Siapa yang tadi pagi mencakar?

Tadi di tempat fitnes, untuk membuka percakapan dengan peserta, trainer kami bertanya, “Wer hat heute morgen gekratzt?” dan beberapa dari peserta yang memiliki mobil pribadi mengangguk sambil mengeluh.

Secara literaris pertanyaan dia diterjemahkan menjadi: “siapa yang tadi pagi menggaruk/mencakar?” Selanjutnya saya akan menggunakan istilah “mencakar” saja. Pertanyaan ini memang terdengar aneh, apa lagi jawaban dari pertanyaan tersebut adalah anggukan dari peserta yang memiliki mobil pribadi sebagai sarana transportasi, misalnya dari rumah ke tempat fitnes. Oleh karena itu, untuk mengerti pertanyaan tersebut harus diketahui konteks pertanyaan dan juga pengetahuan dasar yang bisa melatarbelakangi pengajuan pertanyaan tersebut.

Seminggu terakhir ini cuaca di Hamburg semakin dingin, begitu juga tadi pagi, semua beku terselimuti es, seperti dedaunan (baik yang masih di ranting pohon atau yang sudah berjatuhan di tanah), jalanan, selain itu juga kaca mobil. Terutama bagian depan. Sebelum menggunakan mobil, biasanya pengendara mobil akan menghilangkan es tersebut dengan sebuah alat semacam sekop tapi bentuknya kecil, pas sekali ukurannya untuk tangan, seperti foto di bawah ini.

Alat Eiskratzer (pencakar es) ini ditekan dengan kemiringan 45 derajat dari kaca, lalu di dorong sampai es yang menempel di kaca ikut terbawa pergi dari kaca mobil. Prinsipnya sama seperti menghilangkan es di jalanan dengan penggunakan sekop.

eiskratzer-muessen-grossen-druck-aushalten-und-gut-in-der-hand-liegen

Eiskratzer – pencakar es

Alat tersebut dinamakan Eiskratzer atau “pencakar es” dan kegiatan menghilangkan es dari kaca mobil adalah Eis kratzen atau “pencakar es”. Jika kita mengetahui situasi yang melatar belakangi pertanyaan”siapa yang tadi pagi mencakar?”, tentu saja kita bisa langsung mengerti makna sebenarnya dari “mencakar” pada pertanyaan di atas.

Konteks yang mempengaruhi sebuah ungkapan seperti di atas adalah situasi ungkapan yang relevan dan berguna untuk pemahanan manusia. Termasuk ke dalamnya adalah pembicara dan lawan bicara, waktu, dan tempat (Meibauer 2001: 1-10). Maka dari itu, tidak heran jika peserta fitnes langsung mengerti apa yang dibicarakan trainer kami, karena syarat-syarat konteks situasinya relevan.

Kita, sebagai orang Indonesia, tentu akan kesulitan untuk memahami ungkapan tersebut, karena negara kita tidak bersalju dan kita belum pernah mempunyai pengalaman membersihkan es dari kaca mobil. Saya sendiri memerlukan waktu beberapa detik, sebelum mengerti pertanyaan tersebut, karena terakhir kali saya membersihkan kaca mobil dari es adalah tahun 2011 dan sejak itu tidak pernah lagi berurusan dengan mobil dan es.

Dalam linguistik, ilmu yang digunakan untuk memahami sebuah ungkapan berdasarkan situasi konteks ungkapannya adalah ilmu pragmatik. Jangan tertukar dengan semantik, yang hanya membedah sebuah ungkapan berdasarkan makna literarisnya, ya. Salah satu contohnya sudah saya jabarkan di atas. Jika dilihat dari makna semantik, tentu saja pertanyaan di atas tidak relevan dengan situasi di tempat fitnes, juga terdengar aneh: untuk apa trainer ingin mengetahui siapa yang tadi pagi mencakar? Dan objek yang dicakar tadi pagi juga tidak jelas dalam pertanyaan tersebut.

Kata kunci dari pragmatik adalah ungkapan dan konteks situasi, selain juga kognitif, sosial, kebudayaan, makna non-literaris, Halliday, non-gramatik dan fungsi. Kata kunci yang terakhir ini sangat penting, tanpa pragmatik, sebuah ungkapan tidak dapat dimengerti. Jika ungkapan tersebut tidak dimengerti, fungsi bahasa tidak berjalan. Hanya sebagai susunan kalimat. Tanpa fungsi bahasa, tentu saja tidak akan terjadi komunikasi.

Jika pertanyaan “siapa yang tadi pagi mencakar?” ditujukan kepada sekumpulan orang Indonesia yang baru seminggu datang dari Indonesia, tentu saja tidak akan terjadi komunikasi yang sebenarnya diharapkan pembicara. Yang ada semua akan senyum malu-malu dan mengangguk-angguk saja, walau tidak mengerti.

Oleh karena itu, ketika mendengar sebuah ungkapan,maknailah dengan melihatnya juga dari situasi yang melatar belakanginya.

 

Adakah Mejik itu?

