The Break Up

A: I cooked eggplant last week. I was thinking of you, how tasty your eggplant was. I wanted to make a call to ask, but I didn’t do that.

B: …

A: I put any ingredients, but it was not as tasty as yours..

B: It was only chili, garlic and onion.

A: Oh, only that?

B: Yes. I cooked chicken curry with chickpeas last week with your recipe. It tasted different as your chicken curry. I was tasty, but yours was tastier.

A: Maybe you didn’t cook it as I did.

B: I followed exactly the steps you have showed me. But I put to many tommatoes.. I like your chicken curry better. I also wanted to call you to tell you that, but I didn’t..

A: I will miss your friends, I will miss your niece, your sister, your mom.. you have nice family and friend. I will miss you.

B: I miss you already..

Mereka yang Meninggalkan Kita

Apakah dengan masih bersedih saat mengingat orang yang meninggalkan kita disebut dengan tidak ikhlas?

Apakah ikhlas bisa diukur dengar keringnya air mata dan perasaan bahagia saat mengingat mereka?

Bukankah ikhlas dan sedih adalah dua perasaan berbeda yang tidak saling bertentangan?

Karena perasaan sedih hanya berlawanan arti dengan bahagia, dan ikhlas.. apa lawan kata dari ikhlas? Berat hati?

Bukan karena air mata saya masih mengalir dan hati juga dada saya secara harfiah masih sakit berarti saya masih belum mengikhlaskan kepergian mereka, bisa jadi karenaa sakit ini sudah saya tahan selama lima tahun terakhir. Saya pendam sehingga emotionaler Zusammenbruch sangat jarang terjadi, dan sekalinya terjadi.. saya harus bertemu dengan seorang ahli yang bisa membantu saya meredakannya.

Waktu itu, di dalam ruangan itu, ahli yang membant saya itu menarik sebuah kursi mendekat kepada saya, lalu dia bertanya, “Jika Kakak Anda duduk di sana, apa yang ingin Anda sampaikan kepadanya?”

Tangis saya meledak. Seakan-akan kakak saya terlihat di sana, mengenakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu dan celana jeans panjang serta sepasang sandal. Bukankah begitu ia terlihat sehari-hari?

Saya kangen dia. Frasa yang tidak pernah saya katakan kepadanya dan tidak juga kepada siapa pun di antara anggota kelurga saya, tetapi kali itu saya menguatkan lidah saya yang kelu untuk mengatakannya. Saya merindukan sosok kakak saya, yang selalu tertawa hampir di segala suasana. Yang selalu mencibir lalu tersenyum, jika orang lain balik mencibirnya. Yang kerjaannya ngambek ke orangtua kami.

Bukankah jika seseorang pulang ia ingin sekali melihat seluruh anggota keluarganya di dalam rumah dan bersama-sama melakukan hal menyenangkan? Lalu mengapa hal itu tidak bisa saya dapatkan dua bulan lalu saat saya pulang ke rumah? Kakak dan ayah saya tidak ada.

Saya tidak mengunjungi rumah baru mereka saat itu dan saya tidak pernah ingin untuk pergi ke sana, karena saya tidak ingin hanya melihat dua gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama mereka. Tidak. Hal tersebut terlalu sederhana untuk dilihat dan tidak pernah merepresentasikan mereka. Tidak pernah ada dalam benak saya, mereka bermukim di sana. Juga tidak ingin saya mempunyai sebuah bayangan baru tentang itu: tentang mereka berada di dalamnya, atau tentang mereka yang tidak bisa lagi tersenyum dan membuka matanya. Mungkin saya tidak ingin bayangan-bayangan itu menggantikan kenangan-kenangan selama 32 tahun yang saya miliki tentang mereka.

Pertanyaan mengapa saya tidak pernah berada di dekat mereka saat malaikat pencabut nyawa menjemput mereka, juga mungkin terjawab dengan jawaban itu. Jawaban yang dilontarkan oleh perempuan asing yang duduk di depan saya untuk membantu melewati ini. Ini bukan hanya soal bagaimana saya akan mengalami emotionaler Zusammenbruch jika saya berada di sana, namun juga bagaimana kenangan-kenangan semasa hidup akan tumpang tindih dengan bayangan mereka di dalam kain kafan.

