya sendiri, sempat menimbang untuk menyimpannya sendiri sampai nanti tiba di kosan, atau memberitahu mereka sekarang. Tapi memang kesedihan di tubuh saya tidak bisa dielakan. Saya menangis, tubuh saya bergetar. Tangis saya pecah di dalam S-Bahn.

Kakak saya berpulang ke Rahmatulloh tanggal 9 Juli 2017 saat saya tiba di Jerman dari liburan ke Indonesia. Papah saya meninggalkan kami tanggal 20 Juli 2014 saat saya akan terbang ke Indonesia untuk berlibur. Takdir. 

Waktu itu saya langsung memutuskan untuk menginap di teman yang sudah saya anggap sebagai Teteh sendiri. Dia menyambut saya dengan tangis. Malam itu saya habiskan dengan tangis. Saya tidak tidur, karena masih jetlag, sedih dan melihat prosesi pemakaman lewat video call. Saya seperti kembali ke tiga tahun lalu, saat melihat prosesi pemakanan Papah lewat video call di dalam S-Bahn. Sejarah berulang.

Keesokan harinya. Saya berlaku seperti tidak ada apa-apa. Semua normal. Saya tidak ingin berbicara tentang Aa kepada siapa pun. Saya tidak ingin menangis di depan orang lain dan saya tidak ingin merasakan sakit di hati saya. Saya tidak pernah belajar untuk mengungkapkan kesedihan seperti ini, hal itu juga yang terjadi tiga tahun lalu saat Papah pergi. Sampai dua tahun kemudian, saya dilanda stres yang berat, selain juga karena stres kuliah dan masalah lain.

I need to take a break. See you.

Catatan Hati Kedua Adik

Hari sabtu 1 minggu yang lalu

Pagi itu saat mengantar teh ajeng yang hendak balik ke jerman, tiba-tiba ditelp katanya aadit batuk darah, ga banyak, aa jg biasa aja..
Bukan kali pertama aadit batuk darah, minum obat pembekuan darah suka sembuh tp pernah juga sampai sesak berat..
Gw dan mamah langsung ke rumah, ambil obat trus nyusulin aadit yg lg di rumah istrinya..

Sampai sana aadit lg nyemprot2in oxycan, mamah datang tanya “pake apaan itu a? emang sesak a?” Aadit jawab “enggak sih” 

and they laughed together..
Tidak lama kemudian aadit batuk2 lg, darah keluar terus, batuk, darah, batuk, darah, terus menerus, lebih banyak dari biasanya..

I saw his hand shaked when he saw his own blood on his hand..

I asked to bring him to hospital immediately, but he couldn’t even stand up..

kita gendong masuk mobil dan ke igd secepatnya, he still smile to rein when rein confusely saw him..
Pertolongan igd diberi oksigen, infus, vit k dan lasik. beruntung seorang sahabat residen jantung bersedia datang untuk cek aadit..

Saturasi oksigen mulai naik, tapi respiratory rate masih diatas 50, so he admitted to icu..
I still can talk to him, I asked and helped him to take his medicine, I asked him to be patient and obey all doctors and nurse. mamah asked him if she could go home for a while but aadit refused and ask her to wait..
ba’da ashar gw balik ke icu, sekalian jemput mamah supaya mamah bs beberes dulu di rumah..

Aadit cukup stabil, respiratory rate sudah cukup turun skitar 40, 

I greet and call his name, he just saw me, still weak..
Saat itu ada beberapa obat yg perlu dicari di luar, jd gw ke luar dulu ngasih resepnya ke suami buat cari trus nunggu sambil nyusuin anak, mamah msh nunggu dlm icu..

Ga lama kemudian telp dr dokter jaga icu, aadit saturasi turun jd 60 dan minta izin untuk intubasi. Ga lama akhirnya gw jalan menuju icu, telp dari istri aadit kalau keadaan aadit turun..
I was so shocked when I saw the icu team did the cpr to him.. I thought it just intubation..

They said he had massive hemoptysis and then became cardiac arrest.. I saw my mom squatted and crying..

I feel the same situation when papah died 3 years ago..

After cpr and cardioversion, his heart beat was back, his eyes wide open but unconsious..
So I went back home, my baby need me and I didn’t wanna see the rest situation..

And ya.. then I got the news.. the bad news.. he had already gone forever..

