Neraka Kecil yang Ku Rindukan

Dulu sewaktu kami kecil, kami sangat takut kepadamu. Kamu galak dan selalu marah kepada kami tanpa sebab. Aku ingat suatu hari kamu pulang kerja lebih cepat, lalu mencari sebuah buku catatan yang sampai saat ini pun aku tidak tahu bagaimana bentuknya. Kamu membentak semua orang dan menyuruh kami mencarinya. Entah apa isinya, tapi bagimu buku catatan ini sangat penting. Aku ingat waktu itu meringkuk di pojok sofa di depan televisi, saat kamu membuka semua laci dan lemari di rumah.

Lalu kamu berubah, saat kami beranjak dewasa. Hatimu melunak, bahkan saat kami terkadang mengejek mencandai kamu, kamu hanya pergi ke belakang. Aku tahu saat itu kamu berusaha meredakan nafsu amarahmu. Aku sadar, jika saat itu kami meneruskan candaan itu, maka malam itu kita tidak akan tertawa-tawa lagi. Kamu menjadi jauh lebih baik, tapi tentu saja masih ada batas yang tidak bisa kami ubah sebagai anakmu.

Saat kamu menjadi orang yang lebih baik dan sabar kepada anak-anaknya, aku harus meninggalkan rumah karena kuliah di kota lain. Adikku, anak bontot kesayanganmu, lah, yang akhirnya menjadi dekat denganmu. Kalian sering pergi ke mall berdua di akhir pekan. Dede yang waktu itu tidak bisa menyetir, akhirnya seperti mempunyai supir pribadi, karena kamu yang mengantar dan menemaninya ke mana-mana. Kamu kadang bolak-balik ke Bandung juga, menjengukku di kosan bersama Mama dan Dede sekalian jalan-jalan di sana. Tidak sering, tapi cukup. Terutama saat Dede akhirnya juga berkuliah di universitas yang sama denganku. Kita akan ke mall atau sebelum kembali ke rumah mampir dulu ke adikmu yang tinggal di dekat sana.

Semua teman-temanku yang mengenalmu selalu bilang engkau terlihat lebih muda dari umurmu. Mungkin karena kamu sering berolahraga dan menjaga makananmu. Tapi tetap saja kita kecurian. Kamu sakit dan tidak bisa menjadi dirimu sendiri yang sebelumnya melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain, terutama anak-anakmu. Kartu kita terbalik, aku yang baru lulus kuliah menjadi supirmu. Dulu kamu yang mengantarkanku ke tempat ujian SPMB atau undangan nikahan teman di Jakarta dan menungguku di tempat parkir, kali ini aku yang menunggumu di tempat parkir kantormu di Jakarta. Aku melakukannya dengan ikhlas tanpa keluhan. Tahun terbaik bersamamu, sebelum aku pergi melihat sisi lain dunia.

Satu minggu lalu di hari ini, tiba-tiba Dede menemukan secarik surat cinta darimu untuk kami. Surat tersebut seharusnya kami terima 11 tahun lalu saat dia sampai ke rumah. Penyesalan dan permintaan maaf darimu atas kemarahan-kemarahan yang sudah kamu luapkan ke kami dahulu. Kamu bilang kamu kamu berusaha menambah kesabaran, walau terkadang sulit. Kamu pun menitipkan salam dan permintaan maaf untuk kedua kakak kami dan Mama.

Ini semua sulit aku terima. Surat tersebut tersimpan selama sebelas tahun di lemari baju Mama. Kamu tidak pernah tahu, bahwa surat tersebut baru kami baca enam tahun sejak kamu meninggal atau tiga tahun sejak kakak lelaki kami menyusulmu. Aku membayangkan bagaimana kamu melalui hari-harimu setelah mengirimkan surat tersebut. Apakah kamu, sampai kepergianmu, masih mempunyai penyesalan itu dan masih menganggap kami membenci kamu, karena kamu tidak pernah menerima jawaban dari kami? Maaf, kamu mungkin menghabiskan sisa hidupmu dengan penyesalan dan pertanyaan. Semoga kamu sudah meminta maaf secara pribadi ke Aa di tempat kalian berada sekarang, karena dia juga tidak pernah tahu akan surat darimu.

Menemukan surat cinta tersebut seperti bertemu kembali denganmu sejak sekian lama. Seakan-akan kamu datang dan memberikan kabar yang sebelumnya tidak pernah kami dengar. Menghapus kangen tetapi juga menambahkannya. Aku teringat malam itu, ketika kita duduk-duduk di teras belakang rumah. Seingatku aku masih duduk di SMA saat itu, kamu sudah menjadi Papah penyabar yang selalu tersenyum. Kita sudah semakin dekat karena kamu berusaha untuk dekat dengan kami. Saat itu, untuk pertama kalinya aku jujur ke kamu, aku pernah menganggapmu sebagai neraka kecil yang menakutkanku, bahkan saat mendengar suara klakson mobilmu setiap kamu pulang kerja agar kami membukakan pintu pagar. Maafkan aku menyakitimu di malam itu. Maafkan kami tidak pernah menjawab surat terakhir dan mungkin satu-satunya darimu.

Kami menyayangimu juga memaafkanmu, sebelum kamu memintanya. Dan aku merindukan kiamat kecil itu untuk datang lagi dengan mobilnya sepulang kerja.

 

Kenangan enam tahun kepergian Papah tercinta.

12 Oktober 1949 – 20 Juli 2014

 

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Wabah Covid-19 di Jerman

Hari ini seharusnya adalah hari yang saya tunggu-tunggu sejak lama, namun karena pandemi virus Corona semua amblas. Keluarga saya seharusnya tiba kemarin siang di Amsterdam dan seharusnya kami hari ini menikmati hari berjalan-jalan di taman bunga Keukenhof di Belanda sana. Akibat virus Corona keluarga kami membatalkan kunjungannya bulan Maret ini. Lebih baik aman di rumah dari pada kena atau menyebarkan virus di perjalanan. Terlebih lagi ibu kami punya riwayat penyakit astma kronis. Pembatalan ini juga diperkuat dengan kenyataan Eropa dalam lockdown. Perbatasan Belanda dan Jerman masih terbuka (Jerman menutup beberapa perbatasannya, setelah negara tetangga menutup perbatasan dengan Jerman), tapi Jerman dan negara-negara Uni Eropa sudah melarang warga dari negara-negara luar masuk. Untuk orang-orang dari negara luar Uni Eropa yang mempunyai izin tinggal/kerja yang lama di sini masih boleh masuk dan menetap. Karena alasan tersebutlah kami memutuskan untuk menunda keberangkatan keluarga saya ke Belanda. Btw, taman bunga Keukenhof juga tutup. Mereka tidak bisa bilang kapan akan buka kembali. Saya juga baca di berita, setiap harinya ada jutaan bunga dihancurkan di Belanda karena tidak ada yang beli.