Okay. Gue pusing. Pusing banget sama Korpusdata ini. Bisa engga sih, gue diem aja terus korpusdata rapih sendiri dan tesis beres sendiri?

Ada yang bisa mejik-mejikan kah di sini?

 

Anyway, yang masih punya email ke atasan di kantor dan berbahasa Indonesia, mau dong tolong kirimin ke saya di mariska.susilo@gmail.com. Masih kurang data email nih. Tadinya sih udah beres yaaaa, tapiii ketika dibaca lagi dengan teliti.. OMG banyak yang akhirnya gue hapus-hapusin. Hasilnya adalaah e-mail data gue berkurang banyak.

Sooo, yang punya email dari bawahan ke atasan di kantor dan berbahasa Indonesia, tolong sekali kirim ke email gue di atas.

Tararengkyu dararangke sadayana🙂

Herbsttrip: Riga (3)

Gue bangun pagi-pagi dan langsung menuju old town, gue lihat di internet kalau ada dua tempat yang belum gue kunjungi. Bergegaslah gue ke sana. Tempat pertama itu Riga Dome, berbeda dengan Riga Dom. Pas gue berada di depannya, gue sadar: ini mah tempat yang kemarin gue lihat dan ga gubris.

Itu gedung aneh banget letaknya. Gedungnya memanjang. Depannya lahan kosong, tapi cuman sampai 3/4 gedung, karena sisanya ada gedung lain di depannya. Di gedung tersebut tempat gue beli oleh-oleh kemarin. Jadi, jangan harap bisa memotret keseluruhan Rigas Dome dari depan, karena engga akan bisa. Gue ga suka tata kota old town ini.

Gedung selanjutnya yang jadi tujuan gue adalah three brothers. Begitu gue sampai di sana. Lah, ini mah yang gue lihat kemarin. Cafe depan situ yang kata orang-orang di tripadvisor cozy dan kuenya paling enak sekota, ternyata cafe yang pintunya gue foto-fotoin kemarin. Ini mah, ngapain gue bangun pagi demi liat dan moto mereka, lah kemarin pan udah.

Gue juga ga suka tata bangunan si tiga sodara lelaki itu. Ada gedung yang letaknya beberapa meter di belakang gedung yang lain. Dan tentu saja memotret dari depan tidak memungkinkan, karena jalanan di depannya kecil dan sudah ada bangunan lain. Dari situ, gue merasa gue ga suka tata kota ini dan gue ga suka kota ini.

Mungkin kalau gue datang saat summer akan berbeda ya. Gue ga suka di sana selain itu karena dingin dan sangat berangin. Kotanya cantik, tapi hanya di old town, di tengah kota mah sama saja kaya metropol lainnya. Gedung tingkat dan mall. Lebih jauh lain, tempatnya spooky, seperti yang ga sengaja gue pijak semalam. Bangunannya banyak yang terlihat hancur.

Balik ke hostel tadinya gue mau naik tram lagi, tapi gue melihat bangunan lain yang terlihat seperti gereja megah, jadi gue samperin dengan jalan kaki. Ternyata memang gereja. Besar dan megah. Warnanya emas. Gue sempat masuk sebentar, namun keluar lagi, karena mereka sedang ada ibadah dan gue ga suka bau semacam dupa di dalamnya.

Kalau ga salah, waktu itu internet di hp gue nyala. Jadi gue ikutin aja untuk jalan kaki lewat mana. Eh di jalan gue malah ketemu Lido. Langsung aja masuk untuk sarapan. Pas di sanaaa, ternyata menu makan siang sudah ada. Jadilah pagi itu gue dilihat aneh oleh pekerjanya karena gue makan sate ayam dan kentang pagi-pagi. Baeh ah, gue itu penasaran Ceuceu. Soalnya (lagi-lagi) Rika bilang sate ayamnya enak dan di dua Lido yang sebelumnya gue makan di sana, menu itu engga ada.

Dengan perut kenyang dan hati puas, gue pun melanjutakan perjalanan. Di tengah jalan, gue memutuskan ke mini market, mau beli cokelat. Lupa beli oleh-oleh eyke cyin. Mini market yang gue masukin ternyata semacam drug store dan isinya produk Rossmann semua. Eh lah, berasa balik ke Jerman. Supermarket yang seharusnya ada di dekat hostel tidak gue temukan, jadi gue masuk ke mall yang letaknya di seberang hostel.

Gue ga lama di sana, langsung ke Supermarket ke bagian cokelat. Cokelat merek Laina enak sekali sodara-sodara, kalau ke sana, harus beli cokelat ini. Cobain yang rasa strawberry joghurt deh, ada yang popping di mulut begitu cokelat lumer di mulut kita.

Lagi-lagi, sebagai orang überpünktlich, gue datang kecepetan loh di airport. HAHAHAHA. Terus saat itu gue males banget untuk ke shelter untuk cek dokumen. Gue masuk tanpa cek dokumen terlebih dahulu. Padahal di dalam itu sama saja gue harus menunggu lagi. Selama menunggu di dalam, gue gunakan untuk menelepon Emak di rumah.