Perempuan itu menarik sebuah bangku lain dan meletakannya di depan saya. Di ujung lain meja kecil yang memisahkan kami. “Jika ayah Anda duduk di sini, apa yang mungkin ayah Anda katakan kepada Anda?”

Saya yakin Beliau akan meminta saya untuk tidak menangis dan menjadi kuat, dan mengingatkan saya untuk menjadi pemberani. Saya selalu ingat bagaimana Beliau mengatakan, “Teteh pasti bisa! Teteh pasti bisa!” lewat telepon saat saya sedang berada di Foyer AAI. Saya menceritakannya, saya masih kesulitan dan masih malu untuk berbicara di depan publik setiap saat sedang berada di kelas. Untuk mengutarakan opini dan pikiran saya tentang tema yang sedang dibicarakan di kelas. Waktu itu saya jawab, “Iya nanti akan aku coba”, dan sampai saat ini tidak saya lakukan. Maafkan aku, Pah. Aku janji aku akan melakukannya. Demi Papah dan demi janjiku pada Papah yang belum sempat saya penuhi selama Papah masih ada.

Untuk yang tercinta yang masih berada di dalam hati.

Hamburg, 27 Mei 2019

Aadit dan Papah, kemarin Mamah ulang tahun. Tidak ada pesta dan perayaan, tetapi alhamdulillah adik-adik Papah berkumpul di rumah untuk berbuka puasa bersama. Aku rasa, tidak ada satu orang pun yang tahu, 66 tahun lalu Mamah dilahirkan di tanggal tersebut. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah dan ditempat di tempat yang terbaik oleh Allah dan semoga Mamah selalu sehat dan selalu dilindungi Allah. Salam rindu.

Bandar Udara

Tangerang, 8 Juni 2018

Hari selasa lalu, saat masih berada di pesawat, saya melihat kota kelahiran saya. Rasa bahagia menyelimuti. Setelah hampir setahun, akhirnya saya kembali lagi. Pulang. Dari atas sana juga saya melihat sebuah pemakaman umum yang letaknya bisa dibilang di depan bagian belakang bandara kota kelahiran saya. Pemakaman umum ini baru sekitar 15-20 tahun belakangan ini terletak di sana. Sebelumnya ia berukuran lebih kecil dan terletak tidak jauh dari tempat barunya. Tidak hanya lebih besar, di tempat barunya ini kuburan-kuburan lebih tertata rapih. Bagian sebelah kanan untuk penganut Kristen dan sebelah kiri untuk muslim. Di tengahnya adalah jalan kecil yang tidak boleh dimasuki mobil, tetapi dipenuhi oleh jejeran pedagang makanan dan minuman.

Tidak lama kami pun mendarat. Pesawat berjalan di daratan menuju tempat parkirnya, melewati jembatan yang di bawahnya terletak jalanan yang dilalui mobil-mobil yang sedang menuju terminal-terminal atau gedung lain di sekitar bandara. Saya sangat mengenal jembatan itu, karena dari bawah sana, dari dalam mobil yang dikendarai Papah setiap kami ke bandara, saya selalu mendongak ke atas. Ke atas jembatan. Melihat pesawat yang sedang menyeberang di atasnya. Kali ini posisi berubah, aku berada di dalam pesawat itu. Aku melihat ke bawah jembatan itu, ada mobil yang berlalu lalang. Mungkin supir atau penumpangnya juga mendongak dan melihat mesin besar yang sedang menyeberang.

Saya tidak bisa memalingkan pandangan saya dari pemandangan luar pesawat. Air mata mulai merembes menuruni kedua mata saya, seperti yang sudah-sudah. Walau setahun atau pun bahkan empat tahun telah berlalu, rasa sesak di dada itu tetap sama. Air mata ini juga masih sama hangatnya seperti saat dia meleleh empat tahun lalu, juga saat saya mendarat di bandara yang sama. Semua terasa sama.