Catatan Dedey seminggu yang lalu. Saat rumah yang seharusnya sepi, malah dipenuhi oleh banyaknya pelayat yang datang karena kabar meninggalnya kakak kedua kami. 

Saat Dedey memberikan kabar Aadit di rumah sakit dan kondisinya memburuk, bahkan tidak sadarkan diri saat saya berada di dalam pesawat dan di Dubai. Sayangnya Internet di pesawat dibatasi hanya 20 MB, jadi tidak cukup untuk telepon atau pun ngobrol sepuasnya di WhatsApp. 

Begitu sampai di Hamburg, saya mengabari di grup keluarga bahwa saya sudah mendarat dan tak lupa kebanyakan kabar Aadit. Tidak ada jawaban. Alhamdulillah waktu itu saya dijemput oleh sahabat-sahabat saya, walau kemungkinan S-Bahn tidak jalan karena KTT G20 tetap ada. Mereka sudah saya kabarkan tentang kondisi Aa sebelumnya. 

Berita lebih buruk itu datang saat kami duduk di S-Bahn menuju kosan saya. Berita tersebut masuk ke WhatsApp lewat grup keluarga besar dari pihak Mamah dan Papah. Kejadian tiga tahun lalu pun berulang, saya nangis kencang di S-Bahn dengan koper-koper yang saya bawa. Sejak malam itu, saya belum pernah tidur sendirian, saya selalu menginap di teman atau di sepupu.

Malam itu adalah salah satu malam terberat dalam hidup saya, selain hari di mana saya harus kehilangan Papah. Sebelum perjalanan ke Indonesia.

Papah dan Aadit yang akur ya di sana, kami kangen kalian ❤❤

Perubahan

Satu setegah tahun lalu, saat pulang terakhir kali ke rumah, rumah saya berbeda dengan sekarang ini. Waktu itu kucing kami dibiarkan berkeliaran di taman belakang. Buang kotoran di sudut taman yang memang disediakat untuk itu. Mereka tidak punya kandang, jadi terserah mau tidur di mana saja boleh, asalkan tidak masuk rumah.

Kucing-kucing yang ada saat itu kini sudah tidak ada. Ada yang jalan-jalan sendiri lalu ga pulang, ada yang mati, ada yang kabur dari rumah karena ngambek. Umurnya mungkin sudah tua, Ibu Emong namanya. Karena warnanya cemong dan mukanya dua warna, memiliki garis pemisah tepat di tengah. Dia ngambek, lalu pergi dari rumah dan tersesat, karena diomelin setelah dia buang air besar seenaknya. Selama hidupnya, dia tidak pernah sekali pun keluar rumah, kecuali mungkin halaman depan, karena itu dia mungkin tersesat di pasar belakang rumah kami.

Karena itu, Adik saya membawa pulang seekor kucing lain bernama Ogel, yang hobinya jalan-jalan dan bisa pulang sendiri. Dia terkenal di lingkungan rumah kami, karena Mamah dan Adik dulu sering mencari dia sambil teriak-teriak di sepanjang jalan. Si Ogel ini bulunya bagus dan lucu mukanya, karena itu banyak majikan yang jatuh hati dan ingin kucing-kucingnya dikawinkan dengan dia.

Singkat cerita, kucing kami pun bertambah banyak. Saat ini ada enam. Mereka semua tinggal di halaman belakang, kalau malam mereka masuk ke kandang besar yang Mamah bangun di pojok halaman tempat di mana kucing-kucing generasi Ibu Emong buang air. Tiga kandang besar yang bisa dimasuki dengan leluasa oleh orang dewasa. Sebuah kandang lain bahkan besar dan muat untuk berpuluh-puluh kucing, kalau mereka mau berdesak-desakan.

Kandang kucing dan kucing-kucing tersebut adalah suatu perubahan besar di rumah kami, setelah satu setangah tahun saya tidak pulang. Selain itu, mereka juga baiknya minta ampun alias manja, maunya dikelonin. Mereka tahu di mana harus makan dan di mana toilet mereka. Halaman belakang jadi lebih enak, tidak bau dan enak ditempati. Garasi pun dipugar, dibagusin, dan Mamah membuat tiga papan besar yang digunakan untuk menutup tiga kandang besar kalau garasi sedang dipergunaan untuk acara, misalnya nikahan kakak saya kemarin.

