Menulis Tentang Bahasa Indonesia

Tadi ketika kumpul dengan dua teman, yang satunya bahkan sudah lama banget ga ketemu, kami punya ide untuk bikin proyekan vlog. Isinya apa, ada lah ya. Tunggu saja tanggal mainnya, kalau jadi. LOL. Lalu tercetus ide dari saya untuk sesekali memasukan sedikit pelajaran bahasa Jerman. Ga usah susah-susah, mungkin cukup tips „bagaimana untuk mengucapkan suatu kata dalam bahasa Jerman“.

Begitu sampai di rumah, masih ingat dengan ide tersebut dan tidak berbuat apa-apa untuk merealisasikannya, tapi gue punya ide baru, yaitu berbicara tentang bahasa Indonesia. Bukan untuk orang asing, tetapi untuk orang Indonesia sendiri. Eh, maksudnya, Jeng?

Setelah mikir lebih dalam konsepnya sambil lihat-lihat komik di Instagram, saya memutuskan untuk menuliskannya saja di blog dan bukan bikin vlog, karena gue kan pemalu, cyin. Ogah banget tampil depan publik. Awalnya idenya adalah memberikan materi tentang linguistik dalam bahasa Indonesia, tapi itu akan terlalu berat banget dan rasa-rasa bisa bikin paper 10 halaman dari sana. Jadi gue memiliki konsep lain.

Balik ke komik-komik di Instagram, tadi itu gue melihat entah komiknya siapa yang isinya bagus, tapi masih ada kesalahan susunan kata yang bisa mengakibatkan kesalaham pemahaman oleh pembacanya. Karena itu, gue akan coba ambil ambil satu kalimat dalam bahasa Indonesia yang nantinya, jika secara ejaan, sintaksis atau fungsi linguistik lain kalimat tersebut itu salah, akan gue coba benarkan dan gue jelaskan lebih lanjut aspek-aspek linguistiknya. Jika tidak ada kesalahan, gue akan melakukan analisis wacana.

Mengapa gue ingin ngomongin bahasa Indonesia pada orang berbahasa ibu bahasa Indonesia? Karena gue miris dengan kenyataan: tidak semua orang tau bahasa Indonesia yang baik dan benar (atau yang tepat) seperti apa. Banyak yang masih menulis dengan bahasa lisan, lupa, kalau tulisan memiliki tanda baca, yaitu titik dan koma. Lupa, kalau dalam setiap bahasa, semua nama orang dan nama kota ditulis dalam huruf besar. Lupa kalau ada dua fungsi berbeda dari “di” dan “di-”. Gue menyebutnya lupa, karena pasti materi sudah dipelajari di sekolah dasar.

Hal itu juga yang membuat gue sebenarnya ingin menjadi guru bahasa Indonesia di sekolah dasar. Gue mau, anak-anak dibelajari (ini bahasa baku bukan ya? dibelajarkan? Diberikan pelajaran?) bahasa Indonesia yang baik dan benar sedari dini. Jika dalam faktor bahasa ibunya ini sudah kuat, dia bisa mudah belajar bahasa asing, dengan melihat perbedaan dan kesamaannya. Gue ga ingin membuat semua orang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena gue juga engga kok, tapi paling engga, mereka mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana baku dan tidak, kelak dengan itu mereka mudah menyesuaikan bahasa yang mereka sesuai dengan lawan bicaranya. Intinya, bahasa itu banyak gunanya, apa lagi bahasa Indonesia adalah identitas diri kita sebagai orang Indonesia. Terdengar nasionalis ya? Iya, dong.

Alasan lain, karena gue belajar bahasa di negara orang dengan contoh kasus bahasa Jerman dan bahasa-bahasa lain di dunia, tapi gue mau egois dengan menggunakan ilmu ini di negara gue sendiri. Beberapa tugas kuliah gue pun gue kerjakan dengan mengambil contoh kasus bahasa Indonesia, karena masih banyak beberapa bidang linguistik yang masih kurang didalami dalam bahasa Indonesia.