Masuknya Virus Corona ke Jerman
Di Jerman sendiri sudah lebih dari 50 ribu orang terinfeksi virus baru ini (57.298 orang per 30 Maret 2020, sumber: RKI). Jumlah ini meningkat pada awal Maret karena saat itu liburan sekolah dan banyak orang-orang Jerman berwisata ski ke Tirol (Austria) dan Italia, yang pada saat itu sudah banyak korban virus Corona. Waktu itu ada satu perempuan dari Cina datang untuk memberikan seminar di sebuah perusahaan yang letaknya di dekat Munich. Dia merasa kurang sehat tapi masih bugar. Saat dia kembali ke Cina, dia dites positf terjangkit virus Corona. Tanggal 27 Januari kementerian kesehatan Jerman melaporkan kasus pertama: salah satu karyawan di perusahaan tersebut. Dia adalah pasien pertama dan perempuan dari Cina itu adalah pasiel nol. Sampai sebulan kemudian pemerintah sudah ga sanggup lagi menelusuri orang-orang yang pernah kontak dengan pasien pertama tersebut dan jumlah yang terjangkit menjadi seribu orang.

Daerah yang paling banyak korban berlokasi di wilayah Heinsberg di negara bagian North Rhine-Westphalia (NRW). Akhir bulan Februari ada sepasang suami istri yang terinfeksi dan mereka melaporkan bahwa 10 hari sebelumnya mereka berada di karnaval di Heinsberg. Seharian mereka berpesta dan bertemu banyak orang, yang sudah tidak bisa ditelusuri lagi siapa saja mereka. Di sanalah virus ini menyebar dan membuatnya menjadi zona merah, karena pada tanggal 10 Maret sudah ada 323 orang terinfeksi virus Sars-Cov-2. Sekarang (29/03) menurut Robert Koch Institut (RKI) di negara bagian NRW ada 11.400 kasus dengan korban meninggal 98 orang. Di Hamburg (29/03) ada 1.846 kasus dengan empat korban meninggal. RKI adalah institusi pemerintahan di bawah kementerian kesehatan Jerman. Tugas utamanya adalah meneliti penyakit-penyakit, terutama penyakit infeksi, bagaimana penanggulangannya, tindakan preventif juga memberikan masukan untuk kebijakan-kebijakan politik yang menyangkut dengan kesehatan. Kalau tidak salah, tiga kali dalam seminggu ketua RKI melakukan konferensi pers dan tanya jawab yang juga disiarkan langsung di Youtube.

PicsArt_03-29-10.32.22

Untuk keamanan supir bus, penumpang tidak boleh mendekat dan tidak boleh masuk dari pintu depan.



Keputusan Lockdown
Sejak korban masih sekitar dua ribu (13/03) masing-masing pemerintah negara bagian memberikan keputusan untuk menutup tempat-tempat umum, awalnya hanya taman kanak-kanak, sekolahan, universitas, dan kantor, yang akan tutup mulai hari senin, tanggal 16 Maret. Kebetulan universitas saya memang sedang libur semester musim dingin, sampai akhir Maret, namun sehubungan dengan keputusan pemerintah daerah ini, libur semester diperpanjang sampai tanggal 20 April dan perpustakaan kami pun tutup sampai tanggal yang sama. Dengan kata lain, tidak akan ada buku-buku perpustakaan yang bisa dipinjam dan dikembalikan, untuk buku-buku perpustakaan yang jatuh tempo pada rentang waktu tersebut tidak akan dikenakan denda. Menyesal juga sih, hari selasa sebelumnya saya baru saja mengembalikan buku perpustakaan yang sudah jatuh tempo empat hari. Tau gitu kan ga usah dikembalikan dan engga akan kena denda.

Hari minggu (15/03) keluar keputusan baru dari pemerintah pusat seiring dengan Bu Markel melakukan konferensi pers. Beliau menyesalkan sekali, bahwa pemerintah harus membuat banyak larangan-larangan yang tidak sesuai dengan asas demokrasi yang menjadi pegangan mereka, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali mengeluarkan larangan-larangan tersebut dan menutup lebih banyak tempat-tempat umum. Merkel juga meminta rakyatnya untuk bersabar dan menekankan, bahwa virus Corona ini hal yang serius dan semua orang harus menanggapinya dengan serius. Saat menunggu Ibu Merkel berbicara untuk publik tentang keputusannya rasanya deg-degan sekali, mirip seperti saat menuggu Pak Soeharto berpidato tentang pengunduran dirinya tahun 1998 lalu 🙂

Sebelum konferensi pers dari Merkel, pemerintah negara bagian Hamburg sudah mengeluarkan pengumuman akan menutup tempat-tempat umum seperti tempat fitnes, kolam renang, perpustakaan, sauna, pub, museum, tempat kursus juga rumah bordel mulai tanggal 16 Maret sampai dengan tanggal 30 April. Pada hari senin (16/03) masih ada toko-toko baju yang masih buka di mall dekat rumah saya, hari selasa semua tutup. Di kota-kota di Jerman Kontaktverbot alias larangan bertemu diperketat. Tidak ada yang boleh keluar rumah, kecuali untuk belanja makanan atau kebutuhan sehari-hari dan pergi kerja, jika tidak memungkinkan kerja di rumah. Beberapa restauran sudah mulai tutup. Untuk yang masih buka harus menerapkan jarak duduk minimal 1,5 meter dan lebih baik untuk dibawa pulang atau pesan antar. Orang-orang masih boleh berkumpul di tempat umum dengan jumlah maksimal enam orang dan jarak aman harus diterapkan.