Saat antri mau masuk pesawat, koper gue dikasih baggage tag gratis. Katanya di dalam pesawat penuh, jadinya koper gue dimasukin bagasi aja tanpa bayar. Gue sih asik-asik aja, lah enak dong engga berat dan ga ribet. Tapi pas boarding pass gue dicek, si Mbaknya bilang, “Lain kali cek dokumen dulu, Ceu” dengan muka cemberut. Muhun, Teh.

Pengalaman kocak adalah ketika masuk ke dalam pesawat. Jadi, saat terbang dari Bremen ke Tallinn, ada salah satu pramugara yang bilang “terima kasih” dengan bahasa Indoensia, begitu gue kasih lihat boarding pass gue. Nah, saat gue masuk pesawat di Riga ini, ada dia lagi. Jreng!

Kami berdua sudah kaya dua orang kenal sudah lama yang senang bertemu kembali dan kami berdua engga menyangka bisa bertemu pulang pergi begini, “Wow, it’s you again!” Setelah basa basi sedikit, masuk lah gue ke dalam pesawat.

Sebenarnya di sana gue rada khawatir dan menyesal menitipkan koper di bagasi. Gue cuman punya waktu satu jam dari pesawat landing sampai bis gue berangkat ke Hamburg. Dan tram dari airport ke kota kira-kira 20 menit. Kalau bisnya kelewat.. boom! Mesti keluar uang lagi buat cari kereta atau bis selanjutnya.

Telat memang menjadi ketakutan terbesar gue, karena kalau lo telat di satu titik, di titik lainnya lo akan telat juga, makanya I end up being an über-on-time person. Alhamdulillah ternyata koper gue keluar di bagian pertama, jadi gue bisa langsung cabut ke halte tram. Di sana hampir juga gue kecele, karena ternyata beli tiket di automat tidak bisa pakai kartu atm, harus uang tunai. Alhamdulillah saat itu gue masih punya koin tiga euro untuk beli tiket.

Jadi deh, gue kembali überpünktlich di terminal bis. Btw gue itu sering banget ketemu orang yang gue kenal kalau lagi di luar, kalau engga yang gue kenal, biasanya kalau pergi gue papasan dengan orang A, pulangnya gue akan ketemu dia lagi, mirip dengan kejadian pramugara tadi itu deh kira-kira. Nah di terminal itu, gue ketemu teman kosan. Jauh-jauh ke Bremen, ketemunya teman kosan. Ga berkembang. Kenapa engga ketemunya si Permet Karet bersama istri dan anaknya aja sekalian, biar gue bisa nangis-nangis sehabis liburan? *eh malah curhat :p

Foto-foto menyusul yaa, semoga gue ga males. Banyak banget soalnya fotonya. Mahahaha. Gue ga kira-kira deh kalau ambil foto. Tapiiii, cuman foto isi muka gue doang yang ga ada. Gue ga suka bikin selfie di tempat umum, jadinya gue sama sekali ga puyna foto sendiri selama gue trip kemarin.

Silahkan lihat Instagram gue kalau mau lihat foto-foto Tallinn dan Riga.

Selamat tidur Jermani dan selamat pagi Indonesia.

Hamburg, 7 November 2016

01.38 CET

 

 

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

 

Herbsttrip: Riga (2)

While in Riga

Setelah perjalanan empat jam, bis gue tepat waktu sampai jam 14 di terminal bis Riga. Matahari bersinar sangat terik. Masya Allah. Pas banget ini, disambut hangatnya matahari. Tidak perlu kedinginan seperti di Taliin kemarin. Pikiran yang polos sekali, Ajeng. Polos sekali. Karena, sinar matahari bukan pertanda hangat, bahkan Riga lebih dingin dari Tallinn dan Helsinki. Mungkin karena letaknya tepat di pinggir sungai (apa lautu eta teh?) jadi anginnya lebih membahana. Merasuk sampai ke tulang.

Terminal bis Riga letaknya dekat pasar tradisional. Gue sampat nyasar ke sana, karena (lagi-lagi) gue malas pakai Google Maps, tapi begitu gue sadar ada yang ga beres, gue akhirnya mengaktifkannya. Dan ditunjukanlah gue jalan yang benar menuju Hostel Riga, tempat gue akan menginap satu malam.

Sebenarnya hostel bisa ditempuh dengan bis, tapi dengan jalan kaki juga hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Okay deh cyin, segitu mah gue sanggup, apa lagi bisa sekalian liat kota. Mari jalan kaki. Optimis gue tapi berkurang begitu gue lihat, untuk menyeberang, semua orang harus lewat tunnel. Artinya turun tangga. Tanpa eskalator atau lift.

Memang koper gue ga berat, tapi kalau tiap nyeberang harus naik turun begini kesel juga gueh. Ribet amat sik. Ada lift khusus orang kebutuhan khusus. Itu juga ga tau deh pegimana, ke atasnya lama banget dan kecil banget. Akhirnya gue tinggalkan.