Gue bukan ahli bahasa, apa lagi bahasa Indonesia, tapi dengan mengajar kita belajar. Apa lagi,  mulai semester ini gue konsentrasi dengan tesis, di mana tesis gue membahas bahasa Indonesia. Biar gampang, ya, Jeng? Jangan salah, justru tema gue ini belom banyak dikulik dalam bahasa Indonesia dan gue sampai saat ini kesulitan menemukan contohnya dalam bahasa Indonesia. Bahasa bukan sekedar yang kita pelajari di bangku sekolah atau kursus, tetapi lebih luas dari itu dan itu yang akan gue coba untuk ceritakan di postingan-postingan selanjutnya. Yang kita pelajari duluuu di sekolah aja pasti sudah banyak yang lupa, kan? Itu terjadi dengan gue di kelas Indonesian Grammatik, profesor gue yang asli orang Belanda sampe “takjub” dengan gue yang penutur asli bahasa Indonesia, tapi ga mengerti fungsi dari imbuhan “ter-“, misalnya.

Semoga penyakit males gue ga kumat ya agar bisa konsisten dalam menuliskan tentang teman bahasa di blog gue ini, karena sejujurnya gue aja sudah sering pengen banget mau nulis tentang bahasa Jerman, tapi malasnya ituuuu. Tapi mungkin akan berbeda dengan bahasa Indonesia, karena ini bahasa Indonesia, Bung! *lalu terdengar genderang perang*

Cerita Ini Itu

Cuaca di Hamburg lagi bagus nih seminggu terakhir. Minggu lalu malahan panasnya ga kira-kira, sampai ga ada udara. Kalau sudah begitu, yang enak adalah berada di dalam ruangan dan tutup jendela dan pintu, kalau sebaliknya, yang ada semakiiinn panas.

Sekarang sih sudah semakin enak, karena hari minggu kemarin sempat turun hujan dan cuaca jadi dingin ga enak gitu. Tapi sekarang jadinya ga terlalu panas lagi dan ynag terpenting ada udara. Sejuukk.

Tugas-tugas kuliah alhamdulillah semua sudah beress, horeee.. Sekarang lagi konsetrasi ke tugas akhir, akhirnya cyin. Semoga saja semua sesuai rencana, jadinya pertegahan bulan bisa daftar. Kalau pun tidak, ya tidak apa-apa. Ikhlas saja.. *sambil garuk tembok karena mikirin semester bertambah dan harus bayar uang semester lagi*

Bulan depan, tanggal 1 Oktober, gue akan pindahan. Ga jauh kok, cuman 100 meter dari tempat sekarang. LOL. Alis pindah kamar, asramanya sih masih saja di tempat yang gue tempati sekarang. Jadi, asrama kami ini ada tiga gedung. Karena sekarang hampir setiap hari belajar di perpustakaan asrama yang terletak di gedung depan (kamar gue di gedung tengah), gue jadi sering ke toilet di lantai satu daaann cantik banget. Tidak seperti toilet di McDonalds dan kamar mandinya tidak seperti di kolam renang.

Sebenarnya sih mau pindah awal November saja, mengingat gue harus perpanjang visa dulu. Tapi ternyata ada yang mau pindah ke gedung gue, jadi kami akan tukeran kamar. Dia akan isi kamar gue, dan sebaliknya. Kebayang ih barang-barang gue banyak banget yang harus diangkut. Ada yang mau bantu?

Oh iya, bulan lalu gue ikutan Fotomarathon 2016. Berjalan dengan smooth. Akhir pekan kemarin pamerannya, sekaligus pengunguman pemenang. Tahun depan kali ya gue akan jadi salah satu pemenangnya. Sekarang belum dulu.

Yang bikin gue nyesel *eaaa padahal engga* adalah trik gue ternyata salah. Jadi gue bawa laptop saat lomba berlangsung, gue motret ngacak, tidak disesuaikan dengan urutan soal. Lalu foto-foto tersebut saya ubah judulnya di laptop, agar sesuai dengan urutan soal. I thought I was smart. Ha!

Ternyata.. jreng jreng! Foto yang dicertak disesuaikan dengan WAKTU AMBIL FOTO, bener-bener gue ga kepikiran soal itu. Jadinya yaaa.. urutan foto gue tidak sesuai dengan soalnya. Misalnya ya, foto dengan judul ungeschminkt yang adalah soal nomor tiga, jadinya ada di urutan kedua, karena gue motretnya sebelum gue mengerjakan soal kedua. Dan begitu lah seterusnya. Padahal, kalau itu tidak terjadi, gue yakin gue bisa dapat minimal juara kesepuluh. HAHAHA.