Tidak sampai satu minggu, hari jumat tengah malam (20/03) pemerintah negara bagian Bayern menerapkan Ausgangssperre, larangan masuk ke atau keluar dari suatu tempat umum. Polisi turun tangan untuk mengawasi “tahanan rumah” tersebut. Di negara-negara bagian lainnya masih berbentuk Kontaktverbot yang tambah diperketat dan baru dimulai dari hari senin (23/03) setelah konferensi press dari Merkel malam sebelumnya. Bayern menerapkan denda sebesar 25.000 Euro untuk orang yang melanggarnya, denda di tempat lain ada yang nilainya sama dan diatur sendiri oleh negara bagiannya.

Sejak pertengahan Maret Jerman juga menutup perbatasan-perbatasan daratnya dengan negara-negara tetangga. Ini juga merupakan tindakan lanjut dari negara-negara tetangga yang menutup perbatasannya dengan Jerman terlebih dahulu seperti Denmark, tetapi masih membuka untuk hal-hal penting, contohnya untuk transportasi barang-barang, pekerja-pekerja komuter, traveler yang numpang lewat dengan tujuan negara selanjutnya (dari Jerman orang bisa melakukan perjalan darat ke Swedia, Finlandia dan Norwegia lewat Denmark). Sudah seminggu ini juga Jerman menutup bandaranya untuk turis dari negara-negara luar Uni Eropa.

 



Lockdown di Jerman
Kami semua dilarang untuk keluar rumah kecuali untuk hal darurat, seperti pergi kerja, jika tidak bisa kerja di rumah; ke apotek, kantor pos, bank, dokter, pom bensin atau membantu orang lain, misalnya ngebelanjain orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok beresiko tinggi (di atas 60 tahun, lemah imun, dan punya penyakit). Banyak, loh, per orangan yang bikin “iklan” di pintu masuk apartemen nawarin bantuan untuk kelompok beresiko tinggi tersebut. Dengar-dengar, yang nawarin bantuan lebih banyak daripada yang memerlukan bantuan, loh. Kami juga masih boleh pergi jalan-jalan atau olah raga di ruangan terbuka, syaratnya: pergi sendirian atau maksimal dua orang (sebelumnya enam orang), kecuali jika memang tinggal bareng dalam satu rumah. Dengan kata lain, saya masih boleh pergi belanja bareng tiga orang teman apartemen saya atau jika satu keluarga isi enam orang tentu boleh pergi bareng. Hari ini ada berita, warga yang tinggal di dekat pantai di pelabuhan Hamburg kesal dengan orang-orang yang masih saja jalan-jalan atau olah raga di sana, mereka berharap pantai di sana juga ditutup.

Sudah seminggu ini restauran-restauran tutup, kecuali untuk yang drive-in, take away dan delivery. Yang saya perhatikan dari restauran burger dekat apartment, pelanggan menunggu di luar selama makannya dibuat. Saya ga tau apakah pesannya lewat telepon atau karyawan restauran keluar mengambil pesanan. Supermarket dan toko kebutuhan sehari-hari masih buka, walau banyak barang-barang yang kosong, seperti tisu toilet, tepung, dan susu. Di Aldi, supermarket dekat apartment saya, selain ketiga barang itu, pasta dan ikan sarden kalengan juga hampir kosong. Kalau mau beli barang-barang yang ga ada itu saya harus ke supermarket lebih besar yang jaraknya hanya 20 menit jalan kaki atau dua menit dengan kereta. Tapi di jaman virus Corona ini, siapa yang masih mau duduk di dalam transportasi umum dengan orang lain?

Minggu lalu saya masih rajin jogging di taman belakang rumah dan di sana masih ramai dengan orang atau keluarga yang masih jalan-jalan menikmati udara segar atau membawa hewan peliharaan jalan-jalan. Tidak terasa kalau sedang ada pembatasan keluar. Bereda dengan di supermarket, rasanya semua orang buru-buru dan panik, tidak se-chilli hari biasa. Apalagi banyak rak-rak yang kosong. Saat peraturan perketatan larangan keluar belum diperketat, saya pernah pergi ke toko yang jual obat, produk sanitasi dan pembersih, saat sedang mengantri kami diteriaki oleh petugas kasir untuk jaga jarak, “Saya tahu di sini sempit, tapi tolong tetap jaga jarak. Yang antri di belakang tolong jangan saling berdekatan!”. Duh, di situlah berasa sedang dalam keadaan perang.

Semua toko-toko yang masih buka menempelkan pengumuman mereka lebih memilih pembayaran dengan kartu, agar kasirnya tidak perlu berinteraksi fisik dengan pembeli. Kalau pun ada yang bayar pakai uang tunai, ada satu toko yang meminta uangnya diletakan di meja dan petugas kasir akan mengambilnya. Kasir-kasir di supermarket juga sekarang dilengkapi dengan fiber platik berwarna transparan, hanya di bawahnya bolong untuk lewatnya barang-barang belanjaan.

Seminggu lalu saya pulang kerja dengan menumpang kapal ferry. Kapal tersebut biasanya sangat ramai di hari minggu apa lagi kalau matahari bersinar seperti saat itu. Tapi saat saya di sana saya hanya ditemani oleh tiga penumpang lainnya. Pasar ikan yang letaknya di pelabuhan dan biasanya buka hanya di hari minggu dari subuh sampai menjelang siang pun tutup, meninggalkan lahan luas yang kosong melompong. Bahkan orang-orang yang berolahraga atau jalan-jalan pun tidak banyak.

Sudah dua minggu ini bus di Jerman melarang penumpangnya untuk naik lewat pintu depan dan beli tiket ke supir, untuk mengurangi interksi supir bus dengan penumpang. Jadi lebih bebas sih keluar masuk bus engga ada yang mengontrol, bisa jadi juga ada penumpang gelap. Di belakang supir bus dipalang dengan tali dan selembar pengumuman untuk tetap menjaga jarak dengan penumpang lain walau di bus sempit. Saya pribadi lebih memilih untuk duduk di tempat duduk yang di belakangnya ada pembatas kaca. Saya parno kalau di belakang saya ada orang dan dia ngomong lewat telepon atau dengan orang sebelahnya, saya nanti yang kena cipratan air dari mulutnya.

Kereta api mulai kosong saat itu (saya sudah seminggu hanya pergi ke tempat-tempat dekat rumah). Kalau mau naik dan turun saya nunggu orang lain untuk menekan tombol pintu, di sini ga buka otomatis, cyin. Di stasiun akan ada pengumuman kencang untuk tetap menjaga jarak di dalam kereta dan berhati-hati. Ah, kondisi kaya gini ini nih yang bikin orang panik, tapi memang penting harus diingetin terus, sih. Ini juga bikin saya ngerasa lagi perang. Memang benar sih, kita perang melawan protein super kecil dan kasat mata.