Perubahan di halaman belakang bukan satu-satunya. Kamar di rumah sekarang nambah. Bahkan lebih besar dari kamar-kamar yang ada. Kamar tersebut adalah gabungan kamar kecil yang waktu saya kecil digunakan untuk asisten rumah tangga dan ruangan besar yanng dulu digunakan untuk mencuci dan di salah satu pojoknya ada sumur tua. Tempat di mana sumur itu berada kini berganti denga pompa air yang akan berdenyit kencang kalau ada keran air terbuka, oleh karena itu, pompa air akan dimatikan kalau ada yang tidur di sana. Sumur tersebut ada sewaktu saya masih kecil, mungkin sampai awal SD, sampai akhirnya direnovasi oleh Papah dan dijadikan gudang dan tempat cuci yang lebih layak. Sekarang berubah fungsi lagi dan menjadi kamar.

Tempat cuci dipindahkan di koridor depan kamar mandi di dekat situ. Salah satu dari dua kamar mandi belakang itu pun berubah. Awalnya dia memiliki sebuah bak mandi dan toilet jongkok, kali ini berubah. Toilet berubah jadi toilet duduk dan bak mandi hilang, karena memang sudah sejak lama tidak pernah ada yang mandi di sana dan bak selalu kosong. Sampai saat ini dia hanya beralih fungsi menjadi toilet pengganti, kalau kamar mandi di depan penuh. Kamar mandi di sebelahnya, yang memang tidak punya toilet, tidak berubah.

Papah pernah merenovasi rumah kami saat saya masih SD. Renovasi besar-besaran. Waktu itu, kalau tidak salah, salah satu pemicunya adalah jalanan samping rumah yang harus hilang karena masjid disebelah mau diperlebar, oleh karena itu, mobil kami tidak bisa masuk halaman. Gerbang depan rumah yang tadinya imut dan hanya untuk orang, diubah diperlebar agar mobil bisa masuk. Garasi mobil yang sebelumnya digunakan untuk garasi dan gudang pun dibongkar sekarang menjadi garasi yang tadi saya ceritakan di atas. Halaman di sampingnya yang dulu smepat diberikan tanaan merambat yang ternaya bikin gatal, kini lebih enak dan tidak bertanah, karena ditutupi konblon. Padahal, saat saya kecil, sebelum tanaman merambat itu ada, dia adalah taman yang indah penuh rumput dan tempat saya melakukan hobi mencari belalang. Hobi anak aneh.

Renovasi pertama tersebut dilakukan setelah Emak Uyut, nenek Papah meninggal. Kamarnya menjadi kamar saya sekarang. Tadinya hanya memiki dua pintu, sekarang tiga pintu. Papah juga menambahkan sebuah kamar mandi di ruang tengah, karena anak-anaknya takut ke kamar mandi belakang sendirian. Karena kamar tidur terbatas, Papah membuat kamar tidur kakak lebih besar. Yang tadinya hanya untuk satu orang, kini memilki dua tempat tidur.

Dapur sayangnya saat itu tidak berubah banyak, kecuali dinding besar di sisi menghadap ke meja makan dibongkar di tengah, agar yang masak bisa sambil nonton TV. HAHAHA. GA deh, agar makanannya bisa langsung ditransfer ke meja makan tanpa harus muter dan masak yang ringanjuga tidak harus masuk dapur. Dulu dia memiliki lantai ubin berwarna gelap. Hampir ke hitam, dengan motif timbul yang aneh. Jujur, saya geli dengan hal tersebut. Saya tidak akan masuk ke dapur tanpa sendal, karena tidak juga dengan sensasi motif timbul tersebut di kaki, dan warna hitam membuatnya terlihat selalu kotor.

Sekarang berubah. Lantai keramik warna kuning cerah dan tembok di sisi menghadap meja makan itu dihancurkan menjadi sebuah jalan masuk, sehingga dapur memiliki dua pintu dan lebih terbuka, lebih bercahaya dan terlihat lebih bersih dibandingkan sebelumnya. Sayangnya, dengan dibuatnya sebuah jalan baru berarti Arbeitsflaeche berkurang. Tadinya luas dan bisa kerja di mana saja, sekarang hanya ada dua sisi. Yang harus diubah sekarang menurut saya adalah tempat cuci piring, terlallu rendah dan membuat saya sakit pinggang kalau mencuci piring.