Cerita lebih lanjut dan foto-fotonya akan gue ceritakan nanti ya. Semoga saja gue ga malas *keplak*

Ngomong-ngomong cerita yang malas ditulis, gue sebenarnya punya hutang banyak banget buat nulis. Cerita pemburuan tas mahal di Paris misalnya, belum beres tuh, padahal sudah 11 bulan lewat. Dan entah lah cerita apa lagi yang belum gue beresin.

Gue memang lebih suka bobo-boboan dan liat instagram-nya orang nih cyin, dari pada duduk manis dan nulis.

Pantesan aja ya kuliahnya ga beres-beres.

See you in the next post!

 

Cemburu

Panti tempat saya bekerja kembali memiliki penghuni baru. Ia adalah perempuan dan tinggal di kamar nomer tujuh yang penghuni lamanya pindah ke luar kota. Cerita saya tentang penghuni kamar sepertinya terhenti di kamar nomer lima. Saya memang sengaja tidak lagi menceritakan dengan detail profil setiap penghuni, karena saya tidak mau kena masalah hukum, kalau-kalau ada orang di kantor atau orangtua dan sodara pihak terkait sadar itu cerita tentang mereka. Kemungkinan besar memang tidak akan tau, karena saya menggunakan bahasa yang tidak mereka pahami, tetapi tetap saja saya enggan meneruskan.

Penghuni ke tujuh ini berteman baik dengan penghuni kedelapan yang sama-sama perempuan. Dia orangnya periang, kalau lagi good mood, jadi gampang akrab dengan penghuni baru, termasuk penghuni kamar kelima yang ditaksir oleh penghuni kamar kedelapan. Kebayang ga sih lo jadinya kaya gimana di panti?

Tiap penghuni kedelapan liat mereka kebetulan ga sengaja ketemu di dapur, misalnya, dia langsung menghardik penghuni baru, “Pergi lo! Jangan dekat-dekat!” Namun lima menit kemudian akan baik dan ramah lagi ke penghuni ketujuh. Apa lagi kalau sebelumnya diomelin oleh gue dan pekerja lain.

Tadi pagi itu, gue lagi di kamar penghuni keenam. Gue lihat penghuni kelima keluar menuju kamar mandinya dan menyapa penghuni keenam yang sedang duduk di atas kasur kamarnya. Pintu kamar dia ga pernah ditutup. Penghuni ketujuh yan mendengar itu langsung bangun dan duduk di tempat tidurnya sambil teriak-teriak menggerutu.

Tidak lama kemudian, gue mendengar dia masuk ke kamar sebelahnya dann.. “peletak!” dia memukul kepala penghuni ketujuh untuk kesekian kalinya. Iya, ini terjadi bukan untuk pertama kalinya. Dalam seminggu pasti peristiwa semacam ini terjadi.

Gue langsung ke menuju kamar dia dan ngomelin dia. Entah dia mengerti atau engga. Gue paksa dia minta minta maaf dan mereka sudah salamana. Sayangnya, gue yakin, ini ga akan bertahan lama. Di kesempatan lain dia pasti akan memalukan hal yang sama ke Penghuni ketujuh, kalau dia liat mereka sedang bareng-bareng lagi.

Sayangnya, dia ga mengerti cara mengelola cemburu.

Tanggal 20 Juli

Waktu cepat banget berlalu. Tahun lalu di tanggal ini gue habiskan di Hannover. Tahun ini tadinya mau jalan-jaln juga, tetapi mengingat gue masih punya satu paper dan expose yang harus diselesaikan, jadinya diganti saja dengan menghabiskan waktu di perpustakaan.

Dua tahun sebelumnya, gue habiskan di perjelanan Hamburg – Berlin dan Berlin – Tangerang. Yes, gue balik ke Indonesia untuk kedua kalinya saat itu. Pada hari itu juga, bokap gue berpulang. Rasanya mau curhaaaattt ngomongin detail kejadian dua tahun lalu itu. Gue masih ingat betul!

Tahun ini berkesan juga buat kami sekeluarga. Si Ade, anggota keluarga yang paling kecil, hari ini hari pertama sekolah. Yey! Ade sudah besaaaar! Sekolah bareng Kakak yang sekarang kelas… berapa ya, empat kayanya. Tadi bapaknya kirimin foto doi di sekolah, pakai seragam pramuka. Terlihat cukup besar di antara teman-teman sekelasnya. Badannya lebih besar dibandingkan mereka. Iya lah, kerjanya makan melulu. Kakaknya sebaliknya, kurus di antara teman sekelasnya.