Oh iya, jadi bedanya lockdown di Bayern dan Hamburg (beda negara bagian bisa beda peraturan, tapi hanya Bayern yang menganut hard lockdown) adalah:
Bayern:
– Tidak boleh bertemu dengan kenalan di tempat umum
– Tidak boleh mengundang teman
– Tidak boleh menerima bantuan dari orang di luar rumahnya saat lagi pindahan rumah
– Boleh olahraga dan jalan-jalan di luar asalkan sendirian atau dengan orang serumah

Hamburg:

– Boleh bertemu dengan kenalan di tempat umum (ingat, hanya maksimal berdua)
– Boleh mengundang teman
– Boleh menerima bantuan dari dari satu orang di luar rumahnya saat lagi pindahan rumah
– Boleh olahraga dan jalan-jalan di luar asalkan sendirian atau dengan orang serumah



Kriminalitas di Jerman
Jumlah perampokan di Jerman menurun seiiring dengan banyaknya pekerja yang harus bekerja di rumah (orang Jerman menyebutnya dengan home office bukan work from home). Ada kasus perampokan di sebuah kios di kota Karlsruhe, tidak ada barang berharga yang diambil, hanya bahan makanan, produk pembersih dan sanitasi. Pencurian desinfektan dan masker juga terjadi tidak 3-4 kali di Jerman, melainkan sering dan lokasinya di rumah sakit dan kantor polisi. Desinfaktan dan masker yang dicuri bukan cuma yang ditaruh di tempat umum, tetapi juga di dalam gudang. Gila, ya?!


Hamster-buying
Bukannya beli hewan pengerat yang lucu, api ini adalah istilah orang Jerman untuk penimbun atau panick-buying. Masalah banget memang di sini, sama lah seperti di Indonesia. Gara-gara ini desinfektan dan masker habis. Saya pernah dengar habisnya kedua barang ini karena produser utamanya di Cina dan di sana sedang lockdown, selain itu semua orang di seluruh dunia membutuhkan dalam waktu yang bersamaan. Jadi wasallam deh.

Sama seperti di Indonesia desinfektan dan masker juga langka di pasaran. Sebulan lalu saat di Jerman baru ada hitungan ratusan, satu desinfektan 500 ml bisa dibeli dengan harga sampai 92 Euro (1,5 juta rupiah) di eBay. Dua minggu lalu saya ke apotek di mall dekat rumah, mereka menjual masker N95 dengan harga 79 Euro selembar. Masker biasa mereka jual dengan harga 20 Euro untuk 10 lembar. Di sana teman kosan dan saya membeli desinfektan tangan dengan ukuran 100 ml yang mereka buat sendiri. Harganya? 7 Euro atau Rp.80.000. Nyesel banget beli itu. Kalau dipikir-pikir, dengan mereka menjual barang-barang kesehatan dengan harga yang selangit, mereka mainin harga. Ga ada garansinya memang apotek engga akan mainin harga di kondisi seperti ini.

Ga cuma masker dan deisinfektan (terutama untuk tangan) yang habis, tapi juga tepung terigu, susu, dan tisu toilet. Saya pernah baca berita ada orang yang mau beli 50 bungkus (50 KG) tepung terigu di supermarket. Jelas diomelin dong sama petugas kasir dan hanya diperbolehkan untuk membeli 20 bungkus. Dia ngamuk lah di sana dan berakhir setelah polisi datang. Sekarang sih pembelian dibatasi, terutama untuk barang-barang esensial yang sekarang mulai langka. Di Aldi dekat rumah tidak boleh beli susu lebih dari empat karton (empat liter), tapi susunya saja engga ada. Sedih deh. Lihat di berita ada juga supermarket yang menerapkan beli satu tisu toilet harga normal, beli dua harga normal + lima euro, beli tiga harga normal + 10 euro, dst. Bahkan di Denmark beli satu botol desinfektan harga normal, tapi beli dua botol 150 Euro. Semua memerangi penimbunan! Apalagi ternyata supermarket dan toko kebutuhan sehari-hari masih buka dengan normal.

Tips untuk kamu yang kehabisan desinfektan, coba datang ke toko atau apotek pas jam buka. Saya coba trik ini dua minggu dan berhasil! Masih ada beberapa desinfektan semporot pada saat itu. Karyawan toko baru ngisi rak dan belum habis dibeli orang.

 

 

PicsArt_03-29-10.31.14

Tiba-tiba bermain di tempat bermain umum menjadi tindakan ilegal


Semua berubah dalam satu waktu di Jerman. Negara bebas ini menjadi tidak bebas. Mereka yang tidak tinggal dengan orangtuanya tidak boleh mengunjungi orangtua, apa lagi nenek dan kakeknya yang termasuk ke dalam kelompok rentan. Panti-panti jompo juga panti lainnya tidak menerima kunjungan dari luar, siapa pun itu. Anak-anak tidak bisa bermain di taman bermain umum lagi. Semua hal menyenangkan sekarang dianggap ilegal di sini atau di negara kita, tapi hal itu bagus untuk menghentikan virus ini. Kita harus bersatu untuk melawannya. Solidaritas sangat penting saat itu untuk membantu sesama. Di Jerman enak semua ada santunannya. Permintaan santunan untuk pengangguran dipermudah karena banyaknya orang yang mendadak jadi pengangguran karena krisis ini. Mereka yang tidak mampu bayar uang sewa apartment tidak perlu kuatir karena ditangguhkan, begitu juga dengan pinjaman. Orang per orang juga membantu sesama, dengan menawarkan bantuan belanja untk orang-orang yang dikarantina atau diisolasi, bantuan untuk homeless dengan meninggalkan makanan dan produk sanitasi di beberapa sudut kota, dan sebagainya.

Di Indonesia mungkin bantuan pemerintah tidak akan turun atau tidak sebanyak di Jerman, untungnya asas kekeluargaan dan gotong royong kita tinggi. Kita tidak senggan-senggan membantu sesama. Caranya pun beragam. Ada yang pesan sembako lewat ojek online dan memberikan pesanannya ke abang ojek tersebut, mengumpulkan dana, dan sebagainya Kalau itu tidak terjadi, akan hancur hidup banyak orang yang tiba-tiba dalam hitungan malam kehilangan pekerjaan. Pengusaha-pengusaha besar saja kena dampaknya, apa lagi penjual-penjual di pinggir jalan yang tidak bisa berdagang lagi, mau makan apa mereka dan keluarganya?