Perubahan pertama yang Papah lakukan membuat rumah tidak lagi terlihat seperti di mana saya menghabiskan masa kecil saya. Lebih modern dan lebih gersang, karena banyak tanaman yang dikorbankan untuk membuat pelebaran jalan masuk mobil. Pohon mangga besar juga hilang, walau anaknya masih ada sampai sekarang dan masih berbuah. Pohon rambutan yang kala itu tidak berbuah, kini berbuah lebat setelah sebelumnya digantungkan sebuah ayunan, yang sisi lainnya digantungkan ke pohon mangga besar tesebut dan tidak pernah absen kami mainkan. Entah ada hubungannya ada tidak, sejak itu, pohon rambutan kami tidak pernah tidak berbuah lebat di musimnya.

Saya lahir dan besar di sana dan sampai saat ini saya melihat banyak perubahan signifikan di sana. Lebih nyaman dan lebih bersih. Seandainya Mamah tidak memaksakan diri untuk mengubahnya, pasti rumah kami hanya akan semakin tua dan rapuh. Semakin kotor dan semakin tidak layak huni. Mamah kemarin bilang, Mamah cuman mau agar anak Mamah nanti tidak malu saat mengajak orang lain (terutama keluarga pasangan) datang ke rumah. Dan Beliau melakukannya dengan baik.

Saya masih ingat dengan baik bagaimana rumah kami berubah selama tiga puluh tahun terakhir, terutama sejak tujuh tahun terakhir saya tidak di rumah. Setiap saya pulang, ada saja perubahan yang terjadi dan membuat saya harus mengeksplorasi setiap kalinya. Saya tidak tahu nih, perubahan apa lagi yang sedang direncanakan Mamah untuk menjadikan rumah kami lebih nyaman lagi.

Oh iya, baru ingat nih. Di rumah kami pernah ada kandang kelinci besar juga. Di halaman, panjangnya dari bekas pohon mangga besar ke pohon rambutan. Di dekat situ masih disisakan tanah yang diberi pembatas dan digunakan untuk kandang kelinci. Kandang tersebut setengah berada di halaman depan, dan setengah lagi di garasi, dan ada sebuah rumah mungil untuk mereka. Sayangnya kelinci-kelinci tersebut terkhir terkena penyakit kulit, karena tanah yang becek dan kotor tersebut.

Sekarang sebenarnya tidak perlu kuatir jika kucing-kucing di rumah tidak sehat atau butuh mandi, karena ada dokter hewan yang ada 24 jam dan bisa mengangkut mereka ke klinik Laras Satwa Tangerang miliknya. Bahkan, di salah satu sudut halaman belakang ada kontainer yang di atasnya tergeletak suntikan dan obat juga paspor hewan untuk mereka. Yup, dokter hewan tersebut adalah kakak saya sendiri. Buat kalian yang hewanna butuh bantuan, bisa menghubungi kliniknya. Mahahah jadi iklan.

Perubahan tidak hanya terjadi di rumah kami saja. Saya saat menuliskan ini sedang ada di kampung halaman ibu saya di Sumedang. Dulu di rumah sepupu saya ini ada dua balong besar yang sering digunakan keponakan-keponakanan saya si anak kota untuk main air. Sekarang sudah berubah. Salah satu balong berganti enam kolam besar yang tadinya mau digunakan untuk ternak bibit ikan. Sekarang hanya satu kolam yang terisi, sisanya keringm seperti juga balong sebelahnya.

Di sisi lainnya juga ada bekas kolam renang yang sudah kering. Dulu di sana sempat diubah menjadi kolam renang komersil, yang sayangnya tidak terlalu laku. Di atasnya kini dibangun rumah Uwa saya, karena rumah Beliau terkena gusur untuk kepentingan waduk Jatigede. Kunjungan ini adalah kunjungan pertama saya setelah empat tahun lalu di tahun 2013. Waktu itu untuk pertama kalinya saya pulang dari Jerman setelah dua setengah tahun. Dan karena kangen, kami sekeluarga ke sana. Saya masih ingat betul, keponakan-keponakan saya masih kecil waktu itu. Papah saya masih ada dan masih ikut masuk balong nemenin cucunya, yang suka mogok karena gengsi