Di jalanan biasa pun jalannya rusak, sedang ada perbaikan. Benar-benar ga nyaman. Dan gue mulai bete. Hostel gue terletak di tengah kota. Di lantai empat dan ada lift. Horeee. Di lantai paling dasar ada McDonalds. Di seberang ada mall besaaaaarrr. Belakangnya ada Stockmann, mall baru dari Helsinki. Kota tua ga jauh dari sana, bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Lagi-lagi gue memilih kamar khusus untuk perempuan. Selain gue, ada dua ibu-ibu yang sudah menempati kasur-kasur di bawah. Beklah cyin, gue ambil kasur atas. Yang bikin gue siyok sebenarnya adalah kamar yang bau pengap, karena jendela ga dibuka. Gue buru-buru keluar setelah naro semua barang. Enakyna hostel di Tallinn dan Riga, tamu ga perlu pasar seprei sendirian. Sudah dipasangin sama pihak hostel, coba deeehh pada ke Jerman, di front office dikasih sarung bantal dan seprei. Nyahahaha.

Begitu keluar dari hostel, gue langsung menuju halte bis samping McD. Niatnya mau ke kota tua, ternyata gue turun di jembatan dan malah menyusuri jembatan dan menyeberang ke belahan Riga yang lain. Sampai ujung jembatan gue putar balik, menyeberang dan jalan kaki lagi menuju kota tua.

Namanya jembatan yaaaa, dinginnya ga ketulungan. Tidak lupa kukenakan sarung tangan, kalau engga, yuk dadah babai aja ga bisa poto-poto. Saat itu gue jatuh hati sekali dengan Riga. Laut biru dan cahaya matahari memang perpaduan yang pas.

Sebelum masuk ke old town, gue belanja oleh-oleh dulu. Sayangnya ga menemukan semurah harga di Tallinn. Oh iya, tiket harian di Riga 5 Euro, dibandingkan dengan di Tallinn tentu saja mahal, karena tiket tiga hari di Tallinn hanya enam yuro. Yang bilang Riga murah, berarti belum pernah ke Tallinn.

Kota tua Riga sepi. Lebih sepi dibandingkan Tallinn. Gue ga liat turis-turis Asia yang membanjiri Tallinn. Ga lihat orang-orang bawa selfie stick atau peta. Semua tampak normal, seperti orang biasa mondar-mandir di jalanan. Walau gue kadang mendengar bahasa Jerman.

Selama di sana gue ga aktifin internet di hp. Entah mengapa, engga bisa digunakan. Gue ga punya peta juga, jadi zonk banget deh. Dan gue rasa Riga kurang jelas tempat yang harus dilihatnya. Gue baru bisa buka internet kalau ada wifi, misalnya seperti di restauran Lido. Baru deh di sana gue liat apa saja yang sudah gue kunjungi dan yang belum.

Sebenarnya sih waktu gue masuk ke Lido belum lapar, gue awalnya cuman mau cari kopi karena gue kedinginan parah. Tapi begitu nemu Lido, gue malah masuk ke sana dan makan. Semua ini gara-gara Rika yang menyarankan makan di sana waktu gue di Tallinn, ternyata enaaaakk dan murah. Jadi ga bisa lepas. Sayangnya restauran ini engga ada di Jerman. Makasih ya, Rik, sarannya. Gue suka banget! Dan sudah makan di tiga restoran Lido yang berbeda. Mahahahah.

Karena engga kuat dingin, gue akhirnya memilih untuk meneruskan jalan-jalan di riga dengan menumpang tram. Sampai matahari terbenam gue masih bertahan, setelahnya dinginnya ga kuaaatt. Dari pinggiran old town, depan universitas Latvia, gue asal naik tram ke arah stasiun. Tramnya sudah tua dan dalamnya dingin. Penghangat ruangnnya ga berasa.

Tram berjalan ke arah stasiun bis, terus menjauh dan menjauh. Sampai gue sendiri bingung gue berada di mana, karena semua gelap dan di luar sepi. Padahl itu palingan baru jam 18an. Akhirnya gue memutuskan untuk turun, begitu melihat halte tram ke arah sebaliknya tepat berada di seberang halte gue akan turun.

Itu benar-benar seperti in the middle of nowhere. Jalanan sepi ga ada mobil lewat. Bangunan tua dan rusak. Orang-orang yang gue lihat cuman mereka yang lagi nunggu tram di halte. Gue jadi bayangin yang engga-engga, “apakah ini tram isinya manusia beneran?”.

Benar-benar gue ga pernah merasakan sedingin itu. Dingin dari luar dan dari dalam hati sendiri. Karena gue sendirian. Gue jadi merasa, lain kali gue ingin jalan-jalan dengan orang lain. Gue kemarin itu memang pergi sendiri dan memang selalu pergi sendiri tiap trip.

Gue baru lega begitu liat stasiun bis dan kota. Tempat yang gue kenal. Sampai ujung lainnya, gue biarin balik ke kota lalu ganti lagi dengan tram yang lain. Waktu dinginnya ga nahan banget, akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Naik tram juga, karena selain udara, kaki gue juga sudah ga tertahankan capeknya. Gue sangat k.o di hari itu. Dan sejujurnya, gue engga enjoy di sana. Gue ga suka.