Terima kasih untuk tidak menjadi manusia egois, terutama di saat kritis ini.

 

Hamburg, 29 Maret 2020

PS: baru baca berita kalau menteri keuanga negara bagian Hessen bunuh diri. Diduga karena stres mikirin keadaan ekonomi di Jerman saat ini dan nanti. Dia kuatir tidak bisa memenuhi keinginan rakyat-rakyatnya secara finansial. 

 

 

Jalan-jalan Akhir Tahun ke Maroko

Seminggu setelah kembali dari Indonesia di awal Desember, saya memesan tiket ke Marrakesh, Maroko. Cukup mendadak, karena sebelumnya tidak terpikir untuk ikut trip ini bareng teman-teman yang sudah merencanakannya sejak bulan November saat saya berada di Indonesia. Saya mengetahui rencana mereka memang sejak beberapa hari sebelumnya, tapi saya ragu ikut karena ada beberapa kewajiban yang saya harus penuhi yang bertepatan dengan waktu trip ini berlangsung. Pada akhirnya saya batalkan semuanya. Sungguh tidak ada profesionalitasnya saya ini.

Atlas Mountain

Pegunungan Atlas, Maroko

Trip kami dimulai dari Berlin. Oleh karena itu, saya naik bus dari hamburg ke Berlin pada hari jumat siang. Sabtu siang kami berangkat ke Marrakesh lewat bandar udara Schönenfeld di Berlin. Penerbangan berlangsung selama empat jam. Rasanya lama sekali, karena selama penerbangan itu saya lapar. Mau beli makanan di pesawat, tapi tidak ada roti yang menggunggah selera saya. Sebagian besar penumpang pesawat itu adalah orang Jerman. Sama seperti kami, mereka juga terlihat sangat bersemangat untuk liburan di negara bermatahari.

Sesampainya di bandara, kami sudah punya jemputan yang kami pesan lewat situs getyourride.com. Tidak jauh berbeda dengan klook.com atau traveloka.com, di situ ini kita juga bisa membuk transportasi privasi atau tourguide di negara yang kita akan kunjungi. Karena kami berempat, akan lebih mudah jika kami menggunakan alat transportasi pribadi, karena itulah kami memesan jemputan bolak balik bandara-hotel. Harganya pun cukup murah, yaitu 22 Euro PP. Karena kami berempat, jadinya masing-masing orang hanya sekitar 5,5 Euro. Taksi bisa juga menjadi pilihan, tapi kami kuatir akan kena tipu harga, seperti yang saya alami di Istanbul tahun lalu.

Pemandangan alam

Pengembala domba

Hotel kami merupakan sebuah apartemen yang disewakan melalui airbnb.com. Di sana tersedia penginapan beragam bentuk dan harga. Maunya sih tinggal di Riad, tapi harganya cukup mahal, karena biasanya riad lebih mewah, dilengkapi kolam (renang) pribadi di tengah taman. Aparteman yang kami tempati juga nyaman. Terdapat sebuah ruang tamu luas, meja makan, dua kamar tidur, sebuah toilet, sebuah kamar mandi/toilet, sebuah dapur dan sebuah balkon mini. Harga per orang untuk tiga malah hanya 46 Euro saja. Tempatnya juga cukup strategis di tengah kota. Dekat mall dan beragam restauran.

Ngomong-ngomong soal restauran. Di sini segala ada. Di malam terakhir kami mencoba sebuah restauran Asia di dekat penginapan. Harga-harga makannya cukup terjangkau walau restauran ini cukup mewah. Di dalam menu ada menu Sato Ayam, yang di bawahnya tertulis noodles, bean sprouts and seafoods. Karena inilah saya mengurungkan niat untuk memesannya. Masih di menu yang sama, ada juga Papes Ikan, yang penjelasannya adalah lychee, mango, caramelized pineapple. Pengunjung bisa memilih antara dengan daging ayam, sapi atau udang. Hey ini bukan soto ayam dan pepes ikan beneran. Mereka menginterpretasikan makanan khas negara atau budaya lain terlalu jauh. Bahkan sup pho bo dari Vietnam lebih mirip mie instan dengan koriander dan daging sapi, karena mereka menggunakan mie keriting, bukan mie kwetiau, seperti lazimnya sup pho.

Tajine Alfasia

Ragam tajine daging sapi di restauran Al-Fasia

Selama di Maroko saya mencoba tiga jenis tajine berbeda. Tajine adalah cara memasak khas Maroko yang menggunakan panci tanah liat khusus yang bentuknya seperti tumpeng. Makanan diletakan di bagian bawah tajine yang kemudian ditutup oleh tutupnya yang berbentuk tumpeng tersebut. Di malam pertama saya mencoba tajine daging kambing yang dimasak dengan caramelized onions and tomatoes. Saya bukan pecinta masakan manis, karena itu makanan ini kurang memuaskan saya. Saya lebih suka makanan teman-teman lain dengan atasan terong. Rasanya lebih gurih. Restauran yang kami kunjungi sedikit mahal, karena itu untuk tajine tersebut kami menghabiskan 150 MAD (15 Euro). Makanan kami datang dengan sepiring besar couscous untuk kami berempat. Saat kami baru duduk, dua mangkok buah zaitun hitam dan hijau juga sepiring roti disajikan untuk kami. Selesai makan dan setelah semua piring dibawa, kami diberi handuk hangat untuk membersihkan tangan. Sebuah baskom berwarna emas diletakan di tengah meja, tempat kami melemparkan handuk bekas kami pakai.

Tempat handuk basah

Tempat handuk basah bekas pakai

Selain tajine daging kambing, saya juga mencoba tajine daging ayam dan udang. Saya suka udang, tapi ternyata untuk menghabiskan sepiring bukan keahlian saya. Apa lagi saya tidak bisa memakannya dengan nasi yang merupakan comfort food saya. Memang ada nasi, tapi itu adalah nasi Arab yang berbeda dengan nasi dari Asia dan menurut saya tidak cocok dengan udang berbumbu yang saya makan.