Waktu perjalanan dari Tangerang ke Sumedang pun saya melihat banyak perubahan. Di Tangerang sendiri sekarang ada bangunan baru sebelum masuk tol Tangerang. Entah bangunan apa, saya tidak dapat melihatnya dengan jelas. Tapi Jakarta tidak terlalu banyak berubah. Kantor Papah saya masih terlihat seperti dahulu, saya masih mendongak untuk melihat gedung tinggi itu dari dekat. Dahulu saya sering mencoba menghitung lantainya di mana tempat Papah kerja. Tapi di depannya itu memang sejak 10 tahun sudah berubah, ada sebuah gedung baru yang saat saya masih kecil tidak ada. Lewat sana membuat saya ingat masa lalu. Gedung-gedung di mana anak-anak teman Papah menikah dan kami makan enak.

Tadi malam saya baru tahu, ada sebuah jalan tol baru telah dibangun. Jalan tol Cirebon-Palimanan atau apalah namanya. Membuat perjalanan ke Sumedang lebih singkat, padahal dulu rasanya sering emosi kalau ke sana karena macet dan waktu tempuh yang panjang. Dari Depok kami berangkat jam 22 dan jam 3 pagi sudah sampai Sumedang. Iya lima jam memang lama, tapi dulu itu lebih lama. Seandainya Papah masih ada, Beliau pasti akan senang sekali.

Tinggal jauh dari rumah membuat saya lebih merasakan perubahan-perubahan yang terjadi selama saya pergi dan membuat saya lebih menghargainya. Dan memang, kehidupan itu dinamis, perubahan itu akan selalu ada, baik kita sadar atau tidak.

Perubahan apa yang baru-baru ini kalian rasakan di sekitar kalian?

Yeay, Indonesia Lagi!

Sejak dua minggu lalu gue tiba di rumah. Sengaja memang di saat semester belum berlalu dan lebaran masih lama, karena kakak gue hari minggu (14/5) menikah. Yeay. Alhamdulillah. Mereka dengan baik hatinya mau nunnguin gue pulang, agar semua anggota keluarga berkumpul. Smooch.

Tidak seperti biasanya, gue terhindar dari bahaya laten diare. Mungkin karena gue memang sedang tidak ingin makan sambel dan sudah sadar dari pengalaman sebelum-sebelumnya: gue akan diare kalau makan sambel di sini. Malam pertama di rumah bisa gue lewatkan tanpa insomnia, gue tidur sebelum tengah malam dan bangun normal jam delapan atau sembilan pagi. Siang harinya gue ngantuk banget, tapi masih beranggapan itu bukan jetlag cyin. Waktu di pesawat dari Hamburg ke Dubai itu memang gue sengaja engga tidur, biar capek dan di rumah langsung tidur. Jadi, gue hanya total tidur selama empat jam selama total perjalanan (dengan transit) 17 jam.

Mengira tidak jetlag, tapi kok gue jadi tidur melulu ya. Hari-hari berikutnya tidak gue lalui tanpa tidur siang. Atau tidur jam sembilan malam, kebangun tengah malam lalu tidur lagi jam dua atau tiga pagi. Paling parah saat malam sebelum kakak gue menikah. Gue tidur jam sembilang malam dan terbangun kelapanan pada tengah malam. Niatnya tidur setelah makan tengah malam, eh.. tepat banget saudara-saudara gue dari Sumedang datang. Rameee rameee dan gue pun tidak tidur lagi, walau semua orang pada akhirnya sempat tidur lagi sampai subuh.

Gue bukan orang yang bisa dengan mudah bangun tengah malam atau subuh, jadi, dari pada nanti gue susah bangun atau grumpy karena tidur terpotong, jadilah gue engga tidur. Hebatnya, atau karena memang terbiasa karena tesis kemarin, gue engga ngantuk, sampai setelah acara resepsi selesai. Menjelang maghrib gue tepar dengan sukses dan  terbangun jam malam-malam. Derita jetlag tidak berakhir ternyata.

Anyway, gue di Indo sampai habis lebaran. Hore pulangnya tumben (sedikit) lama. Kalau pertanyaan teman kosan gue mah, “Lo ga kuliah?”. Kagak cyyyiin, Alhamdulillah akhirnya gue lulus kuliah juga. Setelah perjuangan panjang itu. Setelah kurang tidur berbulan-bulan dan tiap malam didatangi oleh profesor dan tesis di alam mimpi.