Saya merasakan pundak saya naik turun tidak beraturan, walau ia udah coba saya kontrol dengan sekuat tenaga. Tangis yang saya tahan itu tetap saja terdengar oleh kedua perempuan lain yang duduk di jejeran saya. Mereka lah yang menemani perjalanan saya kali ini. Suatu kebetulan, bahwa kami sama-sama duduk di jejeran yang sama dan memiliki asal dan tujuan negara yang sama. Televisi yang mati di hadapan saya bahkan tidak saya hiraukan, karena berbincang dengan mereka menyenangkan dan tidur saya selama perjalanan pun lelap.

Salah satu dari mereka menyentuh lembut pundak saya. Mengelusnya dan membisiki saya untuk tetap kuat dan sabar, walau dia juga tidak tahu penyebab air mata yang mengalir ini.

Pesawat ini masih berjalan perlahan mencari tempat parkir yang sudah ditentukan oleh bandar udara. Masih melewati gedung-gedung kontrol lapangan udara. Rumah-rumah mungil dan kumuh di belakang bandara sudah tidak terlihat, apa lagi kali berair warna cokelat yang mengalir ke sungai Cisadane. Tahukah kamu, di ujung lain kali tersebut ada sebuah kampung dari sanalah Papah saya berasal dan menghabiskan waktu dua tahun masa kecilnya sebelum pindah ke rumah yang kami tempati sampai saat ini. Kami. Sekarang. Maksud saya, sekarang ini tanpa dia dan anak keduanya.

Setelah yakin saya sudah menghapus air mata dari pipi dan tidak ada lagi yang merembes keluar dari kedua mata yang sudah memerah ini, saya memalingkan muka ke hadapan penumpang yang menemani selama perjalanan 10 jam dari Istanbul ke Jakarta. “Tadi kita terbang melewati pemakaman, letaknya tepat di depan bandara ini. Di sanalah tempat bersemayam Papah saya sejak empat tahun lalu. Aa saya juga. Dia meninggal setahun yang lalu, dan saya belum pernah ke sana.”

Saat itu saya memutuskan untuk membiarkan air mata kembali merembes untuk menghilangkan sesak di dada. Semoga Mamah tidak melihat bekas air mata ini saat kami bertemu di terminal kedatangan.

Hamburg, 14 Januari 2019

Tidak Ada Apa-apa

Apa ada orang lain yang mengejekmu hari ini? Yang membuatmu kesal?

Iya.

Siapa? Ada apa? Kamu mau cerita padaku?

Tidak.

Ayolah. Berceritalah.

Tidak. Tidak ada apa-apa.

Jangan begitu, ceritalah. Kita ini teman.

Tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa terjadi. Aku berharap ada sesuatu terjadi, tapi ternyata tidak ada yang terjadi.

Hamburg, 22 November 2017 – when the connection is disrupted and you are too afraid to say something.

 

 

Surat untuk Papah: Tools Penerjemahan

Salammu alaikum, Papah,

dulu waktu aku sering dimintai tolong oleh Papah untuk menerjemahkan dokumen berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia, Papah pernah menyarankan aku menggunakan bantuan komputer. Papah bilang, sekarang sudah bisa internet membantu menerjemahkan teks ke dalam bahasa apa pun. Waktu itu aku menolak, karena Google Translate tentu tidak akan menerjemahkan sebagus manusia. Masih banyak kesalahan.

Sekarang dunia berkembang, Pah. Aku sedang menonton ulasan tentang MateCat dan LexiQA. Tools yang pertama aku sebutkan itu membantu menerjemahkan dokumen, lebih canggih dan lebih bagus dibandingkan Google Translate. MateCate menyimpan hasil penerjemahan, yang nanti akan muncul saat sedang menerjemahkan teks lain yang memilki kalimat atau kata yang sama dengan teks sebelumnya. Dia juga memungkinkan untuk menghitung jumlah kata, waktu kerja dan bahkan biaya yang harus dikeluakan, jika penerjemah harus membagi pekerjaannya dan meminta penerjemah lain untuk menerjemahkan sebagian dari teksnya. Tidak hanya itu, penerjemahan yang salah pun bisa disunting langsung di website tersebut.