Favorit saya adalah tajine ayam berbumbu kari kuning yang dilengkapi dengan potongan wortel dan kentang. Nikmat sekali. Lebih nikmat lagi karena pemandangan siang itu adalah pegunungan Atlas. Kami makan siang di sebuah desa yang dikelilingi oleh pegunungan Atlas, yang di musim dingin ini diselimuti salju. Hari kedua di Maroko saya dan teman-teman mengikuti sebuah tur seharian. Oleh pemandu wisata kami, Hasan, kami dibawa ke desanya. Makan siang di tetangganya yang rumahnya juga sebuah guest house. Di sebuah rumah khas Maroko yang tidak punya genteng, jadi kami duduk di luar di teras. Pemandangan sekitar kami adalah desa tersebut dan pegunungan Atlas.

Tajine ayam

Makan siang tajine ayam

Setelah makan siang, kami dibawa oleh Hasan ke rumahnya yang sederhana. Hanya ada dua kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi dan satu ruang tamu yang tidak luas. Kami dipersilahkan olehnya untuk duduk di teras belakang rumahnya yang cukup luas. Dia mengeluarkan beberapa kursi dan sebuah meja panjang dari dalam ruang tamunya. Sambil menunggu teh bikinan ibunya, kami masih menikmati pemadangan pegunungan Atlas dan suara adzan dzuhur dari mesjid yang berjarak hanya 200 meter dari rumahnya. Suara adzan hanya terdengar sayup-sayup, enak sekali dan saya merasa lebih masuk ke dalam hati. Berbeda dengan di Indonesia yang setiap mesjid berlomba-lomba mengencangkan pengeras suaranya, dan terkadang panggilan sholat seperti hanya teriakan saja.

Rumah-rumah di desa di bawah pegunungan Atlas

Setelah minum teh hijau Maroko dan makan kacang walnut, kami melanjutkan perjalanan ke air terjun. Sejujurnya saat itu saya mengira kami akan kembali naik bus lalu diturunkan di dekat air terjut. Ternyata saya salah, yang kami lakukan adalah hiking. Sebenarnya tidak sejauh saat hiking ke kawah Ratu di Bogor, tetapi karena saya ga mudeng kami langsung hiking, saya jadi ga ada persiapan. Saya memang ga cocok banget dah dengan hal spontan.

Air terjunnya engga besar. Dengan hiking yang ga jauh jadinya cocoklah, engga terlalu kecewa. Uniknya di sana ada orang yang jualan jus jeruk, meja dan bangku sudah disiapkan di bawah air terjun. Yang jaga adalah seorang laki-laki muda, dia mencuci jeruk dan peralatan makannya dengan air dari air terjun yang segar. Kami berhenti tidak lama di sana. Setelah semua orang foto-foto, kami melanjutkan perjalanan melewati perkampungan.

Penjual jus jeruk

Penjual jus jeruk di bawah air terjun

Di grup kami ada satu orang tour guide (Hassan) dan seorang supir (Abdul). Selain grup kami yang berisi empat orang, ada lima orang lain, yang terbagi ke dalam tiga grup. Saya merekomendasikan banget tour guide kami ini. Mereka baik dan menjelaskan dengan benar, juga bahasa Inggrisnya bagus. Hasan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dia selalu menanyakan apa kami sepakat denga rute yang dia pilih, bahkan jika kami mau jalan-jalan lebih jauh sedikit, dia menyanggupi. Dalam websit getyourride.com tertulis kami akan tiba kembali di hotel jam 18, kenyataannya jam 19 lebih. Kami tidak masaah dengan itu.

Setelah air terjun kami kembali ke bus lewat jalan berbeda yang tadi kami lalui saat naik ke air terjun. Kami melewati beberapa penjual karpet warna warni yang indah. Sayangnya saya engga ada tempat di ransel untuk bawa karpet itu ke Jerman. Di pasar di Marrakesh tentu banyak dijual juga barang-barang yang kami temukan di toko di desa yang kami lewati, tapi tentunya harganya lebih tinggi dan tidak bisa membantu langsung pengrajinnya. Lain kali saya akan datang lagi ke Maroko dengan koper besar, biar bisa masuk belanjaan-belanjaan. Bus kami terparkir di pasar di pinggir jalan besar. Menyenangkan sekali lewat pasar itu. Dengan udara yang sejuk, rasanya seperti berada di pasar di Bandung. Bedanya dari situ kita bisa lihat pegunungan Atlas yang tertutup salju dan pedagangannya mayoritas lelaki. Typical negara timur tengah, lelaki banyak bertebaran di mana-mana baik sebagai penjual atau pembeli yang duduk-duduk di depan cafe sambil minum kopi.

Warna-warni karpet khas Maroko

Tujuan kami selanjutnya adalah tujuan utama. Belum lengkap rasanya kalau ke Maroko tidak naik onta. Sayangnya kami tinggal di Maroko hanya 3 malam; sehingga tidak cukup untuk ikut tour ke gurun Sahara yang minimal berlangsug selama dua hari satu malam. Kalau kami ikut, kami tidak akan ada waktu untuk menjelajah kota Marrakesh. Oleh karena itulah kami hanya ikut day tri dengan Hassan dan Abdul.

Gurun yang kami tuju adalah gurun kerikil bernama Agafay. Kami tentunya tidak dibawa ke tengah gurun. Kalau kita menyusuri jalan besar di gurun Agafay, di pinggir jalan kita akan menemukan beberapa tempat untuk naik unta. Kami berhenti di salah satunya. Tampak di sana beberapa bus dari travel yang sama. Setelah menunggu 30 menit, tiba giliran kami untuk naik onta. Setiap unta diikat sehingga mereka berjalan berbaris memanjang. Unta paling depan dituntun oleh seorang kakek tua. Saat unta pertama jalan, unta-unta di belakangnya terpaksa juga harus ikut jalan, karena mereka tertarik dengan unta di depannya. Ada tali yang menghubungakn moncong mereka dengan tempat duduk/bantal dari unta di depannya.