Tidak hanya itu, Dedey alias adik gue lulus sekolah hari ini. Dia menyandang gelar SpM di belakang nama sekarang. Spesialis mata. Ih cucok deh boookk. Setelah 3,5 tahun, doi beres juga. Itu terhitung cepat loh, karena bisanya minimal empat tahu. Yeay! Dia juga memang diburu-buru, oleh jabang bayi di perutnya yang makin lama makin membuncit. Alhamdulillah. Insya Allah selalu lancar ya, cyiinn🙂

Assalamu ‘alaikum Papah, semoga bahagia di sana dan bangga melihat anak dan cucunya hari ini🙂

Kami kangen!🙂

Berhenti

Yang sulit itu adalah berhenti.

Berhenti berharap akan ada sebuah pertanyaan tentang kabar terbaru yang masuk ke telepon genggam.

Berhenti berpikir, sebuah balasan singkat akan memuaskan siapa pun.

Berhenti berpura-pura, sebuah balasan tidak akan menyakitkan siapa pun.

Berhenti memiliki keinginan untuk berada di dalam sebuah komunikasi dua arah, yang pada kenyataannya tidaklah seperti itu.

Berhenti menyadari, bahwa kamu itu ada dan mir einiges bedeutest.

 

 

 

Veränderliches Wetter in Hamburg macht mich krank.

 

 

Cuaca di Hamburg

Cuaca di Hamburg lagi menunjukan aslinya. Hujan – matahari – panas – dingin. Gitu aja dibolak-balik dengan beragam variabel. Hujannya juga tidak kalah dengan di negara tropis, seperti Indonesia tercinta: hujan deras disertai dengan geledek dan kilat. Padahal di Eropa seharusnya dan biasanya hujan kecil yang mungkin di Indonesia disebut dengan hujan rintik-rintik. Berbeda dengan di Indonesia, hujan deras tersebut hanya turun beberapa menit. Seperti barusan nih, ga sampai lime menit!

Yang menurut saya aneh, hujan tapi tetap saja panas. Terbiasa dengan di Indonesia dan pengalaman di sini juga, bahawa hujan berarti temperatur menurut dan akan menjadi lebih sejuk, selalu pede saya pakai jaket tiap liat hujan, saat keluar.. buka resleting jaket. Kepanasan.

Begitu juga saat melihat matahari terik dari dalam kamar, keluar kosan tanpa jaket dan payung dan memakai sendal, beberapa saat kemudian turunlah hujan lumayan deras dan temperatur menurun. Aku pusing, Kakaaaakkk!

Biro cuaca di Jerman terpercaya kok, biasanya bener ngabarin perkiraan cuaca esok dan hari ini. Kalau soal tepat sampai ke jam-jamnya, lupain dulu aja, terkadang masih meleset beberapa jam. Bilangnya hujan jam 20, sejam kemudian tanah sudah basah. Walau banyak benernya, tapi saya kok lelah ya nanya soal cuaca hari ini. Makanya saya sering kecele. Salah sendiri.

Lima tahun tinggal di Hamburg, masih sering bandel meninggalkan jaket atau payung di rumah. Cuaca di Hamburg memang susah ditebak, persis seperti wanita hamil atau perempuan lagi kedatangan bulan. Tapi ya kesel juga sih, bawa semua alat perang melawan hujan, eh kering kerontang dan matahari bersinar. Kan berat ih bawa-bawanyaaaa.

Mencintai Hamburg dengan segala kegalauan cuacanya.

Tempat Di Mana Aku Ingin Berada

Hari ini terasa seperti dua tahun yang lalu. Mendengar kabar duka. Juga sesuatu kelanjutannya di mana aku tidak berada di sana. Rumah duka. Tempat tinggal keluarga yang ditinggalkan oleh orang terkasihnya.

Siang ini di rumah yang nyaman itu, di mana aku dua tahun lamanya tidak lagi berada di sana, berkumandang suara orang melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan suara yang syahdu. Ketika ayat di surat ke 36 berakhir, terdengar terjemahan bahasa Indonesia yang ditutup dengan sedikit tausyiah inti dari surat tersebut.