Ijazah gue tapi belum jadi, karena nilai gue pun baru keluar dua minggu lalu, tepat saat gue akan terbang pulang. Untuk nilai tesis tersebut gue harus menunggu selama dua bulan. Profesor-profesor gue sibuk, jadi tidak bisa langsung mengeluarkan nilai. Apa lagi ujian lisan gue bukan tentang tesis, tetapi tentang  tiga tema lain yang berkaita dengan tema yang pernah gue ambil selama kuliah. Karena itu, profesor-profesor memiliki waktu yang lebih leluasa untuk menilai tesis gue. Semakin lama profesor menilai tesis, semakin lama ijazah gue keluar, yaitu enam sampai delapan minggu setelah gue daftar ijazah. Iya daftar, kalau gue engga daftar dengan mengisikan formulir khusus, engga akan diproses-proses deh tuh si ijazah, karena bagian TU engga tau apakah mahasiswanya masih harus mengikuti ujian di mata kuliah pilihan.

Oh iya, bulan lalu gue liburan ke Venesia. Selain tentang itu, gue juga mau menulis tentang liburan kali ini di Indonesia dan suka duka nulis tesis kemarin. Tidak hanya itu, gue juga masih ada hutang masukin foto-foto ke tulisan tentang liburan ke tiga negara di laut Baltik Oktober lalu. Semangat!

Mengingat Lewat Tulisan

Seharusnya gue belajar, karena minggu depan gue akan ujian lisan. Tadi siang seharian melawan ngantuk sambil belajar, karena gue sudah bangun dari jam lima di tempat kerja. Begitu kantuk hilang, gue malah iseng buka blog. Iseng mau nulis tentang kata-kata kunci dari Google yang masuk ke blog gue. Lalu iseng baca lagi tulisan-tulisan sejak sampai di Jerman. Sampai akhirnya gue terbawa suasana dan menghabiskan waktu tiga jam terakhir membaca semua itu.

Gue tau gue puitis dan romantis. Halah. Gue baca lagi beberapa tulisan yang bisa menjadi argumen gue untuk pendapatan gue tentang diri sendiri itu. Pernah di suatu masa, gue selalu mengirimkan tulisan super pendek ke orang yang bersama gue saat itu, sore ini gue teringat jawaban dia: “du bist meine kleine Poetin”. Kamu penulis puisi.

Baca tulisan-tulisan lama ternyata bisa membuat gue galau sendiri. Aneh ya, gue yang nulis tapi gue yang tersihir sendiri sampai galau. Selain itu gue juga galau, karena banyak hal indah di masa lalu yang tidak bisa gue kembalikan di masa sekarang dan/atau masa depan. Gue sering menulis tentang Papah di tahun 2014. Ada sebuah dan beberapa tulisan tentang Beliau yang tidak berani gue baca ulang sampai sekarang, karena  gue tau, begitu gue “berani” membacanya, gue akan remuk redam sendirian. Dari beberapa tulisan yang saya tulis tentang Beliau, gue hanya membaca beberapa, salah satunya adalah tentang bubur yang selalu Beliau beli untuk anak-anaknya kalau salah satu kami ada yang sakit. Tulisan dari tahun pertama gue di Jerman itu mampu membuat hati gue sesak dan mata gue panas. Ich vermisse Dich, soooo sehr, Pah!

Ada tulisan yang membuat gue mau ketawa kencang, tapi tidak mungkin, karena gue sedang di perpustakaan. Tulisan tentang percakapan random dengan di mantan pacar. Kok dulu seru banget ya sama dia. Dan gue menghayati banget, sampai selain tulisan tentang percakapan random itu, juga banyak tulisan berbau-bau cinta yang katanya manis. Atau tulisan tentang gue saat putus dari dia saat itu. Gilanya, gue masih menulis tentang dia sampai tiga tahun lalu. Betah amat, Jeng.

Selain dia, gue bisa mengidentifikasikan orang-orang lain yang gue tulis puitis di sana. Gue suka sekali dengan metafora dan itu gue tampilkan sebanyak-banyaknya di setiap tulisan gue. Kadang gue sendiri bingung dengan yang gue tulis. Memang ada tiga tipe metafora, salah satunya adalah metafora pribadi, contohnya ya yang gue gunakan di setiap tulisan gue. Kalau gue mengerti metafora-metafora tersebut, biasanya gue akan ingat kembali apa yang gue rasakan dan pikirkan saat gue membuatnya. Kok bisa ya gue menyambungkan semuanya.