Unta di gurun batu Agafay

Awalnya saya sempat takut dengan naik unta. Sewaktu unta beranjak untuk berdiri saya kaget dan sempat teriak. Saya tidak menyangka unta akan berdiri dan ternyata tinggi sekali dan untuk saya yang takut dengan ketinggian ini menegangkan. Selama awal unta tersebut berjalan saya berdoa tidak henti karena takut jatuh, apa lagi beberapa kali terlihat unta yang saya tumpangi itu sudah enggan berjalan. Dia terpaksa berjalan karena moncongnya diikat tali ke unta di depannya. Jadi, jika unta paling depan berjalan, dia akan menarik unta-unta di belakangnya dan seterusnya. Dan hanya unta yang paling depan yang dituntun oleh seorang kakek yang sepertinya pawangnya. Selain dia, ada juga pawang lain yang lebih muda, dia berlari-lari di sekitar kami.

Naik unta di gurun Agavay

Naik unta di gurun Agafay

Selama naik unta, yang membuat saya tenang adalah pikiran tentang hijrah yang dilakukan Rasulullah dan nabi-nabi yang lain. Bagaimana mereka berada di atas unta berhari-hari untuk berpindah tempat untuk menyebarkan agama Islam. Pemandangan di sekitar gurun batu Agafay juga sangat sangat indah. Pegunungan Atlas masih terlihat dan saat itu matahari sudah hampir turun. Masya Allah dari sana bisa terlihat gurun yang gersang, gunung yang hijau dan juga salju di puncak gunung. Bagaimana saya tidak semakin cinta Maroko melihat semua itu? Dan bagaimana saya tidak bersyukur dengan semua yang saya lihat saat itu?

Setelah perjalanan 30 menit dengan mengendarai unta, kami dipersilahkan masuk kembali ke mobil. Kami akan pulang kembalinke Marrakesh dan Hasan juga Abdul akan mengantarkan kami langsung ke penginapan kami. Di tengah-tengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melihat matahari terbenam. Setelah itu perjalanan diteruskan ke Marakesh sekitar 45 menit. Uniknya jalur yang dipilih Abdul dan Hasan untuk kembali ke Marakesh berbeda dengan jalur berangkat. Kesimpulannya, kalau di perjalanan pergi ada kesempatan foto, langsung lakukan, karena pulangnya ga lewat sana lagi.

Malam itu kami berencana untuk pergi makan makanan Asia, ternyata kami malah singgah di restauran seafood dan fast food yang harganya murah meriah tapi enak. Di sanalah saya mencoba tajine udang. Rasanya enak sekali, lebih enak lagi kalau pakai nasi Asia, yang sayangnya tidak tersedia. Saya suka udang, tapi ternyata tidak bisa makan banyak, jadi malam itu sayangnya saya harus menyisakan udangnya (kebetulan juga sedang tidak bawa tempat makan kosong untuk bungkus makanan.

Tajine udang

Tajine udang

Sampai di sini dulu ya cerita tentang jalan-jalan saya di Maroko. Selanjutnya saya akan cerita lagi tentang hari kedua kami di kota Marakesh, pengalaman pertama bertemu dengan badai pasir dan cerita tentang tersesatnya kami di pasar tradisional Marakesh.

Sampai nanti!

 

Pasar di bawah pegunungan

Pasar di bawah pegunungan Atlas

Sepatu khas Maroko

Sepatu khas Maroko

 

Di tengah kota Marrakesh

Di tengah kota Marrakesh

Mereka yang Meninggalkan Kita

Apakah dengan masih bersedih saat mengingat orang yang meninggalkan kita disebut dengan tidak ikhlas?

Apakah ikhlas bisa diukur dengar keringnya air mata dan perasaan bahagia saat mengingat mereka?

Bukankah ikhlas dan sedih adalah dua perasaan berbeda yang tidak saling bertentangan?

Karena perasaan sedih hanya berlawanan arti dengan bahagia, dan ikhlas.. apa lawan kata dari ikhlas? Berat hati?

Bukan karena air mata saya masih mengalir dan hati juga dada saya secara harfiah masih sakit berarti saya masih belum mengikhlaskan kepergian mereka, bisa jadi karena sakit ini sudah saya tahan selama lima tahun terakhir. Saya pendam sehingga emotionaler Zusammenbruch sangat jarang terjadi, dan sekalinya terjadi.. saya harus bertemu dengan seorang ahli yang bisa membantu saya meredakannya.

Waktu itu, di dalam ruangan itu, ahli yang membantu saya itu menarik sebuah kursi mendekat kepada saya, lalu dia bertanya, “Jika Kakak Anda duduk di sana, apa yang ingin Anda sampaikan kepadanya?”

Tangis saya meledak. Seakan-akan kakak saya terlihat di sana, mengenakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu dan celana jeans panjang serta sepasang sandal. Bukankah begitu ia terlihat sehari-hari?

Saya kangen dia. Frasa yang tidak pernah saya katakan kepadanya dan tidak juga kepada siapa pun di antara anggota kelurga saya, tetapi kali itu saya menguatkan lidah saya yang kelu untuk mengatakannya. Saya merindukan sosok kakak saya, yang selalu tertawa hampir di segala suasana. Yang selalu mencibir lalu tersenyum, jika orang lain balik mencibirnya. Yang kerjaannya ngambek ke orangtua kami.

Bukankah jika seseorang pulang ia ingin sekali melihat seluruh anggota keluarganya di dalam rumah dan bersama-sama melakukan hal menyenangkan? Lalu mengapa hal itu tidak bisa saya dapatkan dua bulan lalu saat saya pulang ke rumah? Kakak dan ayah saya tidak ada.

Saya tidak mengunjungi rumah baru mereka saat itu dan saya tidak pernah ingin untuk pergi ke sana, karena saya tidak ingin hanya melihat dua gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama mereka. Tidak. Hal tersebut terlalu sederhana sekaligus terlalu rumit untuk dilihat dan tidak pernah merepresentasikan mereka. Tidak pernah ada dalam benak saya, mereka bermukim di sana. Juga tidak ingin saya mempunyai sebuah bayangan baru tentang itu: tentang mereka berada di dalamnya, atau tentang mereka yang tidak bisa lagi tersenyum dan membuka matanya. Mungkin saya tidak ingin bayangan-bayangan itu menggantikan kenangan-kenangan selama 32 tahun yang saya miliki tentang mereka.

Pertanyaan mengapa saya tidak pernah berada di dekat mereka saat malaikat pencabut nyawa menjemput mereka, juga mungkin terjawab dengan jawaban itu. Jawaban yang dilontarkan oleh perempuan asing yang duduk di depan saya untuk membantu melewati ini. Ini bukan hanya soal bagaimana saya akan mengalami meltdown jika saya berada di sana, namun juga bagaimana kenangan-kenangan semasa hidup akan tumpang tindih dengan bayangan mereka di dalam kain kafan.