Gue sampai di hostel kayanya pukul 20. Di depan lift gue kaya orang bego nunggu lift yang tak kunjung datang. Orang yang di dekat sana juga ga bisa bahasa Inggris, dia merancu dalam bahasa Latvia yang ga gue mengerti dan gue kira engga ngobrol dengan gue. Setelah beberapa lama, dia merancu lagi dengan suara lebih kencang dan saat itu gue sadar, kalau dia bilang, “Neng, liftnya rusak, Neng”. Baiklah, Mang.

Karena capek yang tidak tertolong, gue langsung pergi mandi begitu sampai hostel. Ada beberapa kamar mandi dan toilet di hostel, tapi ga semuanya bersih. Maklum lah, isinya banyak dan anak muda semua. Kamar mandi yang paling pewe ada orangnya saat gue akan mandi, jadi gue pindah ke yang tidak pewe, karena cuman tempat mandi saja tanpa toilet.

Karena sudah makan, gue langsung naik ke kasur. Gue memilih di samping jendela, ngarep banget ada udara masuk dari sana. Gue yang biasa tidur dengan jendela terbuka, tentu merasa tidak nyaman tidur dengan jendela tertutup, heater on dan bersama-sama orang lain. Kasur di bawah gue ada seorang ibu umur awal 60 lah kira-kira. Di kasur tingkat yang satunya masih kosong, karena si ibu satunya lagi pergi dansa. Doi jauh-jauh datang dari St. Petersburg naik bis cuman buat dansa selama akhir pekan.

Saat gue check in di hostel itu, resepsionis nawarin gue ear plug, walau gue udah punya tiga pasang, gue tetap ambil saja dari wadah dan gue pasangkan di telinga malam itu, selain penutup mata untuk tidur. Gue kalau tidur ribet, harus sunyi dan gelap. Dahsyat banget, suara orang lalu lalang di luar langsung ga kedengeran. Suara ibu mendengkur dari bawah gue pun hanya kedengeran sedikit. Berkat si ear plug gue jadi bisa tidur dengan nyenyak, ga kebayang deh kalau gue harus tidur dengan suara dengkuran yang kenceng banget dari bawah kasur gue sendiri. Gue kebangun hanya jika ear plugs gue copot dan terdengarlah suara dengkuran si ibu.

Tulisan selanjutnya: Herbsttrip: Riga (3)

 

 

 

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)

 

Herbsttrip: Riga (1)

Sebelum ngomongin Helsinki, kita longkap aja ke Riga ya, sebelum buyaaarr semua ingatan gue di sana. Selain itu, gue ke Helsinki memang ga ada niatan khusus selain ketemu Rika. Dan kayanya dua tahun lalu gue sudah menceritakannya di blog ini. Update: ternyata gue belum pernah menuliskan cerita tentang Helsinki. ya Salaaammmm.

Seperti gue ceritakan sebelumnya, gue ke Riga menggunakan bis dengan biaya tiga yuro saja. Mahahaha. Waktu masih di Tallinn dan lagi makan popmie di meja makan barengan orang lain di hostel, salah satu dari mereka cerita kalau dia dapat tiket ke Riga dengan harga lima euro. Semua orang takjub, sampai gue bilang “I got it for three euros”, sambil nyruput kuah pop mie yang ajib itu.

Bis gue ke Riga berangkat jam 10 pagi. Karena gue ga tau terminalnya dan gue orangnya überpunktlich alias terlalu tepat waktu, jadinya gue berangkat sekitar jam setengah sembilan. Padahal ya cyin, baik naik kendaraan umum atau pun jalan kaki, ke terminal hanya perlu waktu maksimal 30 menit. Emang dasar si gueh. Jadi aja gue menunggu lama di terminal yang ternyata dari jalan besar aja sudah keliatan. Ga akan acara nyasar nyari terminal begitu turun dari bis di halte.

Terminal bisnya lumayan besar. Mengingatkan gue pada terminal bis di Florence, Praha. Kalau mau dibandingkan dengan terminal bis di Hamburg dan apa lagi Bremen, jangan deh, karena mereka kalah. Hahahaha. Di Hamburg ruang tunggu tidak terlalu besar dan hanya buka sampai pukul 20 sepertinya, tempat parkirnya muat 10-15 bis kayanya deh. Bremen lebih parah, terletak di pinggir jalan besar, calon penumpang menunggu di trotoar dan tempat parkir bis hanya untuk 2-3 bis saja.

Layaknya terminal bis, di dalamnya ada ruang tunggu, restoran, tempat jual tiket, mini market, toko bunga dan toilet. Sayangnya, gue perhatiin, di Tallinn engga ramah untuk pengguna stroller dan kursi roda. Tidak hanya untuk menggunakan kendaraan umum seperti tram (tram di Helsinki juga memiliki masalah yang sama), tetapi juga di tempat umum, salah satunya adalah di terminal bis ini. Untuk ke toilet, ada tangga yang tentunya tidak bisa dilalui oleh stroller dan kursi roda. Sayang banget.