Bentuknya memang website, Pah, jadi tidak perlu susah-susah download. Tinggal buka browser dan masukan dokumen yang diperlukan, dan.. taraaa muncullah terjemahannya yang dibagi ke dalam tiap kalimat. Dia bahkan bisa mendukung sampai 69 program komputer, seperti Word bahkan PDF, jadi ga perlu copy-paste seperti pada Google.

Software ini juga berteman baik dengan LexiQA atau software linguistic quality assurance, jadi, jika nanti ada kesalahan linguistik yang terjadi dalam penerjemahan, akan langsung ditandai deh tuh pada kedua dokumennya. Kalau dalam dokumen asli ditulis 12, lalu dalam terjemahan ditulis 11, tentu akan langsung terlihat. Benar-benar menghemat waktu penyuntingan!

Sejak tiga tahun lalu, banyak hal terjadi, Pah. Kedua tools ini juga baru ada mungkin 2-3 tahun. Teknologi benar-benar berubah. Sayangnya Papah tidak bisa merasakannya. Oh iya, Pah, waktu lebaran lalu aku teringat Papah saat sedang laporan acara Iedul Fitri di masjid. Aku ingat dulu Papah meminta aku untuk menyunting teks ceramah yang menjadi pegangan Papah saat acara yang sama. Kertas yang kemudian lecek karena Papah gunakan untuk latihan.

Semoga ilmu yang aku miliki bisa berguna untuk Papah dan keluarga, juga untuk orang banyak. Apa kabar Papah dan Aadit di sana? Kami merindukan kalian.

 

Salam rindu,

Ajeng

Travelling Sendirian

Seminggu lalu gue pergi ke Belanda naik kereta, tiga hari berikutnya lanjut ke Brussels naik bus dan menetap di sana selama dua malam. Setelah tidur di kamar satu malam, gue pergi lagi ke North Sea di Jerman untuk bekerja. Akan menetap sampai hari sabtu ini. Detailnya (mungkin) akan gue ceritakan belakangan. Kali ini gue mau cerita yang lain.

Tadi jam setengah 10 malam, gue pergi ke pantai sendirian. Ga sampai pantai sih, hanya sampai tanggul, karena di sana super gelap tanpa ada cahaya lampu sedikit pun. Tanggul berada di belakang penginapan kami, tidak sampai jalan kaki 5 menit sudah sampai, namun selama itu gue tumben kesepian.

Selama ini gue kalau jalan-jalan selalu sendiri dan tidak pernah punya masalah dengan hal tersebut, beda sekali dengan barusan. Mungkin karena gelap, gue jadi kepengen punya partner jalan-jalan ke tempat yang ga semestinya. Maksudnya, siapa juga yang pergi ke pantai di laut surut saat gelap hanya untuk melihat langit malam? Gue ngajak kolega-kolega pada engga lah, mending tidur atau ngebir mereka mah. Di sana saya merasa kesepian.

Ternyata enak ya punya partner jalan-jalan, selain membagi cerita juga berbagi ketakutan dan kecemasan. Gue pasti akan merasa lebih aman dan nyaman kalau saat tadi ada temannya. Gue pasti akan diam lama di tanggul melihat langit dan tidak kabur saat mendengar riak air, kalau saat itu gue bersama orang yang juga punya minat yang sama dengan gue.

Mungkin di trip selanjutnya gue akan bersama orang yang tepat. Semoga.

Tentang Berpulang

Tanggal 17 Agustus yang lalu saya dapat kabar, teman sekelas waktu di sastra Jerman Unpad meninggal dunia. Beliau sakit. Minggu lalum saya kepikiran dia dan menyapanya lewat WhatsApp. Katanya, badannya sudah mendingan, tetapi jalannya masih goyang-goyang. Lalu, saya memberikan semangat untuknya agar cepat sembuh. Tanpa bertanya sakit apakah yang ia derita. Seharusnya di sana saya bertanya.