Air mataku berjatuhan. Suasana duka terasa. Terutama di mata orang-orang yang pernah ditinggalkan, dan itu berarti semua orang.

Apakah seperti ini yang terjadi dua tahun lalu di rumah duka, tempat aku menghabiskan sebagian besar hidupku sampai aku kelak saat remaja merantau ke Bandung lalu kembali ke rumah itu sebelum pindah ke Hamburg dan menghabiskan waktu di sana?

Sebanyak inikah orang-orang yang datang melayat ke rumah, karena mendengar Papah berpulang? Siapakah yang memandikan Beliau? Apa Mamah ikut serta? Apa Mamah duduk di tempat yang nyaman dan mempunyai bahu untuk bersandar saat itu?

Tadi malam, saat aku melakukan sholat ghaib, terasa ada yang kurang di hatiku. Di hari Papah meninggal, aku tidak melakukan sholat ghaib untuk Beliau. Wanita, tahulah alasan tersebut. Namun kemarin malam dan siang ini terasa sungguh menyayat hati.

Semua urusan kehilangan seseorang tersayang selalu mengembalikan aku kepada Papah. Hari itu aku tidak sana, namun hampir 10.000 kilometer jaraknya. Perjalanan 17 jam yang tahun lalu aku lakukan berasa singkat, namun tidak pada saat hari meninggalnya Papah. Rasanya dua kali bahkan lima kali lipat lebih lama. Seandainya Doraemon benar-benar ada, maka hanya pintu ajaib berwarna merah jambu yang aku inginkan.

Istri yang ditinggalkan almarhum duduk di tengah-tengah kami dan bercerita kronologis meninggalnya suaminya. Seperti itukah yang dilakukan Mamah saat menerima pelayat di rumah kami?

Bahkan saat Beliau berkata, „Menyakitkan sekali melihat suami meninggal di depan mata,“ yang aku lihat adalah adegan di mana Mamah harus belari ke tubuh Papah yang semakin merunduk dari duduknya di lantai masjid. Masya Allah, Mamah aku juga melihat sendiri suaminya menghelakan nafas terakhirnya. Mamah yang mengguncang-guncang tubuh Papah, berharap Papah hanya ketiduran saat itu. Adik aku sendiri yang didatangkan untuk memeriksa kondisi Papah saat itu. Aku seperti melihat dia dijemput dari rumah oleh Bibi kami, melakukan CPR dan berteriak-berteriak, „Papah!“ untuk membangunkannya.

Setelah dua tahun lalu berlalu, aku masih bertanya mengapa Allah menakdirkan aku untuk berada jauh dari rumah saat itu. Mengapa Allah tidak mengizinkan aku melihat Papah untuk terakhir kalinya saat itu, berbeda dengan almarhum yang rumahnya sedang aku layat sekarang. Kedua anaknya berada di sana, saat Papahnya akan berpulang. Mungkin memang aku tidak sekuat yang aku sangka, karena itu aku diungsikan, batinku menjawab pertanyaanku sendiri.

Anak almarhum bahu membahu saling menguatkan. Si anak lelaki mengurus ini itu untuk keperluan ayahnya. Persis seperti Kakakku yang melakukannya untuk Papah dan keluarganya: kami. Dari video call, aku melihat dia berada di dalam liang kubur, dia sendiri yang menguburkan Papahnya. Aku lalu melihat seluruh keluargaku di sana, di samping makam. Mata mereka sembab. Mereka semua berkumpul, melepaskan jasad Papah yang saat itu sudah berada beberapa meter dari permukaan tanah. Mereka tidak sadar, dari sebuah layar kecil aku juga berada di sana. Mencoba untuk berada di sana. Untuk saling menguatkan.

Bulan Ramadan dua tahun lalu seperti kembali lagi hari ini. Aku seperti berada di tempat di mana aku tidak berada ada. Di dalam pikiranku, aku membangun semua adegan-adegan yang aku dengar dari kanan kiri, karena aku sangat ingin berada di sana. Dan tidak ada orang yang ingin aku temui saat ini, kecuali Papah.

Teteh kangen, Pah. Semoga Papah selalu bahagia di sana, diberikan tempat terbaik dan ternyaman dari Allah Swt.

 

 

 

„Semua orang akan meninggal, kita semua sebenarnya hanya sedang menunggu giliran,“

Bekal apa yang sudah kamu persiapkan sampai detik ini?