Saat gue di depan toilet, gue sempet males masuk, karena ternyata bayar. Gue ingat saat di Praha, di kota yang gue kira murah, ternyata untuk toilet tetap saja biayanya satu yuro. Namun, begitu gue baca plang harga di depan toilet di terminal sini, cuman bayar 30 sen saja. OMG ini MURAHnya kebangetan.  Dengan koin seyuro gue bisa tiga kali masuk toilet dan masih punya kembalian. Edan! Resmilah dari situ, memang Tallinn kotanya murah.

Oh iya, btw, orang-orang Helsinki itu demen banget ke Tallinn naik kapal demi belanja doang. Pergi pagi, pulang sore atau malam. Belanja kebutuhan rumah tangga atau lainnya, terus pulang lagi ke Helsinki. Karena kapalnya besar banget seperti kapal pesiar, banyak juga yang ke sana bawa mobil. Belanjaan tinggal dimasukin ke mobil. Beres.

Kalau dilihat dari harga masuk toiletnya ini, jelas aja yes dibilang Tallinn murah. eh tapi, gue masih siyok soal harga prangko seyuro lima puluh sen untuk ke endonesia. Mahal amir!

 

 

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)

 

Herbsttrip: Tallinn (2)

Sambungan dari Herbsttrip: Tallinn (1)

Selama di sana, selain lihat-lihat kotanya, gue juga ke Energy discover center yang ciamik banget. Harga tiket satu hari sembilan euro. Ini museum bukan cuman buat dilihatin saja, tapi juga sangat interaktif. Semua percobaan di sana boleh dicoba. Sampai alat Morse yang sangat jadul pun ada. Jam tertentu juga ada ada penjelasan live tentang suatu topik, yang gue ikutin kemarin tentang listrik statis. Bagaimana listrik statis terbentuk, apakah berbahaya, dan kami bisa merasakannya sendiri. Ada sebuah alat berbentu bulat, kelihatan terbuat dari besi atau logam. Kita akan dikasih sebuah tongkat yang juga terbuat dari logam dan dengan tongkat tersebut kita menyentuh bola tersebut yang sebelumnya dinyalakan dulu oleh Mbak attendance. Tidak perlu menunggu lama, kita akan merasakan listrik menjalar melalu tangan dan sekujur tubuh. Untuk yang tidak berjilbab seperti gue, pasti tau dong, rambutnya akan berdiri. Sama halnya jika kita menggosok-gosokan balon udara ke rambut lalu mengangkatnya sedikit, rambut akan ikut terangkat.

Yang bikin gue shock saat di Tallinn adalah ketika gue harus turun jadi tram di tengah jalan. Awalnya gue ga ngeh, karena saat itu malam, kok di belakang sana ada mobil, apakah ini sebuah parkiran? Besoknya gue bengong seribu bahasa, dan ga berani naik tram kalau cuman sendirian. Aku takut pas nyeberang mau naik eh ada mobil lewat -_- Halte bisnya sih biasa ya di pinggir jalan, tetapi tram tersebut berhenti di tengah jalan dan penumpang yang mau naik atau turun ya harus menyeberangi jalan. Pernah di satu waktu, gue melihat seorang Ibu tua jatuh di tengah jalan, karena dia terburu-buru mau naik tram yang gue naiki. Belum juga dia bangun, tram gue sudah pergi. Depan belakang dia mobil. Serem gak, sih?

Selain soal tramnya ini, gue suka banget dengan Tallinn. Terutama old town, benar-benar berasa balik ke jaman tahun 13an. Karena sama-sama hanseatic town seperti Hamburg dan Bremen, gue rasanya kembali ke Jerman kalau lihat tulisan Hansa di mana-mana :p Gue suka bangunan-bangunan di kota tuanya, benar-benar masih cantik dan terjaga. Masih digunakan kok, walau fungsinya berubah, misalnya jadi restauran.

Sebelum ke Tallinn, sebaiknya rajin olah raga dulu, karena kontur jalannya naik turun. Apa lagi saat harus ke Toompea Hills, lumayan juga menaiki anak tangganya. Memang sih ada dua jalan, bisa dari tangga atau dari tengah kota tua, kebetulan gue kemarin itu dari tangga. Karena engga mau capai, gue naiknya perlahan-lahan, tapiiii begitu sampai atas, es hat sich alles gelöhnt, semuanya terbayarkan. Pemadangannya indah banget! Ga nyesel deh.

Di atas situ ada yang jualan kacang bakar di gerobak dan berpakaian layaknya tahun 13an, masya Allah wangi kacang dan pemandangannya bersatu padan banget. Serasa lagi meninggalkan kehidupan modern. Hahaha.

Kota modern-nya Tallinn juga cantik. Gue masih suka. Memang di kota penuh, tapi sepertinya masih biasa saja, dibandingkan dengan Berlin. Huehehe. Kalau di Berlin setiap sudut kota ada saja turis bawa peta, di Tallinn turis-turis hanya banyak terlihat di kota tua. Di tengah kota kebanyakan native.