Sebagai teman, yang sayangnya tidak dekat, kadang kita merasa enggan untuk bertanya lebih detail apa yang orang lain derita. Kita tidak tau apa yang ia rasa, atau sakit apa yang ia derita. Tiba-tiba saja ia berpulang. “Tiba-tiba” yang sebenarnya tidak tiba-tiba.

Hal ini mengingatkan saya kepada kejadian empat puluh hari yang lalu, saat kakak saya meninggal dunia karena sakit. Saat itu, teman dekat kami yang juga adalah tetangga kami sejak kecil bilang ke saya, “kalau trombositnya meninggi itu sebenarnya yang gawat. Orang sering salah. Bukan membaik”. Lalu dia meneruskan, “begitu kalau orang sakit DBD.”

Saya awam soal dunia medis. Yang saya tahu, kakak saya bukan sakit DBD. Saya tidak tahu mengapa trombositnya turun, tapi hal tersebut “biasa” baginya. Setahun minimal sekali hal itu terjadi padanya sampai dia harus dirawat inap di rumah sakit. Mungkin ini terpengaruh dari sakit jantung dan paru-paru yang dia derita sejak lama.

Tidak banyak tahu kalau kakak saya sakit jantung sejak dia masih muda dulu. Saya sendiri tidak lagi tahu, apakah sejak dia masih sekolah atau di kuliah ketahuannya. Jantungnya lemah. Saya tidak tahu dengan pasti. Yang saya tahu, dokter bahkan memberikan pil biru kepadanya dengan dosis setengah (atau seperempat) sehari, untuk memacu jantungnya lebih kencang. Yang saya tahu, dia gemuk bukan hanya karena banyak makan, tetapi juga cairan di dalam tubuhnya. Karena itu, dia harus minum obat tertentu untuk mengeluarkan air dari badannya lewat air seni. Obat yang dia tidak suka, karena membuat dia harus bolak-balik ke toilet beberapa kali dalam sehari. Iya, dia harus mengkonsumsi obat-obatan tiga kali sehari.

Saat dia meninggal, saya membuka Facebook dia. Banyak ucapan bela sungkawa untuknya. Banyak foto-fotonya. Banyak hal yang membuat saya mengenal kakak saya lebih jauh lagi, dia dicintai oleh banyak orang, justru karena dia ngasalnya minta ampun. Dan tentu saja karena baik hatinya.

Banyak orang yang menyatakan keterkejutannya, “mengapa tiba-tiba?”, “sakita apa?”, “mengapa mendadak?”, karena mereka melihat Aa sehat-sehat saja. Kami sekeluarga tahu sekali bagaimana dia bolak-balik rumah sakit dan tetap terkejut dengan kematiannya. Kami juga berpikiran, “mengapa tiba-tiba?”, karena malam sebelumnya Aa sehat, walau dia memang mengeluh sakit beberapa hari sebelumnya dan trombositnya turun. Tapi, bukankah ajal manusia sudah dituliskan Allah dan semua makhluk hidup akan mati?

Waktu itu saya sedang berada di bandar udara CGK saat Mamah dapat kabar: Aa muntah darah. Karena itu saya masuk ke dalam bandara lebih cepat dari waktu yang saya rencanakan. Saya masih tenang saat itu, karena tahu Aa akan selamat. Insya Allah.

Selama di dalam pesawat, saya berkomunikasi dengan adik saya. Alhamdulillah waktu itu di pesawat ada internet 20 MB. Sangat sedikt memang, apa lagi saat baru setengahnya terpakai, saya tidak sengaja memencet tombol ‘stop’, yang menyebabkan internet habis. Di sana Dedey sudah bilang, kemungkinan Aadit untuk hidup kecil. Kalau pun ada, harus dibantu dengan alat. Obat yang dia perlukan adanya di RS Jantung Harkit dan untuk mendapatkannya harus pindah ke RS sana. Oh. Aneh. Mengapa obat harus dibatasi seperti itu?