Saat membaca ulang, gue terkadang takjub sendiri. Kok bisa ya gue menulis bagus kaya gitu. Bukan sombong, bukaaaaannn, tapi lebih ke heran. Apa lagi melihat gue sekarang yang sudah maaaalaaass sekali untuk menulis. Okay, bukan malas sih, tapi ga ada waktu dan ga ada ide. Dan gue merasa tulisan gue engga sebagus dahulu lagi. Garing banget sekarang, itu lagi itu lagi kata yang gue gunakan. Metafora juga tidak sebanyak dan sebadai dahulu. Mungkin ini terjadi karena gue sedang tidak jatuh cinta dan tidak sedang patah hati? Karena biasanya mereka itu menjadi alasan terbesar gue nulis puitis. Berarti gue ga ada bakat untuk jadi penulis, ya?

Gue bikin blog untuk menyimpan kenangan untuk diri sendiri. Dan hari ini gue membuktikannya. Gue seperti berada di mesin waktu dan mundur kembali ke masa gue pernah ada. Saat gue menulis tentang bubur malam dan Papah, gue sedang sakit di tempat keluarga AuPair gue. Gue jadi teringat kembali bagaimana kamar gue di sana. Bagaimana bunga tulip merah muda di atas meja di dalam vas bunga putih. Tulisan tentang percakapan random, membuat gue kembali ingat bagaimana dapur apartemen dia, saat percakapan itu terjadi. Seru, ya?

Hal itu menjadi pengingat kembali untuk terus menulis di sini. Jangan diabaikan blog yang umurnya udah entah berapa tahun. Karena dari sini gue akan terus “hidup”, walau gue nanti sudah entah berada di mana. Dan mereka akan menjadi mesin waktu untuk mengingat hal yang dalam kehidupan sehari-hari sudah mulai luntur dari ingatan gue. Selain bisa jadi pengingat bagaimana gaya menulis gue berubah. Bagaimana penggunaan bahasa gue berubah dari waktu ke waktu. Mungkin gue juga bisa mengenal diri sendiri lebih baik lagi lewat tulisan-tulisan gue sendiri.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengingat masa lalu. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyimpan masa ini. Salah satunya lewat tulisan di blog ini.

Selamat menulis.

 

AAI Uni Hamburg, 8 Maret 2017.

Tulisan di Awal Tahun 2017

Hallo Zusammen! Habt ihr ins neue Jahr gut gerutscht?

Selamat taon baru semua! Kemarin ngapain waktu tahun baru?

Biar mainstream, blog gue dibuka pakai Floskel begituan dan: “ini tulisan pertama gue di tahun baru”. Biar tingkat kepentingan tulisan ini naik lima kali lipat. Yiuk.

Anyway, janji palsu ya gue, sampai saat ini belum masukin foto ke tulisan tentang liburan musi gugur kemarin. belum sempet Cyin. Lagi panas-panasnya nih gue dengan si tesis, sampai yang dipikirin selama 24 jam dia doang. Iyes doang 24 jam, sampai kebawa mimpi.

Kalau dulu gue ngegombalin lelaki dengan bilang, “Du bist mein erster Gedanke, wenn ich am morgen aufwache. Und mein letzter Gedanke, bevor ins Bett gehe,” sekarang semua itu pudaaaarr, berganti dengan tesis, tesis dan tesis.

Yaudin dah gitu doang, cuman mau ngisi absend doang. Ga penting yes. Doain ya pemirsah!

 

Siapa yang tadi pagi mencakar?

Tadi di tempat fitnes, untuk membuka percakapan dengan peserta, trainer kami bertanya, “Wer hat heute morgen gekratzt?” dan beberapa dari peserta yang memiliki mobil pribadi mengangguk sambil mengeluh.

Secara literaris pertanyaan dia diterjemahkan menjadi: “siapa yang tadi pagi menggaruk/mencakar?” Selanjutnya saya akan menggunakan istilah “mencakar” saja. Pertanyaan ini memang terdengar aneh, apa lagi jawaban dari pertanyaan tersebut adalah anggukan dari peserta yang memiliki mobil pribadi sebagai sarana transportasi, misalnya dari rumah ke tempat fitnes. Oleh karena itu, untuk mengerti pertanyaan tersebut harus diketahui konteks pertanyaan dan juga pengetahuan dasar yang bisa melatarbelakangi pengajuan pertanyaan tersebut.