Kalau di luar kota dan punya tiket harian, gue suka naik turun kendaraan umum seenak hati. Begitu juga yang gue lakukan di Tallinn. Gue asal pilih bis dan sampailah di tempat antah berantah. Sayangnya saat gue kaki gue pegal banget dan udara sudah mulai dingin, jadi gue engga melanjutkannya dengan jalan kaki. Padahal seneng banget waktu liat laut, rasanya mau duduk di taman itu menghadap laut. Atau ingin lanjut naik bis ke bagian pelabuhan yatch. Mungkin lain kali🙂

Selanjutnya gue akan cerita tentang Riga, ya! Foto-foto menyusul ya. Belum sempat edit. Kalau mau lihat di Instagram gue juga boleh. See ya!

*Herbst: kata bahasa Jerman untuk musim gugur

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)

Herbsttrip: Tallinn (1)

While in Tallinn

Selama liburan, untuk lihat jalur transportasi umum, gue selalu menggunakan google maps. Biasanya gue sengaja download aplikasi sesuai nama perusaahan transportasi negara/kota tujuan, tapi kali ini gue males ribet, jadi biarlah. Ternyata si Google ini kadang bodoh juga *anggap gue ngomong dengan dialek Batak. Dari Hamburg gue sudah cari cara bagaimana dari airport ke hostel Tabinoya di Tallinn, dan selalu disebut gue harus ke halte bis Lindakivi, lalu naik bis nomer ratusan. Ternyata di airport hanya ada bis nomer dua dan halte bis Lindakivi terletak satu halte setelahnya. Okay ga susah.

Begitu gue turun di Lindakivi, di halte tersebut cuman menyebutkan bis yang lewat nomer 2 dan 65. Okay, gue menyeberang, selain karena feeling, juga karena sebelumnya lihat bis yang nomornya gue cari lewat situ. Gue lihat di papan informasi, bis yang gue tuju memang lewat situ. Tapi gue ga menemukan halte bis yang gue tuju. Gue engga curiga. Kebodohan pertama.

Sampai suatu saat, Google Maps bilang bis yang gue tunggu akan datang jam 20.01, eh loh tapi kok lewatnya di halte seberang. Gue mulai panik at the disco. Gue tanya orang sampaing gue, „ini bener arah ke Balti Jaam bukan?“ dia dengernya „Balti apa lah itu“ dan gue pikir, it is how they pronounce Balti Jaam, walau gue yakin yang gue ucapin benar. Mengingat gue pernah belajar bahasa Finlandia setahun dan kedua bahasa ini adik kakak.

Ada Mbak lain yang nyamperin gue, dia bilang ada bis kecil yang ke Balti blabla itu dan dia bisa nanyain ke supir apa gue bisa ikut, dia juga akan naik itu. Gue curiga, kalau gue salah. Pas bis kecil itu datang, gue tunjukin hape gue ke dia, di mana tertera tulisan „Balti Jaam“, dan benar saja. „Itu arah kota! Kamu harus nyeberang!“. Jreeeeeeng!! Gue manyun dan nyeberang.

Sudah tau salah, gue masih coba-coba dengan jalan ke arah sebaliknya dari halte bis. Gue pikir, mungkin ada halte lain tempat bis yang gue cari akan berhenti. Tapi nihil. Akhirnya gue balik ke halte di mana GUE SEBELUMNYA TURUN dan nunggu di sana sampai 30 menit setelahnya. Dengan keadaan kedinginan parah. Ujungnya, gue naik bis nomor 2 juga ke kota dan ganti angkutan di halte apalah itu. Gue masukin nama-nama halte tempat bis tersebut ke Google Maps dan lihat bagaimana dia bisa membawa gue ke hostel. Heran gue, kenapa si Google ga dari awal aja nyuruh gue naik bis nomer 2 dan ganti bis entah di mana. Total gue menghabiskan waktu nunggu bis dengan percuma itu 1,5 jam. In the middle of nowhere dan badan hampir beku.

Malam itu, jujur saja, gue bertekad tidak pakai Google. Gue udah catat semuanya di buku dan gue mau survive tanpa Google Maps, karena bis yang kunjung datang, gue aktifin deh. Dan karena gue udah capai dan kedinginan dan ilfil, jadinya turun dari tram terakhir gue aktifin Google Maps dan biarin dia nunjukin jalan ke penginapan. Kalau ini masih bisa dipercaya.

Begitu sampai di penginapan, gue langsung ke dapur makan popmie yang gue bawa dari Hamburg. Lega rasanya makan yang hangat begitu. Hilang semua keheul di dada. Sebelumnya, gue mengeluarkan semua pakaian yang gue butuhkan untuk keesokan paginya, karena gue akan keluar rumah paling engga jam 6 dan gue engga mau menggangu dua roommates gue. Gue tinggal di kamar khusus perempuan untuk empat orang. Kasur di atas gue tapi tetap kosong sampai gue check out. Selain gue, malam itu hanya ada dua perempuan lain. Gue rasa salah satu perempuannya tapi check out pagi itu juga bareng gue, dan ga sengaja bareng gue ke Helsinki juga satu kapal. Gue sempat papasan dengan dia di dapur dan gue melihat di di kapal saat akan turun.