Keluarga saya bingung. Kalau Aa pindah ke sana, bagaimana dengan Mamah yang kelak harus menunggunya di RS? Tangerang – Slipi memerlukan waktu lebih banyak dibandingkan dengan dari rumah ke RSUD Tangerang yang bisa dicapai dengan 10 menit naik becak. Apa lagi di RSUDT Mamah sudah kenal banyak orang dan bisa dapat privilage untuk nginap di sana bersama istri Aadit.

Malam itu, Aadit tetapi tidak menginap. Sebelumnya saya membaca di grup keluarga, kami perlu kasur kedua untuk Mamah menginap di sana. Mungkin malam itu kasur tersbeut sudah masuk ke ruangan sana, tetapi tidak lama, karena waktu Indonesia bagian barat dini hari Aadit berpulang.

Waktu itu jam 20 di Hamburg. Saya turun dari pesawat dengna perasaan yang tidak ada lagi, saking tidak menentunya. Di Dubai sana, petugas bandara meminta kartu identitas saya dari Jerman yang ada foto saya. Aneh. Padahal saya sudah memberikan paspor saya dan izin tinggal yang tertera di sana. Setelah saya menyerahkan kartu asuransi, saya dipersilahkan naik pesawat.

Waktu turun dari pesawat, saya langsung mengabari hal itu ke grup keluarga, sekalian bertanya tentang kabar Aa. Tidak ada jawaban. Di Hamburg, saya bisa melalui imigrasi Jerman tanpa ada masalah, malahan disambut dengan senyum manis petugas. Hati saya sedikt tenang. Lebih tenang dan senang saat melihat teman-teman saya sudah berkumpul di depan pintu, saat itu saya sedang menunggu datangnya koper besar. Menunggu menjadi semakin enak, walau saya gelisah sambil melihat-melihat telepon genggam.

Teman-teman saya menguatkan saya. Membantu membawa barang-barang saya. Dan saya, seperti biasa, berusaha untuk tidak membicarakan lebih detail tentang kesedihan saya. Saat kami duduk di S-Bahn, saya membuka Whatsapp. Di grup keluarga besar dari pihak Papah dan Mamah ada masing-masing satu pesan di sana. Pesan-pesan tersebut bukan dari keluarga inti saya, tapi keduanya diawali dengan “Innalillahi wa Innailaihi Rajiun”. Semua yang hidup akan kembali kepada pemiliknya. Saat itu saya tahu, hari itu saya kehilangan satu anggota keluarga lagi.

Waktu itu teman-teman saya sedang tertawa, saya lupa karena apa. Saya yang lebih suka menyimpan semuanya sendiri, sempat menimbang untuk menyimpannya sendiri sampai nanti tiba di kosan, atau memberitahu mereka sekarang. Tapi memang kesedihan di tubuh saya tidak bisa dielakan. Saya menangis, tubuh saya bergetar. Tangis saya pecah di dalam S-Bahn.

Kakak saya berpulang ke Rahmatulloh tanggal 9 Juli 2017 saat saya tiba di Jerman dari liburan ke Indonesia. Papah saya meninggalkan kami tanggal 20 Juli 2014 saat saya akan terbang ke Indonesia untuk berlibur. Takdir. 

Waktu itu saya langsung memutuskan untuk menginap di teman yang sudah saya anggap sebagai Teteh sendiri. Dia menyambut saya dengan tangis. Malam itu saya habiskan dengan tangis. Saya tidak tidur, karena masih jetlag, sedih dan melihat prosesi pemakaman lewat video call. Saya seperti kembali ke tiga tahun lalu, saat melihat prosesi pemakanan Papah lewat video call di dalam S-Bahn. Sejarah berulang.

Keesokan harinya. Saya berlaku seperti tidak ada apa-apa. Semua normal. Saya tidak ingin berbicara tentang Aa kepada siapa pun. Saya tidak ingin menangis di depan orang lain dan saya tidak ingin merasakan sakit di hati saya. Saya tidak pernah belajar untuk mengungkapkan kesedihan seperti ini, hal itu juga yang terjadi tiga tahun lalu saat Papah pergi. Sampai dua tahun kemudian, saya dilanda stres yang berat, selain juga karena stres kuliah dan masalah lain.

I need to take a break. See you.