Perempuan itu menarik sebuah bangku lain dan meletakannya di depan saya. Di ujung lain meja kecil yang memisahkan kami. “Jika ayah Anda duduk di sini, apa yang mungkin ayah Anda katakan kepada Anda?”

Saya yakin Beliau akan meminta saya untuk tidak menangis dan menjadi kuat, dan mengingatkan saya untuk menjadi pemberani. Saya selalu ingat bagaimana Beliau mengatakan, “Teteh pasti bisa! Teteh pasti bisa!” lewat telepon saat saya sedang berada di Foyer AAI. Saya menceritakannya, saya masih kesulitan dan masih malu untuk berbicara di depan publik setiap saat sedang berada di kelas. Untuk mengutarakan opini dan pikiran saya tentang tema yang sedang dibicarakan di kelas. Waktu itu saya jawab, “Iya nanti akan aku coba”, dan sampai saat ini tidak saya lakukan. Maafkan aku, Pah. Aku janji aku akan melakukannya. Demi Papah dan demi janjiku pada Papah yang belum sempat saya penuhi selama Papah masih ada.

Untuk yang tercinta yang masih berada di dalam hati.

Hamburg, 27 Mei 2019

Aadit dan Papah, kemarin Mamah ulang tahun. Tidak ada pesta dan perayaan, tetapi alhamdulillah adik-adik Papah berkumpul di rumah untuk berbuka puasa bersama. Aku rasa, tidak ada satu orang pun yang tahu, 66 tahun lalu Mamah dilahirkan di tanggal tersebut. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah dan ditempat di tempat yang terbaik oleh Allah dan semoga Mamah selalu sehat dan selalu dilindungi Allah. Salam rindu.

Bandar Udara

Tangerang, 8 Juni 2018

Hari selasa lalu, saat masih berada di pesawat, saya melihat kota kelahiran saya. Rasa bahagia menyelimuti. Setelah hampir setahun, akhirnya saya kembali lagi. Pulang. Dari atas sana juga saya melihat sebuah pemakaman umum yang letaknya bisa dibilang di depan bagian belakang bandara kota kelahiran saya. Pemakaman umum ini baru sekitar 15-20 tahun belakangan ini terletak di sana. Sebelumnya ia berukuran lebih kecil dan terletak tidak jauh dari tempat barunya. Tidak hanya lebih besar, di tempat barunya ini kuburan-kuburan lebih tertata rapih. Bagian sebelah kanan untuk penganut Kristen dan sebelah kiri untuk muslim. Di tengahnya adalah jalan kecil yang tidak boleh dimasuki mobil, tetapi dipenuhi oleh jejeran pedagang makanan dan minuman.

Tidak lama kami pun mendarat. Pesawat berjalan di daratan menuju tempat parkirnya, melewati jembatan yang di bawahnya terletak jalanan yang dilalui mobil-mobil yang sedang menuju terminal-terminal atau gedung lain di sekitar bandara. Saya sangat mengenal jembatan itu, karena dari bawah sana, dari dalam mobil yang dikendarai Papah setiap kami ke bandara, saya selalu mendongak ke atas. Ke atas jembatan. Melihat pesawat yang sedang menyeberang di atasnya. Kali ini posisi berubah, aku berada di dalam pesawat itu. Aku melihat ke bawah jembatan itu, ada mobil yang berlalu lalang. Mungkin supir atau penumpangnya juga mendongak dan melihat mesin besar yang sedang menyeberang.

Saya tidak bisa memalingkan pandangan saya dari pemandangan luar pesawat. Air mata mulai merembes menuruni kedua mata saya, seperti yang sudah-sudah. Walau setahun atau pun bahkan empat tahun telah berlalu, rasa sesak di dada itu tetap sama. Air mata ini juga masih sama hangatnya seperti saat dia meleleh empat tahun lalu, juga saat saya mendarat di bandara yang sama. Semua terasa sama.

Saya merasakan pundak saya naik turun tidak beraturan, walau ia udah coba saya kontrol dengan sekuat tenaga. Tangis yang saya tahan itu tetap saja terdengar oleh kedua perempuan lain yang duduk di jejeran saya. Mereka lah yang menemani perjalanan saya kali ini. Suatu kebetulan, bahwa kami sama-sama duduk di jejeran yang sama dan memiliki asal dan tujuan negara yang sama. Televisi yang mati di hadapan saya bahkan tidak saya hiraukan, karena berbincang dengan mereka menyenangkan dan tidur saya selama perjalanan pun lelap.

Salah satu dari mereka menyentuh lembut pundak saya. Mengelusnya dan membisiki saya untuk tetap kuat dan sabar, walau dia juga tidak tahu penyebab air mata yang mengalir ini.

Pesawat ini masih berjalan perlahan mencari tempat parkir yang sudah ditentukan oleh bandar udara. Masih melewati gedung-gedung kontrol lapangan udara. Rumah-rumah mungil dan kumuh di belakang bandara sudah tidak terlihat, apa lagi kali berair warna cokelat yang mengalir ke sungai Cisadane. Tahukah kamu, di ujung lain kali tersebut ada sebuah kampung dari sanalah Papah saya berasal dan menghabiskan waktu dua tahun masa kecilnya sebelum pindah ke rumah yang kami tempati sampai saat ini. Kami. Sekarang. Maksud saya, sekarang ini tanpa dia dan anak keduanya.

Setelah yakin saya sudah menghapus air mata dari pipi dan tidak ada lagi yang merembes keluar dari kedua mata yang sudah memerah ini, saya memalingkan muka ke hadapan penumpang yang menemani selama perjalanan 10 jam dari Istanbul ke Jakarta. “Tadi kita terbang melewati pemakaman, letaknya tepat di depan bandara ini. Di sanalah tempat bersemayam Papah saya sejak empat tahun lalu. Aa saya juga. Dia meninggal setahun yang lalu, dan saya belum pernah ke sana.”

Saat itu saya memutuskan untuk membiarkan air mata kembali merembes untuk menghilangkan sesak di dada. Semoga Mamah tidak melihat bekas air mata ini saat kami bertemu di terminal kedatangan.

Hamburg, 14 Januari 2019