Seminggu terakhir ini cuaca di Hamburg semakin dingin, begitu juga tadi pagi, semua beku terselimuti es, seperti dedaunan (baik yang masih di ranting pohon atau yang sudah berjatuhan di tanah), jalanan, selain itu juga kaca mobil. Terutama bagian depan. Sebelum menggunakan mobil, biasanya pengendara mobil akan menghilangkan es tersebut dengan sebuah alat semacam sekop tapi bentuknya kecil, pas sekali ukurannya untuk tangan, seperti foto di bawah ini.

Alat Eiskratzer (pencakar es) ini ditekan dengan kemiringan 45 derajat dari kaca, lalu di dorong sampai es yang menempel di kaca ikut terbawa pergi dari kaca mobil. Prinsipnya sama seperti menghilangkan es di jalanan dengan penggunakan sekop.

eiskratzer-muessen-grossen-druck-aushalten-und-gut-in-der-hand-liegen

Eiskratzer – pencakar es

Alat tersebut dinamakan Eiskratzer atau “pencakar es” dan kegiatan menghilangkan es dari kaca mobil adalah Eis kratzen atau “pencakar es”. Jika kita mengetahui situasi yang melatar belakangi pertanyaan”siapa yang tadi pagi mencakar?”, tentu saja kita bisa langsung mengerti makna sebenarnya dari “mencakar” pada pertanyaan di atas.

Konteks yang mempengaruhi sebuah ungkapan seperti di atas adalah situasi ungkapan yang relevan dan berguna untuk pemahanan manusia. Termasuk ke dalamnya adalah pembicara dan lawan bicara, waktu, dan tempat (Meibauer 2001: 1-10). Maka dari itu, tidak heran jika peserta fitnes langsung mengerti apa yang dibicarakan trainer kami, karena syarat-syarat konteks situasinya relevan.

Kita, sebagai orang Indonesia, tentu akan kesulitan untuk memahami ungkapan tersebut, karena negara kita tidak bersalju dan kita belum pernah mempunyai pengalaman membersihkan es dari kaca mobil. Saya sendiri memerlukan waktu beberapa detik, sebelum mengerti pertanyaan tersebut, karena terakhir kali saya membersihkan kaca mobil dari es adalah tahun 2011 dan sejak itu tidak pernah lagi berurusan dengan mobil dan es.

Dalam linguistik, ilmu yang digunakan untuk memahami sebuah ungkapan berdasarkan situasi konteks ungkapannya adalah ilmu pragmatik. Jangan tertukar dengan semantik, yang hanya membedah sebuah ungkapan berdasarkan makna literarisnya, ya. Salah satu contohnya sudah saya jabarkan di atas. Jika dilihat dari makna semantik, tentu saja pertanyaan di atas tidak relevan dengan situasi di tempat fitnes, juga terdengar aneh: untuk apa trainer ingin mengetahui siapa yang tadi pagi mencakar? Dan objek yang dicakar tadi pagi juga tidak jelas dalam pertanyaan tersebut.

Kata kunci dari pragmatik adalah ungkapan dan konteks situasi, selain juga kognitif, sosial, kebudayaan, makna non-literaris, Halliday, non-gramatik dan fungsi. Kata kunci yang terakhir ini sangat penting, tanpa pragmatik, sebuah ungkapan tidak dapat dimengerti. Jika ungkapan tersebut tidak dimengerti, fungsi bahasa tidak berjalan. Hanya sebagai susunan kalimat. Tanpa fungsi bahasa, tentu saja tidak akan terjadi komunikasi.

Jika pertanyaan “siapa yang tadi pagi mencakar?” ditujukan kepada sekumpulan orang Indonesia yang baru seminggu datang dari Indonesia, tentu saja tidak akan terjadi komunikasi yang sebenarnya diharapkan pembicara. Yang ada semua akan senyum malu-malu dan mengangguk-angguk saja, walau tidak mengerti.

Oleh karena itu, ketika mendengar sebuah ungkapan,maknailah dengan melihatnya juga dari situasi yang melatar belakanginya.