Hostel gue di Tallinn itu namanya Tabinoya, kamar mandi di dalam loh kamar itu. Jadi memudahkan banget buat gue. Kamar mandinya kecil dan karena ga ada jendela, jadinya rada bau lembab. Gue ga suka, tapi ya gimana lagi ya cyin, sudah dipesan untuk tiga malam.

Kamarnya pun pas banget di dapur dan ruang bersama. Tempat tidur gue apalagi, pas banget di dinding ke ruangan tersebut pula, jadi malam itu gue bisa mendengar dengan jelas obrolan orang-orang di sana. Selain itu, sebelah kasur gue juga pintu kamar mandi, jadi gue bisa denger juga kalau orang ke sana. Di luar juga toilet yang persis sebelahan dengan kasur gue, jadi gue bisa dengar juga saat orang ke toilet. Begitu sampai di Helsinki, gue langsung beli penutup kuping. Lumayan membantu malam-malam berikutnya, walau yang gue beli murahan, jadi ga terlalu menolong.

Hostel gue tempatnya strategis banget, pas di tengah old town, dan dekat ke halte bis atau tram, juga dekat ke pelabuhan. Jadi sebenarnya ga perlu banget beli tiket. Gue sih tetap beli, ga nanggung, gue beli tiket lima hari. Murah kok, hanya enam euro. Ditambah dengan harga kartunya dua euro, jadi biayanya delapan euro. Sebenarnya gue bisa mengembalikan tiket tersebut dan dapat dua euro gue kembali, tapi tidak gue lakukan karena di hari ke empat gue perlu tiket tersebut untuk ke terminal bis. Tiket sekali jalan juga murah, hanya 1,10 Euro kalau ga salah. Walaupun, seperti gue bilang sebelumnya, di Tallinn ke mana-mana deket, bisa jalan kaki. Bisa saja gue kembalian tiket lalu jalan kaki ke terminal, cuman 20 menit kok.

Dari penginapan gue di old town ke pelabuhan juga cuman 20 menit jalan kaki, jadi pagi itu gue jalan kaki ke sana. Ditemenin GPS, tentu saja. Jam enam lebih dikit gue ke luar hostel, di jalanan sepiiii sekali, cuman ada petugas bebersih jalanan berseliweran. Di jalanan besar ada beberapa mobil lalu lalang, begitu juga di pelabuhan yang sama-sama mengejar kapal pukul 07.30 waktu setempat seperti gue. Udaranya dingin tapi segar, gue suka. Makanya saat itu gue memutuskan untuk jalan kaki, selain ingin lihat-lihat kotanya, juga karena dengan kendaraan umum hampir memakan waktu yang sama, karena dari hostel ke halte bis dan dari halte bis ke dalam pelabuhan juga harus jalan kaki.

Tallinn terletak di tepi laut Baltik, karena itu pelabuhan menjadi bagian terpenting kota ini. Dari pelabuhan ini setiap hari ada kapal menuju negara-negara tetangga, seperti Finlandia, Swedia dan Rusia. Biasanya orang-orang Finlandia pergi berbelanja ke Tallinn, karena harga di sini lebih murah. Gue engga ke supermarket sih, sayangnya, gue lupa beli cokelat dari sana, karena mengira di Riga harga-harganya lebih murah. Lebih lanjut tentang Riga akan gue ceritain di kesempatan lain.

Anyw, di Tallinn harganya cukup murah kok. Gue menemukan magnet kulkas dengan harga satu euro dan kartu pos hanya 70 sen saja. Selama ini gue ga pernah menemukan tempelan kulkas semurah itu di mana pun (bahkan di Riga sekali pun). Yang bikin nyesek sih prangko ke Indonesia, lebih mahal 60 sen dibandingkan dengan Jerman. Kayanya di negara lain juga ga semahal itu deh.

Tallinn dan Riga kesamaannya punya old town yang jadi daya tarik pengunjung. Di sana tempatnya gedung-gedung antik bersejarah. Di Tallinn bahkan ada satu daerah cukup tinggi yang dari sana bisa melihat Tallinn dari atas, tempatnya di Toompea Hills. Cantik banget lihat Tallinn dari sana. Sampai pelabuhan dan laut Baltik pun bisa kelihatan. Juga TV tower yang jauh juga.

Sayangnya, yang terlewat saat gue di sana adalah Kassikohvik Nurri atau cat cafe Nurri. Gue baru lihat cafe itu saat di jalan ke terminal bis mau ke Riga, rasanyaaaa nyeeess banget. Tau ada cafe begituan, gue ke sana sebelumnya. Memang mungkin sebaiknya gue balik lagi ke sana.

bersambung yaa.. ke Herbsttrip: Tallinn (2)

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)